Marah Nggak

1157 Words
“Ya semoga nanti dapat banyak anak les, Bu.” Dina menyahut dengan sabar. Masih ada harapan dalam hati Dina akan rejekinya. Sungutan Tanti tak menyurutkan harapan. “Bu, udah, pulang yuk! Inget, disimpen itu Gas.” Dina melihat suaminya tampak salah tingkah, langsung memasukkan ponsel ke dalam saku cepat-cepat, seperti gelagat aneh. Dua mertuanya beranjak dan Dina beralih untuk menyalami kedua mertuanya. Dina memberesi gelas kotor ke dapur dan menidurkan anaknya malam itu, lalu dia merebahkan diri di samping suaminya yang sedang menatap layar ponsel. “Tadi Bapak ngapain di teras panggil Mas?” tanya Dina ingat akan wajah pias suaminya saat mertuanya berpamitan dan berpesan untuk menyimpan sesuatu. “Nggak apa-apa.” Bagas hanya menyahut singkat, tidak memberikan jawaban yang memuaskan bagi Dina. “Beneran, Mas? Trus kenapa tadi Bapak sama Ibu ngomongin mantan Mas Bagas?” desak Dina, langsung mengemukakan apa yang mengganggu pikiran. “Ah, kamu ini mengada-ada. Mana ada ngomongin mantan? Udah, tidur!” Bagas meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu berbaring memunggungi istrinya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia memejamkan kedua matanya. Dina menghela napas melihat sikap suaminya yang tidak lagi hangat. Dia merasakan aneh pada diri sang suami. Tidak seperti dulu saat dia masih bekerja. “Mas,” panggil Dina. “Apa lagi, sih?” sahut Bagas kesal. Matanya sudah mengantuk, tapi istrinya malah mengganggu. “Aku tau tadi Bapak ngomongin mantan Mas, kan? Yang tambah cantik dan kaya itu,” tutur Dina, menggoyangkan lengan suaminya. “Udah dibilang nggak, malah ngeyel. Mendingan kamu tidur sekarang! Besok aku harus berangkat pagi-pagi.” Dina menghentikan rasa penasarannya tentang hal yang dibicarakan mertuanya tadi sore, takut mengganggu istirahat sang suami yang memang sekarang hanya sendiri mencari nafkah. Jadi Dina mengalah agar lelaki itu tetap fit dalam menjalankan kewajibannya, walau hanya memberinya sedikit nafkah. Dia memejamkan kedua matanya, mengikuti jejak Bagas yang sudah mendengkur halus di samping. *** “Nanti aku pulang sore,” pamit Bagas paginya saat Dina mengantarkan ke depan pintu sembari menggendong sang anak. “Kenapa? Bukankah ini belum semesteran? Lembur atau mau apa, Mas?” tanya Dina. “Mau ada akreditasi sekolah, jadi aku harus lembur menyiapkan berkas-berkas,” papar Bagas, mengambil kunci motornya. “Oh, baiklah. Mau bawa bekal?” tawar Dina. Sepagi itu dia telah membuat soto dengan suwiran daging ayam yang dia beli seperempat kilo di tukang sayur. Itupun, Bagas mencela masakannya. “Nggak usah, dagingnya dikit. Pelit banget. Nanti malu aku dilihat banyak orang, masa bawa bekal suwiran daging ayam? Biasanya nggak kayak gitu,” tukas Bagas, membuat Dina mendesah mendengarnya. “Aku ini Cuma ngirit buat dicukup-cukupin sebulan ini, Mas. Masih mending pake ayam meski sedikit.” Dengan mulut mengerucut, Dina mengatakan alasan kenapa dia hanya memberikan suwiran daging ayam ke sotonya. Sikap Bagas agaknya mulai berubah. Namun, memang dulu biasanya Dina bisa memasak soto dengan ayah utuh saat dia bekerja. Sekarang, dia harus membuat ayamnya menjadi bentuk suwiran. “Ya udah, aku berangkat.” Dina meraih tangan Bagas dan mencium punggung tangannya. Walau hatinya kecut dengan sikap sang suami. “Hati-hati ya, Mas.” Bagas mengangguk dan menaiki sepeda motornya, lalu melaju dengan cepat menjauh dari rumah kontrakan. “Semoga memang telingaku salah mendengar tentang perbincangan mereka sore kemarin. Bukan soal mantan Mas Bagas,” gumam Dina, berharap agar pikiran buruknya segera berlalu. *** Siang itu, pekerjaan Bagas telah selesai. Tidak seperti yang dia katakan tentang lembur, ternyata memang tidak ada akreditasi seperti yang dia katakan pada istrinya. Desakan sang ayah kemarin sore telah meracuni pikirannya. Rasa penasaran pada sosok mantan, membuat Bagas sekarang duduk di kursinya dengan memegang ponsel dan menatap layar yang telah terpampang nomor Imah, sang mantan kekasih yang dulu putus hanya gara-gara Bagas cemburu pada sikap Imah yang terlampau ramah pada lelaki. “Ah!” desah Bagas mengacak rambutnya. Bingung rasanya, ibu jari maju mundur ingin memencet nomor yang diberikan oleh ayahnya itu. “Telepon nggak, ya?” gumam Bagas. “Pak Bagas, saya pulang dulu. Tumben belum pulang? Biasanya udah pulang duluan.” Pria bertubuh gemuk yang bernama Pak Adi, kepala sekolah di tempatnya mengajar itu menepuk bahu Bagas dan sontak membuat Bagas kaget. Bagas memang biasa lebih dulu pulang ketimbang guru-guru lain. Bukan ingin mengerjakan pekerjaan tambahan seperti memberi les, tapi hanya untuk pulang dan rebahan. Sama seperti ayahnya. “Eh, iya, Pak Adi. Saya mau nunggu sebentar di kantor,” kilah Bagas, cepat-cepat menutup layar ponselnya. “Oh, ya sudah. Saya duluan. Nanti biar Pak Man yang mengunci gerbang,” pesan Pak Adi, diikuti anggukan kepala Bagas. Usai kepala sekolah itu pergi, Bagas kembali menatap layar ponsel. Wajahnya pucat saat melihat ponselnya sudah terhubung dengan nomor yang ragu ingin dia hubungi tadi. Suara seseorang yang kebingungan di seberang sana, membuat Bagas malah menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Suaranya merdu sekali. Tak heran jika wanita itu memang seorang guru yang hobi menyanyi. Bagas jadi ingat saat memboncengkannya, wanita itu selalu berdendang di telinga. Ah, syahdu sekali. “Halo!” sentak wanita di ujung sana, membuat Bagas nyaris melepaskan ponselnya. “Iya, halo. Imah, ya?” sahut Bagas langsung menyebut nama wanita itu. “Iya, ini siapa?” Suara di seberang berubah melembut. Bagai kembali disiram air dingin, Bagas merasa adem mendengar suara Imah. Ah, kenapa suaranya membuat kenangan-kenangan manis itu kembali melintas di benaknya? “Bagas, aku Bagas Imah. Kamu masih ingat?” Detak jantung Bagas sebenarnya sudah tidak karuan. Namun, dia menahan napas agar tekanan suaranya tidak menunjukkan rasa grogi luar biasa. Dalam pikirannya, Bagas menebak-nebak bagaimana rupa Imah sekarang ini setelah beberapa tahun tidak berjumpa. “Mas Bagas? Oh iya, pasti dapat nomor dari Pak Deddy. Iya, kan?” tebak Imah. Bagas merasa berbunga, entah kenapa di hatinya seperti kembali teringat saat berpacaran dulu dan desiran hangat mengalir di hati. “Iya.” Ternyata, Bagas grogi juga meski sudah menutup-nutupi. Namun, Imah adalah wanita yang pandai mengambil hati orang, apalagi seorang pria. “Mas Bagas, apa kabar? Sekarang di mana?” berondong Imah. Wanita itu memang tidak pernah kurang bahan pembicaraan, tidak seperti istrinya yang sekarang menjadi kurang asyik diajak bicara. “Baik. Masih ngajar di SMK. Kamu sendiri?” Bagas memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu. “Ah, pasti Pak Deddy udah bilang kalo aku masih ngajar di tempat dulu. Dulu kan Mas Bagas yang nyarikan aku tempat ngajar? Masa aku sia-siakan. Apalagi sekarang aku udah dapet sertifikasi. Ya, sayang kan kalo ditinggal?” Kedua mata Bagas melotot. Wanita yang dia ajak bicara begitu beruntung. Sudah dapat tunjangan, masih dapat warisan. Betapa hidupnya bergelimang harta. “Oh, jadi udah sertifikasi. Iya, sayang kalo ditinggal, nanti hilang.” “Iya, Mas. Eh, ngomongin sertifikasi, aku barusan nerima uang sertifikasi nih. Gimana kalo kita makan bareng siang ini, Mas? Itung-itung aku mau berterima kasih sama kamu karena kamu, aku bisa jadi seperti ini sekarang, Mas. Ya, kalo boleh sih.” Hati Bagas mulai berdebar. Baru saja hubungi, tapi malah mau ditraktir. “Bol—“ “Eh, tapi istrimu marah nggak nanti, Mas?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD