Hari sudah larut ketika mereka sampai di istana. Ellen langsung membersihkan diri kemudian merebahkan dirinya di kasur. Rasanya seluruh tulangnya mau rontok, bagaimana tidak? Mereka berkuda sepanjang hari dengan kecepatan penuh. Sepertinya Ravi sudah benar-benar sinting, buktinya begitu sampai bukannya istirahat tapi malah mencari Raja di istana Sirius. Padahal ini sudah malam, dan lelaki itu juga pasti sudah kelelahan. Entah apa lagi yang dipikirkan sang Putri, tapi dia tertidur karena kelelahan.
Paginya Ellen bagun dengan perasaan tidak enak. Matanya berat sekali untuk dibuka, sementara kepalanya pusing setengah mati. Perempuan itu juga merasa kerongkongannya kering dan sakit. Entah apa yang terjadi, tapi tubuhnya terasa berat sekali. Gilanya lagi, dengan keadaan begitu sang Putri masih mencari-cari dimana Pangerannya berada.
Seingat Ellen semalam ia belum bertemu Ravi, dan pagi ini kondisinya sangat tidak bagus. Rasanya perempuan itu enggan bangkit dari tempat tidur, tapi penasaran sekali perihal keberadaan Ravi. Apakah dia sakit juga? Atau sedang mempersiapkan hal lain?
“Ellen, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Ravi terperanjat begitu masuk ke dalam kamar, pasalnya Ellen terbaring di tempat tidur dan terlihat tidak berdaya. Netra kelam itu berubah khawatir, terlebih ketika menangkan wajah pucat istrinya dengan tarikan napas lemah. Lelaki itu memang tidak pulang semalam, karena rapat yang diadakan mendadak ia pun tak sempat melihat kondisi Ellen.
“Ell, astaga!” Ravi memegang kening Ellen, kemudian terlonjak kaget karena suhu tubuh perempuan itu naik drastis, “Nyonya Margareth, Frita!”
Ellen menggenggam tangan Ravi yang masih memeriksa keningnya, kemudian tersenyum tipis. Walau pada akhirnya yang terlihat cuma sudut bibir yang sedikit tertarik. Perempuan itu kemudian menatap suaminya lamat; sementara Ravi mencoba menebak-nebak apa maksud dari tatapan istrinya.
“Apa yang terjadi?” Ellen berucap pelan, hampir berbisik, “Apa kau baik-baik saja setelah pulang terburu-buru kemarin?”
“Ellen, astaga!” Ravi berseru panik, kemudian memeluk erat wanita itu, “Aku benar-benar minta maaf.” Lelaki itu menarik napas, “Maafkan aku, Ell, kau sakit begini karena aku yang seenaknya membawamu kesana-kemari.”
Ellen terkekeh, “Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?”
“Nyonya Margareth, Frita!” Ravi berteriak panik lagi, “Apa ada orang di luar?!”
“Ssst,” Ellen meletakkan telunjuknya pada bibir Ravi, membungkam pria itu, “Pelan-pelan saja. Kau belum menjawab pertanyaanku, ngomong-ngomong.”
Ravi menarik napas, kemudian menatap Ellen cemas. Tapi akhirnya lelaki itu memutuskan untuk memberitahu wanitanya.
“Jadi, apa yang mau kau katakan?” Ellen memberikan cengiran lebarnya pada Ravi, seolah paham sekali dengan gelagat pria itu, “Aku akan mendengarkannya.”
“Kami akan pergi untuk mempertanyakan serangan itu pada kaum Trevian.” Ravi tersenyum tipis, “Apa kau akan baik-baik saja mengurus istana ini sendirian, Putri Mahkota?”
“Tentu saja, aku ini Eleanor Thyra Orient, Putri Mahkota negeri ini.” Ellen tertawa kecil, “Kau pergi dengan siapa saja?”
“Ayahanda, Ibunda, Jayden, dan Yonathan.” Ravi menarik napas, “Yonathan datang karena khawatir, sebenarnya dia sudah mengabari prediksi serangan itu sejak seminggu yang lalu.”
Ellen mencebik, “Ya, ampun, jadi dia yang membuat suamiku sibuk belakangan ini.”
Ravi tertawa, “Istirahatlah dengan baik dan cepatlah sembuh. Kau akan memegang pemerintahan sementara saat kami semua pergi.”
Perempuan itu membulatkan matanya, “Aku?”
“Iya, kau. Calon Ratuku.” Ravi menjawil gemas hidung Ellen, “Perdana Menteri Saac akan membantumu untuk sementara.”
Senyuman Ellen lenyap seketika, berganti pikiran-pikiran negatif tentang Isabella lagi. Entah sudah berapa kali ia memikirkan berbagai kemungkinan soal Isabella belakangan ini, dan rasanya hal itu semakin menempel di kepala gadis itu.
“Kenapa? Apa ada yang sakit?” Ravi tiba-tiba panik saat Ellen tiba-tiba membisu, “Tunggu sebentar, kupanggilkan Nyonya Margareth atau Frita.”
“Sesibuk apa mereka sampai tidak ada yang datang setelah dipanggil sekeras itu?” Ravi keluar sambil menggerutu.
Ellen menatap keluar jendela, kemudian melihat butiran salju yang turun dan menumpuk di bingkai jendela. Perempuan itu kemudian memejamkan mata, kembali tertidur. Dia sudah tahu bahwa Ravi akan berangkat ke medan perang. Meskipun mereka bilang itu cuma negosiasi, tapi wanita tahu semuanya tidak akan berakhir baik dengan mudahnya. Di naskah jelas tertulis akan ada perang kecil saat Orient mengunjungi Trevian.
Pasti akan ada yang terluka, dan Ellen cuma bisa berharap bukan Ravi orangnya. Sayup-sayup telinga wanita itu mendengar langkah kaki berbondong-bondong masuk ke kamarnya. Dari nada bicaranya, itu adalah suara Nyonya Margareth dan Frita yang tengah kelimpungan. Dan setelahnya ia tidak ingat apa-apa lagi.
◇•◇•◇
Istana Spica, tulisan ke 1587
Semakin hari aku dan negeri kecil ini semakin aneh saja. Aku kira, setelah menjabat sebagai Putri Mahkota, tugasku cuma sekadar duduk manis dan memamerkan posisi pada gadis bangsawan lain. Yah, setidaknya begitu yang aku baca di dalam novel-novel sejarah romantis. Tapi semakin hari keterlibatanku di dunia semakin banyak saja. Hal yang terparah adalah … terjadi penyerangan sepihak oleh Trevian kemarin. Itu adalah hal yang paling tidak bisa aku percaya. Entah apa yang merasuki Ravi sampai tega membawaku melihat semua kengerian yang terjadi.
Sebelumnya aku memang sudah sangat sering mendengar tentang Trevian. Bahwa ada sebuah kerajaan besar yang mengendalikan Orient. Mereka bilang ini adalah persoalan turun-temurun, yang artinya, bahkan walau aku hidup lalu mati lalu hidup lagi sampai tujuh kali pun … Trevian akan tetap mengukung Orient. Katanya mereka juga mencari Penyihir Zero. Aku tidak mengerti kenapa sebutannya penyihir zero, mungkin karena kekuatan sihirnya nol? Entahlah. Mungkin aku harus mempelajari sial ini juga nanti.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana penampakan lokasi pembantaian kemarin. Jujur saja, aku tidak pernah melihat sisa pembantaian sungguhan. Paling sekadang setting tempat syuting. Itu pun kalau aku punya waktu untuk memperrhatikannya dengan saksama. Seringnya, semua berlalu begitu saja. Terlalu cepat, bahkan sampai ke toilet pun sulit. Kalau di ingat-ingat, ternyata dulu aku bukan aktris, melainkan b***k sang produser. Baiklah, kembali ke Orient.
Setelah mengetahui dan melihat langsung informasi penyerangan itu, Yonathan dipanggil ke istana. Semua orang akan pergi kesana, katanya sih untuk mempertanyakan sesuatu. Tapi entah bagaimana, aku yakin sekali bahwa akan terjadi pertumpahan darah. Mata dibalas mata, darah dibalas darah, dan nyawa dibalas nyawa. Woah, mengerikan. Hal tergila berikutnya adalah … fakta bahwa mereka membiarkan aku memimpin dalam pemerintahan sementara.
Ini gila, sekaligus membuatku penasaran. Tapi tetap saja, mau bagaimana pun aku berpikir, kepalaku cuma bisa di isi dengan satu kata kunci. Ravi. Belakangan ini perasaanku padanya tampak semakin dalam. Aku benci mengakuinya, tapi Ravi manis sekali. Seperti yang sudah ku duga sebelumnya juga, bahwa rencana untuk kabur sepertinya benar-benar harus aku coret dari datar. Lalu yang tersisa pasti cuma pilihan untuk membuat Ravi semakin mencintaiku. Memastikan bahwa lelaki itu hanya akan melihat ke arahku saja.
Eleanor Thyra, saat salju turun lebat.
◇•◇•◇
Haloo~ aku datang lagi, kali ini chapter 21. Aku benaran bakal rajib update supaya Mei bisa tulis cerita baru, yeay~! Betewe, Ravi mau ninggalin Ellen dan minta dia untuk pegang pemerintahan sementara selama mereka pergi. Yuk tebak, apa yang akan terjadi sama Ellen ketika di tinggal Ravi pergi? Apakah Ravi akan pulang dengan selamat, atau justru membuat Ellen khawatir setengah mati?
Yang penasaran, yang penasaran, yuk lah langsung aja gak pake lama. TEKAN LOVE untuk mendukung cerita ini dan untuk mendapatkan seri terbaru. Pokoknya aku sayang banget sama kalian, jadi rajin-rajin lah membaca dan ajak sebanyak-banyaknya teman kamu, ya~!
See you in next chapter~