Chapter 14: Suddenly Afraid to Lost You

1267 Words
Baby this is hard for me, More than you'll ever know, I'm falling for you quickly, My love just grows and grows. I want your arms around me, I want you to hold me tight, I can't fight this feeling, No matter what I try. I'm scared that I will lose you, I don't want you to go, You showed me the meaning of love, Something I have never known. When you are away, I wonder what you do, Scared that you will go, Find somebody new. Baby I do love you, But it is hard for me to say. I want you by my side, Each and every day. I promise I will treat you, The best that I know-how. Loving you is easy, It will always make me proud. I know what people say, They don't think that we will last. But God is on our side, He forgot about our past. I think that we will make it, I don't care what others say, God brought us together for a reason, And I am thankful every day. Do you feel this feeling That I feel deep in my heart? I think God's trying to tell us, We were never meant to be apart. A love poem, Scared I'll Lose You by  Alisha Lynn Navarette   ◇•◇•◇ Ellen merasakan takut yang teramat sangat. Ada perasaan khawatir yang sangat besar mengejarnya, belum lagi rasa rendah diri dan kecemasan yang tidak ada habisnya. Perempuan itu kalut, kemudian berlari secepat mungkin. Ia memacu tungkainya lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Sebuah bayangan gelap mengejarnya, kemudian menyudutkan ia di sebuah tempat menjijikkan penuh lumpur dan berbau busuk. Wanita itu gemetar, sampai pada akhirnya ia melihat cahaya …. “Ell?”  Ellen mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan bias cahaya yang masuk tiba-tiba. Gadis itu kemudian menarik napas dan terlihat bingung. Ravi tak melakukan apa-apa. Ia cuma menunggu sampai gadisnya menatap netra kelam itu mendalam. Pria itu sama sekali tak tahu apa yang ada di pikiran istrinya, namun harapannya cuma satu: agar senyuman secerah matahari itu cepat-cepat kembali. “Aku mimpi buruk,” Ellen berdesis pelan, “dan sangat haus sekarang.” Ravi mengangguk, kemudian meminta salah satu pelayan mengambilkan air untuk Ellen. Lelaki itu kemudian menggenggam tangan istrinya erat. Perlahan ia membantu wanita itu untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. “Pelan-pelan,” Ravi berucap lembut, “bagaimana perasaanmu sekarang?” Ellen tersenyum tipis, kemudian melihat keluar jendela. Musim sudah berubah. Pasalnya ia ingat betul kalau Rose Night diadakan pada malam musim panas. Bola mata karamel gadis itu menerawang, masih jelas sekali gambaran bunga-bunga yang bermekaran. Juga betapa indahnya warna-warni kebun lili yang ia saksikan malam itu di tengah cahaya rembulan. “Eleanor, bagaimana kabarmu, Nak?” Raja Damian masuk kedalam dengan terburu-buru. Ellen membungkuk seadanya, kemudian ia melihat Ratu Arielle mendekat. Permaisuri kemudian mengusap punggung menantunya sambil membaca beberapa mantra. Tak lama kemudian cahaya berenergi kuat terpancar dari tubuh Putri Mahkota, dan Paduka Ratu menarik semua cahaya itu keluar. Sejurus kemudian seseorang masuk ke dalam kamar dan mengambil gumpalan cahaya berenergi kuat itu. Orang itu bertubuh tinggi dan tegap, memakai jubah gelap dengan topeng keemasan di sebelah matanya. Ellen mencoba berulang kali memfokuskan pandangannya, tapi gagal. Ravi kemudian mendekati perempuan itu, mengusap kepalanya sambil membaca beberapa mantra. “Kau pasti lelah, tidurlah lagi.” Ravi mengecup puncak kepala Ellen, “kali ini kupastikan hanya mimpi indah yang datang.” Ellen tidak berdaya, ia mengikuti semua kata-kata Ravi dan kembali tertidur. Sementara itu orang-orang yang tersisa di sana melakukan diskusi dadakan, terkait energi sihir besar yang meledak di dalam tubuh Ellen. Putra Mahkota kemudian menyuruh Jayden berjaga di depan kamar, sementara yang lain mengekor Raja Damian ke ruang tengah Istana Spica. “Jadi,” lelaki bertopeng itu menggantung kalimatnya, “terdapat energi sihir besar yang tersegel di dalam tubuh Putri Mahkota.” Tiga keluarga inti kerajaan itu belum mau berkomentar, masih menunggu penjelasan pria berjubah di depan mereka ini. “Selama mempelajari berbagai jenis ilmu dan energi sihir di Gerrard, belum pernah saya temui sesuatu yang sebesar ini.” Pria itu menunjukkan sebuah botol kaca berisi dua butir bola energi cahaya yang sudah di perkecil. Bentuknya seperti kunang-kunang berwarna biru.  “Keluarga bangsawan Thyra sebelumnya sempat terseret kasus percobaan ilmu sihir yang gagal. Kemungkinan sisa-sisa energi dari sihir yang gagal itu masih tertinggal di tubuh Putri Mahkota.” lanjutnya. “Bagaimana kau bisa seyakin itu?” Ravi bertanya lugas. “Tepat saat kasus itu mencuat bertahun-tahun lalu, kebetulan saya lah penyidiknya, Pangeran.” Lelaki itu menarik napas sejenak, “Sifat dan karakter dari energi sihirnya sama persis seperti yang saya temukan dulu.” “Jadi, apa ada kemungkinan bahwa Eleanor adalah Penyihir Zero?” Raja Damian bertanya langsung, “Kekuatan sihir sebesar itu tidak mungkin langsung muncul pada seorang gadis yang belum pernah mempelajari sihir.” Ratu Arielle mengangguk, “Benar, hanya Penyihir Zero yang memiliki aura dan energi sihir sekuat itu. Bisa jadi karena Ellen tidak menggunakannya jadi sihirnya meluap.” “Maafkan kelancangan saya, Paduka Raja dan Ratu, tapi saya sama sekali tidak bisa memastikan hal tersebut.” orang menjeda sejenak, “Memang benar bahwa hanya Penyihir Zero yang memiliki kekuatan sebesar ini. Tapi Anda pasti menyadarinya, bahwa karakteristik sihir dan energinya berbeda dengan yang ada di tubuh Ratu dan Putra Mahkota.” “Tapi kami masih belum bisa menemukan Penyihir Zero ketiga,” Ravi menarik napas panjang, “Apakah ada kemungkinan kalau energi itu akan berubah?” Pria itu bergeming, menatap Ravi dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ia kemudian tersenyum kecil, menampilkan sepasang gigi kelinci yang lucu. “Saya tidak berani memastikannya, Pangeran.” ia tetap pada pendapat sebelumnya, “Pertama, karakteristik energinya berbeda, dan tidak semua energi sihir besar identik dengan Penyihir Zero. Kedua, para Penyihir Zero biasanya mempunyai tanda yang muncul ketika kekuatan sihirnya digunakan, dan Putri Mahkota belum pernah menggunakan kekuatan sihirnya. Ketiga, saya tidak seberani itu untuk memastikan hal sebesar ini pada keluarga kerajaan.” Raja Damian berdeham, “Baiklah, kau boleh pergi, Yonathan. Terima kasih banyak atas bantuanmu.” Lelaki yang dipanggil Yonathan itu mengangguk paham. Sejurus kemudian Raja memanggil pelayan pribadinya, Alvian Xapierre, sebelum mempersilahkan Yonathan pergi. “Alvian, tolong siapkan segala keperluan Yonathan. Bawakan ia 10 gulung sutra, sekotak perhiasan, dan 200 keping emas untuk kepulangannya besok.” Titah Raja Damian. Yonathan membungkuk hormat, “Segala kebaikan dan kemuliaan bagi Paduka Raja Damian Areez Orient.” “Baik, kau boleh pergi.” “Yang Mulia, apa boleh saya menemui Putri Mahkota untuk berpamitan besok?” pria itu mengeluarkan botol kaca berisi bola energi sihir milik Ellen, “Saya harus memastikan jumlah energi sihir di tubuh Putri Mahkota stabil, agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” “Baiklah, kau boleh datang besok pagi ditemani Ravi atau Ratu.” Raja Damian kemudian bangkit, meninggalkan posisinya bersama Ratu Arielle. Ravi dan Yonathan kompak membungkuk hormat, “Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Paduka Raja dan Permaisuri.” Setelahnya Yonathan langsung di antar ke Istana Antares. Sebuah istana yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan selain Raja dan Putra Mahkota. Sekaligus kediaman sementara untuk para tamu istimewa. Yonathan sempat menoleh kebelakang sebelum Ravi menghilang dibalik dinding koridor Istana Spica. ◇•◇•◇ Hai, update kedua hari ini, gimana, gimana? Apakah ini lebih menggugah rasa penasran? Betewe Ellen sakit, hiks. Doa in semoga dia cepat sembuh yak. Lalu ... apa ada yang sadar kalau Yoonathan udah muncul di sini? Hayoo siapa yang seneng? Haha, pasti belom ada, belom kelihatan charmingnya dia tuh. Wkwk. Kalau gitu jangan lupa tekan LOVE untuk terus dukung Ravi dan Ellen, and so see you in the next chapter~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD