Chapter 17: I See A Star on You

1471 Words
The sparkle in your eye, The warmth of your skin, Your breath on my neck That shakes me within. The touch of your hand, The smell of your hair, The naughtiness in your smile, That strength in your stare. Your kiss on my lips, Your body near mine, The stroke of your touch, Makes everything feel fine. The compassion in your touch, The power in your face, The beating of your heart, That we may never end our embrace. The beauty of your kiss, And that magic in your touch. It is for all these reasons and more Why I love you so much... a poem by Nidhi Kaul ◇•◇•◇   "Ravi, jariku terbakar!" Ellen berlari kelimpungan menuju sebuah tenda tempat Ravi dan beberapa jendral duduk. Ini bukan pertama kalinya perempuan itu memasuki arena latihan di Barack Pegasus, akan melainkan baru sekali ini ia berlatih di sini. Jayden langsung bangkit, kemudian melihat apa yang terjadi sampai Putri mereka kalang kabut begitu. “Ravi, Ravi, lihat!” Ellen langsung menyasar Ravi yang masih duduk di kursinya, memeriksa busur panahnya. Ravi mendongak, kemudian meletakan busur panahnya dan menangkap tubuh Ellen yang tahu-tahu duduk di pangkuannya. "Jariku terbakar api hijau, Ravi, api hijau!" Perempuan itu berteriak panik, kemudian memperlihatkan telunjuknya dengan kobaran kecil energi sihir hijau di ujung jarinya.  Ravi menggeleng pelan sambil berdecak, kemudian menangkap energi sihir kehijauan itu dalam satu genggaman. "Nah, sudah. Coba lagi sana." Ellen kembali ke lapangan tembak, kemudian mencoba mempraktekkan lagi teknik mantra penyerang yang diajarkan Ravi. Gadis itu kemudian membuka kakinya, kemudian membentuk kuda-kuda. Ia lantas meluruskan tangannya ke depan seraya mengubah posisi. Sang Putri kemudian membaca beberapa mantra dan …. BHOOM!! Ledakan besar itu terjadi tepat setelah Ellen menyelesaikan mantranya. Para prajurit yang sedang berlatih sontak berhamburan, sementara wanita itu jatuh duduk. “Wah, wah, baru ditinggal sebentar sudah mau membunuh sekelompok prajurit.” Ravi mengulurkan tangannya, kemudian menarik Ellen berdiri sambil membersihkan rok beludrunya. “Nah,, bagaimana rasanya jadi mesin penghancur, Ell?” “Ah, menyebalkan!” Ellen bersungut kesal, “padahal aku sudah membaca mantranya dengan benar.” “Kalau mantranya benar, tidak mungkin meledak seperti itu.” Ravi berdecak, “Sekarang coba mantra bola pelindung.” Ellen menggembungkan pipinya sebal, kemudian mengambil posisi aneh seperti sebelumnya dengan kuda-kuda yang kelewat besar. Ravi memperhatikan perempuan itu dari belakang, kemudian ia menghampiri dan membetulkan posisi berdiri istrinya. “Ellen, bukan begitu caranya,” Ravi menarik napas, kemudian berdiri persis di belakang gadis itu. “Berdirilah seperti biasa, sihir tidak membutuhkan kuda-kuda.” Pria itu kemudian menyuruh Ellen merapatkan kakinya, “Bersikaplah santai dan sewajarnya, tarik napas dalam-dalam, serta jangan tegang.” Ellen mengikuti semua kata-kata Ravi dengan serius. Wanita itu kemudian menarik napas, melemaskan otot tubuhnya, dan bersikap santai. Tangannya kemudian terangkat sedikit, seirama dengan mulutnya yang membaca mantra. Lelaki itu menunggu, kemudian melihat ada sedikit cahaya yang keluar dari ujung jari-jari Ellen. “Lanjutkan, Ell, fokus.” Ravi memberi aba-aba, “Tarik napasmu lebih dalam dan hembuskan perlahan, rasakan energi itu keluar pelan-pelan dari tubuhmu.” Ellen menurut, ia melakukan persis seperti yang Ravi katakan. Namun keanehan terjadi. Tiba-tiba saja cahaya di ujung jemari Ellen membesar, kemudian membentuk sebuah kubah yang menyerupai payung. “Ravi, lihat!” Ellen berteriak girang, “Sudah ku bilang, ‘kan, aku bisa melakukannya!” “Ellen, fokus!” Ravi  mengabaikan teriakan wanita itu. Ellen mengerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi sihir itu menjadi tidak stabil. Aliran energinya kacau tapi tetap membentuk sebuah bola pelindung yang utuh. Alih-alih melindungi, bola pelindung yang tidak stabil itu justru semakin membesar dan terputus dari kendali Ellen secara tiba-tiba. Ellen yang terkesiap langsung lari untuk menghindari bola pelindung gagal yang ia ciptakan. Ravi tergelak, kemudian tertawa saat energi sihir jadi-jadian itu malah mengejar-ngejar si Putri Mahkota. “Ravi, jangan diam saja!” Ellen sudah memutari setengah dari lapangan tembak, sementara Ravi masih berdiri cekikikan di tengah. “Ravi, bola gila ini akan membunuhku!” Ravi masih tertawa. Pemandangan Ellen yang kalang kabut menghindari bola sihir itu benar-benar menghibur. Sepanjang sejarah penggunaan sihir keluarga kerajaan, tidak ada yang separah Eleanor. Rupanya pengalaman buruk itu benar-benar membekas bagi gadis itu, sampai- sampai kemampuannya menggunakan sihir serendah ini. “Ravi, jangan tertawa terus!” Ellen merengek kesal, “Sihir gila ini mau memakanku!” Ellen menyerah, gadis itu kemudian menyasar pria yang masih berdiri di tengah lapangan sambil tertawa. Dengan tenaga terakhirnya gadis itu melompat pada Ravi, kemudian mengalungkan tangannya dan jatuh berguling-guling sampai bola pelindung jadi-jadian itu pecah. Serpihannya perlahan menguap ke udara, tepat setelah Ravi membuyarkan energinya. “Kau tidak apa-apa, Ell?” Ravi terengah-engah, tapi tetap memeluk Ellen erat. Lelaki itu merasakan guncangan pelan dan suara isak tangis gadisnya. Ia kemudian menepuk pelan pundak Ellen sambil tetap bertahan pada posisinya. “Kau jahat sekali, sih!” Ellen berseru marah sambil menangis, “Aku sudah ketakutan setengah mati, tahu!” “Iya, Ell, aku minta maaf ya ….” Ravi tersenyum kecil, kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi Ellen, “kalau setakut itu, lebih baik tidak usah dilanjutkan saja, oke?” “Tapi nanti kunang-kunangnya ….” “Kunang-kunangnya akan dimakan oleh Yonathan.” Ravi tersenyum tipis, “Aku tahu ini berat, jadi jangan dipaksakan, ya?” Ellen mengerjap bingung. Demi apapun ia memang takut sekali pada bola sihir jadi-jadian yang mengerjanya tadi. Namun ia masih tak bisa memahami maksud Ravi soal ‘hal berat’ yang harus ditanggungnya. Memangnya hal berat apa, sih? Ravi kemudian menarik istrinya berdiri, menggandengnya sambil berjalan pelan-pelan sampai ke tenda peristirahatan mereka. Ellen mengusap air matanya, kemudian menatap Ravi lamat-lamat. “Kenapa?” Ravi bertanya di sela-sela hembusan angin, “Aku tampan, ya?” Ellen terkekeh, “Percaya diri sekali!” “Oh tentu, aku ‘kan Putra Mahkota.” Ravi tersenyum miring, “Apa yang mau kau tanyakan, Ell?” Ellen terhenti, kemudian menatap Ravi tepat pada netra kelamnya, “Apa yang sebenarnya menimpa keluargaku?” Ravi menarik napas, kemudian sontak mengalihkan pandangannya dedaunan yang gugur tertiup angin. Menurut kisah Yonathan, Eleanor ditemukan terkapar sendirian di depan mayat orang tuanya. Namun begitu sadarkan diri ia sama sekali tidak ingat apa-apa. Sekarang Ellen menanyakan hal itu langsung padanya, dan tentu saja Ravi harus menjawab pertanyaan istrinya. “Keluarga Thyra sempat terobsesi pada uji coba sihir baru, dan kabar terakhir yang kudengar adalah kedua orang tuamu mati di depan matamu sendiri … karena sihir mereka gagal.” Ellen mengerjap tiga kali. Wanita itu kemudian membayangkan pemandangan orang mati di depan matanya, dan langsung bergidik ngeri. “Makanya, aku tidak akan memaksamu lagi untuk mempelajari sihir.” Ravi mengusap pucuk kepala Ellen lembut,  “Itu artinya aku akan jadi lemah, ‘kan?” Manik karamel Ellen menerawang jauh ke atas langit, “Itu artinya aku tidak bisa membantumu untuk mengalahkan Trevian.” Kini giliran Ravi yang terhenti. Lelaki itu kemudian melihat Ellen yang beberapa langkah di depannya. Perempuan itu kemudian berbalik, bersamaan dengan selimir lembut angin yang menyapa langsung indra terluar mereka. Membuat surai karamel gadis itu terbang beberapa helai, membingkai kedua mata besarnya yang indah serta wajah cantik dengan bibir cherry menggoda. “Kalau dengan sihir aku bisa membantumu mengalahkan Trevian, maka aku akan belajar lebih giat lagi.” Ellen tersenyum lebar, menampilkan sederet gigi yang tersusun rapi. Dalam hati pria itu menjerit, betapa cepat jantungnya berdetak. Dan sungguh, rasanya syaraf-syaraf di tubuhnya sudah merespon berlebihan pada senyum secerah matahari itu. Ravi sama sekali tidak tahu, harus ia apakan kebimbangan yang melandanya terus-terusan ini. Perasaannya pada Ellen kian hari semakin jelas, pun begitu ada segelintir rasa khawatir yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. ◇•◇•◇ Di setiap ujung sebuah hubungan, setidaknya pasti ada satu hati yang terpaksa patah. Untuk sekarang mereka bahagia, walau  tak tentu kapan hilang. Sementara ini keduanya tertawa bersama-sama, tanpa tahu kapan mereka menangis. Ada alasan mengapa cinta datang tanpa sambutan. Ada alasan mengapa ia pergi tanpa perpisahan. Sesungguhnya bukan karena pudarnya cinta dari hati keduanya. Melainkan tercipta ego di antara mereka. Membelenggu, mengikat, mencipta keinginan untuk saling memiliki. Lantas, akankah selamanya? Namun, bukankah cinta dan hidup memang seperti itu? ◇•◇•◇ Hai~!  Jumpa lagi, hehe. Part ini manis sekali menurutku. aku suka banget interaksi mereka disini. Kalau kalian gimana? suka yang manis-manis kayak gini atau mau yang seru mendayu-dayu? Eh, mau semuanya? Boleh dong! Aku 'kan baik. Ha Ha Ha. Sekarang aku kasih kalian yang manis-manis dulu aja. Soalnya nanti akan ada adegan seru, yang bikin kesal. Aku jamin, gemas banget deh! Yang jelas, adegan seru itu baru ada nanti, kalau manis pahitnya sudah lewat semua #eaaa. WKWKWK. Oh iya, jangan lupa tekan LOVE untuk mendukung Ellen dan Ravi ya. Aku enggak akan bosan minta sumbangan cinta, karena Ravi dan Ellen butuh cinta untuk tetap bersama #plaakk //nah loh//. Pokoknya kalian tunggu aja. bagian seru-serunya sebentar lagi, kok ha ha ha. See you in next chapter~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD