42. Kita Harus Bicara

1734 Words

"Ada apa?" tanya Mas Berni heran karena aku masuk ke mobilnya dengan napas terengah-engah. "Jangan bilang karena pengen buru-buru ketemu aku," katanya. Aku menarik napas panjang, berusaha melupakan wajah Bima yang sebenarnya masih membuatku begitu kesal. "Kok tahu aja," ucapku sambil tertawa. Aku masih bimbang, apakah masalah Bima ini kuceritakan pada Mas Berni atau kusimpan sendiri saja? Melihat wajah Mas Berni yang berseri dan terlihat senang, aku nggak tega menceritakan tentang Bima, takut mood-nya juga akan jelek seperti yang kurasakan saat ini. "Mas," panggilku sesaat sambil meliriknya sesaat sebelum dia menjalankan mobilnya kembali. "Kenapa?" tanyanya mungkin bingung dengan nada suaraku yang terdengar manja. Aku sendiri saja geli mendengarnya. "Nggak apa-apa, cuma pengen peluk a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD