The Darkness 2

2014 Words
        Hari ini adalah hari Minggu, aku menyiram tanaman dan membersihkan daun-daun kering di kebun, tepatnya halaman samping rumah bersama Tante Maya, kami berdua memiliki hobi baru yaitu berkebun setelah Tante Maya kena racun Shoope buat beli peralatan dan benih-benih dari toko gardening.       Om Angga sama Dani pergi jogging di sepanjang jalan Ijen. Terlebih hari Minggu pagi selalu ramai di Ijen dengan car free day nya. Sebenarnya Dani ngajak aku, tapi aku nolak dingin banget, karena di Malang suhu mencapai 17°c di pagi hari.      Usai membersihkan dan merapikan kembali peralatan yang baru kupakai dan meletakkan di disudut kebun, aku mencuci tangan untuk membersihkan sisa tanah yang sedikit masih menempel di beberapa tempat di sela jemariku.      Sssshhhhh... suara air begitu kuputar kran membuatku berjingkat.      "Kenapa?" tanya Tante Maya.     "Dingin banget airnya Tante." jawabku sambil melanjutkan cuci tangan. Tante Maya tersenyum mencubit pipi ku.     "Lucu banget kamu." Aku hanya mengernyitkan dahi, lucu?? udah tua gini dibilang lucu, ada-ada Tante.     "Bikin jajanan yuk?" ajak Tante Maya.     "Iya... bikin apa Tante?"     "Pisang coklat gimana?"     "Bolehh Syaluna juga suka "      "Okke... Tante siapin di dapur dulu nanti kamu nyusul ya." kata Tante Maya.     "Iya Tante." aku buru-buru menyelesaikan cuci tangan dan mengelapnya dengan lap bersih. Kemudian ku susul Tante di dapur yang baru aja selesai menyiapkan semuanya.      "Biar Syaluna yang kupas pisangnga Tante." pintaku.     "Oo iya sayang, ini..." ucap Tante menyerahkan sesisir pisang dan wadahnya.     "Tante siapin coklatnya dulu ya." lanjutnya.     "Iya Tante."     Hampir setengah jam kami sibuk di dapur, Tante mulai menggoreng pisang coklat yang sudah berselimut tepung roti. Aku menyiapkan parutan coklat dan bersiap meratakan ke pisang yang sudah ditiriskan.      Kudengar suara Dani dan papa nya baru saja masuk, mungkin mereka sudah selesai jogging. Dani menghampiriku di dapur.     "Sudah pulang?" tanya mamanya.     "Udah ma..." jawab Dani.     "Lagi bikin apa nih?" tannya kemudian.     "Pisang coklat, kamu mau?" tanyaku.     "Boleh deh." dia mengambil satu dan memakannya. Kulihat dia agak kusut, dan pandangan matanya menerawang entah kemana.      "Kamu lagi mikirin apa?" tanyaku.     "Mikirin kamu." jawabnya.     "Bo ong..." sahutku.      "Iyaa beneran, Sya.. mama, ada yang mau bicara sama kalian, kedepan yuk." ajaknya.     Aku dan Tante Maya saling berpandangan. Tante Maya mematikan kompor dan membersihkan tangannya begitu pula denganku. Dan saat kami sampai di ruang tengah sudah ada Om Angga duduk bersama Vika dan Dito.      "Ehhhhh kalian, tumben ada apa?" tanya ku lalu duduk dan bergabung dalam pembahasan mereka.      "Iya tadi aku emang WA Dani, mau kesini, dan kita ketemu di CFD, terus sama om Angga suruh mampir, ya udah kami kesini." terang Vika.      "Ada apa emangnya?" tanyaku penasaran kenapa Vika chat ke Dani bukannya ke aku.      "Sorry sebelumnya aku minta maaf ke kamu, maaf bangettttt aku nggak tau kalau bakalan kaya gini."     "Bentar bentar ... ada apa sih ini?" tanyaku.     Mama Dani turut duduk di sampingku dan mulai menyimak.     "Om Tante... semuanya, ada masalah serius sebenarnya tentang siapa sebenarnya Syaluna." jawab Dito yang sedari tadi diam saja.      "Masalah serius?" tanya mama Dani.      "Ceritain sayang." ucap Dito ke Vika.      "Syaaaa... maafin aku ya, sebelumnya aku nggak tau apa-apa, foto tentang selimut bayi dan perlengkapannya yang waktu itu kamu kirim ke aku buat tanya ke kakakku, nah aku tanya ke Abang dia nggak tau dan sama sekali nggak familiar dengan logo itu, barangkali itu emang ada logo private katanya, jadi aku inisiatif pos foto itu di i********:, tanpa capt apapun kok, terus ada akun fake yang gada following dan followernya DM aku, dia bilang mau ketemu aku, penting banget ini tentang bayi perempuan yang selimutnya di postinganku tersebut, aku balas ini siapa? dia gak balas cuma minta alamatku, aku kasih dong, kupikir itu emang keluarga kandung Syaluna, karena dia tau pemilik selimut bayi itu, adalah bagi perempuan." terang Vika.      "Terus?" tanyaku.      "Iya sore harinya ada beberapa orang datang kerumah, mereka minta kasih lihat selimut, bantal juga box yang ada difoto. aku bilang aku gak punya itu semua, aku Nemu gambar itu di galeri hp teman tapi aku lupa siapa ya.. jawabku, mereka gak percaya akhirnya mereka ambil sample rambut aku dengan kasar dan memasukkan ke kantong plastik lalu pergi gitu aja." lanjut Vika.      "Ya nggak papa baguslah kalau aku ketemu sama orang tua kandung ku." jawabku sumringah.      "Masalahnya gak sesimple itu Sya, aku sama Vika udah mikir-mikir Sampek gak bisa tidur semalam, awalnya kupikir bagus juga kalau kamu bakalan ketemu sama orangtua kamu, tapi setelah kupikir lagi, kenapa baru sekarang, kenapa baru setelah Vika up foto itu baru mereka bergerak nyari kamu, kenapa pas masih bayi mereka gak brusaha nemuin kamu, itu artinya, kamu emang disembunyiin, entah itu sama siapa, dan untuk tujuan apa, yang jelas kamu sengaja dikeluarkan dari lingkaran keluarga tersebut. Juga melihat siapa yang cari kamu, kayanya mereka bukan orang yang baik Sya," kata Dito.       "Terus aku harus gimana?"       "Mulai sekarang, kamu jangan deket-deket aku Sya, aku rasa aku bakalan diawasi, aku takut mereka beneran tau kalau pemilik selimut itu kamu, karena mereka pasti tau foto itu bukan milikku dan satu-satunya yang dekat denganku adalah kamu. Aku takut mereka ngambil kamu."        Aku melihat kearah Dani, aku tau rupanya ini hal yang dia pikirkan tadi.       "Tenang aja aku bakalan hati-hati dan gak akan keluar rumah sendirian." aku berusaha meredakan ketegangan mereka.       "Diluar kelas jangan deketin Vika, aku yakin dari gimana dia datengin Vika kemarin, mereka orang-orang terorganisir, banyak anggotanya dan bisa disebar kemana aja." kata Dito.       "Sekarang kamu nggak boleh kesekolah pake angkot, sama aku aja." kata Dani.       "Papa ambil mobil buat kamu." kata Om Angga.       "Om nggak perlu segitunya, naik motor aja nggak papa kok." tolakku.       "Syaluna... kamu nggak tau apa yang bakalan kamu hadapi. Asal kamu tau, bersamaan dengan kamu ditemukan sama Tante kamu, di malam yang sama, seorang wanita bunuh diri dengan menabrakkan diri pada sebuah mobil. Kondisi nya lemah seperti baru melahirkan, kami rasa wanita itu adalah ibu kandung kamu, dia sengaja kabur dan nyembunyiin kamu, setelah tau kamu selamat dia mengakhiri hidupnya, entah kengerian seperti apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya."       Mendengar itu kami semua terbelalak.         "Iya beneran... semua warga berasumsi itu adalah ibu kandung dari bayi yang ditemukan mama kamu, dia bunuh diri tidak jauh dari sini kok, kami membawa kerumah sakit, tapi tidak satupun keluarga yang datang kesana, wanita itu dimakamkan tanpa identitas oleh kami semua."      "Dan wajahnya cantik, mirip kamu." tambah mama Dani, sambil mengelus rambutku.      "Terus sekarang gimana?"tanyaku.      "Kalau benar yang bunuh diri waktu aku bayi itu mamaku, gimana aku memastikannya. Dan kalaupun itu benar mama ku, dia tidak akan ninggalin aku tanpa apa-apa, pasti ada pesan yang ingin dia sampaikan untuk pengasuhku ataupun untukku benar kan, itu jika memang dirinya dalam bahaya." lanjutku.      "Tunggu sebentar..." kata mama Dani beranjak dari duduknya.      "Kayanya aku harus hapus semua postingan foto ku yang sama kamu deh Sya, aku takut mereka nemuin kamu dari informasi akunku." ucap Vika buru-buru mengeluarkan ponselnya.       "Iya Vik... kami hapus aja, Dito juga kalau ada, aku pun juga." kata Dani.       "Aku kayanya non aktifkan semua sosmed ku deh, takut sih, walaupun aku gak tau ada apa diluar sana, ya buat jaga-jaga aja." ucapku.       "Kalau melihat sampai nekat maksa ambil sample rambut segala pasti udah kelewat batas." kata Dani.       "Ini barang-barang kamu, sewaktu Tante nemuin kamu di dalam box dengan selimut dan bantal berlogo ini." ucap Tante Maya.       Kami semua mulai mencari barangkali ada pesan tersembunyi didalam sana. Vika berlari ke pintu depan untuk mengunci pintu, kemudian balik lagi.        Kami tidak menemukan apapun, sampai tanganku merasakan sesuatu yang yang aneh saat meremas bantal bayi itu. Aku membuka sarung bantalnya, terlihat bekas jahitan dari kulit bantal tersebut, aku merobeknya dan merogoh kedalam sebuah buntalan plastik sangat kecil. Aku menunjukkan ke mereka semua.      "Buka..buka.." perintah Vika.      Rupanya plastik tadi adalah sebuah kertas yang di lipat-lipat hingga jadi lipatan terkecil dan dibungkus rapat dengan lakban.       Aku membuka lakban itu dengan hati-hati takut kertasnya robek. Aku mulai membuka dan melebarkan kertas itu.              Putriku Sabra...      Saat kamu membaca ini, berarti kamu sudah dewasa kamu sudah sekolah, dan yang pasti kamu tidak bisa berjumpa lagi dengan mama.      Bayi cantik mama lahir pada 20 Desember 2003, mama kasih nama Sabra El Satilah, tumbuhlah dengan bahagia dan ceria sayang, maafkan mama, mama tidak bisa menjaga dan merawatmu dengan tangan mama sendiri.      Mama titipkan kamu pada Tante Maya, kakak kelas mama yang sangat baik, mama yakin Tante Maya akan merawat dan menjaga kamu dengan penuh kasih sayang, mama tidak pernah berniat buat ninggalin kamu sendirian nak, tapi mama tidak bisa turut membawamu pergi, masa depan kamu masih panjang.       Ingat pesan mama baik-baik ya, begitu kamu dewasa, jangan pernah mendekati keluarga Amerta, jangan bekerja di Amerta grup dan jangan pernah mencari tau siapa keluarga kamu, kamu hanya punya mama, dan keluarga yang merawat kamu sekarang.      Mama akan selalu menyayangi dan mencintai kamu sampai kapanpun. Selamat tinggal putriku sayang, peluk cium mama dari jauh.          Mama Rania.      Nggak tau kenapa aku menangis tersedu-sedu membaca tulisan itu. Bagaimana mungkin aku bisa tidak menangis sedangkan aku menemukan siapa mamaku, saat beliau sudah tiada.      "Ya Tuhan kamu anaknya Rania, harusnya aku mengingatnya saat aku melihat mayat wanita cantik yang saat itu aku lupa siapa dia. Ternyata kamu putrinya." ucap Tante Maya.       "Berarti yang bunuh diri itu beneran mama nya Syaluna Tante?" tanya Dito. Dan dijawab anggukan oleh Tante Maya.       "Pesan itu... kamu tidak boleh mencari tau background keluarga kamu, jadi jangan coba-coba mencari tau sayang, kamu tuh bandel soalnya semakin dilarang semakin penasaran." kata Dani.       Aku mengangguk. Tante Maya memelukku dengan erat.      "Tante pasti tau sedikit tentang mama ku kan, bisa tolong ceritain Tante plisss, apa sebenarnya yang terjadi sama mama."      "Tante kurang tau sayang maaf ya, Tante hanya dekat sewaktu masih sekolah karena kami berada di organisasi yang sama, dan ikut extra yang sama." kata Tante Maya.      "Setelah Tante lulus sekolah, Tante kehilangan kontak dan tidak pernah lagi mendengar tentangnya, hanya saja mama kamu dulu sangat cantik, smart dan penurut. Banyak yang suka sama dia, namun dia selalu menutup diri dari para laki-laki katanya, dia sudah dijodohkan.... iyaaa benar Tante ingat dia di bilang sudah dijodohkan, barangkali salah satu putra pewaris Amerta grup."       "Apa itu Tante Amerta Grup?" tanyaku.       "Adalah keluarga kaya raya di negeri ini tapi jarang terdengar namanya di media, usahanya ada di berbagai bidang mulai dari pertambangan, pendidikan sampai rumah sakit, benar-benar hedonisme pokoknya. Oalahhh tenyata Rania dijodohkan sama salah satu pewaris nya." ucap Tante Maya sambil manggut-manggut.       "Kita Googling aja." ucap Vika.       "Jangan ceroboh... begitu kamu enter keyword Amerta, mereka akan langsung mencari IP mu dan mencari tau tentang putrinya yang hilang, begitu dia lihat itu kamu, tidak akan tinggal diam, pasti kamu tau sesuatu tentang putrinya. paham Vika?" kata Dani.      "Iya iya paham maaf..." katanya.      "Ya udah jadi gini aja, benar Vika tadi untuk sementara jauhin Vika dulu selama diluar rumah, diluar kelas, dia pasti diawasi, Dani sekolah bawa mobil atau kalau perlu papa cariin juga sopir buat kalian, terus Syaluna jangan pernah pergi kemanapun sendirian, dirumah pun usahakan menjauh dari jendela. buat jaga-jaga saja."       "Papa bakalan urusin akte buat Syaluna sebagai putri kami, dan masukin ke KK kita. Biar sewaktu-waktu ada yang mempertanyakan tentang dia, kita bisa jawab dengan mudah."lanjut papa.      "Hmmm jadi gak bisa nikah dong sama adik sendiri." kata Dito menyindir Dani.      "Iiiyaaa pa, trus gimana?" kata Dani tiba-tiba.      "Kamu beneran mau nikah sama adik kamu?" tanya papa.      "Lahhhh aku mana pernah bercanda pa." ucap Dani.      "Iya kita pikirkan nanti, yang penting Syaluna aman dulu."      "Jangan lama-lama mikir nya pa,nanti keburu Syaluna diembat orang."       "Bawel..." ucapku sambil menahan tawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD