Chapter 20: Trevian Attack!

1566 Words
In the fire, I go once more Water under the bridge, to thaw It wasn’t worth the grief, in truth It made me quite sick of you Please take the king, and fly Watch out for that regicide Queen of the game, you thought You’d claim it all, and now you’ll fall Like Bloody Mary, you sing your parts While I held your counterfeit heart On the mirror, tell the world your lies Am I to blame for the shame of this life? Bloody Mary is betrayal She won’t let you out of jail, and I won’t be here to wait for you, see I’m going to be the new Queen A glass to raise in the red sunrise A pawn to bear your hateful lies Queen Mary was a fearsome name But if you ask me, you’re just the same Like Bloody Mary, your ashen heart Is painted on the glass in parts On the mirror, it reads “I was a fool” “To the one, I hurt”, and now I rule Bloody Mary is dead to me I’m guilty, but at least I’m free Enjoy your life, don’t hurt the next one Curses often repeat their songs   a  poem by marigoldcrown ◇•◇•◇ Malam sebelumnya …. “Auuuum!” “Auuuuuum!” Suara lolongan serigala terdengar ngeri. Nada tinggi yang mengaum itu menembus sunyi hutan pinus yang tertutup salju. Bentuk mereka jelas tidak tampak seperti binatang berbulu pada umumnya. Mereka adalah Trevian, kaum manusia serigala. Rata-rata mereka memiliki postur tubuh tinggi besar, kecuali betina. Umumnya siluman sadis berbulu ini hanya muncul ketika purnama datang. Lagi pula, tidak ada sangkut pautnya purnama dengan penyerangan terhadap perbatasan. “Bunuh semua yang ada! Auuum!” Salah satu dari mereka melolong lagi. Ada sekitar empat sampai lima ekor serigala jadi-jadian yang sedang mengacak-acak perbatasan Orient. Entah sudah berapa prajurit yang meregang nyawa karena kebrutalan makhluk ganas tersebut. Saat malam semakin gelap, cakar-cakar panjang itu mencuat tajam. Meruncing secepat kilat, berusaha mengimbangi perubahan pada wajah dan tubuh mereka. Dalam versi manusia, kaum Travian hanya bisa menggunakan taring dan kekuatan fisik alami. Tapi keberuntungan berpihak pada serigala-serigala lapar itu. Menurut prediksi kepala suku, bulan purnama baru akan terbit besok. Namun pada kenyataannya terjadi percepatan karena satu dan lain hal. Sudah biasa kalau purnama datang lebih lambat satu hingga dua hari. Pun begitu, keajaiban namanya kalau ia datang lebih cepat, pada waktu yang tepat. “Sisakan beberapa orang, sesuai perintah Baginda Raja.” Itu adalah  Suku Bintang, salah satu yang paling unggul di antara mereka. “Orang-orang lemah ini harus melapor pada Rajanya. Sehingga mereka tahu, apa akibatnya kalau menentang Trevian.” Lantas pembantaian terus berlanjut. Teriakan-teriakan yang memekakan telinga itu memecah keheningan malam. Satu per satu para prajurit tumbang. Trevian memang kalah jumlah, tapi Orient kalah adu kekuatan. Keahlian sihir mereka terbatas. Padahal bisa jadi orang-orang Orient lebih unggul, kalau saja mereka bisa menggunakan sihir. Tapi itulah Trevian, yang dikenal dengan kelicikan tanpa ampunnya. “Tugas kita selesai, tinggalkan beberapa jejak bahwa Trevian pelakunya.” Dua puluh menit. Hanya segitu waktu yang mereka butuhkan untuk mengacaukan keadaan perbatasan Orient.  ◇•◇•◇ Keesokan paginya Ravi membangunkan Ellen pagi-pagi buta. Mereka bergegas dan bersiap-siap untuk pergi ke perbatasan. Sang Putri sama sekali tidak tahu-menahu apa yang terjadi, akan tetapi ia mengikuti keinginan Pangerannya. Sepasang suami istri itu kemudian menunggangi seekor kuda hitam yang sudah Jayden sediakan. Ini adalah kali pertama Eleanor keluar dari tembok istana. “Kita mau kemana?” Ellen memeluk erat Ravi yang fokus memegang tali kendali kuda, “Kenapa berangkat pagi-pagi sekali? Dengan penyamaran, pula.” “Ingin mengajakmu jalan-jalan,” Ravi berucap pelan, “Kau pasti bosan di istana, ‘kan?” “Lumayan, tapi aku tidak tahu kau suka jalan-jalan di waktu seperti ini,” Ellen menguap, “Dan di cuaca yang menusuk begini.” “Sebenarnya kami harus memeriksa sesuatu, Putri.” Jayden membuka suara, “Kemarin tersiar kabar dari menteri pertahanan bahwa Trevian menyerang perbatasan kita.” “Benarkah? Trevian?” Ellen langsung mengucek matanya, mencoba menghilangkan rasa kantuk, “Jadi kita akan pergi kesana dan memata-matai mereka?” “Tidak Ell, itu terlalu  berbahaya. Kita cuma jalan-jalan sambil melihat keadaan.” Ravi berdeham, “Sebaiknya kau tidak berucap sembarangan, Jayden Carter.” Jayden langsung salah tingkah dan mengunci mulutnya rapat-rapat. “Kenapa Jayden tidak boleh bilang?” Ellen menyandarkan kepalanya pada punggung lebar Ravi, “Padahal aku sudah penasaran sekali, kenapa seminggu ini kau sangat sibuk.” Pria itu tidak menjawab, dan obrolan mereka terputus begitu saja. Ellen masih sangat mengantuk, tapi rasa kantuknya menguap begitu saja begitu mengetahui kejanggalan ini. Pasti ada sesuatu yang genting terjadi, tapi pertanyaannya adalah … kenapa Ravi repot-repot membawanya kalau ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya? Suara langkah kaki kuda mereka memenuhi sepanjang jalan setapak yang dipenuhi salju. Udara dingin yang menusuk itu berembus, membuat Ellen langsung merapatkan mantel bulunya. Ravi nampak baik-baik saja, tapi wanita itu tahu bahwa Pangerannya itu juga kedinginan. “Ell, jangan terlalu kencang,” Ravi memegang tangan Ellen yang memeluknya, “Aku jadi sulit bernapas.” “Tapi kau kedinginan, ini satu-satunya cara agar kau bisa sedikit lebih hangat.” Ellen memeluknya lebih erat. Ravi tersenyum kemudian menggenggam sebelah tangan Ellen, “Tidak apa-apa, tolong sedikit lebih longgar, Tuan Putri.” Ellen melonggarkan pelukannya, dan kuda mereka masih berpacu di tengah dinginnya salju pagi-pagi buta. Ada banyak sekali pertanyaan yang terlintas di benak wanita itu, tapi tak bisa ia tanyakan sekarang. Sampai pagi menjelang, dan sampai matahari cukup tinggi Ravi akhirnya memutuskan untuk beristirahat. “Kenapa kau membawaku?” Ellen akhirnya melontarkan pertanyaan itu, tepat setelah turun dari kuda, “Kalau perjalananmu ini sangat penting, kau bisa meninggalkan aku di istana. Aku benar-benar tidak keberatan, Ravi.” Ravi menggerakkan tangannya, kemudian dengan sihirnya menarik ranting-ranting kayu dari dahan pohon dan menumpuknya ditengah. Dengan sedikit mantra lelaki itu menciptakan api unggun instan. “Aku yang keberatan, Ellen,” Ravi tersenyum tipis, “Aku akan sangat keberatan karena harus merindukanmu selama di luar istana.” Ellen tersipu, wajahnya memerah. “Padahal membawaku adalah hal yang merepotkan, kau jadi punya tanggung jawab ganda. Apalagi aku lemah, dan tidak pandai menggunakan sihir.” Ravi menarik Ellen ke dalam pelukannya, “Kau cukup berguna, kok,” Ravi mengeratkan dekapannya, “Aku jadi bisa menghangatkan diri dengan cara yang menyenangkan seperti ini.” “Ya ampun, seharusnya aku tetap tidur di asramaku tadi,” Jayden berdecak kesal, kemudian berbalik dan memilih memberi makan kuda-kuda. “Apa kau juga mau dipeluk, Jay?” Ellen membentangkan tangannya lebar-lebar, “Ayo kita berpelukan sama-sama.” Jayden hampir beranjak, tapi tatapan mematikan Ravi tertuju lurus kepadanya. “Bergerak selangkah dari sana, maka aku akan menguburmu hidup-hidup.” Ravi menyeringai kejam. “Ya, ya, aku akan menghangatkan diri dengan kuda-kuda ini saja!” Jayden berseru kesal. Butuh waktu setengah hari untuk sampai ke perbatasan Orient dengan menunggangi kuda tercepat. Tentu saja hari sudah siang saat mereka sampai disana. Perbatasan Orient dan Trevian terletak di sepanjang jalur sungai Amoa yang tak jauh dari Hutan Arden yang menutupi wilayah Okana. Ravi, Ellen dan Jayden menginjakkan kaki mereka dengan penuh tanda tanya di kepala. “Apa yang terjadi disini?” Jayden mendengus kesal, “Kenapa srigala b******k itu mengacaukan perbatasan kita?!” Sungai Amoa biasanya jernih, airnya biru mengalir sampai ke laut lepas. Namun di sana tersisa banyak bercak kehitaman dari bekas pengeboman bola api. Selain itu masih tertinggal beberapa tubuh tak bernyawa dari prajurit penjaga perbatasan. Bahkan, ada bercak darah yang mulai menghitam tercecer dimana-mana. Ravi mengepalkan tinjunya geram, diikuti tatapan nelangsa Jayden pada sisa-sisa perjuangan prajurit perbatasan mereka. “Jayden, kita kembali.” Ravi menarik tangan Ellen kemudian pulang dengan terburu-buru. “Trevian harus menjelaskan semua kegilaan ini.” Perjalanan pulang mereka sama sekali tidak menyenangkan. Baik Ravi maupun Jayden sama-sama memacu kuda dengan kecepatan penuh. Kecuali memeluk Putra Mahkota erat-erat, Ellen sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Gadis itu diam, merenungi apa yang dia lihat begitu sampai ke perbatasan. Selama ini belum pernah ia melihat sisa peperangan sungguhan selain replika latar di lokasi syuting. Kini kepala gadis itu semakin dipenuhi banyak pertanyaan. Semua yang terjadi hari ini di luar kendalinya. Ia bertanya-tanya, apakah semua yang dia alami hari ini termasuk alur yang seharusnya. Tapi Ellen benar-benar bingung pada keadaan. Seingatnya memang ada scene perang di naskah, tapi tidak ia baca sampai tuntas karena membosankan. Walaupun demikian, wanita itu tahu bahwa Orient akan berakhir dengan kekalahan. Tertulis dengan jelas di naskah yang ia baca. ◇•◇•◇ Hai, apakah ada di antara kalian yang menunggu detik-detik dimana Ravi berhadapan sama Trevian? Aye, aku juga menunggu itu, tapi kayaknya masih jauh, soalnya perdebatan antara kisah cinta segitiga Ravi, Ellen, dan Bella bakal panjang banget dan lebih menguras, ya, kayaknya sih wkwk. Semoga benar. By the way, TERIMA KASIH BANYAK ya guys atas dukungan kalian selama ini. AKu enggak sangkat bisa dapat 60 LOVE, #uwuuu~ Pokoknya aku terharu banget, dan makin cinta sama kalian. So, dukung terus FAKE PRINCESS LOVE, dan jangan lupa untuk TAP LOVE agar cerita ini bisa masuk ke dalam list bacaan kalian. #stayathome #staywithFPL dong ya. Haha. Serius, cerita ini akan aku up setiap hari, minimal 2 chapter. Max? Enggak terbatas, tergantung mood-ku haha. Sekali lagi, jangan lupa TAP LOVE. See you on the next chapter~!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD