bc

Bos Playboy,Sekretaris Galak

book_age18+
65
FOLLOW
1K
READ
HE
heir/heiress
blue collar
drama
office/work place
cheating
assistant
like
intro-logo
Blurb

Siapa sangka balas dendam bisa seberdebar ini? Alya melamar jadi sekretaris CEO paling menyebalkan demi membalas sepupunya yang disakiti. Tapi rencana berubah saat sang bos justru balik menyerang… bukan dengan amarah, tapi dengan pesonanya.

Niat awalnya cuma satu: bikin si bos tengil kapok mainin hati perempuan. Tapi siapa sangka, jadi sekretaris cowok playboy malah bikin Alya migrain tiap hari dan… deg-degan tiap malam? Balas dendam kok jadi baper, gimana nih?

Apakah Alya akan tetap menjalankan misinya, atau justru terjebak dalam permainan yang ia mulai sendiri?

chap-preview
Free preview
Bab1 Liburan yang tak biasa
Alya memandangi hiruk pikuk Jakarta dari balik kaca jendela bus antarkota yang buram. Perasaan nya campur aduk. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di ibu kota setelah lulus kuliah. Tujuannya hanya satu: liburan sejenak dari penatnya Bandung, dan juga mungkin, mencoba mencari kerja. Ingatannya kembali pada ucapan orang tuanya yang menyarankan dia datang ke Jakarta. "Ibu serius nyuruh aku kerja di tempat Tante Mirna?" gumamnya pelan sambil menatap. "Iya Alya. Apa salahnya kamu mencoba? Daripada di rumah tidak ada kerjaan." "Kalau menunggu lamaran kerja yang kamu sebar, ya sampai kapan?" "Tanya Tante Mirna, siapa tahu konveksi dia butuh admin." Alya mendengus pelan. Ia bukan gengsi, hanya... tak terlalu suka jika bekerja sama saudara. Berada di bawah belas kasih tantenya yang memang orang kaya. "Sebenarnya aku canggung Bu. Gimana kalau tak ada lowongan kerja di sana." "Hei jangan gengsian ya. Ibu pingin kamu berusaha, siapa tahu memang ada kerjaan. Rejeki kita tak tahu kan?" Tak ingin berdebat terlalu lama, Alya akhirnya berangkat.Tak pernah keluar dari kota dimana ia dilahirkan, membuatnya maju mundur. Tapi demi hidup mandiri, ia harus coba. Sekaligus tantangan bagi dia untuk mulai mencari pengalaman dan keluar dari zona nyaman nya selama ini. Lamunannya buyar saat ingat ia kini berdiri di pinggir jalan. Dirinya lantas memesan mobil untuk membawa ke rumah sang Tante. Menempuh perjalanan setengah jam dengan drama kemacetan di jalan, akhirnya dia sampai. Di depan rumah megah berwarna putih gading dengan gerbang besi tinggi. Memandang takjub rumah Tante Mirna yang nampak nyaman dan tentunya bikin iri orang yang melihat. Begitu pintu dibuka oleh ART, suasana rumah langsung terasa berbeda. Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada tawa. Justru terdengar isakan pelan dari ruang tengah. "Alya?" suara Tante Mirna menyambutnya kaku. Wanita paruh baya itu tampak lelah, namun tetap elegan dengan blazer dan celana panjang hitam. "Masuk, Nak. Maaf, suasana rumah agak… keruh hari ini." Alya berjalan masuk pelan dengan menggeret koper kecilnya. Di sofa, terlihat sepupunya, Rani, tengah ditenangkan oleh om dan tantenya. Matanya bengkak. Wajahnya menunjukkan kesedihan. "Dia lagi galau. Baru saja diputusin pacarnya," bisik Tante Mirna cepat. Alya cuma mengangguk. Dengan cepat duduk di sebelah Rani. Mulutnya mulai membuka. Mencoba mengajak bicara Rani.Dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas, ia menepuk pelan lengan sepupunya itu. "Kamu kenapa Rani?" Ia mencoba berbasa- basi. Meski mereka jarang bertemu, tapi usia yang cuma terpaut setahun membuatnya tak kikuk. Rani cuma menoleh sebentar kemudian menunduk lagi sambil berlinang airmata "Cowok mana yang berani nyakitin kamu? Kasih tahu namanya, gue kirim ayam putih biar malu dia." Dengan nada bercanda ia mencoba memecahkan suasana. Rani cuma nyengir sekilas, lalu kembali merunduk. "Apaan sih. Gak jelas banget." "Yang gak jelas itu kamu. Masak gara-gara cowok, nangis Bombay kayak gini." Kembali ia menyahuti, tentunya dengan gaya santai. "Tuh dengerin Ran, kata Alya. Sudah kamu tak perlu memikirkan di Raka lagi." Yusuf menyela dengan bersedekap d**a. " Bisa-bisanya kamu mau iris nadi kamu. Untung kita semua tahu." Dia sampai geleng-geleng kepala mengetahui perbuatan abaird putrinya. "Pa sudah ." Mirna menengahi sambil memberi kode mata pada suaminya agar tak bicara lagi. Apalagi ada Alya, yang orang luar. "Papa dan Mama tak tahu gimana perasaanku. " Dengan gerakan cepat Rani berdiri dan berlari masuk kamarnya. Satu hentakan kasar , terdengar saat pintu di tutup. "Kamu itu seharusnya menghibur dia Pa, bukan malah mengoloknya begitu." Ganti Marni yang mengomeli suaminya. "Aku cuma menyadarkan dia Marni. Masalah begitu saja sampai mau bunuh diri. Benar-benar tak berpikir panjang anakmu itu. Ini karena kamu terlalu memanjakannya." Yusuf tak terima hingga terjadi adu mulut. Alya yang berada di sofa cuma bisa menunduk. Antara canggung dan kikuk. Sepertinya dia datang disaat yang tidak tepat. "Hmm Tante, saya ke kamar Alya dulu ya." Ia menginterupsi karena tak enak hati. Sang Tante yang masih kesal cuma menganggukkan kepala. Dengan langkah cepat Alya segera mendatangi kamar sepupunya. Beruntung tidak di kunci. Ada rasa kasihan pada sepupunya itu. "Apa kamu sangat mencintainya?" tanyanya sambil duduk di sebelah. Rani mengangguk. Merasa ada sahabat seumuran yang bisa ia ajak bercerita. "Namanya Raka... Raka Mahendra," ucapnya pelan. "Dia CEO agensi iklan. Ganteng, keren, tapi... dia suka tebar pesona." Desahan kesal terdengar. " Aku sudah setahun pacaran sama dia." Alya mengangkat alis. "CEO? Serius? Terus kenapa bisa suka sama yang model begitu?" Rani mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Seorang pria tampan dengan jas biru tua dan senyum menggoda. Tipe cowok poster—penuh pesona tapi terkesan licik di mata Alya. "Apa kamu bisa melupakan pria ganteng seperti ini Al? Ah tapi percuma sih, kan pacarmu orang biasa. Sumpah, aku tak terima dia memutuskan aku begitu saja." "Jangan-jangan, kamu bukan cinta. Tapi kamu tergila-gila," ujar Alya tajam. "Alya, kamu nggak ngerti... dia itu kadang manis banget. Aku rasa, kata 'putus' kemarin cuma dia bercanda karena lagi capek kerja," ucap Rani penuh harap. Alya menggeleng pelan. "Kalau dia beneran sayang, dia nggak bakal main-main sama kata 'putus'. Kamu harus bersyukur bisa lepas dari cowok model begitu sebelum hati kamu benar-benar hancur." Rani cemberut. "Kamu enak ngomong, kamu nggak tahu rasanya…cinta setengah mati." Tiba-tiba, Rani berdiri dan meraih tasnya. "Aku mau lihat dia sekali lagi. Cuma dari jauh. Penasaran dia beneran masih mikirin aku atau nggak." Mata Alya membulat. Ada gila-gilanya si Rani. Tadi ia dengar mencoba mengakhiri hidup eh sekarang malah kegatelan ingin menemui lagi si Raka. Alya sampai geleng-geleng kepala. Benar-benar cewek labil. Begitu keluar dari kamar terlihat Tante Mirna buru-buru berdiri. "Mau kemana, Sayang?" bingung saat melihat putrinya seperti akan pergi. "Mau keluar, bete." Jawab Rani dengan wajah cemberut. Tak berpamitan ngeloyor begitu saja. "Alya, temani dia, ya. Tante takut dia gelap mata…" Alya menatap wanita itu dengan berat hati. Kenapa jadi dia yang ikut? Tapi kode dari sang tante untuk mengikut, mau tak mau ia setujui. "Emang mau ke mana, Ran?" Dengan bergegas Alya menyusul sepupunya. "Kamu harus temani aku," pinta Rani sambil menarik tangan Alya. "Cuma liat dari jauh kok. Nggak bakal ganggu dia..." Alya membolakan matanya." Kamu sadar kan apa yang akan kamu lakukan? Gila kamu Ran, dia sudah memutuskan kamu loh?" Dia mengingatkan lagi. Namun sepertinya ucapannya itu tak di gubris. Bukannya mendengarkan, Alya malah menarik tangannya masuk. "Pokoknya kamu harus temani aku." Alya cuma bisa menghela napas. Liburan yang niatnya santai malah jadi misi mendadak: menemani sepupu patah hati mengintai sang mantan CEO. Ternyata orang yang kerasukan virus cinta ngalahin gila nya penghuni rumah sakit jiwa. Dan itu nyata terlihat pada sepupunya. "Aku jadi penasaran seperti apa sih mantanmu? Sudah tahu disakiti, masih saja kamu stalking." Sambil memasang seat belt, ganti Alya yang kini mengomel. Dalam hati, ia bergumam, Raka Mahendra, ya? CEO tukang tebar pesona? Seperti apa sih dia?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.3K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook