"Sudah merasa lebih baik?" tanya Bima sambil memiringkan wajahnya agar bisa melihatku. Saat ini aku dan Bima duduk di sebuah bangku panjang yang berada di dapur. Aku merasa sangat malu sampai tidak bisa mengendalikan emosiku seperti ini. Sampai rasanya untuk mengangkat wajahku saja aku merasa tidak bisa melakukannya karena sangat malu. Bagaimana dia bisa bertanya apa aku baik-baik saja jika saat ini aku malah merasa tidak baik karena kebodohanku menangis di hadapannya. "Naya," panggilnya kemudian karena aku hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Apa dia nggak bisa diam sebentar dan menungguku tenang. Kali ini bukan Mas Berni lagi yang menguasai pikiranku. Tapi yang aku pikirkan saat ini bagaimana caranya bisa kabur dari hadapan Bima tanpa diketahuinya, dengan menghilang mungkin? "

