Dina mendengar percakapan tiga orang di ruang tamu saat dia membawa nampan berisi minuman dan cemilan berbahan jagung. Hal itu membuat langkahnya tertahan.
“Masih jadi guru dia, Pak?” tanya Tanti.
“Masih, tambah terawat aja wajahnya, pasti uangnya banyak kalo mau kerja. Dia bisa perawatan gitu, mengurusi diri, tentu saja pake uang.”
Rasanya kalimat itu sebagai sindiran terhadap Dina yang bersembunyi di balik tembok, menguping.
“Bapak ketemu di mana?” tanya Bagas.
“Di perempatan. Makin cantik dan dia cerita kalo dapet warisan banyak, Gas.”
Tidak Dina lihat wajah suaminya, karena dia sedang berdiri menempel ke tembok untuk mencuri dengar hal yang membuatnya tertarik.
“Apa sih, Bapak. Masa lalu juga,” sahut Bagas.
Dina agak merasa lega walau dia tidak mendengar keseluruhan percakapan, tapi yang jelas dia sedikit menangkap apa yang dibicarakan dari sepenggal kalimat yang dia dengar tadi. Ada rasa perih menelusup di hati. Apa benar mereka sedang membicarakan seseorang di masa lalu Bagas? Dina keluar dari balik tembok dan mereka bertiga seketika terdiam.
“Minumnya, Pak, Bu.”
Keduanya hanya diam lalu mengambil cangkir teh yang dihidangkan oleh menantunya. Dina duduk di samping Bagas dan mencoba untuk ikut berbincang. Kali aja, mereka masih membahas soal mantan pacar anak lelaki mereka. Ternyata obrolan beralih ke angkot yang sedang diparkir di depan rumah kontrakan.
“Bu, itu tadi habis tiga ratus ribu,” ujar Deddy menoleh pada istrinya.
Seperti biasa, lelaki itu pasti meminta uang pada istrinya yang PNS jika butuh memperbaiki kendaraan, seolah dia tidak memiliki anggaran untuk hal itu.
Tanti mengambil tasnya lalu dengan mudah menarik tiga lembar uang merah dari dalam dompet dan menyerahkan pada Deddy. Deddy tersenyum dan mengambil uang itu.
“Gini enaknya kalo kerja, apalagi PNS,” liriknya pada Dina yang langsung menunduk, tahu bahwa ayah mertua akan menyindirnya.
‘Bukannya dia juga kerja? Kenapa masih minta? Tadi minta anaknya, sekarang minta istrinya.’
Dina membatin dalam hati. Kesal rasanya dengan sikap ayah mertua. Namun, tidak ada lagi obrolan tentang gadis yang mereka bicarakan sebelum Dina datang.
Suara bayi terdengar dari dalam. Dina bergegas masuk dan menggendong bayinya, tapi tidak juga mau diam. Dia sampai membawa anaknya keluar dari rumah. Kemudian, Tanti berdecak dan berdiri lalu menggendong anak yang menangis itu. Bayi itu lama-lama diam ditimang oleh Tanti.
“Kok pinter ibumu dari pada istrimu,” celetuk Deddy pada Bagas.
“Maaf, Pak. Saya juga baru belajar jadi ibu,” serobot Dina, kesal. Dia lalu masuk dan hendak membuatkan s**u untuk anaknya. Tanpa melihat wajah mertua lelaki. Rasanya ingin menonjok wajah pria paruh baya itu, tapi Dina masih waras untuk menahan diri.
“Mas, s**u udah habis,” tutur Dina pada Bagas.
Bagas menepuk dahi karena teringat bahwa dia akan membeli s**u untuk anaknya. Dia segera beranjak lalu memakai jaket.
“Bapak sama Ibu masih lama, kan? Aku mau ke depan sebentar, beli s**u,” pamit Bagas.
“Lho, nggak dikasih ASI?” tanya Tanti.
“ASI Dina nggak keluar, Bu. Jadi, harus disambung pake s**u formula.”
“Boros,” celetuk Tanti.
“Bu, kalau saja saya bisa kasih ASI, tentu saja saya pilih itu, tapi sayang saya nggak bisa memberi Tsabita ASI. Daripada dia lapar, jadi kami berikan s**u formula,” papar Dina. Bukan Dina malas menyusui, tapi apa mau dikata ASI-nya tidak keluar sejak dari rumah mertua. Kata bidan, mungkin karena stress juga bisa.
Deddy hanya melengos juga mendengar perkataan Dina. Sementara itu, Bagas sudah keluar dari rumah untuk pergi ke toko s**u.
“Kasihan suami kamu. Dia kerja jadi guru swasta, berapa gajinya? Udah suruh bayar kontrakan, bayar air, listrik, nanggung biaya makan, masih dikasih beban s**u formula. Kalo jadi perempuan yang bisa mikir, pasti kamu udah cari kerjaan,” celoteh Deddy seolah mulutnya tanpa saringan.
Sungguh, Dina hanya bisa menarik napas panjang agar meredam emosinya. Dia terdiam tidak menanggapi omongan sang ayah mertua dengan mengambil alih gendongan anaknya dari sang ibu mertua dan memberinya s**u botol.
“Apa mau jadi tukang las? Tadi aku lihat tukang las di jalan, perempuan. Harusnya kamu terinspirasi dari orang-orang kayak gitu,” kekeh Deddy seolah merendahkan.
‘Kenapa bukan anakmu yang suruh jadi tukang las atau apa deh yang dipikirin buat inspirasi?’
Dina mengingat suaminya yang suka tiduran menatap handphone-nya saat waktu libur. Seharusnya pria itulah yang berusaha, tapi mau bagaimana? Cerminnya adalah sang ayah yang jadi sopir angkot. Sebenarnya tidak masalah pekerjaan apapun yang baik, tapi sebelum dapat uang setoran lengkap, lelaki itu sudah pulang dan tiduran di rumah saat baru jam sembilan pagi. Kalau uang setoran kurang, dia minta pada istrinya. Apakah itu bisa dijadikan inspirasi? Pantas saja sang suami Cuma suka rebahan.
“Ya, bisa aja aku jadi tukang las. Nggak masalah, pasti bisa kalo belajar. Bapak bisa kasih modal?” tukas Dina saking kesalnya.
Mata Deddy melotot mendengarnya, seolah ditantang.
“Oh, gampang. Bu, kamu bisa kan kasih modal buat Dina biar jadi tukang las?” ujarnya, menoleh pada sang istri. Lagi-lagi, yang jadi andalan adalah istrinya yang PNS.
Padahal Dina tahu, uang mertuanya tidaklah banyak. Dulu, uangnya habis untuk menuruti keinginan Deddy yang suka gonta-ganti mobil. Nekat menjual mobil dan mengganti dengan mobil bekas yang tidak lebih bagus dari sebelumnya. Dina menilai orang itu bodoh sekali.
Tanti hanya mendengus mendengar ucapan Deddy.
“Iya, Bu. Kursus las, modal peralatan, tanah buat bengkel juga. Mungkin ratusan juta,” ucap Dina menambahi sambil terkekeh. Entah dari mana keberaniannya untuk bicara muncul. Mungkin dia sudah tidak tahan lagi dengan ucapan miring ayah mertuanya.
“Mendingan jadi guru, besok kalo ada lowongan aku kasih tau,” pungkas Tanti. Tidak mampulah dia menurunkan utang ratusan juta untuk modal. Apalagi sangsi apakah usaha menantunya akan berhasil.
Deddy merah padam mendengar ucapan Tanti. Pria sombong itu seolah turun sedikit harga dirinya karena penolakan sang istri yang menunjukkan ketidakmampuannya. Dia seringkali memamerkan diri. Tolak ukur kekayaannya adalah kendaraan. Jika bisa berganti-ganti kendaraan, maka dia bisa pamer pada teman-temannya sesama sopir angkot.
Percakapan mereka terhenti saat Bagas pulang dan membawa s**u kotak.
“Gas, sini Bapak kasih tau.”
Pria paruh baya itu menarik lengan anaknya untuk keluar dari rumah dan berbincang di teras. Tanti menatap ke arah menantunya yang menaruh s**u ke dalam toples setelah menidurkan bayinya.
“Kamu udah mulai ngelesi?” tanya Tanti.
“Belum, Bu. Baru sehari, kami pindah lagi ke kontrakan. Besok aku akan sebar iklan buat les,” ujar Dina mengemukakan pikirannya.
“Kalo cuma sedikit yang les ya percuma,” sungut Tanti. Dina menahan napas mendengarnya. Kenapa ucapan-ucapan kedua mertuanya selalu saja toxic. Merendahkan sekali.