“Sudah kubilang jangan masuk sembarangan!”
Ellen masih ingat betul perangai Ravi yang sangat pemarah dan menyebalkan itu. Waktu itu ia baru menempati Istana Spica dua hari, tapi Ravi sudah membentaknya karena hal kecil. Ravi dan Ellen sama-sama memiliki ruang pribadi di dalam kamar mereka, orang-orang kaya di New York akan menyebutnya lemari. Mirip seperti ruangan berukuran sedang yang digunakan untuk menyimpan pakaian, tapi dilengkapi dengan set meja kerja pribadi. Dan Ravi, suka sekali berdiam diri di dalamnya.
“Kenapa aku tidak boleh masuk?” Ellen bersedekap di depan pintu, “Aku ini istrimu, aku berhak tahu apa yang dilakukan suamiku seharian di dalam lemari.”
“Ruang pribadi, Ell,” ralat Ravi.
“Oke, ruang pribadi.” Ellen mendesah kesal, “Tapi seharusnya kau tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan di situ.”
“Apanya yang mencurigakan?” Ravi memicing kesal, “Jangan merasa kau berhak atas diriku sepenuhnya hanya karena kita baru menikah dua hari yang lalu!”
“Kau menghindariku, mengurung diri di dalam sana hampir seharian dan melarangku masuk.” Ellen tak mau kalah, “Memangnya salah kalau sebagai istri, aku mau tahu apa yang dilakukan suamiku?”
“Kau tidak belajar tata krama?” Ravi mengembuskan napasnya kasar, “Aku juga butuh privasi, Eleanor.”
Ellen jadi ikut kesal, “Iya, aku paham, tapi privasi untuk apa?”
“Aku harus menahan diri, paham?” Ravi menggertakkan giginya gemas, “Aku harus menahan diri sebagai seorang pria.”
Detik itu juga Ellen paham. Wanita itu kemudian berbalik cepat-cepat dan meninggalkan Ravi sendirian di lemarinya--ralat, di ruang pribadinya. Wajah Ellen tiba-tiba merah padam dan terasa panas. Bukan berarti dia akan menyerahkan dirinya pada Ravi, tapi tetap saja itu aneh. Mereka ‘kan suami istri, seharusnya Ravi tak perlu menahan diri. Tapi Ellen jadi tiba-tiba takut kalau seandainya Ravi tidak menahan diri.
Pun begitu, Ellen jadi sedikit paham. Meskipun dari luar Ravi terlihat dingin, kaku, pemarah, dan kejam, tapi jauh di dalam dirinya lelaki itu adalah orang baik. Ravi juga kelihatannya tidak terlalu suka membagikan pemikirannya pada orang lain, termasuk Ellen. Sepasang insan itu tak bisa saling menghindar dalam takdir di Orient, tapi setidaknya Ellen bisa tenang karena Ravi tidak sejahat yang tertulis di naskah.
◇•◇•◇
Tak terasa sudah lewat enam bulan sejak hari pertama Ellen sadar bahwa ia terdampar di dalam cerita naskah yang ia tolak. Sudah selama itu pula Ellen menjabat posisi sebagai putri mahkota sekaligus istri Ravi. Ellen tidak tahu berapa banyak waktu yang sudah terlewat di New York, atau apa yang terjadi pada tubuh aslinya. Dia juga tidak terlalu pandai matematika untuk menghitung selisih waktu antara Orient dan New York. Jadi dia akan menikmati waktunya di Orient untuk sementara.
"Tuan Putri, waktunya berburu." Suara Frita memanggil dari luar, "Putra Mahkota sudah menunggu Anda di ruang tengah."
Ellen masih mengulas gincu saat suara Frita terdengar. Ada juga beberapa hal yang sangat Ellen sukai sejak menginjakkan kaki di Orient. Yaitu gaun-gaun cantik dengan berbagai model dan pilihan warna yang disediakan khusus untuknya. Belum lagi berpasang-pasang sepatu, sederet handbag dan clucth, serta ratusan jenis aksesoris yang memenuhi rak-rak mewah di lemari wanita itu. Untuk seorang fashionista seperti dia, ini adalah surga.
Ellen menoleh sebentar, kemudian melirik pada jam yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Berburu adalah salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh Ravi dan Ayahandanya seminggu sekali. Kalau diingat-ingat, ini adalah kegiatan yang paling Ellen hindari dulu. Dia sempat heran, kenapa laki-laki suka sekali pergi ke hutan untuk memburu hewan. Tapi setelah berkali-kali ikut Ellen akhirnya terbiasa.
"Sudah selesai?" Ravi tersenyum lembut ketika Ellen muncul dari arah koridor kamar tidur.
Ellen memberikan senyuman terbaiknya. Sebuah lengkung manis dengan deretan gigi yang tersusun rapi, juga mata yang menyipit membentuk bulan sabit. Wanita muda itu kemudian menggamit tangan Ravi tanpa diminta. Ravi lantas meletakkan tangannya pada pinggang Ellen, dan semakin mengikis jarak diantara mereka berdua.
Bertahun-tahun berlatih akting, ini adalah pertama kalinya Ellen menggunakan keahliannya selama hampir 24 jam setiap hari. Ada beberapa rencana yang sebenarnya sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari, ini terkait masalah hukuman mati yang akan dia terima kalau Isabella datang. Dalam naskah dijelaskan bahwa Isabella Saac masuk ke dalam kehidupan Ravi di waktu-waktu menjelang Rose Night.
Rose Night adalah malam peresmian pernikahan Ravi dan Ellen, sementara dalam cerita Eleanor yang kaku tidak bisa mencairkan suasana karena Ravi terlalu dingin. Hubungan mereka kelewat canggung dan Eleanor Thyra versi bangsawan ini terlalu statis. Sehingga pada akhirnya Ravi bertemu Isabella di sebuah perjamuan makan, yang mengantar mereka pada cinta terlarang. Di dalam cerita sifat Isabella berbanding terbalik dengan Eleanor.
Eleanor yang kaku dan statis harus berhadapan dengan Isabella yang ceria, baik hati, dan lembut. Mereka bersaing untuk mendapatkan hati Putra Mahkota. Jelas saja Eleanor versi bangsawan kalah telak, dan akibatnya dia mati ditangan suaminya sendiri. Sungguh ironi, dan Ellen yang sekarang tidak mau bernasib sama dengan versi dirinya di dalam naskah. Sementara ini Ellen punya dua rencana: satu, bersikap manis pada Ravi dan membuatnya jatuh hati sehingga Isabella tidak bisa masuk ke dalam pernikahan mereka; atau dua, ia akan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan kabur saat Isabella datang.
Sampai detik ini, Ellen berusaha memantapkan hati untuk memilih yang kedua. Jadi dia akan mengumpulkan banyak emas dan perhiasan sampai Isabella muncul. Semoga saja hatinya juga bisa sejalan dengan rencananya.
◇•◇•◇
Halo, jumpa lagi sama aku hari ini. Semoga kalian enggak bosan ya aku sering banget update wkwkwk. Pokoknya aku akan berusaha untuk terus berkarya, lakukan yang terbaik, deh buat kalian. Kalau bisa 4x update dalam satu hari. Kayak kemaren. Betewe aku lagi mikirin scene apa yang kira-kira cocok buat Ravi dan Ellen. Apakah kalian, kemungkinan, eum ... punya ide? #plakk hehe, iya aku emagn suka gatau diri gitu. Tapi gak papa lah ya... semoga aku tetap bisa update haha.
Betewe aku mau ingatkan sekali lagi, dengan tanpa rasa bosan aku mengingatkan ini ... untuk kalian yang membaca dan suka banget sama kisah ini, yuk kita dukung Ellen dan Ravi. Jangan lupa tap LOVE dan masukkan cerita ini ke library kalian. Biar apa? Yang pasti biar bahagia dan sehat selalu wkwkwk. Sekaligus dapat bonus info update Fake Princess Love.
Ellen pilih yang kedua, dia maunya kabur aja dan membebaskan diri dari Ravi dengan segera begitu Isabella datang. Apakah kalian ada yang setuju kalau Ellen kabur gitu aja? //di timpukin// Atau ku bikin Isabella gak jadi datang aja ya? Biar kalian pada diabetes lihat kemanisan Ravi dan Ellen yang hqq. wkwkwkwk. Okelah, cuap-cuapku enggak terasa udah banyak, jadi aku pamit dulu. pokoknya jangan lupa tekan LOVE. See you on next chapter~!