Pagi ini kami bertolak dari Bali kembali ke kota dingin Malang. Liburan telah usai dan saatnya kembali ke dunia nyata.
"Kamu kapan bisa anter aku pulang?" tanyaku disela-sela keasikan Dani main game.
"Ehmmm... Besok deh, kalau hari ini masih capek, kamu kan juga perlu istirahat."
"He em besok ya." ucapku.
"Dann... Dani... ini Nadia pingsan..." teriak Airin dari kursinya. Aku sama Dani bergegas ke tempat duduk mereka berdua.
"Tolongin Dan..." ucap Airin.
"Emang Nadia kenapa sih Rin?" tanya Dani.
"Nggak tau tiba-tiba pingsan gitu aja tadi ngeluh perutnya sakit. Nih coba kamu duduk disini, aku takut dia kenapa-napa." Airin menarik tangan Dani agar duduk di samping Nadia. Sementara aku meminta bantuan Bella sama Naura buat membuat Nadia siuman. Setelah agak lama, akhirnya Nadia siuman.
"Dan kamu duduk disini aja bentar, gak papa kan Sya, aku takut kambuh lagi perutku."
"Nanti aku balik kok." kata Dani. Aku mengangguk.
"Dramaqueen... biar bisa Deket ama suami kamu." oceh Bella.
"Iyaaa bego banget Sya pakek ngijinin pula." tambah Naura.
"Ya udahlah... ya mau gimana lagi, kalau sakit beneran gimana?" ucapku pada mereka.
"Nggak mungkin lah, jelas-jelas dia itu cuma akting, masih percaya aja kamu." lanjut Bella.
"Udahlah... biarin aja." ucapku yang sebenarnya berat hati ditinggalin Dani. Dan harus duduk bareng Airin.
"Maaf ya Sya." ucap Airin.
"Iya gak papa kok santai aja, emang udah tugas dia buat jagain anak buahnya hahhaa." ucapku.
"Maksa banget ketawanya, tugas dia jagain kamu doang yang lainnya mah bisa jaga diri." cetus Vika dari kursi belakang.
"Yeee kok kamu yang nyolot sih." balas Airin.
"Udah-udah jangan berisik, kasian yang lain butuh istirahat juga." selaku. Aku memasang headset kembali dan mengikuti lagu yang tengah play dari hp ku.
Oh, hush, my dear, it's been a difficult year
And terrors don't prey on
Innocent victims
Trust me, darling, trust me darling
It's been a loveless year
I'm a man of three fears
Integrity, faith and
Crocodile tears
Trust me, darling, trust me, darling
***
Sekitar jam 8 malam kami sampai di rumah, masih sepi, mungkin om Angga dan Tante Maya belum pulang, berjalan ke kamarku dengan penatnya.
"Kamu daritadi kenapa diemin aku?" tanya Dani menahan tanganku sesaat sebelum aku berhasil masuk ke zona nyamanku.
"Kamu marah gara-gara aku gak jadi nemenin duduk disebelah kamu pas di perjalanan tadi, ya maaf soalnya Nadia ngerengek-rengek kaya anak kecil. daripada dia bikin masalah kan."
"Iyaa nggak papa kok." jawabku.
"Enggak...pasti ada apa-apa nih." potongnya.
"Enggak kok."
"Jangan bohong..."
"Ahhh jangan-jangan kamu cemburu ya?"
"Apaan sih... gak jelas." ucapku sambil membuka pintu kamarku.
"Terus kenapa... kamu dari tadi diem terus loh, mulai kita sampai di sekolah."
Aku emang kesel sih sama dia, masa sih iya dia lebih milih nemenin Nadia daripada aku. Tapi gengsi aja buat ngomong.
"Emang lagi sariawan..." jawabku sekenanya.
"Mana biar kuliat, sini mana.., biar aku marahin, seenaknya nempel di bibir pacar aku... sini biar aku cium." kata dia.
Nggak tau kenapa rasa kesal dan marah tadi hilang gitu aja, liat expresi manjanya dia. aku jadi ikutan senyum kan jadinya. Melihatku sudah bisa senyum nggak nunggu waktu lama, buat dia ninggalin jejak dibibir ku.
"Udahan marahnya?"
"Udah..." jawabku masih nyisain senyuman.
"Tuh kannn minta dicium doang, ngomong dong, nggak usah pakek diem-dieman." lanjutnya.
"Apaan sih, nggak kok..."
"Tapi seneng kan, dapat ciuman barusan, aku tau kok..." Aku mengangguk malu-malu.
"Mau lagi?"
"Enggak... udah."
"Kenapa?"
"Ya nanti gimana kalau tiba-tiba om sama Tante datang."
"Berarti mau kan kalau mereka nggak datang."
"Udah ah... aku mau tidur, jangan ganggu." ucapku.
"Udah nggak usah malu-malu sini..." dia menarikku lagi.
"Dani udah.. aku mau tidur." aku melepaskan diri darinya. beneran takut sumpah, gak bisa membayangkan gimana kalau om sama Tante lihat.
Aku masuk menutup pintu kemudian merebahkan diri diatas kasur yang selalu menyambutku dengan baik. Aku tidur telungkup sampai gak tau jam berapa, yang jelas aku terbangun gara-gara perutku sakit banget. rasanya perih dan panas sampai ke ulu hati.
Aku membalikkan badan, tambah sakit, kucoba duduk tambah sakit. Sampai akhirnya aku gak kuat lagi. Aku telpon Dani, tapi nggak diangkat, biasanya dia fast respon, mungkin dia capek juga dan ketiduran. Ya udah ambil obat sendiri aja. Aku berjalan merayap-rayap berpegangan pada pagar tangga menuju lantai bawah, sampai di ruang tengah aku menyalakan lampu untuk bisa mencari obat. Saat lampu menyala, ternyata Tante Maya baru aja mengambil air minum untuk dibawa kekamar, dan melihatku, kesakitan.
"Ya Allah sayang kamu kenapa?"
"Mana yang sakit, kamu mau ambil obat apa?" aku tidak bisa menjawab karena tenggorokanku terasa tercekat dan tak bisa bersuara. aku hanya menggeliat sambil mencengkeram perutku. Sambil merunduk berpegangan pada lengan Tante Maya.
'Papa... pa... sini pa." teriak Tante Maya.
"Iyaaa ma, ada apa sih tengah malam gini teriak-teriak."
"Pa... Syaluna kesakitan ayo kita periksakan ke dokter."
"Kenapa? Syaluna sakit apa?"
"Nggak tau pa, udah ayo bawa ke UGD aja biar cepet soalnya udah jam segini."
"Dani..."
"Udah biarin aja... dia kecapekan baru datang, kita saja yang berangkat pa." potong Tante Maya.
"Ya udah... kamu bertahan ya sayang ya." ucap ok Angga.
Aku sudah tidak bisa berdiri lebih lama, aku terhuyung dan jatuh kelantai. Sesaat sebelum kesadaran ku hilang, aku mengingat kelebatan senyum mama.
Entah sudah berapa lama mereka mengabaikanku, tak pernah lagi bertatap muka, di telpon pun gak pernah angkat, katanya bakalan ditelpon balik padahal aku nungguin Sampek ketiduran tapi nggak ada kabar dari mereka.
Dan saat aku tersadar, aku sudah terbaring pada sebuah ruangan putih bersih dengan bau obat-obatan. Satu dua kulihat petugas medis dari celah korden pemisah di UGD.
"Sudah sadar." sapa seorang perawat dengan ramahnya.
"Alhamdulillah..." ucap Tante Maya yang dengan segera menyibak kelambu.
"Emang kenapa Syaluna Tante, kenapa dipasang infus juga?"
"Infeksi lambung, kamu sih makannya gak bisa teratur, kecapekan stres juga."
"Mama gimana?"
"Tante udah kasih tau mama kamu, pasti bakalan kesini, kamu sabar ya ditunggu saja." jawab Tante Maya.
Aku meminjam ponsel Tante Maya untuk menelpon mama. Tidak diangkat sama sekali. Aku mengecek chat Tante Maya ke Mama.
"Sekali-kali lihatlah Syaluna, dia sakit sekarang di UGD. Kalau kamu gak ada pedulinya gini kasihan dia, Aku nggak ngerti harus ngomong apa ke dia." Tapi chat itu juga gak dibales sama mama. Sebelum aku nangis Bombay disini bikin malu aku balikim ponsel Tante. Berarti Tante Maya cuma pingin nenangin aku aja, aslinya mama gak bales chatnya. Sediihh banget rasanya nyesek sumpah.
Sekitar jam 8 pagi aku sudah boleh pulang setelah observasi lebih dari 5 jam dan sudah membaik. Setelah mengantarku pulang Tante Maya dan om Angga berangkat kerja masing-masing dan meninggalkan aku sendiri.
Aku buka ponselku, dan Dani sudah nyepam chat dan panggilan telepon. k****a chat terakhir.
"Kalau udah pulang kasih kabar ya, maaf aku gak denger kamu telpon semalam..."
"Aku udah pulang kok. nih lagi istirahat." jawabku. Karena masih ada kelas dia tidak mungkin membalasku. Hari ini aku berniat pulang, aku ingin tau sebenarnya mama sama papa mau ninggalin aku, atau mau ngebuang aku. Kenapa mereka sama sekali tidak peduli dengan ku.
Setelah bersiap dengan membawa beberapa buku dan camilan aku memakai jaket dan sepatu. Aku keluar rumah dan berharap mbak nggak liat aku pergi atau bakalan ngadu ke ke Tante. Setelah keluar Ijen Nirwana, aku berjalan bentar buat cari angkot. Aku naik angkot LA dari Ijen ke terminal Arjosari. Iya aku tinggal di daerah Ratu Ayu Sidoarjo, jadi setelah sampai terminal Arjosari aku naik ke gate 1 untuk naik bus jurusan Pandaan-Sidoarjo-Surabaya dan bakalan turun di terminal Bungurasih, kemudian naik angkot berwarna kuning turun di Alloha, naik lagi angkot warna hijau yang masuk ke Ratu Ayu. Semoga gak macet agar aku bisa sampai sebelum tengah hari.
Baru saja aku mau masuk peron Dani vc, dan aku bingung mau bilang apa, deketin muka biar menuhin layar.
"Jamkos... gak liat kamu di sekolah rasanya hampa. Kamu lagi ngapain?"
"Ini aku lagiii...nggak ngapa-ngapain."
"Kok rame banget?"
"Coba lihat, kamu dimana."
"Dirumah..."
"Bohong... kamu dimana? bilang sama aku kamu dimana! kau jalan kan kamu lagi dimana?"
"Iya aku mau beli kinderjoy di Alfamart depan kompleks."
"Bohong... kamu tau tiap kali kamu nggak jujur sama aku, kamu selalu dalam bahaya?"
"Berhenti disitu." ucapnya. Aku pun menghentikan langkahku.
"Sekarang lihat aku baik-baik, bilang jujur sama aku, kamu mau kemana? sekarang ada dimana?"
"Aku cuma bentar kok, nanti juga pulang."
"Iya tapi kamu mau kemana?"
"Jangan bilang kamu mau pulang sendiri?"
"Maaf... soalnya aku kangen banget sama mama"
"Ya Allah sayangg kamu tau bahaya buat kamu pergi sendirian, kalau tiba-tiba panic attack atau pingsan kaya tadi malam gimana?"
"Tenang aja I Will be save..."
"Kamu tunggu disitu, aku akan Sampek dalam waktu setengah jam."
"Kamu mau bolos sekolah gitu? enggakk, aku bisa pulang sendiri, kamu sekolah aja yang bener."
"Kalau aku bilang tunggu ya tunggu."
"Iyaaa..." ucapku pasrah sambil duduk di kursi tunggu.
Dan benar saja, gak sampai setengah jam malah, Dani sudah sampai. Dari jauh dia langsung bisa menemukanku. Lalu berlari-lari menuju ke arahku.
"Kamu kenapa bisa senekat ini sih?"
"Aku nggak tahan, pasti ada sesuatu sama orang tua aku, mama kamu chat mamaku aja nggak dibales dikasih tau aku sakit."
"Pulang dulu yuk... aku janji nanti malem aku antar kamu pulang."
"Kenapa nggak sekarang?"
"Nggak bisa sayang, nanti aku bakalan anter kamu sama mama sama papa, ada hal yang nggak kamu tau." mungkin dia kelepasan mengucapkan itu.
"Maksud kamu? hal apa?"
"Maaf tapi aku nggak bisa jelasin ke kamu, aku bakalan minta mama sama papa buat jelasin semuanya ke kamu."
"Sebenarnya ada apa sih Dan?"
"Udahh ayo pulang dulu." ajaknya sambil menggandeng tanganku.
"Apa itu buruk?" tanyaku mengikuti langkahnya.
"Hmmmm nggak kok.. nggak buruk." ucapnya sambil menarik ku lebih dekat dengannya kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku.
Setelah menstarter motornya dia segera memacu motornya dengan kencang. Aku tidak fokus pikiranku masih bertanya-tanya dengan penjelasan apa yang memangnya harus aku dengar.
"Sayang pegangan!"
"Iya..." ucapku
"Maaf ya semalam aku nggak tau kalau kamu sakit."
"Iya nggak papa kok, kamu pasti kecapek an."
"Iya sih... kemarin Sampek rumah aku langsung tidur dah kaya orang mati, nggak denger apa-apa."
"Hmmm... Dan, boleh nanya nggak?"
"Apapun itu boleh, asalkan bukan tentang penjelasan yang akan diberikan oleh mama nanti."
"Iya aku ngerti... aku cuma mau tanya, emang Adisty itu mantan kamu?"
"Oh iya.. Disty, emang kenapa? kamu tau darimana?"
"Airin yang cerita, katanya waktu masih pacaran sama kamu dia selingkuh, Sampek hamil ya?,"
"Yaa hmmm gitudeh... kenapa sadboy ya?"
"Kenapa dia selingkuh dari kamu?"
"Ya nggak tau Sya, mungkin dia nggak happy sama aku." jawabnya.
"Padahal... sebagai pacar kamu cukup bisa diandalkan, kamu selalu bikin nyaman, selalu ngejagain dimanapun berada, bahkan ngelakuin apa aja, terus kurangnya dimana? ganteng juga." tambahku.
"Cieeee ceritanya muji-muji pacar sendiri apa gimana nih?"
"Enggak emang bener kok..."
"Nggak tau mungkin ada yang gak cocok di dia." jawabnya.
"Udahlah... jangan dipikirin, aku juga udah lupa sama kejadian itu. Dia sekarang udah nikah sama pacarnya sama-sama putus sekolah." lanjutnya.
"Nggak papa masih ada aku ya kan..." ucapku tersenyum sambil memeluknya lebih erat.
"Iya lahh... aku akan jadi pacar yang baik juga kakak yang selalu jagain kamu."
"Emangnya nggak bisa ya, pilih salah satu status aja." ucapku.
"Bisa... nanti..."
"Pilih yang mana, jadi pacar atau Abang aku? kayanya aku udah pernah ya nanya kaya gini."
"Aku pilih... jadi suami."
"Hmmmm jangan ketinggian berekspektasi, takutnya...."
"Nggak perlu takut, selama kamu mau buat aku perjuangin, ya aku akan tetap berjuang untuk itu."
"Iya aku mau nungguin kamu."
"Ya harus dong... aku tuh gak gampang jatuh cinta, dan sekarang berkali-kali aku jatuh cinta sama kamu, jadi kamu harus bertanggung jawab." Aku hanya tertawa mendengarnya.
Sampai dirumah kami berdua rebahan di balkon. aku duduk sambil membaca buku yang tadi aku bawa, sedangkan dia lanjut main game Bosan juga lama-lama asyik sendiri-sendiri. Iseng gangguin dia main aja, biasanya kebanyakan cowok marah pas lagi nge rank terus digangguin. Aku rebut hp nya kemudian menyembunyikan dibalik punggungku.
"Kamu sih asyik sendiri, udah bela-belain bolos taunya cuma waste time buat nge game.."
Dia menarik nafas panjang, dan mengacak rambut belakangnya. Lalu tersenyum nakal kearahku. aku jadi merinding.
"All welcome to mobile legend..." ucapnya sambil tersenyum dan mendekat ke arahku. Reflek ku menjauh darinya.
"Five seconds for the enemy reaches the battle field, smash them. All troops deployed." dia menahan punggungku agar aku tidak semakin menghindar kebelakang. Kemudian mengecup bibirku.
"First blood." katanya setelah itu.
"Double kill." ucapnya setelah menciumku kedua kalinya.
"Triple kill." setelah ketiga kalinya.
"Maniac" keempat kali
"Savage" kelima kali
"Monster kill" keenam kali
"God like" ketujuh kali
"Legendary" delapan kali
"Victory". dan terakhir kali sebagai kemenangan.
Aku hanya melongo sambil nahan nafas sesaat kemudian menghembuskannya.
"Masih kurang?" dia mulai menggoda ku. Aku menggelengkan kepala. Dicium pacar ganteng 8 kali berturut-turut rasanya enggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Selanjutnya dia tidur di pangkuanku. Menatapku lurus-lurus hingga mengusikku untuk bertanya.
"Ada apa?"
"Aku mau nanya, sebesar apa perasaan kamu ke aku, ibarat dari angka 1-10 kamu diangka berapa?"
"Sepuluh." jawabku singkat.
"Serius, yang bener, kamu nggak cuma sekedar jawab kan?"
"Enggak, kalau kamu?"
"Aku ke kamu... Infinity atau tak hingga, yang lebih besar daripada tiap-tiap yang kemungkinan dapat dibayangkan." Jawabnya sambil menempelkan telapak tangannya di pipiku.
"Ehmmm..." aku manggut-manggut.
"Jadi menurut kamu angka 10 bukan yang sempurna?" tanyaku.
"Tergantung sih, angka 10 begitu sempurna jika kamu mau bertahan denganku apapun keadaanya, tapi begitu kecil jika kamu memilih pergi dari ku."
"Nggak... aku nggak akan pergi, kan aku udah bilang, buat mau nungguin kamu selama perjuangin aku."
"Iya kamu harus janji untuk itu." ucapnya. Aku nggak tau kenapa dia mengatakan hal yang mengindikasikan aku akan pergi darinya.
"Kalau kamu, misalkan aku pergi dari kamu?" tanyaku.
"Ya aku akan cari sampai ketemu, kan aku juga udah bilang selama kamu mau aku perjuangkan ya aku akan tetap berjuang."
"Makasiihh..." ucapku.
"Buat?"
"Mau berjuang untukku."
"Iya sayang..."
"Okke aku janji gak akan ninggalin kamu, bahkan sampai nanti, matipun akan ada dipelukanmu." tandasku.
"Ehmmmm so sweet banget sih kamu tumben." sahutnya.