Film kak Reza

2155 Words
     Pulang sekolah dengan sudah mengganti pakaian kami, aku dan Dani bertolak ke Permata Jingga untuk janji temu dengan kak Reza dan teman-teman nya. Sampai disana kami sudah disambut dengan baik oleh Kak Reza, dan teman-temannya.       "Ok.. guys, jadi mereka berdua adik aku, bakal talent buat film pendek kita, setuju kan..."kata kak Reza.      "Okkee good looking." Jawab seorang temannya.     Kami saling memperkenalkan diri satu sama lain, Kak Aurel datang membawa se teko lemon tea, beserta jajanan untuk kami semua.       "Jadi film pendek kita ini, hanya berdurasi 10-15 menit aja, itu pun hanya penilaian buat sinematografi dan desain grafisnya, kalian gak perlu grogi di depan kamera ya."       "Kalau boleh tau tema atau genre nya apa kak?" tanyaku ke Kak Reza.      "Genre romance.. ya kan, kemarin yang kita bahas." Kak Reza balik bertanya ke rekan-rekannya.      "Ohh okke.." jawab ku.      "Ini skrip nya, kalian pelajari sambil kita otw ke kampus, kita setting kampus dulu nih Za?." tanya salah satu teman kak Reza yang perempuan.      "Iya buat scene kampus dulu." Jawab kak Reza.      Aku mulai membaca skrip, bersamaan dengan mereka semua membawa peralatan syuting dan banyak sekali properti. Semuanya total 11 orang, ada kameraman, sutradara, penata gaya, lighting, make up, skenario dan lainnya. Jadi berasa jadi artis, aku ketawa geli. Jadi Kak Reza bergabung dengan mobil kami, dia dan Dani duduk di depan sedangkan aku masih fokus membaca skrip.         Btw ceritanya si Adrian yang di perankan oleh Dani adalah sosok mahasiswa tajir yang digemari banyak cewek, sedangkan Freya yang tentu saja menjadi peranku adalah introvert cerdas yang selalu di bully mahasiswi lain karena dianggap cupu dan kurang bisa bergaul dengan lainnya. Awalnya Adrian hanya berniat ngedeketin Freya buat minta bantuan ngerjain tugas kuliahnya saja, sampai akhirnya,              Adrian benar-benar jatuh cinta pada Freya karena perhatian tulus dari Freya yang sama sekali berbeda dengan cewek lainnya.        "Ceritanya kek FTV kak..." Ucapku selesai membaca.       "Iya Sya, ceritanya mirip FTV nama tokohnya mirip Novel Remember When kan... Nah itu tantangannya gimana kita bikin visualisasi yang ngena buat pemirsa, dari cerita pasaran jadi yang paling beda gitu. Pokoknya kamu lihat aja nanti pasti beda.."       "Okkke kak siaapp..." Jawabku.      "Scene nya paling banyak di kampus ya kak."       "Iya... Kita bakalan syuting di kampus sampek bosen yang liat hahahah." Kata kak Reza.     "Terus yang klimaks nya beda lokasi, di apartemen Adrian kita pindah ke lokasi mana kak?"     "Nanti kita ke hotel ada di Araya sana Grand Cakra, bagus kok dan kita cuma buat sehari aja budget nya cukup, habis gimana lagi pada gak punya apartemen kan... Hehhehe." Katanya.     "Hotel? terus pakek adegan kissing Dan... Ya Allah, jangan Sampek video nyebar ke grup wa keluarga." Ucapku.      Dani dan kak Reza ketawa bersamaan.     "Btw gak papa kan ya, plisss harus ada adegan itu soalnya, kalian mau bantuin kan, biar dapet chemistry nya anggap aja kalian pacaran, atau ya ciuman dari Abang ke adiknya gitu aja, nggak papa kan?" Tanya kak Reza.     "Iya nggak papa.." kata Dani.     "Yaaa kesenengen dia Sya." Kata kak Reza, nggak tau aja kalau Dani udah biasa ngelakuin itu.     "Atau kalau nggak gimana kalau latihan dulu." usul Dani yang langsung aku balas dengan gebukan skrip pada lengannya.      "Takutnya kalian beneran cinlok." kata kak Reza. Perjalanan kami tiba di kampus Kaka Reza, setelah memasuki pelataran parkir kami langsung menuju lokasi yang dimaksud.        Mbak-mbak yang bertugas make up dan property memanggilku untuk di rias dan ganti baju. Usai mengganti baju aku bergabung dengan yang lainnya. Aku memakai tanktop hitam celana jeans highwaist dengan outer oversize, kalau gini mah bukan cupu nya Indonesia, tapi cupu nya western. Aku tertawa melihat pantulan diriku didepan cermin. Aku tidak pernah dandan seperti ini sebelumnya.       "Yahhh kamu salah orang Za, terlalu cantik buat jadi cupu." Kata seorang temannya.        "Nanti selesai acara bagi Ig sama wa nya kata yang lain."       "Dia udah punya pacar..." Sahut Dani.      "Oh ya..."      "Iya temen sekelasnya bang." Tambahnya, melihatnya sewot membuatku tersenyum senang, ya kali kalau dia gak cemburu berarti gak sayang dong.      "Ya gak papa kan itu disekolah, kalo di luar kan gak ada."      Aku mengisyaratkan ke Dani agar tidak debat dengan mereka. Dan dia nurut aja walaupun hatinya terlihat dongkol.       Aku mulai lelah dengan berulangkali take, pindah tempat, ganti kostum dan sebagainya, Harus selesai hari ini karena besok kami juga sibuk dengan sekolah kami.      "Okeee scene terakhir kita pindah ke Hotel Grand Cakra." kata kak Reza.      "Capek ya.." tanya teman kak Reza.      "He em..." aku mengangguk.      "Sini biar aku bantu bawa tas nya." ucapnya kemudian       "Nggak usah kak, nggak papa,ngerepotin."       "Nggak kok sini..." ulangnya terus memaksa.      Dani langsung mengambil tas ku dan membawanya tanpa berkata apa-apa. Aku langsung menyusulnya setelah sempat memberikan senyum pada sosok yang menawarkan bantuan tadi.       "Dan tungguin..." ucapku, aku berhasil berjalan menjajarinya, kulihat wajahnya masam.      "Kenapa sih, ketus banget."      "Tau gini aku nggak mau kesini." jawabnya      "Kamu nyesel bantuin ka Reza?" tanyaku.      "Bukan masalah gak mau bantuin Reza, tapi temen-temen nya pada ganjen ke kamu."      "Cemburu?"      "Nggak..."      "La teruss.."      "Kamu pikir aja sendiri."      "Kan udah... dipikiranku kamu cemburu." kataku      "Kalau tau, ya udah pliss jangan buat aku cemburu, ntar lama-lama ku hajar juga mereka." katanya tertahan.      "Iya iya...." kataku mencoba menenangkannya.      "Peluk jangan?"      "Jangan nanti aja..." tolakku.      "Sabar kurang 1 scene lagi." ucap Dani untuk dirinya sendiri.       Kami tiba di Grand Cakra, pura-pura nya itu adalah apartemen Adrian, dan ceritanya, sudah dua hari Adrian gak ke kampus, dia sakit karena berantem dengan Moses tempo hari. Freya memberanikan diri mengunjungi Adrian di apartemennya, dia kesana sendirian dengan membawa sekeranjang parcel buah-buahan.       Freya membantu Adrian mengerjakan tugas kuliah, lalu masih sempat membuatkan bubur juga untuk Adrian. Dari sinilah si Adrian baper, dia beneran jatuh cinta sama Freya, keadaan apartemennya yang sepi berhasil meracuni pikirannya untuk mengambil ciuman dari Freya, dan Scene ini udah pasti ditungguin tuh sama Dani. Tapi nggak tau juga di depan kamera dia bakalan ngelakuin dengan baik atau malah grogi.      Adegan pun dimulai aku membereskan peralatan makan Dani dan membawanya ke wastafel cuci piring, kemudian kembali lagi ke tempat Dani untuk merapikan buku-buku dan tugas kuliahku, untuk berpamitan aku mau pulang. Di scene ini Dani menghampiriku, menahan tanganku, lalu saat aku berbalik melihat tanganku, dia justru mendongakkan dagu ku untuk dia bisa menciumku, aku salah dia sama sekali tidak grogi dan terkesan profesional, aku yang reflek agak menghindar karena kaget dan grogi didepan kamera, dia justru menahan belakang leherku dan melakukannya sekali lagi.      Di belakang ada instruksi agar aku feedback ke Dani dengan melingkarkan tanganku ke balik punggungnya sebagai ending freeze sebelum layar menghitam. Acara pengambilan gambar selesai, dan mereka bertepuk tangan untuk kerja sama dan lelah kami hari ini.      "Habis ini kita makan-makan." ajak kak Reza.      "Kayanya kami langsung pulang aja kasian dia capek tuh." sahut Dani.      "Oh gitu... ya udah ati-ati ya!" kata mereka.        "Makasiih ya udah bantuin kami." kata Lala Reza.      "Iya sama-sama kak, kami pamit ya." kataku.     Aku dan Dani berjalan menyusuri lorong hotel, aku mengambil tas selempang yang dibawa Dani.     "Pakai masker dulu.." ucapnya tiba-tiba, setelah mengambil sebuah masker yang baru saja dibuka dari plastik nya, dia memasangkannya untuk ku.      "Kenapa? tadi berangkat aku gak pakai masker juga kan." tanyaku.      "Enggak papa kok.. cuma khawatir aja, tadi kan kita rame-rame, sekarang cuma berdua aja." jawabnya yang masih membuatku bingung, emang kenapa kalau berdua aja gitu, toh orang lain ngerti ya kan kita kakak adik.       "Jangan mikir macam-macam udah, takut kamu di awasi aja." kata nya kemudian, yang baru aku pahami maksudnya.      "Ohh gitu, maaf baru paham." ucapku.      "Ya udah yuk..." dia mengajakku jalan lagi tak lupa tangannya melingkar di pinggangku.      "Habis ini kita kemana?" tanya Dani.      "Terserah... mau makan dulu apa gimana?"      "Iya kita cari makan dulu, kamu pasti laper."      "Okkay..." jawabku yang diamini oleh bunyi krucuk dari dalam perut ku.     Masih di kawasan Araya tepatnya di jl. Belimbing Indah Megah, Dani menghentikan mobilnya di sebuah kafe, berada di sekitar perumahan dengan dua lantai. Kopitom Coffe, aku sempat ragu, dari tempatnya yang lumayan prestisius kaya gini uangku mana cukup buat makan, kalaupun cukup, besok harus nahan jajan di sekolah.      "Ayo..." ajaknya.     Aku mengikuti saja kemana langkah kakinya. Suasana yang minimalis klasik membuat tempat ini cocok sekali buat para pasangan untuk sekedar makan atau ngisi kegabutan saat kencan.     Interior yang minimalis pencahayaan yang redup, udara sejuk dan tempat duduk yang kebanyakan dari rotan dan sofa keseluruhan berwarna hitam menambah adem suasana. Aku membuka masker dan menyimpannya kedalam tasku.      Dani memilih tempat duduk yang nyaman di sudut ruangan. Datang mbak-mbak dengan membawa buku menu dan bersiap mencatat pesana kami.     "Kamu makan yang banyak, pesen sesukamu, tenang aja aku yang bayar." Dani menyodorkan buku menu kepadaku untuk memesan pertama.     "Beneran kamu yang bayar." ucapku sambil ketawa gak jelas, ya gimana pas laper menunya enak-enak, lahh dibayarin pula.     Mbak nya tersenyum melihatku, aku jadi malu. Untuk makanannya aku memesan Mie Fantasy, yaitu mie yang dimasak dengan racikan bumbu khas Kopitom dengan ditaburi parutan keju dan pangsit diatasnya, untuk minumannya aku memilih Lychee Virgin Mojito yang sangat segar.     "Mas nya?" tanya waiters ke Dani.     Dani mengambil buku menu dariku dan mulai mencari makanan yang dia sukai.     "Ayam goreng saus Bangkok, sama healthy tea." jawab Dani.     "Terimakasih silakan ditunggu ya." ucapnya.     "Kupikir kamu pesen kopi." ucapku.     "Lagi kepingin healthy tea nya Kopitom." jawabnya.     "Emang apa bedanya sama teh lain?"     "Ya jadi kalau disini itu kaya terdiri dari campuran daun sereh, tumbukan jahe, cengkeh, teh dan gula, enak kok, aku sering kesini soalnya." kata Dani.     "Sama?"     "Dulu sama... temen-temen."     "Temen apa temen?"     "Iya mantan... dulu itu dulu..." jawabnya.     Aku hanya tersenyum melihatnya mencoba klarifikasi.     "Btw bibir kamu kering?" ucapnya.     "Lagi gak enak badan atau gimana?" lanjutnya ada nada sedikit cemas disana.     "Enggak kok... aku emang gak pernah cocok pakai lipstik, entah itu merk apapun semahal apapun, pakai belum ada sejam ya udah langsung bereaksi, tadi kan sama mbak make up yang tadi, aku dipakein lipstik tuh, jadi ya gitu langsung deh." jawabku.     "Oh gitu .. kupikir kamu sakit karena kelelahan." kata Dani.      "Enggak kok, ya emang aku biasa pakai liptint jadi lebih moist gitu dibibir aku, btw kok kamu tau bibir aku kering, emang kelihatan banget pecah-pecahnya?" ucapku sejenak sebelum aku meraba bibirku yang memang kering parah.      "Kan tadi aku udah ngerasain sendiri." jawabnya.       "Iya aku lupa.." aku teringat scene terakhir tadi dan aku yakin banget pasti wajahku blushes.      "Wajahmu memerah tuh." kata Dani, padahal aku sudah berusaha menyembunyikan nya dengan menunduk.      "Terus gimana, pasti perih kan?" tanya dia.      "Iya nggak papa kok, aku ada masker bibir, ntar di scrub terus pake masker besok udah gak parah kok." jawabku.       "Oh gitu... sensitif banget ya berarti."       "He em..." jawabku.       "Terus kalau liptint, kamu suka pakai apa?" tanya dia.      "Kenapa?" aku balik bertanya, aku nggak mau dia jual akun ML nya buat beliin aku lagi.      "Ya nggak papa, pingin tau aja."       "Ntar kalau habis bilang ya, aku pingin beli buat kamu."       "Enggak usah repot-repot, Dan... kamu udah banyak banget bantuin aku."      "Aku kan udah bilang belajar menafkahi, mungkin belum bisa kasih uang belanja jadi mau kasih hal-hal kecil dulu."      "Tapi aku jadi ngerasa jadi beban buat kamu dan aku nggak mau."      "Ya elahhh kalau namanya sayang, nggak ada istilah jadi beban." jawabnya.      "Dan aku ngelakuin itu justru jadi kebahagian tersendiri buat aku, aku tulus ngelakuin itu. Udah jangan banyak mikir." lanjutnya.      "Tapi..."       "Nggak ada tapi-tapi."      "Kamu biasa pakai apa?" ulangnya lagi.      "Masih banyak dan punyaku..." jawabku, memang masih banyak sih karena aku pakai cuma buat dirumah sama pas keluar aja kesekolah kan gak boleh pakai. Aku memang suka liptint dari dulu selain cocok dan moist buat bibir aku juga karena jadi Korean look gitu.       "Dear Darling, innisfree, Hello Papa, Laneige, dan by Lizzie Para." ucap Dani tiba-tiba.      "Kok kamu tau liptint aku apa aja. waaah kamu suka buka-buka barangku ya?" ucapku curiga Mulu.     "Enggak dulu waktu kamu pakai essence yang mau abis itu, aku sempat lihat-lihat liptint kamu hehehe." jelasnya.     "Oh yang waktu ya." ucapku manggut-manggut. Makanan datang, tak lupa mengucapkan terimakasih kepada waiters, lalu kami mulai menikmati makan tersebut suap demi suap.      Diluar mulai terdengar gemericik air hujan, sepertinya sore ini kami akan pulang dibawah guyuran hujan.      "Hujan ya..." kataku.      "He em nice..." katanya.      "Kok??" aku mengerutkan dahi.     "Iya jadi lebih romantis..." katanya.     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD