Dani nganter aku ke salon mamanya lala, dan disana udah menanti Vika juga lainnya. Hari ini libur jadi Mereka datang dengan pasangan masing-masing.
"Kamu udah panggil kang foto nya?" tanyaku.
"Nihh... aku ajak Galang, fotografer kita... suami gue." kata Lala.
"Assikkkk..." sahut Dinda.
Dani, Dito, Galang juga Rey mereka duduk-duduk nungguin kami didepan. Sementara mama Lala mulai merias kami satu persatu. Tidak lupa dengan hair do gaya Eropa klasik.
Hampir dua jam kami disana, akhirnya kelar acara dandan mendandani. Dan kami pindah ke butik Tante Maya. Kami mengganti pakaian dengan yang kemarin kami pilih.
"Kamu cantik banget." bisik Dani kepadaku di sela-seka kesibukan teman-teman ku merapikan penampilan mereka.
"Makasih..." ucapku.
Setelah mengatur gaya kaya kemarin Galang mengabadikan pose kami kedalam beberapa jepretan. setelah Lala mengkoreksi dan tak ada masalah baru fix kami sukses dengan acara hari ini.
"Ehh habis ini mau kemana?" tanyaku.
"Aku gantian nganter Dito foto sama kelompoknya." jawab Vika.
"Aku juga ikut Rey." Kata Dinda.
"Lala juga?" tanya ku.
"He em..." jawab Lala.
"Fix kamu juga harus nemenin aku sayang." ucap Dani tiba-tiba.
"Lahhh kamu foto hari ini juga?" tanya ku.
"Iya kapan lagi emang kan hari Senin harus udah setor." jawab Dani
"Hmmmm ya udah deh." jawabku.
"Ehhh btw kenapa sih jantan kita gak jadi satu kelas aja, biar bisa satu grup gitu." oceh Vika.
"Sepemikiran..." ucapku.
"Hahahaha iya juga ya." tambah Dinda.
"Iyaaa nih jadi sendiri-sendiri gak seru." sahutku.
"Ya udah karna udah selesai kami cabut ya." pamit Lala diikuti Galang dibelakangnya.
"Nanti file nya aku kirim ke Lala ya." pamit Galang
"Okkee sippp..." jawab kami.
"Ya kalau gitu kamu juga." pamit Vika sama Dito.
"Kamu foto dimana? jangan-jangan habis itu nge VIP." kata Dani.
"Lahhh kok tau sih, mau ikutan." tanya Dani sambil ketawa garing.
"Enggak aku masih mau panjang umur gak mau digorok mama gara-gara macem-macem sama nih anak." kata Dani sambil memegang kepalaku dan meneleng-nelengkannya.
"Nge VIP apaan?" tanyaku kemudian usai mereka pergi.
"Sewa kamar VIP di satu villa gitu." jawab Dani.
"Buat?" lanjutku.
"Serius kamu nggak tau?" tanya Dani kemudian.
"Ohhh paham-paham otakku udah mulai jalan kesana." jawabku.
"Ya ampun Dan... polosnya cewek kamu." kata Rey tertawa.
"Iya sumpahh.." kata Dani wajahnya yang serupa Steven William jadi putih merona.
"Yaudah kita pamit ya." ucap Dinda.
"Iyaa... dahh hati-hati ya." ucapku.
Kami juga turut paergi meninggalkan butik menuju lokasi foto kelompok Dani.
"Kamu satu kelompok sama siapa?"
"Ada sama Farhan, Dirga, Erick sama Joe." jawab Dani.
"Lokasi dimana?"
"Di Stadion Kanjuruhan." jawabnya.
"Jauh ya.."jawabku.
"Iya lumayan." jawabnya.
"Setengah jam nyampek?"
"Iya kurang lebih segitu, tapi aku juga bisa lebih cepet kok." jawabnya.
"Ma.. Dani mau ajak Syaluna ke Kanjuruhan, gantian dong nemenin Dani foto." pamit nya ke Tante Maya.
"Hati-hati loohh ya." pesan Tante Maya.
"Iya Tante." jawab kami.
"Ehhh Dan, kalau udah selesai pulang loo, jangan ajak Syaluna nongkrong sama temen-temen kamu." tambah mamanya.
"Emang kenapa ma, temen-temen Dani juga temen-temen dia juga kan." kata Dani.
"Udahhh kalau selesai mama bilang pulang ya pulang." tegasnya.
"Adik kamu baru sembuh, nanti kecapek an lagi kamu tuh kalau di bilangin jangan ngeyel."
"Iya iya maaa." sahut Dani kemudian.
Dani meraih tanganku dan mengajakku keluar dari sana. Kemudian membukakan pintu mobilnya, setelah aku masuk dia menutupnya kemudian berputar dan masuk dari sisi kanan.
"Kita berangkat..." ucapnya.
"Kamu pernah kesana belum?" tanya Dani kemudian.
"Kemana? Kanjuruhan?" aku balik bertanya.
"Iya..." jawabnya.
"Udah kan sama kamu. Beli cincin ini dulu kan." kataku.
"Oooh iya lupa." jawabnya.
Jalanan nggak begitu ramai jadi Dani bisa mengemudi dengan kencang. Sampai ditempat parkir dari kejauhan aku sudah melihat ke 3 temannya masih nangkring diatas motor.
"Tuh mereka." tunjukku.
"Itu abangnya Erick fotografer kalian, kayanya dia kakak kelas kita ya." lanjutku.
"Iya..." jawab Dani, dia baru saja selesai memarkir mobilnya.
Dani menahan tanganku saat aku hendak melepas safety belt. Aku menatapnya.
"Hmmm?" penuh tanya.
"Kamu ingat, waktu itu pernah nanya tentang mantanku yang namanya Adhisti?" tanya Dani padaku.
"Iya.." jawabku aku mencoba mencari jawaban dari diamnya yang sesaat membuat aku bingung.
"Kemungkinan dia ada disini, karena Abangnya Erick itu yang jadi suami dia." jelas Dani.
"Terus...."
"Ya nggak papa sih,cuma kasih tau aja hahaha." kata nya kemudian.
Tapi sama saja, aku tahu kok gimana perasaannya, ketemu mantan dan selingkuhannya yang sekarang jadi suami. itu pasti gak enak banget.
"Kenapa? masih ada rasa yang tertinggal, atau rasa yang dulu pernah ada, atau rasa yang tepat diwaktu yang salah?" tanyaku setengah menggodanya, habis lemah banget jadi cowok dah disakitin masih gak bisa move on."
"Enggak gitu sayang... kan aku juga udah ada masa depan aku disini." kata dia.
Aku masih ingin jawab argumen dia, kalau saja dia tidak dengan cepat menyibakkan rambutku dan meninggalkan jejak dileherku.
"Hehhh kamu ngapain si Dan?" aku kesel banget, aku paling nggak suka dia ngelakuin itu ke aku apalagi kalau sampai ada orang lain lihat ada bekas itu dileherku.
"Kasih Mark aja biar kamu gak digodain sama mereka."
"Mereka juga tau aku pacar kamu." elakku.
"Kamu mau bikin pembuktian kan ke Adhis kalau kamu udah move on dari dia." tebakku.
"Enggak sayang..."
"Halahhh bohong kamu, aku ngerti kamu belum move on dari dia."
"Syaa... kamu kenapa jadi bahas hal-hal yang impossible sih, aku sama dia udah berlalu dan sekarang dia punya keluarga sendiri. Bisa-bisanya kamu bilang aku gak bisa move on."
"Udah jangan ngelak." sahutku
"Kamu kenapa sih, cemburu?" tanya dia.
Aku hanya diam, apa memang aku cemburu ya lantas menuduh dia tanpa alasan, entahlah tiba-tiba hatiku kacau pas tadi dia bilang kemungkinan Adhisti ada disini.
"Tuh kan bener... kamu gak bisa jawab, kamu cemburu buta jadinya malah nuduh aku yang enggak-enggak." kata Dani.
Aku hanya diam dan melepas safety belt, lalu turun dari mobil. Sebelumnya ku tata agar rambutku menutupi bekas ciuman Dani.
Dani segera menyusul ku dan merangkulku.
"Aku minta maaf... aku hanya bilang ke kamu tadi kemungkinan dan itu beneran ada disini atau nggak aku nggak tau, cuma agar kamu nggak salah paham aja misalkan aku nyapa dia, atau dia nyapa aku." jelasnya.
Aku tak mengacuhkan omongannya dan terus jalan. Sampai di tempat ketiga temannya.
"Wahhh ibu negara ikutan nih." sapa Erick
"Iya dia yang maksa." jawabku.
"Kalian konsep nya apaan?" lanjutku.
"Footbal street, hehehhehe." jawab Joe dan Farhan bersamaan.
"Bertiga aja, kayanya sama Dirga juga ya gak sih."
"Iya kami berlima si Dirga lagi boker tadi." jawab Joe.
"Oohh.." gumamku.
"Ehh Gerr... apa kabar kamu?" sapa Dani ke abangnya Erick.
"Baik... kamu satu kelompok sama mereka?" tanya Abangnya Erick.
"Si Adhis nggak ikut?"
"Ada kok ke toilet kayanya tadi, nggak tau beberapa hari ini agak nggak enak badan dia."
"Sakit maksudnya?"
"Ya gitulah..."
"Ehhh sorry kalian kelamaan nunggu ya." tanya Dirga sambil lari-lari menuju arah kami, dia berhasil memecah fokusku terhadap Dani yang masih ngurusin mantannya.
"Makan apa sih, masih pagi juga udah soak." omel Farhan.
"Ya ampunn Han.. kamu nggak ngerti sih gimana ceritanya, semalam si Inka ngajakin aku makan seblak level maut." jawab Dirga sambil mengelus perutnya yang mungkin masih aja senep.
"Bucinn sihh... rasain tuh seblak." lanjut Farhan.
"Terus sekarang gimana? masih sakit?" tanya ku.
"Udah agak mendingan sih Sya, lagian heran deh kenapa cewek-cewek sukanya makanan yang berbau pedas nyengat-nyengat gitu." jawab Dirga.
"Nih aku ada obat sakit perut. Ambil aja, kalau masih sakit ntar diminum." aku menyerah tablet sakit perut ke Dirga.
"Waduh thanks Sya, baik bener dah ah..." ucap Dirga.
"Siipp.." ucapku.
"Ya udah yukk... udah pada ngumpul kan." kata Joe yang dari tadi asyik dengan game nya.
"Yukk yukkk..."
Mereka mulai asyik mengatur gaya dan sebagainya. Aku duduk diatas salah satu motor mereka. Tapi panas sih disini, mau cari tempat yang agak teduh aja.
Ehh ke toilet aja bentar, mau cuci muka biar gak kusem banget kena panas barusan sekalian mau pipis.
"Aku ke toilet bentar." pamit ku ke Dani.
Dia ngangguk.
"Ngerti nggak dimana?" tanya nya kemudian.
"Tau... kan ada tulisan nya." jawabku.
Aku berjalan mendekati gate satu stadion Kanjuruhan, di balik anak tangga ada dua bilik toilet untuk pria dan wanita, aku masuk ke toilet wanita.
Sebelum masuk perhatian ku sempat tertuju pada
sosok gadis yang duduk memeluk lutut dan nyandar pada dinding toilet.
Aku mencuci muka kemudian masuk untuk buang air kecil. Mungkin kelewat lama karena aku kebablasen buka Ig dan pinterest.
Muncul notifikasi chat dari Vika. Aku langsung membukanya.
"Sya nanti sore temenin aku cari kado buat Dito ya, aku yang ijin ke Dani aku akan kerumah jemput kamu." tulisnya.
Aku belum sempat membalas chatnya saat kudengar Dani manggil namaku dari luar. Aku buru-buru mengakhiri ritualku kemudian mencuci tangan di wastafel luar.
"Dan..." terdengar suara gadis lain yang memanggil namanya. Aku mematikan kran dan menahan langkahku untuk keluar.
"Adhis... kamu ngapain disini, Gerry nungguin kamu dari tadi diluar."
"Dann... aku mau minta maaf, untuk semua yang telah terjadi. aku nyesel banget, aku ngerasa bersalah banget sama kamu." mulai kudengar si gadis itu terisak. hatiku pun pilu. aku mengintip perlahan, aku tidak mau mereka mengetahui keberadaan ku.
"Iya aku udah maafin kamu kok, udah jangan nangis, kamu tau kan aku paling gak bisa lihat cewek nangis." kata Dani dia ngehapus airmata Adhisti.
Nyesek banget melihat itu, bagaimanapun mereka pernah saling sayang dimasa lalu.
"Aku baru tau..." ucap Adhis sambil berusaha menahan tangisnya.
"Aku baru tau, kalau yang bener-bener sayang ke aku cuman kamu, aku baru tau, aku hanya jadi objek pemuas nafsu buat Gerry, dan aku baru tau gimana rasa sakitnya terjebak seumur hidup dengan orang yang mencintai kita." lanjutnya dia terisak dan makin sedih raut wajahnya. Sepertinya Adhisti benar-benar salah langkah pernah ninggalin Dani dan kini dia sangat menyesalinya.
"Udahh udah... jangan nangis, kamu harus dewasa gimanapun itu pilihan kamu kan, kamu harus bisa kuat dan menerima kenyataan yang sebenarnya menyakitkan." Dani meraih Adhis dan mendekapnya membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
Sejenak kemudian melepasnya dan kembali menghapus airmata Adhis. Dan gadis itu menahan tangan Dani untuk tetap berada di pipinya untuk sesaat, sampai akhirnya mereka berciuman.
Dadaku sesak, airmata ku menitik begitu saja. kupegangi d**a ku yang rasa sakitnya tak bisa kuraba itu.
Ponselku berbunyi, dan aku tak menghiraukannya aku masih terpaku melihat mereka berdua. Sampai akhirnya Dani menyadari ringtone Masha and the bear yang bernyanyi nyaring dari ponselku.
Dia melihat kearahku, dan buru-buru melepaskan tangannya dari wajah Adhis.
"S... Sya..." panggilnya.
Aku juga tersadar dia melihatku. Aku buru-buru menghapus airmataku dan menerima panggilan yang ternyata dari Vika.
"Ehhh iya Vik, ada apa?"
"Lamaaa banget sih ngangkatnya, sok sibuk, gimanaaa bisa nggak nganterin aku?"
"Oh iya sorry sorry tadi aku masih ditoilet, bisa kok bisa kamu kerumah aja." ucapku.
Aku tidak menghiraukan Dani yang berkali-kali memanggilku saat aku melewati mereka berdua. Kudengar langkah kaki mengejarku. Benar saja itu Dani, dia berusaha menggapai tanganku, namun ku hempaskan tangannya ke udara.
Aku berjalan kearah mobil Dani diparkir kemudian masuk dan duduk disana. Dani segera mengikutiku dan masih berusaha menjelaskan sesuatu.
"He em... terserah kamu mau kerumah jam berapa? aku selalu ada buat kamu." ucap ke Vika yang tanpa sadar aku terisak lagi.
"Sya.... kamu nangis?"
"Enggak kok... nih lagi makan aja, terus kepedesen, ya udah ya, see ya." ucapku kemudian mengakhiri panggilan Vika.
"Sya... aku minta maaf, aku sama sekali nggak bermaksud buat ngelakuin itu dibelakang kamu..."
"Udahhh jangan ngomong, aku nggak mau denger penjelasan kamu, aku udah lihat sendiri udah denger sendiri. kamu nggak perlu jelasin apa-apa lagi."
"Syaaa pliss kamu jangan salah paham... aku hanya..."
"Hanya apaa... seharusnya aku tau, udah sejak di depan tadi kamu udah nanyain Adhis ikut nggak disana? seharusnya dari situ aku paham. Tapi dasar aku yang bodoh, aku terlalu berharap, berekspektasi terlalu tinggi terhadap hubungan kita. Tapi setelah kejadian tadi aku baru paham, keberadaan ku tak lebih dari pengalihan sakit hati kamu."
"Syaaa..."
"Udah kamu diem." teriakku.
"Ok... aku minta maaf, tapi asal kamu tau, semua nggak seperti apa yang kamu pikirkan."
Aku menyumpal kedua telingaku dengan Headset, dan mengalihkan pandanganku keluar jendela. Semilir angin menerobos masuk mencoba menenangkan ku kala ku membuka jendela.
Sesekali kuseka airmataku yang masih menitik satu demi satu. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan Dani, maupun mantannya, karena aku paham jauh sebelum aku hadir disini mereka telah saling mencintai, dan gimana rasa sakit yang sekarang dirasakan Adhis aku juga memahaminya, hanya saja aku tidak bisa menerima kenapa harus Dani yang menarik Adhis kedalam pelukannya dan kenapa Dani membiarkan gitu aja saat Adhis memberinya ciuman bahkan dia sempat membalasnya.