Ajeng terus tenggelam dalam kolam, lalu ular-ular kecil di dalam sana mulai mematuk kulitnya hingga terasa sangat perih. Memang ia tak mati, tapi rasanya dihukum seperti demikian sudah ingin mati saja daripada menderita berlama-lama. Tak hanya itu saja, ada seekor ular yang menerobos masuk ke dalam liang peranakan milik Ajeng. Membersihkan jejak-jejak peninggalan Candra sampai bersih. Sakitnya jangan ditanya lagi. Namun, wanita itu tak bisa menjerit. Sebab mulutnya penuh dengan air. Sesekali istri Candra itu dibawa naik ke permukaan kolam, untuk menghirup napas dalam-dalam. Dua mata yang telah memerah karena air, serta hidung yang perih dan otak yang terasa beku membuat Ajeng tak bisa berkata sepatah kata pun. Apalagi saat ia melihat bagaimana Selasih duduk mesra di pangkuan Pangeran Sat

