Keesokan harinya kami ada tour ke Garuda Wisnu Kencana dan Nusa Dua Bali, aku telah siap dengan dress onepiece berwarna nude lengkap dengan tas selempang yang hanya berisi dompet dan hp.
Kami berempat keluar dari kamar dan tidak lupa aku mengunci kamar kami, lalu memasukkan kunci nya kedalam tas.
Sampai di tempat bus kami parkir, aku bertemu dengan Dani. Dia ganteng banget, hanya dengan outifit kaos polos hitam dan celana pendek. Kalau orang ganteng mah mau pakek pakaian apapun ya ganteng aja pikirku.
"Haii..." sapa Dani, kebetulan dia sedang duduk di pembatas jalan bareng Fahri, aku duduk diantara merek berdua, dan gak lama Fahri ninggalin kami berdua.
"Udah baca chat ku belum?" tanyaku kepadanya.
"Udah..." jawabnya tersenyum yang entahlah aku tidak bisa membaca pikirannya.
"Kenapa?" tanyaku kemudian.
"Kenapa apa?
"Itu senyum-senyum sendiri."
"Enggak kok nggak papa, kamu tau nggak papa bilang apa ke aku?"
"Apa?"
"Papa bilang, kalau kamu udah siap, kalau kamu memang suka sama Syaluna, minta dong ke orang tuanya, biar papa panggilin penghulu." jawabnya ngakak.
"Kan aku bilang juga apa, nggak anaknya nggak papa nya sama aja"
"Enggak sih, cuma ambil intinya aja, papa ngizinin kok kalau misal aku nikah sama kamu."
"Hassshhh sekolah aja dulu yang bener, habis itu kuliah terus kerja baru mikirin nikah."
"Iyaaa iya... aku usahain kita udah punya rumah sendiri sebelum nikah, aku bakalan kerja keras." ucapnya. kuperiksa keningnya nggak panas tuh, tapi kenapa dia ngigau, ucapannya kemana-mana, pikirannya jauh gak bisa dikendalikan.
"Wahaiii para ketua, bisa nggak kalian pacarannya delay dulu, nih para pengikut udah sampek tuwir nungguin." teriak Vika melongok dari dalam bus.
"Ya ampunn mereka nungguin kita doang." ajakku.
Kami berdua naik ke dalam bus, aku duduk di sebelah Vika.
"Memang mereka pacaran?" tanya Pak Agus.
'"Iyaaa pak." jawab mereka semua bersamaan.
"Kann saya dulu juga apa, jarak antara benci jadi cinta itu tipisss, ya nggak Dan?" lanjut pak Agus.
"I... iya pak..."
"Tapi kemarin itu, kayanya yang saya tau, yang mau nembak Syaluna itu Dito deh, Dito mana Dito?" panggil pak Agus.
"Ehhh anu pak, saya tau Dani suka sama Syaluna jadi saya ngalah hehehehehe." jawab Dito. Yang langsung disambut dengungan satu bus.
"Ohh jadi dia pacaran sama aku, karena dia tau gak bakalan bisa dapetin kamu." ucapan Vika tiba-tiba agak nggak enak gitu.
"Maaf Vik, aku nggak tau kalau Dito..." belum selesai bicara aku langsung dipotong olehnya.
"Emang kalau cewek cantik memang banyak, bisa dapetin siapa aja, ya kali aku bourique, ada yang mau aja udah syukur banget." lanjutnya.
"Vik... tapi aku beneran nggak tau, kalau Dito suka sama aku, dan kamu juga tau selama kita nugas, aku sama dia nggak pernah ngapa-ngapain."
"Udah ya, percuma kamu membela diri buat kamu sendiri sedangkan aku, di mata teman-teman udah gak ada harga dirinya, karena jadi pelariannya si Dito, seneng kan kamu, jadi spotlight." katanya kemudian, belum sempat aku menenangkannya, dia sudah menyimpan telinganya dengan headset, dan sepanjang jalan kami hanya membisu satu sama lain.
Dan akhirnya kami tiba di kawasan Nusa Dua, pantai Nyang Nyang pasir perawan, kami masih diparkiran, dan track ke pantainya lumayan sih, jauh dan agak merepotkan. Tapi sepadan dengan surga tersembunyi yang bakalan kita lihat di depan mata.
Kami berempat jalan-jalan di sepanjang hamparan pasir sambil sesekali berswafoto, walaupun Vika masih belum mau bicara denganku.
"Pingin nggak sih, naik speedboat?" tanya Vika kemudian.
"Mana ada disini?" Bella balik bertanya.
"Ya kali di pantai-pantai kemarin kan banyak, kalau sekarang...' tambah Naura.
"Nahhh itu..." tunjukku. Emang sih sepertinya tidak ada pantai di Bali yang tanpa speedboat. Vika tau aku Thalassophobia, dan dia ngajak naik Speedboat, mungkin sebenarnya dia pingin menjauh dari aku, atau agar aku tidak bisa ikut mereka bareng-bareng.
"Ya udah ayo kesana... Yang mabuk laut atau phobia mending nggak usah ikut deh."
"Siapa yang phobia?" tanya Naura.
"Nggak tau..." jawab Bella
"Ayoo bang agak ketengah ya..." pinta Vika.
"Siaapppp..." ujar abang-abang pengemudi speed boat nya.
Namun aku tidak ingin hubungan ku sama Vika retak gitu aja karena cowok, aku berusaha menutupi ketakutan ku, dan ikut mereka.
Jantungku berdetak lebih kencang diatas Speedboat yang melaju kencang. Sementara mereka bertiga begitu menikmatinya sambil sesekali mengambil gambar dan video.
Tiba-tiba Vika berteriak karena kalungnya lepas dan tertiup angin melayang jatuh kemudian masuk ke air. Tanpa menunggu dan berpikir panjang aku langsung melompat dari Speedboat yang melaju kencang untuk menangkap kalung Vika yang masih terlihat berkelip kemudian lenyap.
Byuuurrrr semua duniaku terasa penuh dengan air kulihat kalung Vika masih melayang beberapa meter dari posisiku. aku segera mendekat dan meraih kalung itu kemudian memasukkan ke saku celana. Dan sangat terlambat sekali aku tersadar bahwa aku tidak bisa berenang nekat masuk ke laut adalah salah satu hal bodoh yang pernah aku alami.
Nafasku mulai berat dan bodohnya lagi, pikiranku sudah tidak waras saat aku berusaha mencari pijakan untuk kakiku di lautan dalam. aku mulai ketakutan aku melompat-lompat seakan bisa berenang agar terlihat dari permukaan namun sia-sia, stres ku bertambah saat aku tidak bisa menggapai apapun. mulai ku tenangkan otakku, aku mencoba rileks dan berdiam diri untuk sesaat akhirnya tubuhku bisa melayang dan naik ke permukaan.
Begitu berhasil muncul ke permukaan aku mulai panik karena Speedboat mereka sudah sangat jauh, dan bodohku kembali on, kaki ku mencari pijakan lagi dong, yang justru membuatku timbul tenggelam, aku berusaha melambai-lambaikan tanganku seperti mengelap kaca, namun sia-sia, kaki kram dan tenagaku semakin habis. aku masuk kembali kedalam air, kupejamkan mataku dan menunggu kakiku mereda, namun aku kehabisan nafas. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa, bayanganku aku dimakan ikan atau nggak tenggelam ke dasar dan jadi hantu laut.
Namun belum sampai kesadaran ku hilang sempurna aku merasakan tanganku ditarik oleh sesorang yang membawaku ke permukaan. Aku lega, aku belum mati, terimakasih ya Allah, aku masih punya mimpi buat nikah sama Dani.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, namun aku langsung gelagapan saat Seseorang berhasil mengeluarkan air dari kerongkongan ku sebelum memenuhi paru-paru ku. Iya siapa lagi kalau bukan Dani. Dia kasih CPR, kemudian langsung memelukku saat melihatku berhasil terbangun. Ada Atma yang pakaian nya basah kuyup mungkin dia tadi ikutan masuk ke air buat nyelametin aku.
Kemudian Vika mendekat dia berteriak histeris dan memaki-maki kebodohanku, sambil memelukku menggantikan Dani. Aku meraba saku hotpant ku, tempat tadi menyimpan kalung Vika, syukurlah masih ada disana, aku mengeluarkannya kemudian memberikan kepada Vika.
"Kamu masuk ke air, sedangkan kamu phobia, kamu gak bisa berenang hanya karena ini?" bentak Vika, aku tau dia marah karena dia takut kehilangan aku bukan karena hal lainnya.
"Karena itu berharga buat kamu." jawabku dengan suara yang langsung berubah karena banyak minum air laut tadi, jadi serak-serak gak kedengeran.
"Bakka... kalau mereka telat nyelametin kamu gimana? kamu tuh nggak bisa berenang, ngapain kamu pakek nyebur segala, kamu tau aku paniknya kaya gimana, aku teriak-teriak kaya orang gila." terang Vika, dia mulai tergugu di pelukanku.
"Aku nggak tau gimana caranya biar kamu bisa maafin aku." ungkapku.
"Vik... udahya, aku mau ngomong sama dia, kalian dipending dulu pelukannya." potong Dani, dia marah namun mencoba ramah pada mereka semua, mereka membubarkan diri, menyisakan aku sama Dani saja di pos life guard. Sesekali Vika masih menoleh ke arahku dengan perasaan bersalahnya. Aku tersenyum untuk mengatakan aku nggak papa.
Setelah mereka semua pergi, Dani begitu marah padaku.
"Kamu tau apa yang barusan kamu lakukan?" ucapnya dengan tatapan tajam dan nada yang sangat menakutkan.
"Kamu masuk keair, cuma buat ambil kalung Vika, cuma buat ambil kalung doang, dan itu pun bukan punya kamu, kamu hampir kehilangan nyawa disana, kamu sadar?" lanjutnya. Aku yang tidak pernah melihat Dani semarah itu jati ketakutan.
"Aku tau Vika marah sama kamu gara-gara Dito, kamu minta maaf ngemis-ngemis ke dia, padahal itu bukan salah kamu, dan lagi kamu dengan bodohnya setor nyawa cuma buat dapetin maaf dari dia."
Aku hanya bisa memegangi dadaku yang terasa sesak, mungkin karena trauma tadi dan syok melihat kemarahan Dani.
"Aku sudah bilang jangan kemana-mana tanpa aku, dari kemarin kamu nggak pernah dengerin aku, sebenarnya kamu anggap apa sih aku hah..."
"Kamu tau.... aku sayanggg banget sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, tapi apa... kenapa kamu selalu ngelakuin hal bodoh yang membahayakan diri kamu." ucapnya sambil memelukku.
Aku nggak sanggup lagi menahan airmata, aku terisak dengan d**a tercekat. Sakit sekali rasanya.
Dani yang menyadari bahwa aku kesakitan segera melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahku.
"Sayang kamu kenapa? lihat aku, mana yang sakit? hah apa yang sakit."
"Maaf kalau aku tadi marah ke kamu, aku hanya damage banget lihat kamu kaya tadi, maafin aku sayangg... kamu kenapa, katakan padaku."
Dani memanggil seorang lifeguard untuk meminta bantuan.
"Nafasnya pendek, dadanya terasa sakit, karena syok kejadian tadi, udah nggak papa, coba baringkan dia disini." kata life guard nya. Kemudian mereka memindahkan ku ke tempat tidur yang lebih tinggi kemudian memasang alat bantu pernafasan buatku.
"Tunggu ya, sampai dia pulih jangan kemana-mana."
"Iya..." jawab Dani.
"Maafin aku Sya, aku nggak bermaksud buat ngebentak kamu. Aku hanya... nggak ngerti lagi gimana harus bersikap." ucapnya.
Aku mengangguk. Dan mencoba membuka alat bantu pernafasan ku, namun dan Dani mencegahnya.
"Kita harus balik, mereka nungguin kelamaan." ucapku.
"Udah mereka ngerti kok kamu masih sakit."
"Aku udah nggak papa, nafasku udah pulih, ayo pulang."
"Enggak, kamu masih harus dirawat. Aku jagain kamu disini Sampek kondisi kamu membaik."
"Tapi aku kedinginan, pakaianku basah, aku pingin ganti baju, di dalam bus ada jaketku."
Dia mencari keseliling, dan mengambil sebuah selimut untukku.
"Enggak aku mau pulang."
"Sya..."
"Daniiii... aku mau pulang." aku menarik alat pernafasanku lalu bangkit dan turun dari tempat tidur dengan paksa.
"Iya udah ya udah, ok kita kembali ke mereka." ucapnya.
"Aku minta maaf karena telah buat kamu khawatir." ucapku.
"Aku nggak mau ada lain kali, aku nggak mau ada permintaan maaf lain kali karena hal seperti ini."
"Iya ..." sahutku.
"Boleh minta tolong?" tanyaku.
"Iya lahh... minta tolong apa?" tanya dia, kami mulai meninggalkan pos.
"Tolong beliin aku baju, aku nggak bawa baju, cuma jaket aja di bus."
"Iya kamu mau yang kaya gimana?"
"Terserah kamu, kamu yang pilihin, sama sekalian Daleman boleh?"
"Ehmmm pakaian dalam maksudnya?"
"Iyaaa..." ucapku malu-malu.
"Basah semua soalnya."
"Iya aku beliin, ya udah kamu tunggu di bis ya, aku mau cariin dulu." ucapnya.
"Makasihh..." ucapku. Dari jauh kulihat Vika dan lainnya menantiku.
"Ayoo temenin aku di bis." ajakku pada mereka.
"Ngapain? kamu masih belum sehat?"
"Enggak aku mau ganti baju, basah semua ini."
"Ya udah ayo, emang kamu bawa baju ganti? tanya Vika.
"Enggak Dani masih pergi buat beli tadi."
"Ohh gitu."
"Iya biar dia belajar menafkahi." lanjut Naura.
"Dani marah nggak sama aku Sya?" tanya Vika kemudian.
"Enggak kok, kamu tau sendiri kan tadi dia nggak marah." jawabku.
"Ehmm aku jadi takut dia marah."
"Udah jangan dipikirin." Kami nungguin Dani sambil melihat-lihat hasil foto dari kemarin-kemarin. Dan sesaat kemudian dia kembali, dengan membawa tas plastik berisi pakaian ganti.
"Ini..." ucapnya sambil menyodorkan padaku.
"Makasiih..." ucapku.
"Ya udah kamu keluar, aku kan mau ganti." lanjutku.
"Ohh iya lupa hehehe." ucapnya sambil menutup pintu belakang, kemudian berdiri untuk berjaga disana.
sementara mereka berempat menjaga pintu depan. Setelah selesai aku panggil mereka semua.
"Udah.... kalian masuk aja." ucapku.
Mereka semua kembali ketempat ku dan melihatku dengan pakaian baru.
"Bagus... kamu beli dimana Dan?" tanya Bella.
"Tuh.... toko yang paling ujung." tunjuk Dani. Di area parkir memang sudah seperti pasar dadakan banyak pedagang menjajakan dagangannya.
"Beli yukkk kembaran.." usul Naura.
"Yukkk ..." kata yang lain, dan mereka ninggalin aku lagi.
"Gimana pas nggak pakaian dalamnya? soalnya nggak boleh dituker tadi kata mbaknya."
"He em pas kok. enak dipakai, kamu tau darimana ukuranku?" ucapku kemudian pikiranku mulai kemana-mana, takut Dani ngambil bra ku dan dia simpen buat di pelet, kan pasti tau tuh ukurannya. dasar aku pikirannya cetek banget.
"Ya aku tau lah, aku udah pernah ngukur."
"Ngukur gimana? jangan bilang kamu macem-macem pas aku tidur." ucapku reflek menutupi bagian depanku. Dia ketawa terbahak-bahak.
"Emang menurut kamu gimana lagi ngukurnya." jawabnya sambil tangannya mendekat kearah dadaku sengaja di buat slowmotion sama dia.
"Bohonggggg..." teriakku.
"Enggakkk canda doang kok, ya aku ngira-ngira aja lah... eh ternyata bener."
"Beneran nggak macem-macem kan sama aku."
"Enggak, ya Allah nggak percayaan banget sih."
"Habisnya kamu sih, bercanda ya suka kelewatan."