Chapter 03: It's A New World

1454 Words
Oh, akhirnya Ellen mengingat semuanya dengan jelas. Kisah tentang seorang putri mahkota dalam naskah film berjudul King’s Love. Putri malang yang mempunyai nama sama persis dengannya, Eleanor Thyra. Sebuah naskah klise yang ditolak Ellen karena beralur sangat buruk, hingga membuat Putri Mahkota yang malang mati mengenaskan karena orang ketiga! “Kau tidak akan bisa seperti Isabella.” - King’s Love, Eps 7. Dahulu kala hidup seorang gadis bangsawan yang terpilih sebagai Putri Mahkota. Menjalani kehidupan sebagai calon ratu tidaklah mudah bagi Eleanor Thyra, tokoh pembantu utama, terlebih memiliki suami super dingin yang tidak mencintainya. Apalagi setelah Ravilliam Arez Orient, tokoh utama pria, yang merupakan Putra Mahkota Kerajaan Orient jatuh hati pada wanita lain. Tokoh utama wanita, Isabella Saac, masuk ke dalam kehidupan rumah tangga Eleanor dan Ravilliam sebagai Selir yang sangat dicintai. “Kalau ada perempuan yang pantas menempati posisi sebagai putri mahkota, maka Isabella adalah orangnya. Bukan kau, Ell.” - King’s Love, Eps 9. Sosok Eleanor dalam naskah adalah perempuan yang kaku, taat pada peraturan istana dan penuh tata krama. Sosok sempurna yang diprediksi akan menempati tahta Ratu dengan apik. Sedangkan Isabella memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan sang Putri Mahkota. Sebagai gadis bangsawan, selain sangat cantik, ia dikenal ceria dan memiliki hati bak malaikat. Pembawaannya santai dan menyenangkan, tidak seperti calon ratu yang selalu serius.  “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku.” - King’s Love, Eps 13. Ravilliam adalah sosok Putra Mahkota yang dingin, tegas, sekaligus acuh tak acuh pada hal-hal yang tidak menarik perhatiannya. Eleanor yang terkesan memiliki karakter mirip dengannya membuat sang Pangeran bosan. Jenuh dengan kehidupan kaku dan serius, juga penuh sandiwara. Kemudian Isabella datang, memberi warna pada kehidupan Putra Mahkota, sekaligus menumbuhkan perasaan merah muda. Eleanor yang kesepian mendamba cinta Ravilliam, akan tetapi perasaan itu sudah mutlak menjadi milik Isabella. “Aku benar-benar benci adegan menjijikan seperti ini, Eleanor. Hentikan, atau aku akan membunuhmu dengan tanganku.” - King’s Love, Eps 16. Hening. Saliva wanita itu tersangkut di kerongkongan. Ellen mematung di tempatnya, syaraf-syaraf di kepalanya terasa lebih lambat dari biasanya. Bagaimana bisa dia baru menyadari hal itu? Bahwa sekarang Ellen sudah berubah menjadi Eleanor Thyra sang Putri Mahkota, bukan lagi si aktris cantik yang terkenal lewat aktingnya yang luar biasa. Sejauh ini otaknya hanya sanggup memikirkan satu kemungkinan yang sangat sialan ini. Naskah sialan! Kenapa aku bisa ada di--arrgghh ….! Wanita muda itu kemudian mencubit gemas pipinya sendiri, “Siapa saja, tolong bilang padaku kalau ini cuma mimpi!” Pria itu menarik napas jengah, kemudian mengalihkan atensinya. Memilih untuk mengabaikan perempuan aneh yang entah bagaimana bisa menjadi istrinya itu. Kali ini dia membiarkan Ellen berpikir. Biar bagaimanapun kalimat balasan gadis itu sudah cukup untuk menyindirnya. Dan sebagai seorang gentleman, lelaki itu tak mau dibilang tidak berperasaan. Walaupun seisi istana sudah menganggapnya begitu. Nama Putra Mahkota sialan itu Ravilliam, ‘kan? Apa mungkin …. “Ravi … lliam,” Ellen membuka suara, memanggil sang Putra Mahkota langsung dengan namanya. Bukankah praduga ini perlu dibuktikan? Tiga, dua, satu. Ellen menghitung dalam hati, dan sepersekian detik kemudian Pria itu menoleh. Gadis itu terbelalak, kemudian mencoba mengendalikan keterkejutannya dan mengerjapkan mata beberapa kali. Perasaan Ellen benar-benar tak karuan sekarang. Ada segelintir rasa takut, cemas, sekaligus paranoid begitu mengetahui bahwa hipotesisnya benar. “Apa?” Mati saja, kau Pangeran b******k! Mati lah sebelum membunuhku dengan tangan itu, dasar psikopat gila! Meskipun terlihat mewah dan berkuasa, posisi putri mahkota dalam naskah King’s Love sama sekali tidak seperti kelihatannya. Naskah itu menceritakan betapa nelangsanya si putri mahkota karena suaminya jatuh hati pada wanita lain. Ada orang ketiga dalam hubungan mereka. Dan nasib putri mahkota yang bernama Eleanor Thyra itu akan berakhir tragis, karena dijatuhi hukuman mati oleh suaminya sendiri! “Sudah selesai berpikirnya, Tuan Putri?” Ravi berdecak tak sabar, “Kalau sudah, cepat ganti pakaianmu karena kita harus menghadap Raja.” “Huh, apa?”  Sumpah, Ellen belum bisa menerima kenyataan tak masuk akal ini. “Kau pingsan tadi pagi dan belum sempat memberi salam pada Ayahanda, Eleanor-Thyra-Orient.” Ravi berucap cepat sambil menekankan nama baru Ellen, “Itupun kalau kau sudah ingat bahwa sekarang posisimu adalah Putri Mahkota.” What the--kau akan membunuhku, untuk apa aku memberi salam pada Ayahandamu itu, huh?! Ravi berbalik dan melangkah keluar dari kamar, “Ganti pakaianmu dan temui aku di depan Aula Orion.” Selepas kepergian Ravi, Ellen merengut. Gadis bersurai karamel itu sama sekali tidak menyangka kalau Ravilliam Areez Orient yang agung itu akan sangat menyebalkan. Pasalnya di dalam cerita Ravi dideskripsikan sebagai sosok pria yang lembut dan penuh kasih sayang. Dia sangat perhatian, terutama pada selingkuhan bangsawannya yang sialan itu. Siapa tadi namanya? Oh iya, Isabella Saac. Perempuan sok polos yang merebut suami orang. Tuhan, aku ingin pulang ke New York sekarang! Eleanor Thyra adalah aktris muda berbakat yang baru saja memenangkan penghargaan sebagai pendatang baru terbaik. Namun, semua kerja kerasnya seolah sia-sia, terlebih saat Ellen menyadari bahwa ia baru saja terdampar ke naskah film yang baru ia tolak. Kenyataan seperti ini, bukankah siapapun akan menolak? Lagi pula, orang gila macam apa yang akan percaya begitu saja?  Putri Mahkotanya akan mati, dan sekarang aku lah sang Putri. Hei otak, ayo pikirkan sesuatu. Iya, aku paham betul kalau sudah lama tak mengajakmu berpikir. Tapi kali ini, tolong pikirkan sesuatu, wahai otak tercinta! Ellen memulas gincu dan perona pipi sambil menatap cermin. Niat hati tak ingin menemui si Pangeran sialan, tapi tampan, yang dengan semena-mena menyuruhnya berdandan. Salahkan saja deretan alat make up yang berjajar rapi di meja rias, dan satu lemari penuh gaun-gaun cantik khas putri raja itu. Mata Eleanor si penggila vintage fashion jadi langsung berbinar-binar. Mungkin yang membuat cinderella jatuh cinta bukan pangeran tampan atau sepatu kaca, melainkan gaun dan tiara cantik yang bisa ia pakai sampai pukul dua belas malam. Ah, persetan dengan Pangeran b******k itu. Kunikmati saja dulu peran ini, kapan lagi bisa dihormati bak Putri Diana sekaligus senasib dengan  Kate Middleton? ◇•◇•◇ Di Dalam Naskah Film, tulisan ke 1581 Sejak awal aku sudah tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sejak pertama kali membuka mata, saat aku menyadari Keith tidak ada di mana-mana. Dia benar-benar tidak bersamaku. Ketika aku memanggil namanya bukan Keith yang muncul, melainkan orang lain. Apakah ini semacam dunia virtual, atau sejenisnya? Kenapa aku bisa berada di sini? Dasar naskah sialan, sudah ditolak, masih saja membawa masalah! Mungkin aku akan menerima naskahnya kalau seandainya tahu penolakan itu akan membuatku berakhir seperti ini. Kurasa dunia ini benar-benar sudah gila. Tidak ada satu pun hal yang bisa menjelaskan secara ilmiah soal alasan mengapa aku harus berada di sini. Mereka bilang ini apa, tadi? Orient? Oh, yang benar saja! Pada siapa aku harus meminta bantuan? Semua ini benar-benar berada diluar kendaliku. Seandainya Tuan Hook tahu kalau dia sudah menjerumuskanku ke dunia antah berantah ini … ah, tapi dia pasti tidak peduli. Toh, walaupun aku menghilang masih ada banyak aktris muda lain yang siap menghiburnya. Ya, aku memang semenyedihkan itu. Ada beberapa alasan mengapa aku menolak naskahnya, selain karena alurnya yang kelewat klise, aku juga benci sekali bagian Putri Mahkota Eleanor Thyra dihukum mati. Sial, aku sudah masuk ke dalamnya, berarti orang yang akan terbunuh secara harfiah adalah diriku sendiri. Namun, rasanya memang tidak terlalu buruk. Semua orang sangat perhatian padaku, mereka begitu menghargai dan mengasihi aku. Tentu saja itu karena Eleanor Thyra yang di sini adalah seorang Putri Mahkota. Tapi minimal, mereka tidak akan berani berbuat macam-macam di depan mataku. Suasana di sini juga masih sangat asri. Aku belum melangkah barang secuil pun dari kamar ini, tapi jendela kaca besar yang ada menunjukkan segalanya. Soal betapa rindang dan hijaunya taman-taman di luar sana. Mungkin untuk sementara aku tidak akan bosan, minimal sampai kutemukan cara untuk kembali ke New York. Memang, kelihatannya hidup sebagai pendamping calon raja terlihat menggiurkan. Apalagi Ravillian jauh lebih tampan dibanding calon aktor yang memerankannya atau di deskripsi dalam naskah. “Bersediakah kalian menggantikan posisiku sebagai istri pangeran?” Mungkin kalau aku berkeliling pasar sekarang dan menanyakan ini semua makhluk berjenis kelamin perempuan akan dengan senang hati merebut posisiku. Sayang, hal itu sudah pasti tidak mungkin bisa dilakukan. Kalau dilihat-lihat, rasanya aku seperti berada dalam kebudayaan eropa zaman dulu. Mungkin era victoria, tapi tidak tahu juga. Aku tidak terlalu suka sejarah, apalagi yang berhubungan dengan cerita-cerita para bangsawan. Sialnya, sekarang aku menjadi salah satu bagian dari itu semua. Ditambah dengan ancaman kematian yang mengintai, serta kecemasan berlebih pada sosok gadis bangsawan bernama Isabella Saac. Whoa, hebat sekali, Ellen. Penderitaanmu kian lengkap. Aku sudah mengetahui bagaimana cerita ini akan berlanjut, kemungkinan itu bisa kujadikan sebagai acuan. Sepertinya aku harus menyusun sebuah rencana. Eleanor Thyra, di siang hari. ◇•◇•◇ Halo, aku update, hehe. Jangan lupa tekan LOVE, ya~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD