It is not your conversation
That keeps me entertained
But rather the way you look at me
That makes me feel sustained
It's the curve of your lips
And the curl of your hair
T'is all of the little things
That makes me stop and stare
It is not your intelligence
That drew me close to you
It is not your sense of humor
That has thrown me all askew
It's the touch of your hand
And the thoughts in your head
T'is all of the little things
The things that don't get said
It's not your vivid history
That's made me fall in love
It's not your comprehension
Of the world or what's above
It is your soft temperament
And the way you smile at me
T'is all of the little things
That makes me want to see
It's not when we are talking
That I want to know some more
It is not whilst you teach me
I learn what I'm looking for
It is the time we spend alone
And the time in utter silence
T'is all of the little things
That form a strong alliance
It's not the job you work so hard
That shows your true commitment
It's not your crazy habits
That gives me great fulfillment
It is the way you use your hands
And the way I have been chosen
T'is all of the little things
Why I know silence is golden
- Silence is Golden by Hanna Heath -
◇•◇•◇
Sepertinya ada yang janggal beberapa hari belakangan ini. Berkali-kali Ravi memerhatikan, sosok Ellen semakin jarang terlihat di Istana Spica. Misalnya seperti sekarang. Saat jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi, dan Ravi tengah menikmati sepiring waffle berlapis madu dengan segelas kopi. Biasanya Ellen akan muncul dari koridor kamar mereka, sambil berjingkrak-jingkrak kecil dan bersenandung riang. Tapi, Ravi belum melihatnya beberapa hari ini.
Ravi mengangkat tangannya, menghentikan seorang gadis pelayan yang baru saja lewat sambil mendorong keranjang cucian. “Kau tahu kemana Ellen pergi?”
Pelayan itu menghentikan aktivitasnya, kemudian memberi hormat pada Ravi sebelum menjawab, “Putri Eleanor tengah berlatih tata krama dengan Paduka Ratu, Pangeran.”
“Ibunda Ratu?” Ravi tersenyum miring, “Di mana mereka sekarang?”
“Di ruang tengah Istana Sirius, Yang Mulia.” pelayan itu menjawab lugas.
Ravi mengangguk, kemudian mengibaskan tangannya pelan untuk mengisyaratkan pada gadis pelayan itu bahwa ia sudah boleh pergi.
Wanita muda itu membungkuk sekali lagi, “Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putra Mahkota.”
Selepas kepergian si pelayan, Ravi buru-buru mengangkat bokongnya. Meninggalkan sepotong waffle dan setengah gelas kopi yang masih tersisa. Kaki jenjangnya melangkah cepat, lurus menuju ke koridor luar yang menghubungkan antara Istana Spica dengan Istana Sirius. Ravi penasaran sekali pada latihan yang dilakukan Ellen. Itu karena lelaki itu tahu betul bahwa Eleanor Thyra tidak memiliki tata krama seperti gadis bangsawan pada umumnya.
◇•◇•◇
Sementara itu Ellen tengah meringis, mengatur napasnya perlahan sampai perlu perhitungan matang untuk mengembuskannya. Perempuan itu berdiri kaku, kedua tangannya terbentang lebar, dan dagunya lebih naik dari pada biasanya. Kaki Ellen agak gemetar, tapi tetap dipaksa untuk melangkah. Ada tiga buah buku tebal yang menumpuk di atas kepala wanita muda itu. Keringat sebesar biji jagung meluncur mulus dari dahinya.
BRUK!!
Ellen jatuh tersungkur, bersamaan dengan runtuhnya menara buku tebal itu dari puncak kepalanya. Padahal yang ia lakukan tidak banyak, cuma menggeser kakinya beberapa sentimeter dari tempatnya berdiri barusan.
“Oh, ya ampun, bukan begitu caranya, Ell,” Ratu Arielle menarik napas panjang, “Kau harus melangkah perlahan, bukan malah menggeser telapak kakimu beberapa inci dari tempatmu berdiri.”
Ratu Arielle menghampiri Ellen, kemudian mengulurkan tangannya dan membantu gadis itu berdiri. Ellen mendesah lelah, tapi cengiran lebar yang khas itu masih melekat di wajah cantiknya.
“Maafkan saya, Paduka Ratu, saya akan mengulanginya lagi.” Ellen mengepalkan kedua tangannya ke udara, memberi semangat pada dirinya sendiri. “Saya pasti bisa!”
Ratu Arielle tertawa dan mengambil tangan Ellen, kemudian menurunkannya dan meletakkannya di sisi tubuh gadis itu. “Putri Mahkota tidak boleh mengangkat tangan terlalu tinggi, mengepalkan tangan terlalu bersemangat, apalagi bersorak terlalu girang.”
“Kau juga tidak boleh tertawa terlalu keras, atau mencebik kesal pada orang-orang.” suara bariton Ravi tiba-tiba memenuhi ruangan.
Ellen berbalik, kemudian menoleh sedikit sehingga netranya bisa menangkap sosok Ravi yang memasuki ruangan. Baru saja pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, dan si Putri Mahkota langsung mencebik kesal. Ellen mendengus, kemudian memutar bola matanya malas dan mengabaikan Ravi.
“Ibunda lihat sendiri, ‘kan?” Ravi mengedikkan bahu, “Apanya yang ‘pasti bisa’! Baru diberitahu jangan mencebik, dan Ellen sudah merasa paling cantik kalau mencebik begitu, ckck ….”
Ellen melemparkan salah satu buku bekas latihan, yang langsung bisa ditangkap Ravi. “Dasar menyebalkan!” ia mengancingkan giginya.
“Ravi, jangan mengganggu Ellen seperti itu.” Ratu Arielle menggeleng dan terkekeh sekaligus, “Ada alasan kenapa Ellen harus berlatih tata krama secara intensif. Rose Night akan diselenggarakan sebentar lagi. Kau juga harus mengajarinya berdansa, Ravi.” sang Ratu beralih pada Ellen, “Ell, Putri Mahkota tidak melemparkan benda-benda pada suaminya.”
Ellen langsung menegakkan punggungnya dan berdeham kecil, sementara Ravi mendesah lelah. “Tapi Ibunda, aku harus ….”
“Harus mengajari Ellen sampai bisa.” Ratu Arielle bertitah.
Ellen tertawa sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek Ravi. Kemudian perempuan itu menyilangkan sebelah kakinya sambil membungkuk, sementara tangannya sedikit terbuka mengangkat gaun yang ia kenakan. Ellen baru saja mempraktekkan ilmu dari Ratu Arielle, tepat ketika kakinya tergelincir dan kehilangan keseimbangan lalu menubruk Ravi.
Brukk!
“Ell, ya ampun!”
Ratu Arielle berseru panik, sementara Ellen menangkap seringai licik dari sudut bibir Ravi.
“Kenapa kau tidak menangkapku, sih?” Ellen kesal lagi, ia mendengus dan berdecak sekaligus, “Malah ikut-ikutan jatuh!”
Ellen tersungkur lagi, entah untuk yang keberapa kali hari ini. Tapi minimal tubuhnya tidak langsung beradu dengan marmer, karena Ravi berada di bawah sebagai tumpuan.
Ravi membalas sarkastis, “Kerjamu hanya makan dan tak pernah berolahraga. Jalan-jalan keluar pun cuma untuk duduk di teras sambil makan kue. Dan kau masih berani tanya kenapa aku tidak menangkapmu?” ia menarik napas panjang, “Seharusnya kau minta maaf karena membuatku merasa tertimpa sekarung beras.
“Ravilliam!” Ellen menopang tubuhnya dengan tangan dan mencoba bangkit, tapi, “Aw!”
Ravi mendongak sebentar, kemudian mencoba bergerak, dan ….
“Aw! Ravi, jangan bergerak dulu!” Ellen berseru heboh di atasnya, “Antingku tersangkut!”
Pria itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas, lantas Ellen mulai menyentuh d**a bidang Ravi. Wanita bersurai karamel itu mencoba melepaskan antingnya yang tersangkut, tetapi lelaki dibawahnya mulai salah tingkah. Ravi berulang kali menahan napas saat jemari mungil Ellen menjelajahi tubuhnya. Pemuda itu keheranan sendiri. Padahal Ellen cuma melepaskan anting yang tersangkut, tapi perasaan Ravi bisa setegang ini.
“Sudah?” Ravi membuka suara, sementara Ratu Arielle masih memperhatikan pasangan muda itu. “Sudah belum? Kenapa lama sekali, Ell?” nada suara Ravi tiba-tiba naik.
“Sebentar,”
Ravi masih menunggu, tapi kepala Ellen menyembul tiba-tiba. Manik karamel gadis itu menatapnya lekat, kemudian mengerjap beberapa kali. Lelaki itu mematung di tempatnya sampai sepersekian detik, netra kelamnya menatap lurus pada bola mata Ellen. Hidung bangir Ravi hampir bersentuhan dengan hidung Ellen, napas mereka saling berembus meniup kulit wajah satu sama lain. Ingat, jangan jatuh cinta, Ell, jangan.
“Apa masih tersangkut, Ell?”
Suara Ratu Arielle memecah lamunan keduanya. Ellen kemudian mengalihkan atensinya buru-buru dan bangkit berdiri. Ravi menarik napas panjang, kemudian membuangnya dalam satu hembusan.
“Baiklah, Ell, sampai disini latihan kita hari ini. Besok datang lagi seperti biasa.” Ratu Arielle memberikan beberapa catatan, “Baca ini dan berlatihlah sebelum tidur bersama Ravi.”
Ellen mengangguk paham, kemudian membungkuk hormat sambil menyilangkan sebelah kaki persis seperti yang diajarkan. “Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Permaisuri.”
Ratu Arielle kemudian berbalik menuju koridor kamar utama Istana Sirius. Ravi sudah berdiri di depan jalan setapak, menunggu Ellen keluar dari ruang tengah Istana Sirius.
“Jadi, kapan kau akan mengajariku berdansa?” Ellen mendongak menatap Ravi yang jauh lebih tinggi darinya.
Ravi cuma mengedikkan bahu, “Lihat saja nanti.”
Tak lama setelah si Putri Mahkota keluar, sang Pangeran mengulurkan tangannya. Perempuan itu tersenyum tipis, kemudian mengambil tangan suaminya dan berjalan beriringan menuju Istana Spica.
◇•◇•◇
Hey~! double update today.
Kira kira, adakah dari kalian yang bisa menebak, bagaimana kisah diantara mereka? Hm... Kenapa ya Ellen pake repot belajar tata krama segala? Apa mereka akan melakukan sesuatu yang penting? Bahkan Ell mau belajar dansa juga, lho! Hayo, siapa yang penasaran? Ada yang penasaran? Haha, sama kalau gitu. By the way, ada yang mau tanya kapan Isabella muncul? Semoga enggak, ya. Soalnya ketika dia muncul, aku jamin deh kalian enggak bakal suka sama kemunculan cewek gemas satu itu. Padahal Bella itu beneran cantik banget, lho, guys!
Nah, jangan lupa ya kalian dukung terus Ellen dan Ravi dengan tap LOVE. See you on next chapter~!