Satya melakukan panggilan pada Ajeng. Beberapa waktu kemudian terdengar suara sahutan.
“Gimana, dapat?” Langsung saja Ajeng bertanya sebab sudah sangat lama menunggu.
“Dapat, Bu, tapi, tapi.” Ragu-ragu Satya menjelaskannya.
“Tapi apa, uang lagi?” Sudah bisa ditebak bagaimana arah pembicaraan itu.
“Selain uang, ini juga bukan makam orang biasa, Bu. Makam perempuan sakti, apa nggak masalah, ya?”
“Udah kamu kerjain aja, Pak. Bilang butuh berapa uang untuk gali makam itu. Saya tunggu dua hari lagi, kalau nggak juga ada hasil, kamu tahu balasannya nanti.” Lekas Ajeng menutup sambungan itu.
“Iya, Bu.” Tetap Satya jawab walau tidak ada sahutan lagi.
Sopir Candra bertubuh tegap itu kemudian melakukan perundingan lagi dengan penjaga kuburan tersebut. Perlahan-lahan ia mengatakan bahwa ia butuh tulang-belulang perempuan yang mati dalam keadaan perawan. Ia pun mengimingi dengan jumlah uang jutaan yang akan diberikan nantinya.
“Sebetulnya saya ya ndak pernah setuju, tapi, ya, gimana, saya juga butuh uang. Buat makan sehari-hari buat anak, gaji penjaga kuburan ya, kan, ndak banyak.”
“Bener, Bapak mau bantu?” Mata Satya berbinar. Setidaknya syarat yang paling berat itu telah ia temukan jawabannya.
“Boleh, Pak, tapi uangnya dulu, donk, saya ndak mau digombalin gitu aja.”
Satya lekas mengeluarkan empat lembar uang biru yang tersisa di kantongnya.
“Wah, uang asli, masih harum.” Penjaga kuburan itu mencium kertas berwarna itu berkali-kali, “Rumah saya itu, loh, keliatan dari sini, yang paling jelek kayunya. Kapan Bapak butuh gedor saja rumah saya. Langsung kita kerja.”
Kemudian sebuah notif masuk di ponsel Satya, laporan masuk transfer uang dari Ajeng. Menandakan jika sang nyonya butuh tulang itu secepatnya.
“Malam ini gimana, Pak? Butuh cepat.”
“Boleh, asal jangan lupa sisa bayarannya.”
“Ok, kalau gitu saya tarik uang dulu, atau Bapak punya rekening?”
“Wong miskin mana punya rekening, Pak.”
“Baik, tunggu di sini kalau gitu, Pak. Bapak siapkan saja cangkul dan peralatan lainnya. Makan atau ngapain dulu di rumah. Kita kerjanya pas orang-orang udah pada tidur aja.”
“Beres, itu, saya paham. Ya, sudah saya pulang dulu. Mau ajak istri sama anak makan enak di warteg pakai ikan ayam.”
Satya kemudian menghidupkan mobilnya, ia menuju tempat penarikan uang terdekat. Beberapa lembar merah berpindah ke dompetnya. Selagi menunggu ia pun pergi makan terlebih dahulu lalu tidur di dalam mobil itu. Tengah malam masih beberapa jam lagi. Masuk pesan dari istrinya, menanyakan mengapa dirinya tak pulang juga sampai selarut ini. Satya hanya menjawab lembur atas tugas yang diberikan Ajeng padanya. Ia tak boleh berkata jujur pada istrinya. Bisa runyam perkara, karena wanita di dalam rumahnya sangat tidak suka ada yang berurusan dengan hal-hal gaib. Masuk lagi pesan dari Ajeng, ia mengatakan agak tak lupa membungkus tanah kuburan untuk dibawa pulang. Sopir Candra itu sampai menepuk dahinya berkali-kali. Nyonya rumahnya yang tak cinta dengan bos, ia yang harus kelimpungan.
Malam semakin bertakhta, Satya bahkan sudah makan untuk yang kesekian kalinya. Ia lajukan mobilnya ke rumah penjaga kuburan itu. Ia ketuk perlahan pintu rumah tersebut, kemudian yang ditunggu pun keluar, memakai baju tebal dan berbekal senter.
“Ndak ganti baju, Mas?” tanya penjaga kuburan itu. Satya hanya menggeleng saja, ia tak sempat ke mana-mana. Sekalian saja kemeja birunya kotor.
“Udah cepet aja, Pak, mumpung lagi sepi, takut dipergok orang nanti.” Terlihat sopir itu mulai cemas. Keringat dingin mengalir membasahi dahinya.
“Sini mana pernah orang lewat kalau malam. Kecuali modelan sampeyan, buat ngelmu.” Berdua orang itu melangkah memasuki wilayah kuburan yang sinar lampunya hanya remang-remang saja. Berbekal satu cangkul dan satu sekop, mereka melangkah dengan hati-hati, sebab kuburan di sana telah sangat rapat jaraknya.
“Awas, jangan sampai melangkahi kuburan, nanti yang di dalam bangun.” Penjaga itu memperingati.
“Jangan bikin takut, Pak.” Satya merinding, suasana di dalam area pekuburan semakin ke dalam semakin remang-remang sinarnya. Belum lagi suara burung hantu yang hingga di atas pohon kamboja.
“Loh, saya ngomong bener, kok. Meskipun yang di dalam sudah meninggal tetep kita harus hormati. Kalau ndak nanti kita didatangin pas tidur, ha, ha, ha.” Masih bisa penjaga kuburan itu tertawa ketika Satya mulai merasa ada yang mengawasi mereka.
“Pak jangan ngomong macem-macem, deh, bulu kuduk saya jadi merinding ini.”
“Nah, ini dia kuburannya. Ayo kita mulai saja, Pak, biar cepat selesai. Kalau lama-lama bisa banyak kuntilanak yang nontonin kita,” canda penjaga kuburan itu.
Kembali Satya bergidik, sesekali ia menoleh ke sembarang tempat. Terkadang ia melihat sekelebat bayangan putih terbang dengan cepat.
“Jangan dilihatin terus, Pak. Nanti kita ndak jadi gali kuburan ini.”
Gegas dua orang itu menggali dengan kecepatan tinggi, satu mengayuh sekop satu mengayuh cangkul. Satya berusaha tak menghiraukan panggilan-panggilan yang ditujukan padanya. Lelaki itu hanya fokus menggali, agar pekerjaannya cepat selesai. Agak dalam kuburan itu memang, mengingat yang bersemayam di dalam sana bukanlah perempuan biasa saja.
“Hati-hati, ini sudah mulai kelihatan kain pocongnya,” tukas bapak tua itu. Kembali Satya merasa seram sendiri, rasanya tadi ada yang mencolek pinggangnya.
“Ups, apa, ini?” Tiba-tiba cangkul Satya menabrak sesuatu.
“Udah jangan diteruskan lagi. Ini udah kelihatan semua kain putihnya.” Keduanya melempar peralatan menggali kuburan mereka. Tidak ada memang yang ingin memergoki ke dalam kuburan, sebab tempat itu memang seram. Hanya orang tak waras saja yang mampu untuk mengerjakan hal-hal buruk.
Penggali kuburan itu menarik kain putih yang masih utuh walau usinya sudah ratusan tahun, meski warnanya sudah kotor. Ditarik perlahan-lahan kain itu oleh mereka berdua. Lalu terangkat tulang-belulang yang sudah lama dikubur.
“Sampeyan yakin, ya, mau bawa tulang ini pulang?” tanya Bapak tua itu sekali lagi.
“Iya, Pak, biar cepet.” Kemudian Satya mengemas tulang-belulang itu ke dalam suatu tas yang telah ia persiapkan. Tak lupa pula ia membawa tanah kuburan sesuai permintaan Ajeng. Beberapa waktu setelahnya pekerjaan lelaki itu selesai juga. Ia dan penjaga kuburan itu naik, dan menutup lubang besar itu kembali sampai rapi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan memang tidak ada warga yang pernah menziarahinya. Kemungkinan kecil perbuatan Satya akan dipergoki orang.
“Makasih, ya, Pak, sudah bantuin saya.” Satya melempar benda yang baru saja ia curi ke dalam mobil.
“Ya, jangan lupa dengan bayaran saya to.” Lekas saja Satya mengeluarkan lembaran merah lalu berpindah ke tangan penjaga kuburan itu.
“Sugih aku,” gumam lelaki tua tersebut. Satya pun menghidupkan mobilnya, berpamitan dengan penjaga kuburan itu dan mengemudi membelah malam yang beberapa jam lagi akan masuk waktu shubuh. Ia menarik napas lega ketika berhasil ke luar dari area pekuburan. Napasnya sesaat terasa sesak. Takut pemilik tulang itu mengikuti dirinya.
Sampai di rumah, penjaga kuburan tua itu diikuti oleh sesosok perempuan. Dengan semringah ia serahkan uang itu pada istrinya. Untuk kebutuhan makan sampai sebulan juga cukup. Berbinar mata mereka berdua. Lalu lelaki tua itu masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat menyiram tubuhnya dengan air dingin. Sesosok perempuan muncul tiba-tiba. Tak bisa lelaki itu lihat sebab kepalanya dipenuhi busa shampo. Kemudian tangan sosok perempuan itu menarik rambut lelaki terebut. Ia benamkan di dalam bak mandi beberapa saat lamanya hingga penjaga kuburan tua itu tewas kehabisan napas. Tak sempat ia nikmati uang hasil menggali dan mencuri tulang-belulang makhluk yang baru saja mendatanginya. Satya pun pasti tak akan luput dari gangguan itu. Siapa yang berani berbuat maka dia yang harus bertanggung jawab.
“Kembalikan tulangku,” bisik suara dari sebelah kursi yang kosong. Satya terhenyak, sesaat tadi ia mengantuk berat dan menepikan mobilnya, takut menabrak orang atau pohon, kini ia lajukan kendaraan itu dan sesegera mungkin menuju rumah Ajeng untuk menyerahkan persyaratan itu.
“Kau manusia terkutuk!” Lagi ada suara yang berbisik di telinga Satya.
“Serem banget.” Sopir itu berusaha tak menghiraukan, ia terus saja melaju membelah malam, sedikit lagi ia akan sampai di rumah Nyonya Ajeng.
“Kau akan terima balasannya.” Sosok perempuan yang tadi membunuh penjaga kuburan itu menghilang. Ia enggan masuk ke rumah Ajeng, ada kekuatan besar yang mengelilingi rumah tersebut. Kekuatan yang tak akan sanggup ia hadapi.
Ajeng tak tidur semalaman, ia gelisah menunggu Satya membawakan persyaratan yang ia inginkan. Kemudian ponselnya berdering, panggilan masuk dari yang ditunggu akhirnya muncul juga. Wanita itu kemudian meminta Satya langsung naik saja ke lantai dua di depan kamarnya. Tak akan ada yang curiga, wanita berwajah ayu tersebut bisa mengatasi semuanya.
“Ini semua yang Ibu minta, tulang-belulang dan tanah kuburan. Semuanya sudah saya penuhi.” Satya menunjukkan tas hitam hasil bawaannya. Benda yang tak seharusnya pernah ia ambil tanpa izin pemiliknya.
“Kerja yang bagus. Nanti saya transfer bonus untuk kamu. Udah masukkan ke kamar saya, simpan aja di bawah lemari. Nanti kita pergi ke rumah yang kemaren itu sama-sama. Kamu sudah terlanjur terlibat, jadi ya nggak bisa menghindar lagi,” ucap Ajeng tanpa beban sama sekali.
“Baik, Bu, saya permisi.” Satya masuk ke kamar Ajeng yang begitu luas, beberapa kali lipat dibandingkan kamarnya sendiri. Tas itu ia simpan di bawah meja rias sang pemilik rumah. Lalu ia pun mohon izin untuk pulang. Lelah dan kantuk melanda.
“Boleh, pulang aja, tapi sore nanti udah harus di sini, ya, paling lambat jam 5, saya ada urusan yang lebih penting lagi!” perintah Ajeng, mantan satpam itu hanya mengangguk saja. Setidaknya satu beban telah hilang dari pundaknya. Ia tak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya mengembalikan uang yang dipinjam dari Ajeng, meski resikonya sangat besar, karena mulai detik ini ia diikuti terus oleh pemilik tulang tersebut. Hidup Satya tak akan aman sampai semuanya berakhir dengan cara yang tak baik.
Ajeng tidur dengan tenang di kamar yang AC nya terus hidup. Ia tak menghiraukan keberadaan tulang dan tanah kuburan di rumah itu. Urusannya nanti dengan Nyai Melati, sekarang ia nikmati saja hidup yang diberikan Candra untuknya. Wanita itu sudah mulai bersandiwara agar terlihat berpura-pura mencintai suaminya.
Pagi harinya ia sengaja melakukan kontak panggilan dengan Candra, terlebih dahulu ia meminta maaf karena tak menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Ajeng meraba lehernya, kalung itu belum selesai dibuat.
“Kamu jangan bikin Mas kebelet, ntar Mas pulang tiba-tiba kamu harus siap,” balas Candra dari tempat yang jauh.
“Ish jangan dulu, Mas, kerja yang bener. Belikan Ajeng kalung sama gelang yang emasnya lebih gede. Pengen juga kelihatan jadi istri orang kaya.” Kembali rayuan dilontarkan Ajeng.
“Oh, beres itu, gampang, kamu mau kalung sama gelang model apa, tinggal kirim aja fotonya. Eh, tapi sudah dulu, ya, Mas masih ada kerjaan.” Panggilan itu ditutup tiba-tiba oleh Candra, lelaki itu harus menagih hutang pada yang meminjam uang, tentu dengan cara yang kejam. Ia juga terlibat jual beli barang haram hingga jumlah rupiahnya sangat banyak yang disimpan di rumah.
Sebelum Satya kembali, Ajeng mengingatkannya untuk membawa kalung emas yang persis seperti miliknya dulu. Dengan cekatan sopir itu mengiyakan perkataan tuannya. Meski saat tidur rasanya ia selalu dihantui oleh sesosok makhluk menyeramkan. Namun, demi uang dan keluarga yang perlu dinafkahi ia abaikan rasa takut itu.
“Kerja lagi, Mas?” tanya istri Satya, ia ingin agar lelaki itu setidaknya libur tiga hari ketika anak mereka baru saja lahir.
“Iya, nanti nggak punya uang kita buat makan kalau kebanyakan libur.”
“Ya, tiga hari aja minta izin apa salahnya, Mas.”
“Sabar, ya, Dek, bos Mas kan bukan orang yang ndak bisa diajak kompromi terus-terusan. Yang penting dia mau ngasih kita uang operasi nggak usah dikembalikan lagi.”
“Ya, syukur deh, alhamdulillah aja. Hati-hati di jalan, ya, Mas. Jangan pulang larut malam lagi, loh, khawatir aku.”
Satya hanya tersenyum saja, tak mungkin ia bisa mengelak lagi dari semuanya, terlanjut terlibat. Kini ia bahkan harus menemani nyonya rumah itu ke kediaman yang ia sendiri tak tahu di mana letaknya.