I just want you closeWhere you can stay forever
You can be sure
That it will only get better You and me togetherThrough the days and nights
I don't worry 'cause
Everything's gonna be alright
People keep talking, they can say what they like
But all I know is everything's gonna be alright No one, no one, no one
Can get in the way of what I'm feeling
No one, no one, no one
Can get in the way of what I feel for you, you, you
Can get in the way of what I feel for youWhen the rain is pouring down And my heart is hurting
You will always be around
This I know for certain You and me together
Through the days and nights
I don't worry 'cause
Everything's gonna be alright
People keep talking, they can say what they like
But all I know is everything's gonna be alright No one, no one, no one
Can get in the way of what I'm feeling
No one, no one, no one
Can get in the way of what I feel for you, you, you
Can get in the way of what I feel know some people search the world
To find something like what we have
I know people will try, try to divide something so real
So 'til the end of time, I'm telling you there ain't no one No one, no one, no one
Can get in the way of what I'm feeling
No one, no one, no one
Can get in the way of what I feel for you-- --- -- --- --
Istana Spica, tulisan ke 1584,
Entah kenapa aku jadi teringat pada lagu yang di nyanyikan oleh Alicia Keys tersebut. Lagu berjudul No One yang dulu kerap kali aku jadikan sebagai bahan karaoke sungguh tidak bermakna. Namun, begitu mendengarkannya sekarang, rasanya aku paham bagaimana perasaan Alicia saat membuatnya.
Lagu yang menceritakan tentang kebersamaan yang dijalani sepasang kekasih itu membuatku sadar bahwa aku sepertinya sudah mulai melupakan misi utama keberadaanku di sini. Aku lupa bahwa semuanya bisa saja berubah buruk suatu saat nanti. Ingatanku mendadak lumpuh, enggan berpikir keras mengenai apa yang akan terjadi berikutnya. Bodoh memang. Padahal aku tahu apa yang akan terjadi ketika diriku mulai abai.
Waktu benar-benar berlalu dengan sangat cepat. Aku memang masih belum terlalu paham dengan segala sesuatu yang ada di sini. Namun, aku tahu satu hal yang pasti: bahwa aku dan si Pangeran akan meresmikan pernikahan kami. Isabella belum juga muncul, mungkin nanti, mungkin juga tidak. Aku berharap tidak, tapi sepertinya tak mungkin. Semuanya masih berjalan sesuai keinginanku. Mungkin aku masih di izinkan untuk menikmati hidup yang tinggal sebentar ini. Mungkin.
Belakangan aku merasa bahwa diriku mulai aneh. Rasanya jantungku mulai berdebar-debar setiap kali Ravi ada di sekitarku. Bukankah itu berlebihan sekali? Aku tidak yakin, tapi sepertinya lelaki itu juga merasakan hal yang sama. Aku tidak bodoh. Setelah sekian banyak waktu yang kami habiskan, tidak mungkin perasaan sialan itu tak tumbuh sama sekali. Satu hal yang pasti adalah aku harus tetap maju, menarik Ravi agar mencintaiku dengan perasaan yang lebih dalam lagi.
Satu-satunya hal yang aku harapkan sekarang adalah … tidak mati dan tidak terlalu mencintai lelaki yang akan membunuhku ini.
Eleanor Thyra, saat matahari baru terbit.
◇•◇•◇
Ravi dan Ellen sama-sama terperanjat begitu tahu hari sudah siang. Seluruh istana sibuk mempersiapkan Rose Night untuk mereka, sementara yang punya acara masih pulas di balik selimut. Begitu bangun Ellen langsung dibawa oleh Nyonya Margareth untuk bersiap-siap. Sementara Ravi langsung menuju Aula Orion untuk melihat seluruh persiapan sekaligus menemui Raja. Sampai malam menjelang kedua insan baru dipertemukan kembali saat Rose Night dimulai.
Rose Night adalah acara peresmian pernikahan yang merupakan tradisi turun-temurun bagi keluarga kerajaan dan para bangsawan. Malam peresmian dilakukan serentak oleh semua pasangan yang sudah melakukan White Rose, atau Ellen mengingatnya sebagai pernikahan dibawah tangan. Entah mengapa Ellen gugup, padahal sudah setahun ia bersama Ravi. Dan seharusnya acara seperti ini lebih kepada formalitas belaka.
Tapi kenyataannya tidak. Baik Ravi maupun Ellen sama-sama dilanda kegugupan yang sama. Rasanya seperti menikah dua kali. Tepat ketika acara dimulai mereka dipertemukan kembali, bersama ratusan pasang pengantin lain yang juga meresmikan White Rose mereka malam ini.
“Kau siap?” Ravi menarik napas, kemudian mengambil tangan Ellen.
Ellen tersenyum kikuk, “Kau tegang?” ia melanjutkan, “Whoa, padahal ini bukan yang pertama, ‘kan?”
Ravi cuma melirik sekilas, kemudian mulai melangkah menuju altar. Di atas sana Raja Damian dan Ratu Arielle sudah bersiap untuk memberkati pasangan pengantin yang meresmikan pernikahan mereka malam ini, termasuk Ellen dan Ravi. Sebenarnya Ellen tidak kalah tegang, bagaimana tidak? Mungkin ini bukan ciuman pertamanya, pengalaman s*x pertamanya, atau hubungan percintaan pertamanya, akan tetapi Rose Night adalah pernikahan pertamanya. Dan mereka akan resmi menjadi suami-istri sesaat setelah Raja dan Ratu selesai memberkati.
“Ravilliam Areez Orient, sudah lewat setahun sejak masa perenunganmu dalam White Rose. Apakah kini kau benar-benar menerima Eleanor Thyra sebagai istri, putri mahkota, sekaligus calon ratu yang akan mendampingimu selamanya?” Raja Damian mengucapkan kalimat sumpahnya.
“Ya, aku menerima Eleanor Thyra sebagai pendampingku, mulai hari ini dan selamanya.” Ravi menjawab lugas.
Berikutnya mereka menghadap Ratu Arielle. Wanita itu kemudian menyematkan sebuah mahkota pada Ravi, dan tiara pada Ellen. Dengan ini mereka berdua resmi sebagai pasangan suami istri. Lelaki itu kemudian menatap istrinya lamat-lamat, sementara wanita itu menggamit lengan suaminya mesra. Keduanya lantas memilih berjalan-jalan keluar sampai acara dansa dilaksanakan.
Ravi menatap lurus pada bulan sabit yang bersenggayut manja pada langit malam penuh bintang. Ellen duduk di sebuah meja kosong tepat di depan kebun lili, seperti kebiasaannya saat minum teh di sore hari. Pemuda itu kemudian ikut mendudukkan bokongnya, lalu meminta dua gelas anggur pada pelayan.
“Jadi bagaimana rasanya menikah dua kali?” Ellen bertopang dagu, memperlihatkan wajah cantik yang terpapar sinar rembulan.
Ravi berdeham, “Ya, biasa saja.” lelaki itu mengalihkan atensinya dari Ellen, “Memangnya ada rasa apa lagi?”
“Mana aku tahu, itu ‘kan perasaanmu.” Ellen menyesap anggurnya, “Kenapa malah tanya padaku?”
Hening, keduanya sama-sama kehabisan bahan pembicaraan.
“Eum, Ravi ….” Ellen membuka suara, “Kenapa kau menciumku kemarin?”
Ravi terkesiap, dia benar-benar tidak siap akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Apalagi Ellen bertanya langsung padanya, hal seperti ini sama sekali tidak terpikir sebelumnya. “Memangnya aku tidak boleh mencium istriku sendiri?”
Ellen tertawa renyah, “Eiy, jawaban macam apa itu!” dia melanjutkan, “Bilang saja kalau aku terlalu cantik, iya ’kan?”
“Masih banyak wanita lain yang lebih cantik darimu, percayalah.” Ravi memilih tidak terpancing, kemudian menyesap anggurnya, “Memangnya secantik apa dirimu? Percaya diri sekali.”
“Yang Mulia Ratu bilang kalau aku adalah lady tercantik di Orient, makanya terpilih jadi istrimu.” Ellen tertawa lagi, “Ah, jangan-jangan kau sudah tergoda oleh pesonaku yang luar biasa ini, ya?”
“Sembarangan.”
Suara tawa renyah itu pecah lagi, Ellen terlihat overacting sekarang. Dan gadis itu sadar sepenuhnya kalau dia mulai salah tingkah.
“Hey, Putri Mahkota,” Ravi tersenyum miring, “Jangan tertawa keras-keras, kau bisa masuk koran gosip besok pagi.”
Ellen masih tertawa, akan tetapi gadis itu merasakan hal yang aneh secara tiba-tiba. Darahnya berdesir cepat, kemudian tubuhnya terasa panas. Perempuan itu limbung, seiring dengan detak jantungnya yang semakin cepat dan keras. Bersamaan dengan itu semua, ada rasa sakit yang teramat sangat seperti menggerogoti seluruh tubuhnya dari atas hingga ke bawah.
“Ell, kau tak apa-apa?” Ravi tiba-tiba panik saat melihat Ellen limbung.
Sejurus kemudian Ellen terbatuk-batuk sambil berusaha menutupi mulutnya. Akan tetapi perempuan itu tiba-tiba saja menyemburkan banyak sekali darah segar dari mulutnya. Mata Ravi terbelalak, terpancar kekhawatiran dalam sorot mata yang biasanya kejam itu. Sementara itu Ellen terkejut pada dirinya sendiri, terlebih saat melihat cairan merah anyir itu memenuhi tangan dan hampir seluruh bagian depan gaunnya. Dan tiba-tiba semuanya gelap.
“Ellen!” Ravi berseru panik, “Eleanor, bangun!”
◇•◇•◇