Chapter 12: Are We Starting to Fall in Love?

1573 Words
Dua minggu kemudian Ellen sudah bisa melihat berbagai dekorasi mulai dilakukan. Aula Orion yang biasanya terkesan formal dan agung mulai dipermanis dengan vas-vas bunga besar yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Lampion-lampion cantik juga mulai dipasang di seluruh penjuru ibu kota. Pita-pita besar yang menjuntai indah melengkapi langit-langit dan lorong-lorong istana. Ravi berdiri di depan pintu sanggar, memerhatikan Ellen yang tengah meliukan tubuhnya diiringi alunan dentingan piano. Seorang wanita paruh baya yang tengah memainkan piano di sudut ruangan mengamati gerakan sang Putri Mahkota dengan seksama. Gadis itu melangkah ringan, tangannya terangkat ke atas sebelum akhirnya memutar tubuh cepat-cepat. Alunan irama yang memenuhi ruangan seolah menyatu dengan gerakan-gerakan perempuan itu. “Ya, bagus sekali Putri.” Wanita itu mengomentari dari balik piano, “Satu, dua. Satu, dua. Berputar ….” Sorot mata Ellen tajam, menatap lurus pada cermin yang memantulkan gerakan tubuhnya. Surai karamel yang dikuncir kuda itu mengikuti Ellen kesana-kemari. Pikirannya fokus, menyimak arahan dari pelatih wanita yang memainkan piano untuknya. Gadis itu mengatur napas, kemudian memacu tubuhnya lagi-dan lagi.  “Putra Mahkota silahkan masuk.” Ravi maju ke tengah, menghampiri Ellen yang sedang menyelesaikan rangkaian gerakan solonya. Lelaki itu menyilangkan kaki, kemudian sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangannya pada si Putri Mahkota. Ellen memutar tubuhnya sekali, sebelum meletakan tangannya pada sang Pangeran.  Denting piano berlanjut lagi, iramanya berubah lembut dan tenang. Ravi menarik Ellen agar mendekat padanya. Pria itu meletakkan satu tangannya pada pinggul istrinya, kemudian mengikis jarak di antara mereka. Sementara wanita itu meletakkan sebelah tangannya pada bahu Ravi, sementara tangan mereka yang lain saling bertaut di sisi tubuh yang sama. “Pestanya besok malam, lho,” Ravi berbisik, kemudian tertawa kecil menggoda Ellen, “Kau yakin bisa melakukannya sebaik ini?” Langkah kaki Ravi dan Ellen bergerak dalam satu irama beriringan. Alunan piano kemudian berubah tempo perlahan. “Tentu saja, hampir tiga minggu aku berlatih.” Ellen menjawab dengan penuh percaya diri. “Aku ini cerdas dan cepat belajar, jangan meremehkan Eleanor Thyra.” Ravi cuma mengangguk, tapi mimik wajahnya tampak mencemooh Ellen, “Mau bertaruh?” Ellen kemudian mendorong bahu Ravi kuat-kuat, kakinya terangkat seiring dengan setengah tubuhnya yang berputar ringan. Pria itu tak mau kalah, pada jemari mereka yang masih bertaut Ravi menariknya kembali kuat-kuat. Membawa Ellen kembali ke dalam dekapannya sebelum memindahkan tangannya pada pinggang perempuan itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Kalau kau tidak menginjak kakiku sewaktu berdansa besok malam, maka aku akan mengabulkan tiga permintaanmu.” Ravi melanjutkan tawarannya yang tertunda tadi. Ellen mengerutkan kening sekilas, kemudian tersenyum lebar, “Termasuk jalan-jalan keluar istana?” “Iya, kalau itu permintaanmu,” Ravi kemudian menyeringai, “Tapi kalau kau menginjak kakiku satu kali saja, maka kau harus mengikuti semua perintahku selama tiga hari. Setuju?” Ellen mengangguk mantap, “Setuju.” Suara piano berakhir. Ravi menurunkan Ellen sambil mengakhiri gerakan dansanya.  Clap, clap. Wanita paruh baya itu bertepuk tangan dua kali, menandakan waktu latihan telah usai. Ellen mengambil segelas air yang tersedia di meja sudut sebelah piano, kemudian meneguknya sampai habis. Ravi melihat jam tangannya sebelum pergi dari sana tanpa bicara apa-apa. Dan gadis itu cuma melirik penasaran. "Baiklah, Putri, saya pamit." Wanita itu membereskan barang-barangnya, hampir membungkuk hormat kalau saja Ellen tak menahannya. "Tidak perlu hormat segala, Madam Gwen, aku tidak boleh membuat guruku merendah seperti itu." Ellen tersenyum lebar sambil menggenggam tangan Madam Gwen erat-erat. "Terima kasih banyak atas semuanya." Lanjutnya. "Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putri Mahkota." Madam Gwen tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya pada Ellen. Ellen tertawa kecil, ia menjabat tangan Madam Gwen. Lantas detik berikutnya ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Madam Gwen akhirnya membalas pelukan sang Putri, seraya mengusap lembut punggung gadis itu. ◇•◇•◇   Sore itu Ellen kembali ke istana Spica. Perempuan itu memutuskan untuk membersihkan diri dan segera beristirahat. Kalau dipikir-pikir, sudah sekitar satu tahun ia terdampar di Orient dan tinggal di istana sebagai Putri Mahkota. Waktu terasa berjalan sangat cepat. Kegiatan sehari-harinya cuma mengikuti aktivitas Ravi. Namun hubungannya dengan  pria itu masih belum beranjak ke tahap yang lebih lanjut. Ellen lebih merasa seperti memiliki seorang kakak laki-laki dibandingkan suami. Pasalnya sifat Putra Mahkota sulit sekali ditebak. Misalnya seperti tadi, pemuda itu bisa dengan lugasnya berinteraksi fisik saat berdansa. Tapi setelahnya ia pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa. Ellen kemudian melepas pakaiannya satu per satu. Wanita itu melangkah masuk ke dalam bathtub berisi air hangat yang sudah Frita siapkan sebelumnya. Ia kemudian membenamkan separuh wajah ke dalam air sampai setengah. Perempuan itu merasa agak rileks sekarang, dengan punggung bersandar dan mata terpejam.  Kalau diingat lagi, sesungguhnya Ellen tengah keheranan pada diri sendiri. Ada banyak pertanyaan yang melintas di kepala, tapi tak bisa ia tanyakan semuanya sekaligus. Belum lagi segelintir perasaan aneh yang mulai muncul setiap kali berinteraksi dengan Ravi. Namun yang lebih mengherankan adalah hubungan mereka. Sudah masuk setahun usia pernikahannya dengan Putra Mahkota, tapi lelaki itu masih juga menahan diri. Ellen tahu betul apa yang Ravi maksud menahan diri, tapi untuk apa? Bukankah mereka sudah menikah?  "Ellen, apa kau di dalam?" Suara bariton khas milik Ravi tiba-tiba terdengar dari luar. Ellen mengangkat kepalanya, kemudian segelintir perasaan aneh mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Lihat, 'kan, betapa anehnya dia hanya karena mendengar suara Ravi. "I-iya, aku sedang mandi." Ellen menjawab lugas, "Kenapa?" Tidak ada lagi suara yang terdengar dari luar. Ellen merasa bingung sendiri, rasanya benar-benar ada yang salah pada dirinya. Dulu, waktu pertama kali Ellen menanyakan pada Ravi perihal 'menahan diri', cuma ia sendiri yang merasa malu sampai wajahnya memanas. Tapi kenapa? Toh, Ellen sudah pernah melakukannya di New York. Apa hasilnya akan berbeda di Orient? Detik berikutnya Ellen terlonjak, pupilnya melebar dengan mata melotot. Gadis itu baru saja mengingat sesuatu. Besok malam adalah Rose Night, sebuah acara sakral yang mana menurut gosip para pelayan akan menjadi peresmian pernikahan Ravi dan Ellen. Dan terjawab sudah pertanyaan-pertanyaan konyol Ellen soal kenapa Ravi belum juga menyentuhnya. "Ravi?" Ellen memanggil pelan. Detik berikutnya suara bariton itu terdengar lagi, "Iya?" "Kau masih disana?" Tanya Ellen lagi. Ravi tidak menjawab, dan Ellen menjadi sangat penasaran perihal apa yang sedang Ravi lakukan di luar sana. Apa mungkin Ravi tengah memikirkan malam pertama mereka? Oh, ya ampun, Eleanor Thyra! Isi kepalamu kotor sekali! Batin Ellen berteriak. Sementara itu Ravi duduk bersandar di luar pintu kamar mandi. Suara Ellen yang bercampur riak air mengalir benar-benar membuat lelaki itu panas dingin. Membayangkan perempuan itu polos di dalam air benar-benar membuatnya panas. Ravi menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya sekaligus. Sebagai laki-laki normal Ravi sudah berusaha menahan diri sekuat mungkin. Namun tak jarang imajinasi liarnya tetap mengambil alih, terutama disaat-saat seperti ini. Ia masih ingat betul momen saat pertama kali bertemu Ellen. Young Lady super cantik nan anggun yang hidup sendirian di mansionnya selama beberapa tahun terakhir. Ia bahkan sempat kaget saat mengetahui sifat asli perempuan itu. Namun setelah waktu berlalu Ravi justru bersyukur, bahwa Ellen-nya adalah gadis yang secerah matahari.  Ceklek, krieett …. Ravi berdiri gelagapan begitu pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba. Ellen keluar dengan selembar handuk yang menutupi seluruh tubuhnya. Bulir-bulir air menetes dari tubuh wanita itu, dan mimiknya terlihat kaget. Putra Mahkota akhirnya cepat-cepat bangkit berdiri, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu. Ellen masih mematung di depan kamar mandi, tepat saat ia melihat suaminya duduk bersandar dan terlonjak kaget begitu melihatnya. Lagi, perasaan aneh itu menjalar ke seluruh tubuh perempuan itu. Ini aneh, pasalnya ini bukan pertama kalinya Ellen jatuh cinta. Dia bahkan pernah berpacaran dengan dua pria sekaligus di New York. Tapi kenapa perasaannya sekacau ini hanya karena seorang Pangeran dari negeri antah berantah? Di dalam kamar mandi Ravi bergeming, merutuki kebodohannya yang bisa secanggung itu di depan  Ellen. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka bergantian kamar mandi, pun bukan pertama kalinya mereka berada di kamar yang sama. Bahkan sudah lebih 360 hari mereka melewati hari bersama-sama. Tapi kenapa? Semakin dekat Rose Night, rasanya perasaan dan seluruh tubuh Ravi semakin tak terkendali. Terlebih pada interaksinya dengan Ellen. Tok-tok. “Ravi, bisa tolong ambilkan handuk kepala?” Ellen bertanya hati-hati, “Maaf, aku lupa tadi.” Ravi melirik pada selembar handuk kecil yang tersampir di hanger dinding sebelah bathtub, kemudian mengambilnya. Perlahan ia membuka pintu, dan kepala Ellen tahu-tahu menyembul. Dengan rambut basah yang bulir airnya masih menetes. Bibir cherry-nya tersenyum tipis sebelum mengambil handuk yang diberikan Ravi. Lelaki itu kemudian menahan napas, tepat saat aroma mawar yang lembut menguar dari tengkuk istrinya. Ravi berdeham, kemudian membuka pintu kamar mandi lebar-lebar. Ellen terkesiap begitu melihat Ravi yang bertelanjang d**a muncul tiba-tiba. Pria itu kemudian menarik tangan wanitanya, kemudian memegangi tengkuk Ellen dan menciumnya tiba-tiba. Ellen terperanjat dan matanya membola. Manik karamel itu menatap netra kelam Ravi diantara bibir mereka yang bertabrakan. Detik berikutnya Ravi pun terkesiap, ia melepaskan ciumannya sebelum masuk ke kamar  mandi sambil menutup pintu. Ellen mengerjap beberapa kali sebelum mengambil napas dan mengembuskannya. Dia memegangi bibirnya sambil mencoba menenangkan perasaannya. Jantungnya melompat-lompat seolah mau keluar, sementara darahnya berdesir hingga wajahnya lagi-lagi terasa panas dan memerah. Eleanor, please. Jangan berlebihan karena ini bukan ciuman pertamamu! Setelah ciuman yang tiba-tiba itu baik Ravi maupun Ellen sama-sama merasa canggung. Rasanya apapun yang mereka lakukan terasa salah dan tidak tepat. Misalnya saat mereka saling berbalik dan menatap wajah satu sama lain di tempat tidur. Atau saat Ravi tanpa sengaja menyentuh Ellen, begitu juga sebaliknya. Sepasang suami istri jadi-jadian itu serba salah, sampai pagi menjelang, sampai keduanya terlelap dengan sendirinya dan bangun saat matahari sudah terik. ◇•◇•◇   Hai, hadiah. Triple update today~! jangan lupa tekan LOVE. See you on next chapter~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD