Ravi langsung membersihkan diri begitu masuk ke dalam kamar, sebelumnya ia sempat bertanya pada Jayden perihal kondisi Ellen. Lantas lelaki itu kemudian memutuskan untuk melihat sendiri bagaimana keadaan istrinya. Perempuan bersurai karamel itu tertidur pulas. Kelopak matanya yang menutup menampilkan wajah cantik Putri Mahkota dengan bulu mata yang mencuat indah.
“Semoga mimpimu indah, Ell,” Ravi mengusap pucuk kepala Ellen, kemudian mengecup keningnya, “Selamat malam.”
Lelaki itu kemudian memposisikan dirinya di samping Ellen, kemudian menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi tubuh keduanya. Tangannya masuk, menyusup ke sela-sela tangan dan pinggang istrinya lalu memeluknya erat. Ravi menarik napas, kemudian menghirup kuat wangi lembut mawar yang menguar dari tubuh gadisnya. Sesudahnya pemuda itu ikut memejamkan mata, terjun bebas ke alam mimpi.
Paginya Ellen merasa ada yang aneh pada posisi tidurnya dari yang terakhir ia ingat semalam. Ada perasaan hangat serta nyaman yang mengukungnya begitu erat. Perempuan itu kemudian membuka matanya perlahan, dan mendapati wajah tampan Ravi berhadapan dengannya. Tangan lelaki itu melingkar erat di tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka.
“Pagi, Ell, bagaimana perasaanmu?”
Ellen tengah berusaha melepaskan diri begitu mendengar suara parau Ravi berbisik pelan di telinganya. Lelaki itu kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh ramping Ellen, kemudian duduk bersandar di kepala ranjang. Wanita itu berbalik, kemudian ikut duduk di sebelah Ravi.
“Bagaimana perasaanmu? Masih ada yang sakit?” Ravi memegang kening Ellen, memastikan bahwa demamnya sudah turun, “Seharusnya sudah tidak apa-apa.”
Ravi kemudian turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi, “Kau tunggu dulu disitu, jangan kemana-mana.”
“Memangnya aku kenapa?” Ellen berteriak dari tempatnya.
Ravi terkekeh, sepertinya Ellen sudah kembali seperti semula. “Coba saja turun dan gerakkan kakimu kalau penasaran.”
Ellen nampak berpikir sejenak, sebelum turun ia bergerak liar di atas kasur. Meninju, menendang, sampai menggerakkan jempol kaki ia lakukan. Gadis itu mencoba menggerakkan semua anggota tubuhnya dan memastikan bahwa mereka masih dalam fungsinya masing-masing. Merasa tidak ada yang salah dengan tubuhnya, Ellen pun mencoba turun dari tempat tidur.
Tepat saat Ravi keluar dari kamar mandi, ia melihat Ellen turun dari ranjangnya. Saat mencoba berdiri, gadis itu kemudian merasa tungkainya lemas dan sama sekali tidak bertenaga. Ini terasa seperti kakinya kebas dan tidak bisa merasakan karpet berbulu lembut yang ia pijak. Ellen kebingungan, tapi belum sempat ia memikirkan hal lain, tiba-tiba saja tubuhnya limbung dan hampir ambruk.
Greepp.
Ravi menangkapnya tepat saat Ellen hampir jatuh, “Hampir saja.”
“Ke-kenapa kakiku ….”
“Sudah kubilang untuk tetap di atas sana, ‘kan?” Ravi menunjuk ranjang yang kosong, “Kenapa kau keras kepala sekali, sih?”
“Kau bilang tadi aku boleh turun kalau penasaran.” Ellen mencebik kesal, ciri khasnya. “Apa yang terjadi padaku?” tanyanya kemudian.
“Coba tebak?” Ravi tertawa kecil, kemudian membopong Ellen ke tempat tidur. “Nah, aku akan panggil Nyonya Margareth untuk membantumu membersihkan diri. Tunggu disini sebentar, oke?” lantas pria itu menghilang dibalik pintu ruang pribadinya, alias lemari.
Ellen kemudian melihat kembali ke jendela. Kaca-kaca besar itu menampilkan pemandangan pagi musim gugur yang cantik. Daun-daun maple berwarna kekuningan berguguran satu demi satu. Ellen mengingat kejadian saat baru bangun dari mimpi buruk kemarin. Rasanya ia tidak tertidur lama, tapi kenapa musim sudah berubah? Apakah musim di Orient memang begini, atau ….
“Itu karena Anda tertidur selama lebih dari 40 hari, Tuan Putri.”
Wanita muda itu terlonjak, tepat saat seorang pria masuk ke dalam kamarnya. Pria bertubuh tinggi tegap itu mengenakan jubah hitam yang menjuntai sampai ke bawah. Dengan kupluk yang menutupi separuh wajah, sementara setengah lainnya dipakaikan topeng emas berukir kupu-kupu.
“Siapa kau?” Ellen panik, kemudian mengepalkan tangannya dan menyiapkan tinju.
Detik berikutnya Jayden muncul di belakang pria itu, dan Ellen langsung bisa bernapas lega.
“Dia Yonathan, Putri.” Jayden memperkenalkan pria itu, “Dia adalah penyihir hebat dari perbatasan. Tuan Yonathan yang membantu Ratu menyelamatkan Anda.”
Ellen mengerjap beberapa kali, ingatannya kemudian melayang pada kejadian di malam itu.
“Saya kemari untuk memberitahukan beberapa hal pada Anda, Putri,” Yonathan membungkuk hormat, “sekaligus saya ingin langsung pamit untuk kembali setelah ini.”
“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?” Ravi muncul tiba-tiba setelah selesai berpakaian.
“Energi sihir Putri Mahkota akan terus bertumbuh seiring berjalannya waktu,” Ia menunjukkan botol kaca berisi energi sihir Ellen, “Sementara ini akan baik-baik saja karena setengahnya sudah dikeluarkan. Meskipun begitu, tinggal menunggu waktu soal kapan energi itu akan meluap lagi.”
Yonathan mengambil jeda, “Kalau energi itu meluap untuk yang kedua kali, maka saya tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi pada Putri Mahkota. Jadi, saya harap Putri akan belajar menggunakan sihir, agar energi itu tersalurkan dengan baik.”
“Jadi kunang-kunang biru ini yang memakan tubuhku?” Ellen mengerjap bingung, “Aku belum pernah mempelajari sihir sebelumnya.”
“Bukan kunang-kunang, Putri,” Jayden terkekeh, “ini adalah cerminan bola energi yang kemarin meluap.”
“Apa kunang-kunangnya akan masuk lagi ke tubuhku?” Ellen masih tidak paham dengan pembahasan Yonathan.
“Tubuhmu akan melahirkan kunang-kunang baru, Ell,” Ravi tertawa renyah, “Kau akan punya banyak anak kunang-kunang kalau tidak mengeluarkan sihir itu.”
“Astaga, mengerikan sekali, sih!” Ellen bergidik ngeri, “Kenapa juga aku harus melahirkan kunang-kunang?!” perempuan itu bersungut-sungut.
Jayden dan Yonathan tertawa, “Intinnya Anda harus berlatih sihir, agar energi dalam tubuh Anda tidak membentuk kunang-kunang baru.” Penyihir itu meledek dengan kata ‘kunang-kunang’.
“Eiy, aku ini manusia, bukan induk kunang-kunang!” Ellen mencebik kesal.
Tiga makhluk jantan itu kompak menertawai Ellen.
“Baiklah Putri, rasanya sudah waktunya saya pamit.” Yonathan membungkuk hormat, “Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putri Mahkota.”
Jayden mengantar Yonathan pergi, sementara Ravi memanggil Nyonya Margareth untuk membantu Ellen membersihkan diri. Tak butuh waktu lama sampai Putri Mahkota selesai mandi dan berganti pakaian. Nyonya Margareth memakaikan gaun terusan panjang berbahan tebal pada sang Putri, kemudian membiarkan rambutnya terurai indah.
Ellen mengusap gaun tebal bercorak bunga-bunga yang kini melekat di tubuhnya. Gaun cantik dengan renda di bagian pinggang dan roknya itu tampak sempurna pada tubuh semampai sang Putri. Ada aksen lace yang cantik melingkar di bagian lehernya, yang tentu saja dilapisi furing lembut berbahan tebal di bagian dalamnya.
“Kenapa gaunnya tebal sekali, Nyonya Margareth?” Ellen menggesek rok gaunnya dengan ujung jari.
“Itu karena udaranya sudah mulai dingin, Putri,” wanita paruh baya itu tersenyum lembut, “Anda harus tetap hangat supaya tidak sakit lagi.”
Ellen cuma ber-oh ria, “Apa aku benar-benar tertidur selama 40 hari?”
“Begitulah,” Nyonya Margareth tersenyum lagi, “Nah, sudah selesai, Tuan Putri.”
Tak lama kemudian Jayden masuk, “Bagaimana kalau kita jalan-jalan sekarang, Putri?” lelaki itu menghampiri Ellen, kemudian menyodorkan tangannya sebagai pegangan, “Anda masih harus meregangkan otot dan latihan berjalan. ‘kan?”
Ellen langsung menyambut lengan Jayden, kemudian berpegangan pada tangan kekar itu untuk berdiri. Perlahan wanita muda itu melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah dan tertatih-tatih. Jayden menunggu dengan sabar, bergerak sesuai dengan kecepatan Ellen melangkah. Sampai mereka tiba di ruang tengah dan melihat Ravi duduk disana sambil membaca koran.
“Mau kemana dengan kaki begitu?” Ravi langsung melipat korannya, kemudian memicing sinis pada tangan Jayden yang di pegang Ellen erat-erat.
Jayden langsung paham arti tatapan Ravi pada lengannya, tapi ia juga serba salah. Dilepaskan Ellen jatuh, dipengangi suaminya terlihat sangat kesal. Akhirnya ksatria itu cuma bertahan pada perasaan tidak enaknya dan pura-pura tidak tahu.
“Jayden mengajakku jalan-jalan ke luar.” Ellen tersenyum polos, “Mau ikut?”
Ravi langsung mengangkat bokongnya dari sofa empuk itu cepat-cepat. Lelaki itu langsung berdiri tegap dan jalan mendahului Ellen serta Jayden yang masih tertinggal di belakang. Jayden menahan tawa, pasalnya baru kali ini ia melihat Ravi sebegitu salah tingkah. Ia fokus membantu sang Putri yang jalannya masih tertatih-tatih.
◇•◇•◇
Ada yang pernah tidur sampai 40 hari? Wkwkwk. Yuk, yang suka tidur, boleh kalau mau menyaingi Ellen hahaha. Ravi mulai khawatir sama Ellen, lho, ada yang gemas? aku gemas banget waktu nulis bab ini, entah kenapa wkwkwk. Rasanya tuh kayak mereka yang pacaran, tapi aku yang kesemsem sendiri, uhuk, jadi ketahuan jomlo deh. Ok, skip. Jangan lupa ya tekan LOVE dan dukung terus FAKE PRINCESS LOVE. Aku sayang kalian. Terima kasih banyak buat kalian yang sudah bersedia membaca. Aku senang kali lihat sudah ada yang baca ha ha ha. Sedih amat ya? Gak apa apa lah, demi anak. Oh iya, aku mau tanya ini karena gemas: ADA YANG MENUNGGU ISABELLA?
See you on next chapter~!