Keesokan harinya, di sekolah Vika langsung menyambutku dengan senyum lebar. Aku bertanya-tanya dan berusaha mengingat sekarang hari apa.
"Hari ini terakhir kita memikul beban berat ketua ku sayang." ucapnya begitu aku duduk.
"Bentar... emang hari ini...?" tanya ku menggantung
"Hari terakhir kita jadi pengurus OSIS." jawab Vika antusias.
"Ohhhh iya lupa, kamu udah pilih belum dari calon yang diajukan buat posisi seksi kita?"
"Udah.... ini, Kania dari kelas X juara 1 lomba tari kontemporer antar SMP, Teresia dari kelas XI juara 3 tingkat nasional lomba musikalisasi puisi, Juan dari kelas XI juara II atletic cabang olahraga Renang tingkat SMK, dan terakhir Diandra juara 1 umum di SMK kita. Gimana berkualitas kan pilihan aku, lainnya sih milih yang good looking doang, aku pilih 4 soalnya kalau 3 kaya kita bakalan kwalahan." jelasnya.
"Pinterr banget sih kamu... makasihh ya." ucapku.
"Wait.... apanih?" sepertinya Vika menyadari bekas merah di leher ku.
"Jangan-jangan...." tebaknya, aku segera membungkam mulutnya.
"Iyaaaa bener bener kamu bener, udah jangan kenceng-kenceng. terus gimana dong, dasar emang si Dani."
"Udah santai aja yuk ikut ke kamar mandi." anaknya.
Setelah kami sampai di kamar mandi yang masih sepi, kulihat Vika mengeluarkan pouch make up nya. Aku nggak ngerti dia kepikiran ke sekolah bawa make up segala. Selanjutnya dia menyuruhku mengikat rambut.
"Nih concealar bisa nyamarin bekas nya, aku juga biasanya gitu."
"Kamu sama Dito bukannya..." ucapku.
"Iya waktu itu masih noob, aahahahha from noob to mastah dong." lanjutnya sambil mulai meratakan concealar ke leherku.
"Maksudnya?" tanya ku ya paham dikit itu istilah yang sering Dani sebut saat main game.
"Tanya aja ke Dani." aku merengut mendengar jawabannya.
"Udah tuh lihat keren kan gw..." ucapnya membanggakan diri sambil mengemasi make up nya.
"Keren banget makasii..." ucapku senang sekarang udah lebih PD sih daripada tadi.
"Gimana bisa kamu sama Dani?" tanyanya.
"Iyaa nggak tau semalam aku ketiduran terus..."
"Wait... kamu sama Dani udah tidur bareng?"
"Enggak gitu ceritanya."
"Udah santai aja, aku sama Dito juga udah kok." katanya enteng.
"Udah maksud kamu udah?"
"Ya udah gitu.... kayak Bella sama pacarnya."
"Haaahhh..." aku melongo.
"Kamu nggak takut gitu?"
"Enggak lahhh... santai aja nikmati masa muda."
"Hmmmm ..." gumanku.
"Lanjutt katanya mau cerita soal semalam kamu ketiduran ma Dani."
"Vik.... tapi aku mohon rahasiakan ya." pintaku.
"Janji buat kamu apa sih yang enggak." jawabnya.
Aku memastikan kamar mandi benar-benar sepi gak ada orang. Lalu kembali ke tempat Vika.
"Jadi semua bermula saat aku pindah ke sekolah ini, alasannya adalah, karena papa sama Mama aku bangkrut, mereka mulai usaha lagi dari nol dan mengalami banyak masalah finansial, hingga akhirnya aku kemari, aku disini tinggal sama om dan Tante aku Vik, kamu tau, mereka orangtuanya Dani." ucapku.
"Kalian berdua saudara dong?" tanya Vika, aku mengangguk.
"Iya pada mulanya begitu, dan kami saling jatuh cinta, kamu tau kami backstreet dari keluarga besar kami. Sampai akhirnya kejadian kemarin benar-benar membuatku ingin menyayat nadi Vik." ucapku
"Hahhh emang kenapa Sya, ada masalah apa, cerita dulu jangan nangis." kata Vika.
"Kemarin waktu kejadian aku sakit dirumah sakit Tante Maya kasih tau mama aku dan gak ada balasan apapun, smpai akhirnya aku nekat mau pulang kan, terus Dani yang waktu itu bolos sekolah ya buat nyusulin aku." lanjutku.
"Sweet banget Dani, Terus terus..."
"Malamnya Dani bilang ke Mama papa nya soal aku mau pulang. Duuhh Vik aku gak kuat mau cerita." aku menutup muka sejenak lalu mencuci muka ku yang udah panas karena nangis duluan.
"Kenapa Syaa??"
"Tante ngejelasin semuanya, bahwa sebenarnya aku bukan anak orang tuaku, waktu bayi aku ditemukan di depan pintu butik Tante Maya. Tuh kan kamu gak percaya emang kaya sinetron sih."
"Ya berarti kamu sama Dani bukan saudara dong, udah ambil hikmahnya nanti kalian berdua bisa nikah kok."
"Dan kamu tau Vik, sebenarnya papa sama mamaku udah cerai lama, papa malah udah nikah lagi, dan mama ikut pria yang dia cintai sekarang, gak ada sama sekali yang peduli sama aku,seandainya aku anak mereka aku berhak buat minta perhatian mereka Vik, seandainya aku anak mereka aku berhak buat mencari mereka, tapi apa daya aku cuma anak pungut." lanjutku, tenggorokan ku tercekat. Dan kulihat Vika juga menitikkan airmata, aku tau hal ini juga sensitif baginya karena mama nya telah tiada. Dia memelukku sambil sesenggukan.
"Kalaupun tak ada lagi orang di bumi ini yang bakalan peduli sama kamu, aku akan tetap setia disisimu, kamu jangan ngerasa sendirian ya."
"Makasihh Vik, makasiih kamu udah ngerttiin aku."
"Kamu tenang aja, aku bakalan simpan rahasia ini rapat-rapat." ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Terus sekarang gimana, kamu tetap sama Dani?"
"Iya nanti setelah lulus sekolah baru aku kerja dan kos sendiri Vik."
"Hmmmm semangatttt ya."
"Terus orang tua Dani ngerti nggak hubungan kalian?"
"Ya ampunnn Vik Dani yang ngomong ke mereka, dan kamu tau gimana tanggapannya?"
"Gimana gimana????"
"Mereka ngerestuin kami." jawabku lirih.
"Syukurlah Sya, emang gada alasan buat nolak kamu, udah cantik, pinter, sopan, gak banyak tingkah, mereka mau dong punya menantu kek gitu." lanjut Vika.
"Terus sekarang gimana? kamu ada niat buat ketemu orang tua kamu nggak?"
"Buat apa aku nyari orang yang sudah membuang ku Vik, orang tua kandungku membuangku saat bayi, orang tua angkatku membuang ku saat dewasa, mereka tidak menginginkan ku kan."
"Kamu yang sabar ya, ingatttt masih ada aku semangattt dong, ada Dani juga yang cinta mati sama kamu."
"Iya Vik makasih, oh iya btw kamu pernah lihat nggak sih logo kaya gini?" aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan padanya sebuah foto, foto ku pas masih bayi pertama kali ditemukan Tante Maya, di sebuah box berlogo sebuah perisai emas dengan letter A di atasnya tercetak indah dengan font classic sama dengan selimut dan topi yang aku pakai.
"Ini foto kamu?"
"Iya... aku minta dari Tante Maya waktu itu, dan itu selimut dan boxnya masih disipmpan dirumah."
"Coba kamu kirim ke aku, nanti aku tanya ke Abang ku, siapa tau dia tau logo-logo kaya gini." pintanya, aku pun mengirim ke wa Vika.
"Ya udah kembali ke kelas yuk." ajakku.
"Ayoook.." sahutnya.
Begitu kami keluar kamar mandi sudah ada Nadia sama Airin disana. Nadia beringsut maju dan mendengus.
"Dasar anak punguuttt, pantesan suka nyusahin hidup orang." ucapnya.
"Maksud kamu apaan ngomong gitu." Vika nggak mau kalah buat belain aku.
"Udah Vik, ayo." aku ajak Vika pergi menjauh.
"Emang bener kan temen kamu anak buangan." lanjut Nadia.
Aku menahan Vika buat bertindak lebih jauh. Namun baru saja aku dan Vika melangkah pergi, Nadia menjambak rambutku dengan kencang.
"Tinggalin Dani dan pergi dari rumahnya gembellll..." bentak Nadia padaku.
"Auuuuww...."Ucapku sambil memegangi rambutku. Melihatku kesakitan Vika langsung berbalik menjambak dan menarik Nadia dengan beringas kemudian menampar dan mendorong nya sampai terjatuh.
"Jangan ganggu dia, atau kamu bakalan mampus." kata Vika.
"Siapa loo... ikut-ikutan." kata Nadia.
"Jangan sok kecakepan, Dani gak doyan ama cewek bookingan." lanjut Vika.
"Awaas aja tunggu pembalasan ku."
Aku buru-buru ngajak Vika balik ke kelas. Dan seharian ini aku banyak melamun. Sampai-sampai mereka ngulang-ngulang pertanyaan yang sama karena aku sama sekali gak fokus.
"Sya, udah dong... aku ngerti perasaan kamu, tapi pliss kamu jangan kaya gini." bisik Vika.
"Ehh kenapa Vik, ohhh itu iya, aku nggak papa kok." ucapku.
"Kamu tuh seharian ini sama sekali gak fokus, ok gini aja, pulang sekolah kita double date gimana, ya biar gak stres-stres banget lah." ajak Vika.
"Aku lagi gak mood Vik." balasku.
"Dannn... sini Dan.." panggil Vika ke Dani.
"Apa?" tanya Dani begitu sampai di meja kami. Aku memalingkan muka dan menghadap ke jendela, aku tau Vika pasti mau membujuk Dani.
"Pulang sekolah, double date, aku yang pilih tempat ok?" ucap Vika.
"Okkee..." jawab Dani.
"Tuh kan Sya... " ucap Vika kemudian.
Aku melihat kearah mereka berdua. Dani tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tik ... tik... dan titik-titik darah dari hidungku tiba-tiba makin banyak sampai membuatku kaget.
"Vik... ini aku kenapa tiba-tiba mimisan." aku memanggil Vika yang sedang asyik bahas tempat kencan bareng Dani. Mereka berdua berlomba mendekat. Aku sampai menengadahkan tanganku untuk menampung darahnya.
"Kita ke UKS." ajak Dani. Dan kami bertiga bergegas ke UKS.
"Kenapa bisa, kamu baru jatuh, kepala terbentur, atau hidung terbentur?" tanya petugas UKS.
"Enggak bu." jawabku.
"Atau ngorek hidung kekencengen?"
"Enggak juga, cuma tadi tiba-tiba aja Bu, saya sendiri juga kaget." jelasku.
"Berarti kamu mungkin sedang stres berat, kepala kamu terasa sakit kan?"
"Oh iya bener Bu." jawabku.
"Ya udah sampai darahnya berhenti kamu tetap posisi kaya gini ya! jangan sampai ndongak, nanti masuk tenggorokan kamu muntah malah." kata petugas, kemudian menutup tirai dan meninggalkan kami.
"Baik Bu..." jawabku. Aku terus menunduk. Sambil sesekali menyeka darah yang mengalir dan membuang bekas tisunya kedalam tempat sampah yang sudah disediakan.
"Vik... kayanya kita nggak jadi keluar siang ini deh, soalnya aku ngerasa pusing gitu." ucapku.
"Iya nggak papa, kamu istirahat aja dulu, kan aku udah bilang jangan banyak pikiran, kamu sih bandel, jadinya saraf kamu nggak sanggup tuh." omel Vika.
"Iya-iya..." jawab ku.
"Dan temenin dia ya, aku balik ke kelas dulu mau beresin buku-buku nya." pinta Vika.
. "Okke Vik." kata Dani.
"Makasiih ya." ucapku.
Dan rebahanku berlanjut sampai kami pulang sekolah, aku langsung telentang menatap langit-langit, belum ganti pakaian belum lepas sepatu. Pikiranku masih mengembara kemana-mana. Kulihat Dani masih lewat pintu balkon langsung menuju pintu utama kamarku menguncinya dari dalam sambil tetap terpaku pada posisi miring ponselnya. Aku tak menghiraukan dia, barangkali hanya ingin nemenin aku sambil main game.
Dia duduk selonjoran di lantai dekat posisiku tidur. Aku berusaha memejamkan mata, namun tak bisa, sepertinya aku sudah kehilangan akal sehatku.
Semua terjadi dengan tiba-tiba tanpa memberiku waktu untuk menerima satu persatu kenyataan yang ada. Aku tidak lagi berminat menghubungi mama.
"Ada apa? lagi mikirin apa?" tanya Dani menghentikan permainannya dan menoleh ke arahku. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Nggak mikirin apa-apa kok." jawabku.
"Kamu... kalau kebanyakan mikir jadi stres bisa-bisa mimisan kaya tadi." kata Dani, Dia berjalan untuk melepaskan sepatu dan kaus kaki ku. merapikannya ditempat biasa aku meletakkan sepatu. Kemudian naik keatas ranjang dan berbaring di sampingku.
"Udahlah... jangan dipikirin, aku nggak suka kamu sedih terus kaya gini."
"He em..." ucapku.
"He em Mulu kalau dikasih tau tapi tetep aja dipikirin, oh iya btw kamu cerita ke Vika."
"Iya... dia sahabat aku, dan aku butuh tempat untuk berbagi cerita."
"Nggak papa... tadi Vika sempet pesen ke aku, buat cegah kamu minum obat anti depressan terus-menerus, efeknya udah mimisan juga kan."
"Kok Vika tau kalau aku minum obat itu." gumamku.
"Kamu lupa ada jiwa paparazi dalam jiwanya. Dia lihat kamu minum itu sewaktu baru nyampe sekolah dengan sembunyi-sembunyi, akhirnya pas ada waktu dia lihat obat apa yang kamu minum, dia Googling ternyata salah satu merk obat anti depresan dan jika diminum melebihi dosis akan menyebabkan efek seperti mimisan salah satunya." jelas Dani.
"Hmmmm iya harusnya aku lebih hati-hati sama Vika hehehehe, aku lupa matanya paparazi banget." ucapku.
"Kamu kenapa nggak pernah bilang ke aku... mengenai obat itu." Dani mulai menggeledah tas ku dan mengambil obat yang aku simpan dalam resleting terkecil.
"Hmmmm..." aku bergumam lirih.
"Kalau kamu gak sanggup, kamu bisa berbagi cerita sama aku, tanpa kamu harus nenangin diri seperti ini." kata Dani.
"Iya maaf..." ucapku.
"Kalau kamu keberatan bercerita ke pacar kamu, kamu bisa bercerita ke Abang kamu." lanjutnya. Aku tersenyum.
"Iyaa..." ucapku.
"Oohh iya... kamu tau nggak?"
"Apa?"
"Ternyata Vika sama Dito mereka udah..."
"Udah apa?"
"Jangan pura-pura bodoh deh..."
"Iya-iya aku paham..." ucapnya kemudian.
"Terus, kamu mau coba, kamu mau juga kaya mereka?" tanya Dani.
"Enggak lahhhh... aku kan cuma kasih tau, padahal waktu di Bali mereka masih polos banget ciuman aja jarang."
"Masa sihh??" tanya Dani.
"Iyaa... dia tadi bilang from noob to mastah, maksudnya apa sih? aku nggak ngerti.." kataku.
"Kamu mau tau?"
"He em... tadi Vika bilang, tanya aja ke Dani."
"Ok... jadi noob itu bukan berarti pemula, tapi masih bodoh, barbar dan ya gitulah istilahnya pengacau dalam tim. Kalau mastah itu sebenarnya dari kata master alias udah profesional." jelasnya.
"Oooo gitu.." gumamku.
"Udah paham kan?" tanya Dani
"Udah kok... ehmm pantesan dia bilang gitu, berarti dulu gak ngerti apa-apa sekarang udah profesional, niihh pantesan dia ngecover kissmark kamu kemarin pake concealar dan dia bilang sering kaya gitu juga."
"Oo iya ya, dapat trik darimana sih dia, bisa aja." ucap Dani sambil ketawa.
"Kalau lagi tiduran bareng gini, mana rumah lagi sepi, pikiran ku jadi traveling kemana-mana." lanjutnya.
"Kamu mau apa... udah jauh-jauh sana." aku mendorongnya agar sedikit menjauh. Tapi bukannya menjauh dia justru bangkit dan mengecup bibirku sekilas.
"From noob..." ucapnya kemudian.
Lalu dia beringsut makin mendekat, kudengar nafasnya memburu, sebenarnya takut kalau dia bakalan kelewat batas sih, tapi percaya aja, kalau dia gak bakalan sampai kesana. Kakinya menindih kaki ku dan dia mulai melumat bibirku, menghisapnya kemudian turun menyusuri leherku dan membuat kissmark lagi disana. Sebelah tangannya membuka kancing seragamku.
"Dan..." aku menahannya, tapi dia terus saja melakukan aksinya sampai semua kancing bajuku terbuka. tangannya menyusup ke balik bra ku dan meremasnya, sementara dia kembali menyesap bibirku seakan ada rasa manis yang tak ada habisnya.
"Dan..." aku menahannya tangannya untuk bergerak semakin kebawah. Dia menghentikan aktivitasnya sambil ketawa.
"To mastah..." bisiknya. Aku bernafas lega. Buru-buru kutarik selimut untuk menutupi pakaian ku yang berantakan.
"Takut banget... gitu doang." dan dia masih berusaha menggodaku.
"Ya iyalahhhh... setannn" umpatku.
"Bercanda kok... tunggu aku sampai khilaf beneran." ucapnya sambil mengedipkan mata.
"Nggak lucu tau."
"Bercanda sayang... bercanda, nih sini aku benerin kancingnya." Dia menarik selimutku dan membukanya kemudian dengan sigap mengancingkan kembali kancing bajuku.
Setelah semua selesai aku buru-buru bangkit, namun Dani mencegahku.
"Udah sini aja, aku janji gak akan kurang ajar lagi, aku cuma mau tidur disamping kamu." lanjutnya sambil mendekap ku dari belakang.
Dia mengajakku berbaring lagi. namun kali ini aku membelakanginya.
"Ya udah kaya gini juga nggak papa, asal bisa peluk kamu." ucapnya.
Dia menarik selimut dan kami berdua pun berada dibawah satu selimut yang sama. Tangannya masih kembali ke dadaku namun tidak melakukan apa-apa. Aku masih siaga kalau-kalau dia nakal lagi. Namun tidak berapa lama kudengar hanya nafasnya saja berhembus teratur dan ternyata dia tertidur. Aku pun turut memejamkan mata pula.
Aku terbangun saat kurasakan belaian lembut menjalar disepanjang rambut dan pipi ku, aku membuka mata dan mengerjap sesaat membantu mataku beradaptasi dengan cahaya terang yang menerobos dari jendela kamarku.
Kulihat Dani dengan senyumnya yang selalu manis. Aku membalasnya lalu menutup wajahku dengan selimut.
"Kenapa?" tanya dia.
"Malu kamu liatin aku bangun tidur kaya gini."
"Udahlah... " dia membuka selimutku.
"Tuh kan, kalau cantik mau kaya gimana ya tetep aja cantik." lanjutnya.
"Hmmmmmm...."
"Cita-cita kamu apa?" tanya Dani kemudian, yang langsung membuatku berpikir.
"Entahlah... dulu aku sempat berpikir ingin jadi dokter, bisa menolong orang lain itu keren kan ya, tapi setelah semua ini, aku bahkan tidak ada keinginan buat kuliah."
"Ehmmm... selain jadi dokter ada lagi gak? pingin punya usaha apa gitu kek?"
"Enggak ada... punya usaha butuh modal yang gak sedikit, aku gak punya apa-apa, kayanya nanti lulus sekolah aku mau kerja aja deh." jawabku.
"Kalau mama sama papa biayain kuliah kamu gimana?" tanyanya kemudian.
"Enggaklah aku gak bisa Nerima itu, aku udah banyak ngerepotin keluarga kamu, aku mau kerja aja." tolakku.
"Terus apa yang bisa aku lakukan untuk kamu?"
"Kamu?"
"Iya aku..." jawab Dani.
"Kamu nggak perlu ngelakuin apapun kok... aku udah cukup bahagia berada disisimu kaya gini."
"Kalau misal kamu butuh apa-apa, jangan segan minta ke aku, karena kamu tanggung jawabku."
"Hmmm iya iya..." ucapku.
"Sini cium cium..." sahutnya.
"Sini in dulu obat ku..." kataku memberi syarat.
"Enggak.. kamu gak boleh minum ini lagi, bahaya efek sampingnya. Kamu nggak akan kuat." bantahnya.
"Tapi aku masih butuh itu, aku nggak bisa nenangin diri aku sendiri." jelasku.
"Nggak aku nggak ngizinin kamu ketergantungan sama obat ini, dan aku nggak bakal ngizinin kamu keluar tanpa aku bersamamu."
Aku hanya bisa merengek dan menangis seperti anak kecil yang diambil permennya. Dia memelukku, membiarkanku menangis sepuasnya.
Entah kenapa bisa menangis di pelukannya membuatku sedikit lebih tenang dan berpikir jernih. Kemarin aku sempat membawa cutter ke kamar mandi, ingin sekali kusayat nadiku dan mengakhiri hidupku kalau saja dia tidak begitu aja masuk dan main game lama banget di kamarku.
"Udah lebih baik kan, kamu nggak butuh obat, kamu hanya butuh teman untuk berbagi, dan aku bakalan selalu ada buat kamu."
"Tapi panic attack ku butuh obat itu Dan." lanjutku.
"Iya aku paham, aku akan memberikannya saat itu, nggak sekarang, kamu hanya akan menyalahgunakan nya saja."
Aku mendongak dan menatap wajahnya, dia menyambutku dengan kecupan.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu baik sama aku?"
Dia tertawa tertahan sambil menutup mulutnya, sudah pasti dia takut kedengeran dari luar, kalau dia berada di kamarku.
"Ya karena aku sayang sama kamu, memang apa lagi?"
"Itu masih mungkin kalau waktu tidak menunjukkan siapa diriku, aku bukan siapa-siapa kan, bahkan aku bukan adik kamu."
Dia mengarahkan telunjuknya nya ke bibirku.
"Aku sudah pernah bilang, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini. Dan hanya kepadamu aku rela bahkan kalau harus menyerahkan jantungku demi kamu."
"Aku sudah tau siapa kamu sejak kita masih kecil, tapi aku tetap memilih untuk mencintai kamu seperti ini, aku tidak pernah memandang siapa kamu, yang aku tau aku hanya jatuh cinta sama kamu tanpa alasan."
"Dan kamu tau, aku harus menunggu sampai usia kita sekarang ini, baru bisa mengungkapkan perasaanku, aku bisa memelukmu sebagai pacar, aku bisa mencium, mencumbu, dan yang paling penting aku ingin jadi seseorang yang selalu bisa kamu andalkan, aku ingin selalu jagain kamu."
"Sejak kapan kamu suka sama aku?" tanya ku iseng aja karena aku tau sejak kecil dia berusaha selalu ngelindungin aku dari anak-anak yang nakal, kupikir dia sudah menyukaiku sejak kecil.
"Sejak kecil... aku juga ngga tau kenapa bisa cinta banget sama anak cengeng, lemah dan nggak bisa dibiarin sendirian."
"Sejak kecil?"
"Iyaa .. kalau kamu?"
"Sejak aku pindah kesini tahun lalu." jawabku apa adanya.
"Sebelumnya waktu masih masa-masa puber SMP kamu gak pernah ada rasa ke aku?"
"Enggak kan aku tau kamu kakakku."
"Ya Allah segitu noob nya pacarku."
"Hehehehehe..." aku ketawa geli.
"Dasar..." dia mencubit pipiku.
"Auuww.." keluhku.
"Udah ya, ini obatnya aku yang simpen buat kamu." ucapnya kemudian, dan aku hanya mengangguk.
"Kalau nanti malem aku minta sebutir boleh?" tanyaku, soalnya semua seakan kembali terputar dalam memori ku begitu menjelang tidur.
"Aku akan tidur disini nanti malam, jagain kamu bacain buku kalau perlu sampai kamu tertidur. Jadi kamu nggak perlu bergantung pada obat ini lagi, bergantung saja ke aku."
"Tapi..."
"Udahlah..." sahutnya.
"Ohh iya kamu mandi gih, habis ini kita jalan, kamu pingin kemana aku yang traktir."
"Aku nggak pingin kemana-mana."
"Looh kok gitu sih, anggap aja ini ajakan kencan, dan kamu yang pilih tempatnya."
"Tapi beneran aku lagi malas kemana-mana, kita dirumah aja, kamu bisa main game juga kan."
"Hmmm ya udah terserah kalau gitu, ya udah aku kekamar dulu ya." pamitnya.
"He em..." balasku. Aku berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Saat membuka pakaianku, teringat kejadian tangan Dani yang tadi sempat masuk kedalam bra ku, ya Tuhan... aku nggak nyangka, dan damage masih kerasa sampai sekarang.