LC 19B

677 Words
Satrio masih menemani Reya, menggenggam tangan gadis itu yang dingin dan gemetar. Setelah pemakaman, saat sebagian orang mulai meninggalkan lokasi, Reya masih berdiri di dekat pusara, menatap batu nisan yang baru ditanam. "Doain aku ya pak. supaya bisa lulus dan kuat…" Matanya kembali basah. Kali ini lebih tenang, tapi tetap berat. Saat akhirnya Reya melangkah pergi, tubuhnya limbung. Satrio dan salah seorang tetangga menahan . Barat masih berdiri jauh, hatinya tak kalah remuk. *** Reya duduk bersandar di sofa ruang tengah apartemen, tubuhnya tampak jauh lebih kecil dibanding biasanya. Matanya sembab, rambutnya dibiarkan tergerai tanpa sempat ditata. Nafasnya pendek-pendek, tapi dia berusaha bertahan. Di antara kelelahan fisik dan duka yang menumpuk, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah berdiam. Tak bicara, tak berpikir, hanya diam. Satrio berdiri di ambang pintu, matanya bergantian menatap Reya dan sosok pria yang berdiri tegak di sampingnya, Barat. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, Satrio melihat sisi lain pria itu. Sisi yang lebih, pribadi. "Bapak ajak Reya ke sini?" tanya Satrio, suaranya pelan tapi terdengar bingung. Barat menatap mata Satrio sebentar sebelum mengangguk singkat. "Iya. Saya yang bawa dia ke sini." Satrio diam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu ada sesuatu antara Reya dan Barat, sesuatu yang melampaui urusan pekerjaan. Dan hari-hari belakangan ini membuat semuanya semakin terang. Tapi Satrio tidak bertanya lebih jauh. Barat memalingkan pandangannya ke jendela sebentar, lalu berkata dengan nada datar tapi tegas, "Tolong urus semua yang berkaitan dengan ayahnya Reya. Kalau masih ada dokumen, administrasi, apapun. Selesaikan." Satrio mengangguk. "Baik, Pak." Barat lanjut, suaranya kali ini sedikit lebih cepat, seperti ada beban di dadanya yang ingin segera disingkirkan. "Kamu juga tolong ke kampusnya. Temui dosennya, bagian akademik atau siapapun. Bilang kamu saudaranya. Atau temannya. Apa aja yang penting masuk akal. Jelaskan kalau Reya sedang sakit dan baru kehilangan ayahnya. Minta keringanan untuk tugas dan skripsinya." Satrio berhenti sebentar, menatap Reya yang masih diam di sofa. Kondisinya benar-benar rapih. "Saya nggak mau dia kehilangan waktu atau peluang cuma karena hal-hal begini. Dia harus tetap lulus. Harus selesai tahun ini." barat melanjutkan. Satrio menelan ludah. Suara Barat mungkin tegas, tapi ada ketulusan di sana. Ada keinginan untuk menjaga, meski dengan cara yang diam-diam. "Siap, Pak. Nanti saya langsung urus." Barat menoleh ke arah Satrio, wajahnya lebih serius. "Dan satu lagi. Pastikan semua hal tentang saya dan Reya nggak keluar ke mana-mana. Saya nggak mau ini jadi bahan gosip atau percakapan di luar." Satrio mengangguk cepat. "Saya ngerti, Pak. Aman." Mereka bertukar pandang sejenak. Tidak ada ancaman di mata Barat, tapi Satrio tahu ini peringatan yang sangat jelas. Barat kemudian berjalan menuju dapur, menyibukkan diri dengan menuang air mineral ke dalam gelas. Mungkin untuk Reya, mungkin juga hanya ingin punya alasan agar tak terus berdiri diam di tengah ruang yang terasa dingin ini. Satrio mendekat ke arah Reya, menunduk sedikit. "Kalau kamu butuh aku, kabari aja ya. Aku bantu sebisaku." Reya hanya menoleh perlahan, mengangguk lemah. "Makasih, Mas." Satrio menepuk pelan bahu Reya, lalu melangkah keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Di dalam, Barat kembali ke ruang tengah dan meletakkan segelas air di atas meja kecil di dekat Reya. "Minum dulu." Reya mengangguk dan memaksa duduk tegak, mengambil gelas itu dengan dua tangan yang masih gemetar. Barat duduk di sampingnya, tak bicara. Hanya menatap kosong ke depan. Beberapa menit hening. Tapi tidak canggung. Hanya saling diam, seperti dua orang yang sama-sama kehilangan, tapi tidak tahu bagaimana harus saling menghibur. "Miris, Bapak saya malah pergi." "Kamu udah sayang sama beliau, Rey. Kamu udah jaga dia semampu kamu. Itu pasti dia tahu." Reya terisak pelan, menahan tangis yang kembali naik. "Saya mau dia lihat saya di hari wisuda. Saya mau beliau bangga." Barat menggenggam tangan Reya yang bebas. "Dia tetap bangga. Bahkan sekarang." Reya mengangguk pelan, meski matanya kembali berkaca-kaca. Lalu, ia bersandar ke bahu Barat, mencari sedikit kehangatan yang bisa menahan runtuhnya dunia yang kini terasa terlalu kosong. Barat diam, tak bergerak. Barat tahu tak ada kalimat, tak ada tindakan, tak ada apapun yang bisa menggantikan kehilangan sebesar ini. Tapi setidaknya, untuk hari ini, ia bisa jadi bahu untuk bersandar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD