Chapter 09: I Will Run to You

1461 Words
Istana Spica, tulisan ke 1583. Rasanya sudah lama sekali aku berada di sini. Sebuah negeri yang mungkin berada di dimensi lain, atau berada di masa yang tidak pernah aku tahu ada, atau bisa jadi ini cuma ilusiku semata karena aku merasa masuk ke dalam sebuah naskah. Entahlah. yang mana pun aku rasa sama-sama membuatku merasa sial. Sampai berbulan-bulan setelah aku tiba di sini, belum ada tanda-tanda kemunculan Isabella. Jadi, sementara ini aku rasa diriku aman. Ravi ternyata jauh lebih atraktif daripada deskripsi yang sudah aku baca di naskah. Dia benar-benar calon raja yang baik, terlihat kuat dan tegas sekaligus tapi tetap memiliki sisi lembut. Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya, tapi dia selalu punya cara berbeda untuk mengkhawatirkan orang lain. Termasuk saat terakhir kali ia menyadari ucapanku soal dia yang akan membunuhku suatu saat nanti. Meskipun kehidupanku di sini jauh lebih damai, aman, dan tentram … tapi tetap saja aku merindukan New York. Aku juga rindu sekali pada suara teriakan Keith yang tidak akan segan-segan membangunkan aku setiap pagi. Bagaimana kabarnya sekarang ya? Apa mungkin dia selamat dari kecelakaan itu? Lalu bagaimana denganku? Apa sekarang tubuhku sedang terbaring koma? Atau justru aku menghilang dan berpindah dengan semena-mena ke sini?  Sudahlah, sepertinya membahas tentang bagaimana proses diriku bisa masuk ke Orient secara tiba-tiba memang masih menemui jalan buntu. Setidaknya aku jadi punya rencana cadangan kalau seandainya plan A tidak berhasil. Istana ini sangat berkilauan, emas tampak ada di mana-mana. Kalau saja aku masih Eleanor miskin dua belas tahun lalu, pasti lah sudah aku cungkil semua plat berkilauan yang menempel pada dinding, pintu, dan jendela itu. Sayang, aku bukan lagi bocah menyedihkan yang kelaparan itu lagi. Ralat, mungkin aku sudah tidak kelaparan … tapi sepertinya masih tetap menyedihkan. Ngomong-ngomong soal rencana, sepertinya aku harus berterima kasih pada Ravi. Karena ucapannya waktu itu, aku jadi memiliki opsi lain untuk usaha penyelamatan diri. Sepertinya negeri tempatku berpijak ini masih menggunakan ilmu sihir. Sudah beberapa lama aku merasakannya, tapi bau anginnya terasa agak berbeda. Mungkin nanti aku tidak boleh menolak kalau si Putra Mahkota menawariku mempelajari ilmu sihir. Aku masih tidak terlalu paham, tapi katanya ada kerajaan lain yang lebih besar tengah membatasi kekuasaan Orient, nama kerajaan ini. Baik Ravi maupun Jayden sama-sama kesal sekali ketika sedang membahas mereka. Katanya orang-orang ini sangat kejam, merebut sebagian batas garis wilayah kerajaan hingga membuat Orient sekecil sekarang. Padahal kurasa kerajaan ini masih cukup luas, buktinya aku masih sering kelelahan walau cuma berjalan-jalan mengelilingi Istana Spica. Oh iya, rencanaku yang selanjutnya adalah membuat Ravi jatuh cinta. Kata orang cinta itu buta, sayang, aku belum pernah sebuta itu. Mungkin saja aku bisa mengubah alurnya Aku benar-benar ingin kembali ke New York. Setidaknya, walau semua orang membenciku, aku masih bisa menjadi diriku sendiri. Walau hanya Keith yang tahu. Semoga aku bisa bertahan hidup, setidaknya sampai menemukan cara kembali ke dunia normal. Ke dalam kehidupan seorang Eleanor Thyra yang biasa. Eleanor Thyra, di pagi buta. ◇•◇•◇ Kemudian waktu berlalu begitu saja. Musim semi sudah berada pada puncaknya, dimana tidak ada lagi kuncup yang baru mau mekar. Sepanjang waktu yang berlalu Ravi mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Terlepas dari apapun, kini Eleanor Thyra sudah menjadi istrinya, dan akan resmi menjadi ratunya kalau ia naik tahta nanti. Lagi pula Ellen tidak seburuk kelihatannya. Justru sebaliknya, wanita itu seperti sinar matahari pagi yang hangat, ceria, dan ‘mengesankan’. “Ravi, bagaimana pendapatmu soal politik luar negeri?” Pernah suatu kali Ellen menanyakan topik yang berbau politik, dengan bahasa yang unik seperti biasa. Ravi mengerutkan kening, mencoba mencerna maksud si Putri Mahkota yang menjajal politik sebagai bahan pembicaraan. “Politik luar negeri bagaimana yang kau maksud?” Ravi malah balik bertanya. Ellen menyesap tehnya kemudian menatap Ravi lekat-lekat, “Ya … politik luar negeri. Sejenis hubungan baik antar negara.” “Maksudmu dengan Bangsa Trevian?” Ravi masih berusaha memperjelas maksud Ellen. “Bukan,” perempuan itu menggeleng cepat, “Kalau Trevian, bukan politik luar negeri namanya. Melainkan penjajahan tersirat.” “Lantas politik luar negeri seperti apa yang kau maksud?” Ravi menarik napas dalam-dalam sebelum menyesap tehnya dan melanjutkan, “Ellen, kau tidak lupa, ‘kan, kalau Tanah Mounia cuma diduduki oleh Kerajaan Orient dan Trevian?” “Oh, iya ….” Ravi mendesah lelah, “Lantas, kau mau aku berpolitik dengan siapa lagi? Ikan paus, huh?”  Dan percakapan itu berakhir dengan cengiran polos Ellen yang lupa bahwa sekarang ia tinggal di sebuah pulau antah berantah, bukan di benua Amerika yang adidaya. Padahal kegiatan minum teh di sore hari sudah menjadi agendanya dengan Ravi, tapi pembicaraan mereka masih saja seperti itu. Lokasi kebun lili yang hanya berjarak beberapa meter dari Istana Spica, membuat Ellen jadi kecanduan minum teh. Apalagi dia bisa bersantai sambil menikmati cantiknya warna-warni lily. “Ravi ….” Ellen memanggil pelan. “Menurutmu, apa aku benar-benar bisa menjadi Ratu Kerajaan Orient suatu saat nanti?” Lelaki itu tampak berpikir sejenak. “Selama kau masih Putri Mahkota saat waktunya tiba, maka Orient tidak punya pilihan lain selain menjadikanmu Ratu, Permaisuri, Pendamping Raja.” “Apa besar kemungkinannya?” Ellen menghela napas pasrah Ravi mengerutkan kening. “Kemungkinan apa?” “Kemungkinan aku akan tersingkir.” jawabnya cepat. “Hah?” “Jawab saja.” Ravi mengerjap beberapa kali, kemudian menarik napas sebelum memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. “Ell, aku mau tanya satu hal.” Ellen mengangguk, menunggu kelanjutan pertanyaan Ravi. “Apakah sangat berat hidup sendirian tanpa orang tua?” Ravi menatap netra karamel itu lekat-lekat. Ellen tersentak. Ia benar-benar terkejut saat pertanyaan semacam itu lolos dari bibir Ravi.  “Jangan kaget begitu, kalau kau tidak mau menjawab, tidak apa-apa.” Ravi menarik napas panjang. “Ayah dan Ibumu adalah seorang guru besar di lembaga pendidikan sihir Orient. Berkat mereka kita bisa menggunakan sihir untuk berbagai hal. Orang tuamu sangat pandai menemukan satuan energi sihir baru dan cara efektif untuk menggunakannya.” Ellen tidak menjawab, dia masih mencerna. Jadi, selain nama ada satu lagi kesamaan antara Eleanor Thyra si bangsawan dan Eleanor Thyra si aktris berbakat, yaitu: mereka sama-sama tidak memiliki orang tua. Lihat, bahkan Tuhan masih tidak adil padanya, pikir Ellen sarkastis. Sekadar di dunia antah berantah pun ia masih tak dibiarkan hidup bahagia. Kenapa? “Kau mau berkunjung ke makam orang tuamu?” Ravi melirik sekilas. “Mereka disemayamkan bersama pahlawan lainnya di taman makam pahlawan. Tidak jauh dari Barrack Pegasus.” Ellen tidak menjawab. Kehidupan di Orient sangat jauh berbeda dengan New York. Walaupun begitu Orient juga bukan pilihan yang buruk untuk menghabiskan sisa hidup, apalagi memiliki posisi yang cukup berpengaruh sebagai putri mahkota. Kalau saja dia jadi Isabella yang punya akhir bahagia, pasti Ellen rela walau tak bisa kembali ke New York. Masalahnya adalah Ellen tetap berperan sebagai dirinya sendiri, Eleanor Thyra. Putri Mahkota bernasib tragis yang mati di tangan suaminya. “Sepertinya aku mau kembali ke Istana Spica saja. Anginnya mulai bertiup kencang.” Ellen mengangkat bokongnya dari kursi.  Mungkin Ravi akan melihatnya sebagai luka lama yang belum kering, meskipun sebenarnya Ellen hanya ingin menghindari topik yang tidak diketahui dan tidak perlu ia ketahui. “Ellen, tunggu.” Ravi menahan tangannya. “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud--” “Tak apa, kurasa aku hanya agak lelah.” Ellen memaksakan dirinya tersenyum. Dia berlakon dengan akting terbaiknya. “Aku akan menemanimu kembali.” Nada suara Ravi terdengar tegas, seperti tidak menerima penolakan. Tapi tangannya-- “Lepas dulu.” Ellen mengibaskan tangannya, bersamaan dengan Ravi yang metotot menatapnya. Ellen menahan napas, detik berikutnya wajahnya semerah kepiting rebus, karena tangan wanita itu baru saja bertemu dengan ‘adik’ kecil Ravi. Sang Pangeran salah tingkah. “Aku rasa ada urusan mendadak yang terlupa--” “Silakan, aku yang akan pergi lebih dulu.” Ellen memotong cepat. Dalam sepersekian detik mereka berdua beradu punggung sebelum saling berjalan menjauh. ---- Ah, sial. Ada apa denganmu, Eleanor? Apa menjadi jalang kecil di New York masih belum cukup? Apa sekarang kau juga perlu menjadi jalang untuk orang yang akan membunuhmu? - Ellen menggeleng kuat-kuat.  ---- Ravi menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dalam satu tarikan. Tenang Ravi, itu cuma sentuhan yang tidak disengaja. Tenangkan dirimu dan bersikaplah seperti seorang pria sejati. Eh, tapi … bukankah pria sejati itu yang bisa memuaskan--ah, tidak! Berhentilah berpikir kotor, otak, kumohon! ◇•◇•◇ Hai, it's really productive to me, due to this is fourth time update for today, yeay! Apa ada yang bisa menebak kemana arah ceritanya? Wkwkwk. Aku lagi semangat dan suka banget sama cerita ini, so, semoga kalian juga suka ya. Jangan lupa tekan LOVE untuk mendukung usaha Ellen mendekati Ravi. Apakah mereka akan ena ena secepat itu? Apakah kau penasara, ferguso? Kalau begitu ikuti terus FAKE PRINCESS LOVE dan pantengin gimana cara Ellen, si putri gadungan, bisa merebut hati Ravi. See you on next chapter~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD