Mulai Mengumpulkan Persyaratan

1903 Words
Ajeng masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan diri sejenak, lelah usai berurusan dengan perempuan cantik bernama Nyai Melati. Setelahnya, ia mandi sejenak untuk menghilangkan segala macam bau hantu yang menempel di dalam kamarnya. Saat tubuhnya diguyur oleh air mancur, sabun dan sampo jatuh tanpa ia tahu apa sebabnya. Sambil memejam wanita berwajah ayu itu mencoba mencari keberadaan dua benda itu. Dan tiba-tiba saja ada yang menyodorkan padanya. Tanpa rasa curiga sedikit pun ia ambil benda itu dan lanjut mencuci rambut lalu seluruh tubuhnya. Sampai selesai mandi ia tak ambil pusing siapa yang membantunya barusan. Ajeng memakai setelan piyama tidur, nyonya rumah itu lantas ke dapur sebab perutnya lapar bukan main setelah pulang dari rumah Nyai Melati. Wanita itu membuka tempat penyimpanan makanan. Seperti biasa, hidangan favorit Candra selalu ada. Ayam goreng bumbu dan udang asam manis. Ia tak biasa dengan makanan itu. Lalu sang nyonya menghidupkan api kompor. Memasak sendiri tempe goreng serta sambal mantah ditambah timun untuk mengisi perutnya. “Nyah, maaf, biar saya bantuk masak,” ujar pembantu rumah itu. Jelas sekali wajahnya baru bangun tidur, kelelahan mengurus rumah sebesar itu. Candra hanya mempekerjakan satu pelayan di rumah sebesar itu. Pelit. “Nggak usah. Makan, yuk, Bi, saya goreng tempe banyak.” Wanita itu sebagai nyonya rumah memang tak pernah memperlakukan berbeda pada orang di sana. “Ndak, Nyah, tapi, kan masih ada ayam sama udang, kenapa masak lagi, Nyah, apa ndak enak masakan saya?” tanya Bibi yang rambutnya sudah mulai beruban. “Enak, kok, tapi itu, kan masakan buat Tuan. Saya, ndak terlalu suka ayam sama udang. Udah biasa dari kecil makan yang sederhana. Kalau di depan dia ya makan, daripada diomelin.” Lahap Ajeng makan tempe dan lalapan itu. Sebab sejak tinggal bersama Candra, lelaki itu selalu menyodorkannya dengan makanan melimpah. Ia ingin melihat istrinya sedikit berisi badannya. “Besok, sampai Tuan pulang, bebas aja, Bi, mau masak apa. Nggak usah ayam, udang, daging, bosan saya lihatnya. Masakan kampung ndak apa. Wes, rindu atiku sama masakan Bapak.” Piring itu licin, Ajeng makan dengan cepat dan lahap. Ya, memang ia tak terlalu tertarik dengan hidup mewah. Inginnya dari dulu hanya bebas dari utang yang menjerat leher bapaknya. “Iya, Nyah,” jawab bibi pembantu rumah. “Oh, iya, besok kalau mau masuk kamar saya apalagi kamar mandi, ketuk pintu dulu, ya, Bi. Jadi saya ndak mikir yang barusan itu hantu,” ujar Ajeng usai meneggak segelas air putih. “Tapi saya dari tadi tidur, Nyah. Nggak ada masuk ke kamar sama sekali. Bener, ndak bohong.” Tercengang Ajeng, lalu tangan siapa yang menyodorkan botol shampo dan sabun? “Yaudah, ndak apa. Saya ke atas dulu.” Wanita itu naik ke lantai dua sembari berpikir tentang kejadian barusan. Siapa yang berani iseng dengannya. Jika Candra tahu, lelaki berkacamata itu tak segan-segan untuk menghajar orangnya. Di kamar, Ajeng membuka brankas tempat suaminya biasa menyimpan uang. Ada beberapa ikatan uang merah dan biru di sana. Tak ia ketahui apa sebenarnya pekerjaan Candra. Hanya saja suaminya selalu mengatakan yang penting kebutuhan di rumah tercukupi, dan Ajeng tak perlu tahu asalnya dari mana. Ia tutup lagi brankas itu, tumpukan uang tadi tak pernah bisa membeli kebahagiaan untuknya. Apalagi sejak bapaknya meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Wanita itu berkaca, memberi wajahnya beberapa krim perawatan seperti yang diinginkan Candra. Saat itu juga Ajeng melihat ke lehernya sendiri. Kalung pemberian Candra sudah tidak ada lagi. Bisa marah suaminya jika pulang dan benda itu belum juga ada gantinya. Lalu ponselnya berdering, sebuah chat singkat masuk dari Satya. Ia membuka lalu membacanya sambil tersenyum. Supir Candra itu butuh uang dalam jumlah besar untuk operasi istrinya. “Kalau bisa dikirim sekarang, Bu, buat jaminan dulu, setengahnya juga nggak apa-apa.” Ajeng menelepon Candra memastikan semuanya terlebih dahulu. “Kalau begitu kamu ke sini sekarang, saya bisa kasih uangnya. Tapi kita perjelas lagi perjanjian kita di mobil. Takutnya habis dapat uang kamu mangkir lagi.” Sambungan telepon ditutup Ajeng. Biar saja, jika Satya memang serius tentu sopir itu akan datang sebentar lagi. Sambil menunggu Satya datang, wanita itu membaca majalah yang lagi-lagi dibelikan Candra untuknya. Majalah untuk menambah kecantikan sekaligus cara melayani suami di atas ranjang. Sedikit bergidik Ajeng. Sampai kapan pun ia tak akan mau untuk disentuh lelaki itu. Tak perlu menunggu lama, Satya datang, dari bawah Ajeng dengar namanya dipanggil berkali-kali. Selagi orang-orang sudah tidur, wanita itu mengajak sopirnya ke atas, tidak sampai ke kamar hanya di depan pintu saja. “Saya kasih semua biayanya nggak usah bayar dan gak usah hitung sebagai hutang. Asal kamu mau mengerjakan syarat yang saya bilang tadi, gimana?” Wanita itu melipat dua tangannya di d**a. Satya hanya menunduk saja, ia pun takut dengan apa kata Ajeng tadi. “Apa nggak dipikirkan lagi, Bu, jangan main-main sama dukun. Ingat dosa, Bu.” Lagi Satya mengingatkan tuannya. Sayangnya Ajeng sudah tak bisa diajak berpikir jernih. Hanya satu bulan Candra meninggalkannya. Atau bisa saja tiba-tiba suaminya kembali.” “Ya, udah, berarti kamu nggak mau, saya nggak bisa kasih pinjaman uangnya.” “Eh, jadi, Bu, nanti istri saya nggak ditolong sama pihak rumah sakit.” “Ok, tunggu di sini, saya anggap kamu setuju dengan semua persyaratannya.” Satya geleng-geleng kepala. Lelaki yang dulu bekerja sebagai satpam itu tak punya pilihan lain. Bekerja bersama Candra juga belum lama, tak sampai setahun. Ia takut untuk meminjam langsung dengan lelaki itu, selain Candra tidak ramah, juga suka membungakan uang berkali-kali lipat. Maka dari itu ia memberanikan diri meminjam pada sang nyonya. Nyatanya ia bisa dapatkan tanpa mengganti dengan syarat yang amat memberatkan. “Ini uangnya, semoga istri dan anakmu baik-baik aja, ya. Itu lebih dari cukup dari yang kamu minta. Bisa untuk keperluan ini itu di dalam rumah sakit.” Ajeng menyerahkan satu ikat lembaran berwarna biru bahkan ditambah sedikit lembaran merah. “Terima kasih, Buk. Kalau begitu saya kembali ke rumah sakit dulu, permisi.” Satya pamit pada nyonya rumah. “Tunggu dulu, saya mau minta tolong sekalian. Kalung saya pemberian Bapak, hilang, kamu pergi ke toko emas, tolong buatkan yang baru. Pakai liontin lambang cinta, ya, yang sama persis.” “Baik, Bu. Besok pagi setelah semuanya selesai saya kerjakan.” “Kalau istrimu sudah agak sehat, titipin aja sama mertua, bisa, kan? Terus kita mulai kumpulin persyaratan. Ingat, loh, kamu hutang janji sama saya.” “Iya, Bu, saya ingat.” Setelah sopirnya pergi, Ajeng kembali ke kamarnya. Ia kehilangan satu ikat uang. Nanti akan ia cari alasan yang tepat jika suaminya bertanya. Namun, selama sebulan menikah, lelaki itu membebaskan istrinya untuk memakai uang demi kesenangan hati. “Kurasa juga dia nggak bakal nanya ini, itu. Oh, jangan kembali cepat-cepat ya, Candra. Aku belum bisa terima kamu.” Ia tutup brankas itu lalu pergi tidur. Hari berjalan seperti biasanya selama tiga hari. Ajeng tak bisa pergi kemana-mana karena Satya pun belum kembali ke rumah sakit. Jarak rumah itu ke rumah ayahnya tak terlalu jauh, hanya saja ia malas berpanas-panasan. Sampai hari keempat bahkan kelima, Satya tak kunjung datang. Habis sudah kesabaran wanita bertubuh mungil itu. Sudah hampir seminggu sejak kepergian Candra. Suaminya sudah beberapa kali meninggalkan pesan agar dirnya siap ketika pulang. Risau semakin menjadi di hati wanita itu. “Kamu ingat perjanjian kita. Atau mau saya adukan sama Bapak?” Begitu sambungan telepon diangkat Satya, Ajeng langsung saja mencecarnya. “Ingat, Bu, ini istri saya baru pulang, sebentar lagi saya ke sana,” jawab Satya dari seberang. Satu jam lamanya Ajeng menunggu kedatangan sopirnya. Sembari itu, ia potong rambut dan kukunya sendiri, ia letakkan dalam satu wadah sebagai persyaran ketiga yang paling mudah. Persyaratan pertama cukup membuatnya bergidik ngeri. Namun, hanya itu pilihan yang ia miliki. Waktu telah masuk jam satu siang. Ajeng turun untuk makan, tak lama setelahnya Satya datang. Wanita itu menawarkannya untuk makan bersama. “Nggak usah malu-malu. Bapak nggak ada di rumah, bebas, kok.” Namun, Satya tetap enggan, ia tak ingin melampaui batas. “Duduk di sini, saya mau bahas yang kemaren.” Atas perintah Ajeng, sopir itu pun duduk sekitar jarak dua kursi dari nyonya rumah. “Cari di mana tulang-belulang perempuan yang mati masih gadis, ingat jangan tulang bayi, nggak boleh, paham!” tekan Ajeng. “Saya harus cari ke mana, Bu? Mustahil sekali rasanya, belum nanti kalau ketahuan bisa-bisa saya dihakimi warga.” Satya mengutarakan ketakutannya. “Ya itu urusan kamu, saya sudah bayar kamu mahal, loh,” bisik Ajeng agar perkataanya tak didengar orang lain. “Ini, uang tambahan, mungkin kamu perlu untuk menutup mulut penjaga kuburan atau siapalah, terserah. Cepat, ya, saya kasih waktu tiga hari, kalau nggak saya datangi istrimu dan kasih tahu apa yang kamu lakukan biar dapat uang pinjaman.” “Jangan, Bu, jangan, iya, saya ambil uang ini. Dua hari lagi saya kembali. Permisi.” Lelaki bertubuh padat itu berlalu. Ia bingung harus mencari dari mana. “Ingat, yang masih gadis, ya.” Ajeng mengingatkan dan Satya hanya mengangguk saja. Mantan satpam itu diperkenankan menggunakan mobil Candra selama mencari tulang-belulang anak gadis. Ajeng masuk ke kamarnya, ia menanti dengan harap-harap cemas juga. Kembali pesan masuk ke ponselnya. Ia pun hanya menjawab seadanya pertanyaan dari Candra. “Kalau aku tiba-tiba aja bersikap manis sama dia, pasti dia curiga, kan.” Ajeng kembali membuka ponselnya. Jawabannya barusan terlampau ketus dan singkat. “Oke, mungkin aku harus berpura-pura manis, biar pas ada penggantiku yang mau melayaninya dia nggak curiga.” Jemari lentik itu mengetik satu kalimat yang sedikit panjang dari biasanya. Kontan saja Ajeng langsung ditelepon oleh suaminya. Banyak sekali yang ditanya oleh lelaki itu hingga membuat istrinya melas menjawab. Hanya karena demi kelancaran aksinya saja ia jawab dengan lemah lembut. “Apa perlu Mas pulang sekarang, Jeng?” tanya suara dari jauh sana. Wanita bertubuh mungil itu langsung duduk. “Jangan, Mas, kerja aja dulu baik-baik. Terus pulang nanti bawain aku baju dan sepatu bagus-bagus ya. Buat oleh-oleh.” Sandiwara yang dimainkan Ajeng begitu mulus. Panggilan ditutup, Candra mengiyakan apa keinginan suaminya. “Coba bukan karena kamu yang bikin bapakku mati, Mas. Aku pasti nggak akan sebenci ini sama kamu.” Wanita itu melempar asal ponselnya, lalu tidur ketika matahari di luar sana semakin bertambah teriknya. Ia akan menunggu sampai Satya kembali. Sopir Candra itu mencari seharian sampai malam. Ia sudah datangi beberapa makam. Ia berikan penjaga kuburan sana lembaran biru demi memenuhi pertanyaanya. Namun, tak juga ia temukan kuburan anak yang mati dalam keadaan gadis. Ada pun hanya anak-anak saja, sedangkan syarat dari Ajeng barusan yang sudah memasuki masa datang bulan. Terakhir ia akan mencari di kota yang masih sama, sebuah kuburan yang didalamnya bersemayam orang-orang di zaman dahulu. Paling muda diperkirakan meninggal pada tahun 1965. Selebihnya banyak di atasnya. Ia datangi penjaga kuburan yang terlihat mengembuskan asap rokok. Satya duduk di sebelahnya, memberikan selembar uang biru, lalu bertanya. “Tahu, Pak, tapi uang segini kurang.” Penjaga kuburan itu minta tambahan bayaran. Satya memberikan dua lembar lagi. “Itu di sana, dia mati sebagai perawan tua, umur kira-kira 35 tahun waktu dia meninggal. Ndak mau nikah soalnya kekasihnya mati pas perang.” Penjaga kuburan itu menunjuk ke kuburan paling sudut yang ditutupi bunga kamboja. “Apa tulangnya masih ada, Pak?” tanya Satya. “Mungkin masih, karena dia itu bukan orang sembarangan, punya ilmu gaib. Matinya aja di dalam kuburan sendiri. Masuk sendiri, mengembuskan napas sendiri. Gitu, kata penjaga yang udah duluan di sini.” Satya mendapatkan apa yang ia inginkan, hanya saja siapa yang mau menolongnya untuk menggali kuburan dengan batu nisan bertuliskan nama Sarinten itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD