Chapter 18: I Want You

1647 Words
Sepulang dari Barack Pegasus Ellen memutuskan mandi, sementara Ravi menemui beberapa pejabat kerajaan untuk membahas pekerjaan. Wanita itu bersandar santai pada bathtub, menikmati aroma terapi yang menguar dari lilin-lilin yang menyala di samping jendela. Dalam waktu-waktu seperti ini otak Ellen biasanya bisa bekerja lebih keras. Terutama pada hal-hal yang tak kunjung pergi dari kepalanya, termasuk perihal kisah keluarga bangsawan Thyra dan beberapa hal lainnya. Cuma satu kalimat yang Ravi ucapkan perihal orang tua Eleanor si bangsawan, yaitu mereka mati di depan putrinya sendiri. Mungkin itu juga yang menjadi penyebab semua orang  tidak mencurigai dia yang sejak awal tidak punya kekuatan sihir. Tapi Ellen sama sekali tidak tahu jawabannya. Hal lain yang cukup mengganggunya adalah perihal kedekatannya dengan Ravi. Bukan berarti Ellen tidak senang bisa sedekat ini dengan laki-laki yang sudah mencuri hatinya, entah sejak kapan. Melainkan gadis itu jadi kehilangan kewaspadaannya pada segala sesuatu. Misalnya saja Ellen yang sudah terbuai dengan kehidupan barunya lupa kalau masih ada Isabella. “Ell, kau masih di dalam?” Suara bariton Ravi terdengar dari luar, sontak Ellen buru-buru meniup lilin-lilin aroma terapinya seraya keluar dari bathtub. Tapi memang dasar pelupa, perempuan itu lupa membawa handuk. “Ravi, bisa minta tolong?” Ellen bertanya malu-malu, “Boleh tolong ambilkan handuk?” Wajah Ravi serta-merta memerah, seiring dengan darahnya yang berdesir cepat dan tubuhnya yang mulai memanas. Tanpa menjawab Ellen lelaki itu mengambilkan selembar handuk di lemari sebelum mengetuk pelan pintu kamar mandi. “Buka sedikit.” Ravi memalingkan wajahnya tepat saat pintu terbuka. Tangannya terulur dan Ellen cepat-cepat menyambar handuk itu dari suaminya. Tak lama kemudian Ellen keluar, dan Ravi buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu bahkan mengunci pintunya agar tidak lepas kendali seperti saat ciuman di malam sebelumnya. Sementara itu si Putri Mahkota memilih gaun tidurnya, dan betapa sial pikiran kotornya, Ellen malah mempertanyakan kenapa Ravi belum juga menyentuhnya. Hampir sebagian besar alurnya sudah berubah. Ravi sepertinya mulai jatuh hati padaku, sementara Isabella belum juga muncul. Apa ini akan baik-baik saja? Ellen menarik napas, kemudian mengambil gaun tidur pendek dan mengenakannya cepat-cepat. Dalam cerita seharusnya Isabella datang beberapa saat sebelum Rose Night tiba. Eleanor yang sedingin es, tak sanggup meluluhkan hati Ravi yang sekeras batu. Namun Isabella datang, dengan keceriaan dan kelembutan yang sanggup memberi warna pada kehidupan Putra Mahkota yang datar. Ravi yang kesepian dan tak bisa memahami Eleanor kemudian jatuh hati pada Isabella. Dan akibat keserakahan ayahnya, Isabella terpaksa menjebak Eleanor dengan racun. Putri Mahkota yang sudah kehilangan cintanya itu pada akhirnya harus berakhir tragis di bawah hukuman mati suaminya sendiri. Ellen menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya kuat. Membayangkan skenario naskah aslinya membuat Eleanor si aktris ngeri. Pasalnya bukan si Putri Mahkota dingin itu yang akan mati, melainkan dirinya sendiri. “Kenapa mendesah seperti itu?” Ravi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ellen hampir terlonjak, lantas ia menahan napasnya tiba-tiba. Memang dasar perempuan jalang, setelah merasakan beragamnya kehidupan s*x di New York Ellen menjadi salah tingkah. Kadang ada hari-hari tertentu dimana perempuan itu menatapi Ravi seperti mangsa, akan tetapi rasionalitasnya tetap di atas normal. “Kenapa kau tidak pakai baju, ck?” Ellen berdecak dan mendengus sekaligus, “Pakai piyamamu, sana!” Ravi tertawa, “Memangnya kenapa? Aku ini ‘kan suamimu, Ell.” Sial, benar juga yang ia ucapkan barusan. Sebenarnya Ellen juga keheranan dengan dirinya sendiri, kenapa juga selama ini dia bisa tahan berduaan dengan pria sesempurna Ravi tanpa melakukan apa-apa. Dilihat dari manapun, Ravi lebih cocok jadi lelaki penggoda-maksudnya hidung belang. Atau minimal lelaki tampan b******k yang suka meniduri gadis-gadis cantik.  Lihat saja deretan otot perut dan bisep yang nampak menggoda itu. Kalau saja ini New York, maka Ellen tidak akan segan untuk menerjangnya lebih dulu. Tapi sayang, ini Orient … yang bahkan tidak memberikan kebebasan pada sisi liar Eleanor Thyra untuk menyerang suaminya sendiri. Ngomong-ngomong, apa versi tubuhku disini masih perawan? “Ell, ayo tidur.” suara bariton Ravi lagi-lagi membuyarkan lamunannya. Wanita itu tidak menjawab, akan tetapi langsung mengambil posisinya dan berbaring di sebelah Ravi. Pria itu kemudian menarik pinggang Ellen, mengikis jarak di antara mereka. Ia kemudian mendekap tubuh mungil itu dalam pelukannya, persis seperti yang biasa mereka lakukan. “Ravi, aku mau tanya sesuatu.” Ellen berbisik pelan, “Kenapa kau masih menahan diri sampai saat ini?” Detik itu juga Ellen dan Ravi sama-sama terkejut. Pasalnya si Putri tidak tahu bahwa mulutnya selancang dan semurahan itu, sampai berani menanyakan hal sevulgar kejantanan Ravi. Dan Pangeran sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pertanyaan sensitif seperti itu akan keluar dari mulut gadisnya. Hening. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang harus diucapkan, atau dilakukan. “Aku ….” Ravi akhirnya bersuara, “menunggumu siap, Eleanor.” Ellen membekap mulutnya sendiri, tak percaya pada apa yang terlontar dari mulut Ravi barusan. “Bagaimana kalau kubilang ….” Ellen menggantung ucapannya, “kalau aku siap?” Ravi menarik napas, kemudian berbalik posisi dan memunggungi Ellen. Pria itu kemudian meringkuk sambil menjambak rambutnya sendiri, bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Ellen masih menunggu, dan tiba-tiba Ravi bangkit lalu menariknya duduk. Sejurus kemudian lelaki itu menahan tengkuknya, kemudian menarik wajah Ellen dan menciumnya kasar. Ellen tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi timbul segelintir rasa takut pada apa yang Ravi lakukan. Bola mata kelam itu menatapnya lurus, kemudian melirik pada sehelai piyama yang melekat di tubuh Ellen. Tangan kekar lelaki itu meraih tali yang terikat di bahu kanan dan kiri istrinya, kemudian membukanya satu per satu. Tapi perempuan itu justru menahan gaun tidurnya agar tidak jatuh. Ellen bergeming, menatap Ravi yang sama sekali tidak terlihat seperti biasanya. Lantas tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Kalau seandainya tubuh bangsawan ini masih perawan, maka Eleanor akan sangat menyedihkan. Dihukum mati dan sudah tidak perawan karena Isabella. Sial. Bahkan di saat-saat seperti ini pemikiran soal Isabella muncul. Persetan dengan semuanya, Ellen berubah pikiran. Ia tidak boleh serta merta menyerahkan dirinya begitu saja pada Ravi. Eleanor Thyra yang ada di sini adalah seorang gadis bangsawan, sekaligus Putri Mahkota bagi Kerajaan Orient. Jadi ia harus menahan diri, seperti Ravi yang sanggup menekan hasratnya demi Ellen. “Ravi, kumohon, hentikan.” Ellen mendorong bahu Ravi kuat-kuat, tepat beberapa detik sebelum lelaki itu menarik turun gaun tidurnya. Ravi tidak mendengar, lelaki itu justru menindih Ellen di bawahnya. Mengukung wanita itu dengan lengannya.  “Ravi, kumohon ….” Ellen mengiba, menggunakan seluruh kemampuan aktingnya, “Aku ... belum siap.” Sepersekian detik berikutnya Ravi menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya sekaligus. Ia melakukannya berkali-kali. Ellen menunggu, kemudian pria itu bangkit dan tersenyum lembut. “Aku minta maaf,” Ravi berbisik pelan, kemudian mengecup kening Ellen, “Tidurlah, aku harus mandi air dingin.” Ellen menatap punggung Ravi yang hilang saat pintu kamar mandi tertutup. Suara air yang mengalir menandakan aktivitas yang dilakukan pria itu. Sesungguhnya sang Putri tahu betul bahwa Pangerannya bukan tipe pria romantis dan penuh cinta. Tapi yang ia tidak tahu adalah, bahwa suaminya memiliki kelembutan dan pengertian setulus ini. ◇•◇•◇ Kamar tidur, tulisan ke 1586. Aku bodoh. Benar-benar bodoh. Seharusnya setelah beberapa waktu yang lalu menyadari bahwa jantungku berdebar saat di sekitar Ravi, aku tidak abai seperti itu. Awalnya ku kira itu hanya sebatas perasaan suka, atau aku mungkin hanya tertarik pada sang Putra Mahkota karena hampir setiap hari kami selalu bersama. Namun ternyata tidak. Kenyataannya sama sekali tidak sesederhana itu, dan aku terjebak dalam ilusiku sendiri. Seharusnya sejak awal aku pergi, sesaat setelah memutuskan untuk mengumpulkan banyak emas dan perhiasan sebelum kabur dari tempat ini. Aku benar-benar sangsi, apakah semuanya akan berjalan lancar atau malah membunuhku lebih cepat. Anehnya, sudah sejauh ini kehidupanku berjalan, dan sama sekali belum ada tanda kehadiran dari Isabella Saac. Alurnya sudah pasti berubah. Karena sekarang Ravilliam Areez Orient sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri. Seingatku Isabella datang di saat Ravi kesepian. Eleanor Thyra versi bangsawan terlalu kaku dan mengikuti peraturan istana dengan sebagaimana mestinya. Dia adalah sosok calon ratu yang sempurna, pendamping yang pantas untuk Raja segagah Ravilliam nanti. Namun, entah mengapa pesonanya luntur dengan kepolosan dan kehangatan sikap Isabella. Gadis bangsawan super cantik yang di kagumi semua orang. Untungnya aku bukan Eleanor Thyra si perempuan kaku. Untungnya, aku adalah Eleanor Thyra yang penuh pesona, wanita yang sukses membuat sang Pangeran jatuh cinta. Harapanku cuma satu, yaitu agar cinta di hati Ravi bisa tumbuh dan bertahan lama. Sehingga hidupku bisa jadi lebih aman. Kembali pada kondisi sekarang, sejujurnya aku keheranan sendiri atas sikap tarik ulur Ravi. Lelaki itu terkadang memberikan kesan bahwa ia sangat menginginkanku, seperti yang baru saja terjadi. Bukan aku tidak tahu, bahwa ia sebetulnya menyimpan keraguan jauh di lubuk hatinya. Di satu sisi, si Putra Mahkota sudah jatuh cinta. Namun di sisi lain, ia terlihat bimbang dengan pilihan hatinya. Sepertinya aku harus bergerak sedikit lebih agresif, agar dia bisa dengan yakin melabuhkan hatinya padaku. Meskipun begitu, aku tahu betul bahwa rencana ini sangat berbahaya. Terlebih, sudah ada rasa yang lebih dari sekadar suka pada pria itu. Toh, ravi tidak buruk juga. Lagi pula, aku yang terbiasa menjadi jalang kecil di New York sudah mulai merindukan sentuhan laki-laki. Murahan? Pasti tidak akan ada yang bisa mengucapkan kata-kata seperti itu di depan wajahku sekarang. Berperan sebagai Putri Mahkota ternyata semenyenangkan ini. Sial, rasanya aku semakin terbuai. Bagaimana kalau aku harus kembali ke New York nanti? Apa yang harus kulakukan jika seandainya semua ini hanyalah mimpi? Bunga tidur yang sekadar mampir sembari menunggu mataku terbuka lagi. Sanggupkah aku menerima kenyataan bahwa Ravilliam hanya kepingan angan yang tak sampai? Ah, aku bahkan mulai memikirkan yang tidak-tidak. Semoga setelah ini aku bisa mengontrol perasaanku padanya. Eleanor Thyra, saat Ravi mandi. ◇•◇•◇ Chapter 18 terbit~! Adakah yang kecewa saat tahu Ellen dan Ravi gagal merajut cinta? Haha. Haruskah aku lanjutkan adegan penuh cinta itu? Wohoo, tidak bisa begitu ferguso. Nanti akan ada bagiannya, kok. Kalian tunggu aja ya. Hihi. Jangan lupa tap LOVE untuk mendukung kisah cinta Ellen dan Ravi. See you on the next chapter~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD