Akram kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matahari yang belum juga muncul, juga hawa dingin di luar, membuatnya terpaksa menyambangi lagi kamar Mia di lantai dua. Sebenarnya ia ingin menghindar semampunya, tetapi di rumah gedong itu tak ada tempat lain lagi. Sangat pelan Akram memutar kenop pintu kamar itu. Ia takut mengganggu istrinya yang saat ia tinggalkan tadi masih terlelap. Namun, setelah pintu sempurna terbuka ia malah terkejut sendiri. "Udah bangun?" tanya Akram yang mendapati Mia sedang menyisir rambut di depan meja rias. Suatu hal yang baru pernah ia saksikan. Mia menghentikan sejenak gerakannya. "Mas dari mana?" tanyanya juga terkejut Akram semakin mendekat. Ia perhatikan pantulan wajah istrinya di cermin. Dalam hati berdecak kagum akan paras sang istri, nam

