Chapter 16: May I Love You?

1468 Words
A million stars up in the sky. One shines brighter - I can't deny. A love so precious, a love so true, a love that comes from me to you. The angels sing when you are near. Within your arms I have nothing to fear. You always know just what to say. Just talking to you makes my day. I love you, honey, with all of my heart. Together forever and never to part. a love poem by Mrs.Creeves ◇•◇•◇   Begitu keluar, mereka bertiga disambut oleh hembusan angin sore yang membelai lembut kulit ketiganya. Ellen menarik napas dalam-dalam, menghirup udara segar yang sudah lama tak ia rasakan. Ravi menatap wajah perempuan bermanik karamel itu, lalu tersenyum kecil saat melihat senyuman secerah mataharinya sudah kembali. “Ell, kemari.” Ravi kemudian mengambil tangan Ellen yang berada pada di lengan Jayden, “Jay, mundur. Sepuluh langkah di belakang.” Jayden menurut, kemudian mundur sepuluh langkah sesuai perintah Putra Mahkota. Detik berikutnya Ravi meletakan tangannya pada punggung dan belakang lutut Ellen, kemudian mengangkatnya dalam satu hentakan. “Ravi, apa yang kau lakukan?!” Ellen panik tiba-tiba, “Turunkan aku!” Ravi tetap membopongnya “Ssst, jangan berisik.” “Tapi aku masih bisa jalan kaki.” Perempuan itu masih protes, tapi tetap melingkarkan tangannya pada leher Ravi, “Kau itu kenapa, sih?” “Begini lebih cepat, Ellen.” Ravi melangkahkan kakinya sampai ke pinggir danau, “Ngomong-ngomong, sepertinya beratmu berkurang banyak.” ia terkekeh, “Sayang sekali, jadi tidak bisa dipotong” “Sialan, memangnya aku ini sapi, huh?” Ellen berdecak kesal, “Sebenarnya kau mau membawaku kemana?” “Naik perahu,” Ravi kemudian berdiri di atas dermaga kecil di pinggir danau, “Pemandangannya akan indah sekali kalau dilihat dari tengah danau.” Ravi lantas menaikkan Ellen pada sebuah perahu layar yang bersandar di ujung dermaga. Perahu itu tidak terlalu besar, dengan sebuah layar dan kanopi kecil di atas kursi penumpang yang sepertinya hanya cukup untuk dua orang. Di puncak layarnya berkibar bendera Orient. Ellen duduk diam di tengah-tengah perahu, menunggu Ravi yang sibuk mengangkat jangkar dari dasar danau. Setelahnya lelaki itu menggerakkan tangannya, kemudian membaca sebuah mantra. Detik berikutnya sihir langsung mendorong perahu layar mereka perlahan hingga ke tengah. Ravi lantas duduk di depannya, menatap Ellen dengan tatapan yang tidak dapat diartikan wanita itu. Pemandangan yang bisa ditangkap netra Ellen benar-benar indah, persis seperti yang Ravi katakan. Pohon-pohon yang pucuk daunnya sudah menguning perlahan-lahan gugur tertiup angin. Begitu pula bunga-bunga yang kelopaknya mulai rapuh, berterbangan mengikuti arus udara yang berembus. Wanita itu kemudian menarik napas, tangannya di bentang lebar sambil menikmati semilir angin. Ravi tersenyum tipis, kemudian menatap intens pada setiap inci permukaan wajah Ellen. Wanita itu menoleh kesana kemari dengan manik karamel yang membulat indah. Ia juga tersenyum lebar dengan bibir cherry yang penuh, dan terasa sangat lembut ketika di kecup. Dan sialnya Ravi jadi ingin mengecupnya lagi, merasakan betapa manisnya ciuman itu. Tapi tidak, tidak sekarang. “Ell, kau bermimpi buruk?” Ravi akhirnya membuka percakapan, menarik perhatian Ellen dengan suara baritonnya. Tadinya Ellen tidak percaya kalau dia sudah tertidur sangat lama, akan tetapi lantunan suara berat khas Ravi yang menyebut namanya menjadi bukti. Mungkin perempuan itu sangsi, bagaimana bisa mereka menarik energi sihir dari tubuhnya yang tidak punya kekuatan itu. Mungkin kalau mereka bilang ginjal atau jantungnya bermasalah Ellen akan percaya, terlebih mengingat gaya hidupnya di New York sangat tidak sehat. “Ellen, kau dengar aku?” Ravi bertopang dagu, “Apa yang kau pikirkan, hmm….?’ “Bukan apa-apa,” Ellen tersenyum tipis, “Mungkin cuma mimpi buruk biasa. Kenapa?” “Cuma tanya,” Ravi mengalihkan atensinya, “Dan soal energi sihirmu ….” Ravi menggantung ucapannya dan Ellen menunggu. “Kalau kau memang tidak mau belajar sihir, tidak apa-apa. Aku paham alasanmu menjauhi ilmu sihir.” Ravi menarik napas dalam, “Kita bisa memanggil Yonathan secara berkala untuk mengeluarkan kunang-kunang biru itu.” Ellen mengerjap bingung, dalam hati ia bertanya-tanya, memangnya apa yang sudah terjadi sampai Eleanor si bangsawan tidak mau mempelajari sihir? “Aku tahu ini berat, Ell,” Ravi masih bicara, “Tapi sebenarnya akan sangat bagus kalau kau belajar sihir. Selain tidak perlu melahirkan kunang-kunang, kami juga bisa memeriksa apakah kau salah satu Penyihir Zero.” Ellen mendelik kesal, “Ravi, berhenti bicara soal melahirkan kunang-kunang!” dia berdecak sebal, “Aku ini manusia, tahu, manusia!” Ravi tertawa, “Iya, iya. Kau manusia.” pemuda itu melanjutkan, “Manusia tercantik yang pernah aku temui.” Ellen menoleh, menatap langsung pada Ravi seiring dengan senyum yang memudar. Wanita itu tahu betul kalau Pangerannya bukanlah tipe orang yang suka memuji, apalagi sampai seberlebihan itu. “Ravi, kepalamu terbentur, ya?” Ellen keheranan sendiri, “Apa ada yang sakit?” Pria itu kemudian tertawa lagi. Sebuah tawa renyah yang meluncur dari mulutnya bukanlah sesuatu yang lumrah, dan Ellen menyadari hal itu. Selama ini hubungan mereka tidak terlalu dekat, tapi tidak juga terlalu jauh. Dan kali ini Ravi benar-benar seperti sudah melampaui batas keduanya. "Apa aku terlihat sebercanda itu, Eleanor?" Ravi menatap Ellen dengan bola mata kelamnya itu, "Aku benar-benar serius saat kubilang kau cantik." Sial, Ellen jadi salah tingkah. "Aku tahu kalau aku memang cantik." "Tidak, bukan yang seperti itu." Ravi mengambil tangan perempuan itu kemudian menggenggamnya erat, "Aku benar-benar takut saat melihatmu terluka kemarin." Ellen bergeming, menunggu kalimat Ravi selanjutnya. Wanita itu tidak melakukan apa-apa selain membalas tatapan intens Ravi dengan manik karamelnya. Netra lelaki itu menelisik, seolah mencari-cari sesuatu di dalam sana. Sementara gadis itu malah tersedot masuk ke dalam obsidian kelam Ravi. "Aku takut sekali kehilanganmu, Ell," Ravi melanjutkan ucapannya, "Mungkin selama ini aku tidak bersikap baik padamu, tapi nyatanya aku takut kehilanganmu." Ellen terkesiap. Tiba-tiba saja darahnya berdesir, seiring dengan detak jantungnya yang bertambah cepat. Seluruh simultan syaraf di tubuhnya bekerja sama, membuat wanita muda itu merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang dari perutnya.  "Setelah Ayahanda turun tahkta, aku akan menggantikannya sebagai Raja." Ravi masih melanjutkan, "dan aku membutuhkanmu sebagai Ratuku, Ellen." Ravi memindahkan sebelah tangannya pada wajah Ellen, kemudian membelainya lembut. Pria itu kemudian menangkup wajah istrinya, memperdalam tatapan mereka sebelum akhirnya mendekatkan wajah untuk menciumnya. Jantung Ellen berdetak tak karuan menahan serangan perasaan merah muda yang memenuhi dadanya. Wajah Ravi semakin lama kian mendekat. Perempuan itu pun memejamkan matanya, membiarkan pasangannya melakukan itu lagi. Bibir Ravi kemudian menyapa Ellen, mengecupnya pelan. Sangat lembut dan berhati-hati. Ellen sebisa mungkin bersikap normal, tidak terlalu agresif dan membalas ciuman itu perlahan. ◇•◇•◇ Kebun Lily Orient, tulisan ke 1585 Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa saat yang lalu aku ingat betul bahwa kami tengah berada di tengah Rose Night, malam yang seharusnya menjadi ritual sakral antara aku dan Ravi. Namun nyatanya semua itu tidak berjalan lancar. Entah bagaimana mereka bilang aku pingsan, well tapi aku benar-benar tidak ingat. Ny. Margareth bilang bahwa Ravi sangat khawatir saat melihat darah menyembur dari mulutku. Seisi istana panik dan kalang kabut mencari dokter terbaik. Lalu aku melihat pemuda itu, seorang penyihir bernama Yonathan yang katanya mampu menarik energi sihir berlebih dari tubuhku. Omong kosong. Padahal itu cuma terlihat seperti dua kunang-kunang biru, tapi mau tidak mau aku harus mempercayai ucapannya. Minimal, pura-pura percaya. Fakta gila lainnya adalah kenyataan bahwa aku sudah tertidur selama empat puluh hari. Sungguh, aku bukan beruang yang perlu hibernasi. Kenapa mereka pikir aku akan percaya? Namun sekali lagi aku terpaksa mempercayainya. Terlebih saat sepasang tungkaiku lemas dan tidak sanggup berdiri. Aku sampai keheranan sendiri, dan ternyata sepasang kaki ini memang lebih kebas dan kaku dari biasanya. Aku harus meregangkan otot dan berlatih jalan lagi. Di antara semua itu, aku jadi penasaran pada kenyataan apakah Ravi sudah jatuh cinta padaku atau belum. Pasalnya dia sama sekali belum menyentuhku barang secuil. Sementara sikapnya mulai menunjukkan tanda-tanda orang jatuh cinta. Meskipun begitu aku tetap harus waspada, karena belakangan ini rasanya jantungku sulit sekali diatur. Contohnya ketika Ravi tiba-tiba menciumku di danau tadi. Juga saat malam sebelum Rose Night. Apa ada yang salah dengan diriku? Atau … ah, tidak. Tidak mungkin. Aku sama sekali tidak mau memikirkan kemungkinan yang satu itu. Kenyataan bahwa aku bisa saja jatuh hati pada sang Pangeran benar-benar membuat logika berpikirku mati suri. Tapi … apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya, atau ini hanya perasaanku saja? Setiap kali Ravi menunjukkan eksistensinya, aku seperti remaja tujuh belas tahun yang kasmaran. Apa di Orient hatiku tidak semati dulu? Mengapa? Eleanor Thyra, sebelum jam makan malam. ◇•◇•◇ Hai, kali ini ada adegan gemas antara Ellen dan Ravi. Gimana? Wanna more? Hehe. Nanti aku kasih deh yang banyak. Tapi sekarang, jangan lupa untuk dukung terus Ellen, Ravi, dan Yoonathan (yang baru muncul) dengan cara tekan LOVE. Untuk mengikuti FAKE LOVE PRINCESS agar kalian selalu dapat update terbaru setiap kali aku lagi rajin, Wkwk. Baiklah, See you on the next chapter~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD