I Love You for No Reason

1839 Words
      Malam ini hujan masih senantiasa melatarbelakangi cerita cintaku. Aku baru saja selesai mengerjakan PR, menutup pintu dan jendela karena udara dingin mulai memaksa masuk. Aku naik ke atas ranjangku, setelah sebelumnya kuambil Laneige lipmask dan scrub nya dari meja riasku.       Setelah membuka selimut dan menutupi sebagian badanku, aku mulai scrub bibirku yang memang kering. Setelah membersihkan kotorannya, ku oleskan lip mask diatasnya. Kemudian melanjutkan rebahan, kuraih ponsel yang tergelatak dekat bantalku.      Kubuka notifikasi teratas ada chat dari Vika. Dia mengirimkan sebuah link.        "Kamu wajib nonton film ini biar rebahanmu berfaedah."      "Film apa Vik?" balasku.      "Udah nonton aja sendiri aku nggak mau spoiler."       "Selaku bikin penasaran."      "Hehehehe... suami kemana? udah tidur?"      "Nggak tau... masih main game kali Vik?"      "Dia nggak pernah main ke kamar kamu?"      "Pernah kok..."       "Terus??"      "Terus apa?"      "Udah nggak jadi nanya... tonton aja film nya."       "Iya iya... bikin mewek awas aja tanggung jawab kamu."      "Hehehehehe byeee..."      Aku mulai klik link YouTube yang dikirimkan Vika, film berdurasi sekitar satu jam setengah berjudul Sickness | Ibu yang membunuh anaknya. Agak sensitif emang, tapi penasaran juga, karena banyak yang komen film ini diambil dari kisah nyata seorang ibu di Rusia. Dan akhirnya aku mulai terhanyut nonton film ini.        Tak terasa aku sudah sampai di akhir film. benar-benar sad, rasanya mempermainkan emosional ku. Kuletakkan ponselku lalu mulai memejam kan mata, setelah kumatikan lampu kamarku.        Cklak... baru saja aku memejamkan mata semenit yang lalu, kudengar gagang pintu diputar, dan muncullah siluet Dani dibaliknya.      "Udah mau tidur?" tanya dia, sambil menutup pintu lagi dan menguncinya. membuatku reflek menyalakan lampu yang memang saklarnya berada di dinding atas meja di samping tempat tidur.       "Iya... capek banget, kamu sendiri belum tidur?" aku balik bertanya.      "Belum... tiba-tiba sakitku kambuh, nih makanya cari obat." jawabnya membuatku kaget.      "Kamu sakit apa? udah makan belum, udah periksa belum? trus diminum obatnya!"      "Sakit rindu ... nih makanya aku cari obatnya." jawabnya.      "Haiissshhh... kupikir beneran sakit."      "Emang sakit kok kalau rindu ditahan-tahan, jadi boleh gak nih minum obatnya?" tanya dia sambil mendekat bersiap untuk mendaratkan kecupan di bibirku.     Aku buru-buru menahannya dengan menutup mulutku. Dia memasang ekspresi bertanya-tanya, karena memang aku tidak pernah menolak sebelumnya.     "Aku baru aja pakai masker bibir, nih belum meresap sempurna, sayang kan kalau ilang." jawabku. dia tersenyum lega, entah tadi apa yang dia pikirkan.      Sebelah tangannya memegangi leherku dan sebelahnya lagi membuka tanganku yang menutupi bibirku. Kemudian mulai melumat bibirku dan menyelimutinya dengan kehangatan bibirnya.      Tangan yang tadi ia gunakan untuk menyingkirkan kan tanganku kini melingkar ke belakang badanku.      "Aroma yang manis dan menenangkan terasa nikmat mengingatkan akan buah berry yang asli." katanya kemudian.      "Iya kebetulan aku suka yang pink aroma berry." ucapnya.      "Nanti pakai lagi ya." lanjutnya sambil kembali mencecap bibir bawahku. Kemudian berpindah ke leher dan membuat kissmark disana.       "Nice..." ucapnya.       "Udah..." kataku.       "Iya-iya..." ucapnya sambil mengakhiri aksinya. Dia kembali dengan gawainya.       "Aku barusan nonton film Dan..."       "Film apaan?"       "Dari kisah nyata seorang ibu yang membunuh anaknya."       "Oh ya... ceritain." ucapnya dia sangat antusias, karena kulihat dia kembali meletakkan ponselnya.      "Ceritanya tuh, sebenarnya si ibu itu sayangggg banget sama dua anaknya Sachi dan Sora, sabar sekali mengasuh mereka, sampai akhirnya suaminya yang gak pernah pulang, pulang di makan itu, kamu tau, si istri itu udah kaya lama sekali gak disentuh suaminya, sampek-sampek pas nyusuin anaknya yang bayi, dia merasa..."      "Merasa apa?"      (Bentar aku masih pilih kata-kata takut kena sensor editor)      "Merasa in horn... you know what I mean?"      "Oh I know, kasian banget, terus-terus?"      "Pas suaminya pulang dia ngajak kan, ehhh malah didorong dengan kasar."      "Ya Allah..." ucap Dani.      "Pokoknya malam itu mereka bertengkar, dan si suami keluar dari rumah buat selamanya."      "Terus?"      "One day temennya si ibu ini datang, ya kaya terpengaruh buat kerja jadi wanita panggilan gitu. awalnya yang super sabar banget, penyayang, gak pernah kasar gak pernah marah, semenjak itu jadi malas bersih-bersih rumah udah jadi kek gudang rumahnya kotor banget, anaknya nangis dibiarin aja, pkoknya kasiannn banget, hingga suatu hari setelah mandiin anaknya, dia pergi dari rumah dan gak balik lagi, sampai akhirnya si kecil Sora mati kelaparan, dan waktu berjalan terus saat si Sachi udah putus asa ehh ibunya pulang dia seneng banget lah, tapi dia nggak tau ternyata itu hari terakhir dia melihat ibunya untuk selamanya karena dia dibunuh oleh ibunya sendiri." jelasku.      Dani bengong dan aku nggak pernah tau kalau dia baper jadi seperti itu. hu     "Kamu kenapa?"     "Nggak papa... semua bermula karena ayahnya yang ninggalin mereka kan."     "Iya... ibunya jadi depresi, karena kebutuhan biologisnya pun dia harus jadi wanita penghibur kasian banget, dan anaknya aku mau nangis nontonnya."        "Sini peluk..." ucapnya. Dia memelukku dengan erat sambil membelai rambutku.      "Aku sama sekali tidak mengharapkannya, tapi jika suatu saat aku meninggalkanmu, ingatkan aku... bahwa aku pernah berjuang buat dapetin kamu." katanya kemudian, entah karena habis spoiler film tadi atau karena memang ada hal lain aku tidak tau, tapi mendadak dia jadi melowdrama gitu.      "Iya..."jawabku.      "Kalau aku dengan ringan melangkahkan kaki ku pergi darimu, ingatkan aku berapa kali aku bilang tidak pernah merasakan jatuh cinta yang seperti kurasakan saat ini kepadamu." lanjutnya.      "Tapi aku yakin kamu gak akan ninggalin aku ya kan..."       "Iya lahhhh, aku sayang banget sama kamu, nggak tau kamu gimana?"      "Iya sama... kan nggak mungkin lah cuma kamu sendirian yang ngerasain."      "Janji gimana? kalau kamu gak bakalan pergi dari aku."       "Janjiiii... iya janjiii tumben sih lebay amat." ucapku.      "Makasihh sayang..."       "Ya udah bobo gih, aku juga mau lanjut maen bentar." ucapnya kemudian.      "He em... kamu jangan tidur malem-malem bisa sakit tau."      "Iya... sayang aku ngerti kok." ucapnya sembari menutup pintu. ***           Pagi ini kami harus berangkat kesekolah diiringi gemericik air hujan. Aku merapatkan jaketku karena udara lumayan lembab di Malang.      setelah memastikan aku sudah memakai safety belt ku, Dani pun mulai menstarter mobilnya. Kami tiba disekolah sekitar 15 menit kemudian, lumayan Deket sebenarnya.      Dan bete nggak sih udah perjuangan kesekolah tiba disekolah sampai jam kedua tidak ada jam pelajaran, nggak tau sertifikasi ISO sibuknya sampek kapan.      "Kania... kamu gak minta tugas apa gimana gitu, bosen banget ini..." ucapku.     "Ya elahh biarin aja udah, ngapain repot-repot minta tugas segala, bosen ke kantin aja yuk..." ajak Kania.     "Dasar ketua kelas ga ada akhlak..." kata Vika.     "Ehhh main aja yuk, panggil si Dinda sama Lala." saran Kania lagi.     "Aku dah bikin kartu truth or dare..." lanjutnya.     "Kamu kesekolah bawa gituan, emang nggak kena razia anak OSIS." tanyaku.      "Tadi ditanya sih, gak takut OSIS baru aja kok."      "Aku bilang cuma buat konten t****k ahhahaha" lanjutnya.      "Ya udahh lahh ayok main." sahutku.     "Urutan dari Vika, kamu, Aku terus Dinda terakhir Lala." kata Kania.     "Okkeee.." ucap kami bersamaan.     "Kamu first Vik... Truth or dare?"     "Dare aja deh..." jawab Vika setelah memikirkannya beberapa saat.     "Ok... VC cowok kamu, prank dia bilang kamu kepingin ena-ena." Kania membaca tulisan dalam kartu yang dibuatnya.          Vika mengeluarkan kan ponselnya, VC ke Dito yang ada dikelas sebelah.     "Sayangggg..." dia mulai pranknya.     "Iya..."     "Kapan yukkk..." ucapnya.     "Iya ntar malem aku jemput."      "Iya... see you." balas Vika.     "Done..." kata Vika kepada kami.     "Udah gitu doang, dia ngerti, walahhh pasti udah keseringan tuh..." kata Dinda.      "Gilaa lebih parah dari Bella." ucapku.      "Hehehehehe..." kata Vika.      "Dahhh lanjoottt... nih kamu Sya." lanjutnya.      "Ok..." jawabku.      "Truth or Dare?" tanya mereka semua kompak sekali dah ah.      "Ehmmmmm... Dare aja." jawabku.      "Panggil nama Crushing kamu sampai nengok, terus nyanyi in lagu romantis di depan kelas." Lala bersemangat sekali membacaka. dare untukku.      "Haaaaa bisa ganti nggak.. duh kenapa harus didepan kelas sih, nggak mau nggak mau, ganti boleh." tanyaku.      "Eittsss fair play dong..." Lala menarik tanganku dan mengajakku kedepan.      "Ehhh kalian ini... malu tau."       "Udahhh... sana buruan." kata Lala dia sendiri tidak bisa menahan tawa, gimana yang lain, dan semua perhatian tertuju padaku.      Kecuali Dani sama cs nya yang sedang push rank.      "Dann... " panggilku aku yakin mukaku pasti udah kaya udang rebus rasanya panas menjalari seluruh wajah dan dingin di sekujur tubuhku.      Kulihat Dani noleh kearahku dan menghentikan aktivitasnya dengan wajah bertanya-tanya.     Do you love the rain, does it make you dance When you're drunk with your friends at a party What's your favorite song, does it make you smile Do you think of me When you close your eyes, tell me, what are you dreamin' Everything, I wanna know it all I'd spend ten thousand hours and ten thousand more Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours And I might never get there, but I'm gonna try If it's ten thousand hours or the rest of my life I'm gonna love you     Dani tersenyum dan itu membuat lainnya bersorak, sumpah hal paling memalukan dalam hidupku. Aku menyeret Lala untuk duduk kembali, aku tidak berani mengangkat wajahku sedikitpun.     "Done." ucapku pada mereka berempat.     "Parahhh kalian ya... malu banget sumpah." keluhku.     "Udah santai aja, tuh lainnya udah pada lupa kok." kata Vika. Aku memperhatikan keselilingku. Memang benar mereka sudah ramai dan sibuk dengan aktivitas masing-masing.      "Next... kamu Kania..."kata Lala.      "Truth or Dare?" tanyaku.      "Dare aja kayanya seru deh heheheh..." jawabnya.      "Teriak I Love You random ke orang ke 3 yang lewat depan kelas." aku membaca dare untuk Kania.      "Hahahahha makan tuh dare buatan kamu sendiri." lanjutku.      "It's okay... yuk ke depan." ajaknya.       Kami berlima pun keluar kelas dan menunggu sambil duduk di kursi panjang yang ada di koridor kelas kami.      "Satu,dua.... ti... gaaa... ya Allah pak Tomo anjirrrr." ucap Kania kemudian.      "Kenapa harus bapak sih yang lewat." lanjutnya dan kami hanya tertawa melihat Kania kebingungan.      "Teriak.. kamu nulisnya teriak." kata Dinda.       "Okkee okkke...."       "I love you pakkk Tomo." teriak Kania. kemudian.  Pak Tomo yang kaget langsung berhenti di depan kami, guru killer tadi mendelik kearah Kania.      "Apa kamu tadi bilang apa?"       "M.. mana saya tau pak saya kan ikan..." jawab Kania.      Pak Tomo mendengus kesal dan berlalu. Kami berempat tidak bisa menahan tawa, lalu berlari masuk kelas dan pecahlah tawa kami. Kami kembali ke tempat duduk, saat aku mau duduk, tiba-tiba sebuah bola melesat kearahku. aku serasa freeze dan pasrah terima gebukan dari bola. Namun ternyata Dani yang kebetulan lewat langsung menangkapnya. Dia melihat kearahku yang bengong dan menempelkan bola itu di jidatku dengan lembut.      "Heeehhh bengong..." tegurnya. Sesange sorijilleo I love you  neolsaranghandago Naui yeojaga doeeo dallago Nunbusyeo Always you're my star Naeganeol jikyeojulge." Dinda dan Lala tiba-tiba iseng kasih backsound lagu tersebut dan sukses membuatku blushes.            "Temen-temen kamu kayanya lagi happy banget ya.." Ucap Dani kemudian pergi.      "Nggak tahan lihat keuwuan kalian." kata Lala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD