Persyaratan

1145 Words
Ajeng duduk di dipan ritual tempat Nyai Melati biasanya merapal mantra. Ia menunggu kedatangan dukun cantik itu yang belum juga keluar dari kamar yang menyimpan banyak lemari. Keringat di dahinya terus menetes ke ujung hidungnya yang mancung. Ia bahkan sudah sangat ingin enyah dari tempat itu. Beberapa kali tawa dan geraman menyeramkan terdengar di sana. “Kok bisa, ya, ada orang yang betah tinggal di tempat serem gini?” Ajeng memeluk lengan atasnya sendiri. Ia memainkan kakinya demi menghilangkan rasa takut, sebab ia rasakan sendiri tengkuknya serasa sengaja diembuskan angin, bahkan rambutnya yang panjang pun diaminkan ke sana kemari , hanya saja ia berusaha tetap tenang, demi pertolongan Nyai Melati. Wanita itu melupakan pertolongan Tuhan yang begitu dekat. Ketika Ajeng menoleh ke arah lukisan harimau yang matanya berkedip dan wanita itu menoleh kembali ke arah depan, tiba-tiba saja Nyai Melati telah duduk di depannya. Jantung Ajeng serasa nyaris lompat dari tulang rusuknya. Dalam beberapa menit saja telah tak terhitung berapa kali kejadian menyeramkan ia alami. “Sekarang kita bahas persyaratannya, dengar baik-baik,” ucap Nyai Melati sembari mengisap kembali pipa cerutunya. “Iya, saya akan berusaha menyanggupinya,” jawab Ajeng sembari melirik ke kiri, ada bayangan putih yang melintas dengan cepat . “Tak usah takut. Dia hantu yang tertarik denganmu, kalau kau mengabaikan Candra dan memilih bersama salah satu peliharaanku, katakan saja akan kukabulkan.” Nyai Melati membelai sosok yang tidak bisa dilihat oleh Ajeng. “Nggak! Kita kembali ke rencana awal aja.” “Baik, kalau begitu, pertama Dahlia yang akan menjadi peliharaanmu, supaya kau tak repot. Tapi ingat, jangan lupa memberinya makan beberapa tetes darah segar, darah siap saja boleh, tepat saat malam bulan purnama, kalau terlambat, kau akan tanggung sendiri satu kematian orang yang kau kenal. Mengerti?” tanya Nyai Melati dan hanya dijawab anggukan oleh Ajeng. “Lalu yang kedua. Kau cari sendiri tulang-belulang perempuan yang mati dalam keadaan masih suci, terserah tulang siapa aku tak peduli, dan jangan lupa bawa segenggam tanah kuburannya, masukkan ke dalam sini.” Nyai Melati melempar kantong yang terbuat dari kain kafan berwarna putih. “Yang terakhir, potongan rambut, kuku dan juga air liurmu. Itu saja, jelas?” Lagi Ajeng hanya menjawabnnya dengan anggukan saja, meski ia bingung harus mencari di mana tulang-belulang wanita yang mati dalam keadaan masih suci. “Ehm, persayaratan yang paling sulit, apa bisa tulang bayi perempuan?” “Tidak. Kau pikir suamimu itu anak kecil?” cemooh dukun cantik itu, “Cari wanita yang sudah memasuki fase haid, tapi meninggal dalam keadaan belum tersentuh.” “Caranya?” “Kau cari tahu sendiri, kau punya banyak uang. Sekarang aku lelah, pergilah, jangan datang sebelum semua persyaratannya terpenuhi, dan masalah bayaran, kau tinggalkan kalung emas mahal pemberian suamimu itu sekarang!” Dengan penuh keraguan Ajeng melepaskan perhiasannya, ia bimbang harus menjawab apa jika ditanya oleh Candra ke mana kalungnya, sebab benda itu merupakan hadiah pernikahan untuknya. Kalung itu ia letakkan di atas meja. Setelah itu Nyai Melati mempersilakannya untuk pergi. Lagi, dengan langkah penuh keraguan Ajeng meninggalkan kediaman menyeramkan itu. Ia sudah telanjur terlibat di dalamnya, sudah terlambat jika ingin mundur, begitu isi kepalanya, padahal perjanjian belumlah terucap sama sekali. Ia masih memiliki banyak kesempatan untuk pergi dan hidup biasa saja seperti seorang istri pada umumnya. Ketika Ajeng telah keluar dari pagar rumah dukun berkebaya merah itu, ia kembali dikejutkan dengan kehadiran lelaki berambut panjang, bertelanjang d**a dan hanya mengenakan kain sebatas lutut saja yang berdiri tegak di hadapannya. Lelaki itu mengarahkan telunjukknya ke arah utara, tempat yang berlawanan dengan arah kedatangan Ajeng tadi. Wanita itu mengikuti ke mana petunjuk yang diberikan, ia terus keluar dari hutan mengikuti asap tipis-tipis yang berputar di sekitarnya, dan beberapa waktu kemudian ia telah sampai di belakang rumahnya. Wanita itu kemudian bernapas lega, sebab ia telah tak berada di sarang setan lagi. Ia pun pulang, dan tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya, meski Satya—sang sopir sangat penasaran dengan apa yang dikerjakan majikannya hingga memakan waktu sampai malam. Lelaki itu takut kena labrak dan pecat oleh Candra, sementara hanya di sana tempat satu-satunya ia menggantungkan hidup mencari nafkah. Dua orang yang sama-sama lupa dengan pertolongan Tuhan berada dalam satu mobil, pikirannya hanya berisi tentang dunia saja. “Berhenti!” perintah Ajeng. Sesaat kemudian Satya, lelaki berusia sama dengan Candra menepikan mobilnya sesuai permintaan Ajeng. Dua orang itu kembali hening, jika diperhatikan wajah Satya jauh lebih teduh dipandang dibandingkan Candra, hanya saja lelaki itu kerap risau dengan istrinya yang selama hamil kerap sakit. Wajahnya seperti dirudung masalah terus menerus. “Berapa bulan lagi istri Bapak dioperasi?” tanya Ajeng dengan nada perlahan, ia tahu apa yang dibutuhkan oleh Satya. “Satu bulan lagi, Bu,” jawab Satya sembari melihat ponselnya berdering, panggilan masuk dari istrinya membuatnya risau. “Sudah ada uangnya?” “Belum, tapi saya usahakan pakai asuransi pemerintah saja.” “Yakin? Memang bagus, kalau saya tawarkan semua biaya rumah sakit saya yang tanggung gimana?” “Takut, Bu, nanti bunganya besar seperti orang lain yang berutang sama Pak Candra.” Kaki Satya bergerak tak menentu, sebuah pesan masuk di ponselnya, istrinya memintanya cepat pulang sebab perutnya terasa sakit. “Uangku, nggak perlu bunga, dan nggak perlu dikembalikan, asal kamu kerjakan apa yang saya minta, dan jangan beritahukan bosmu itu, gimana, tertarik?” “Syaratnya apa, ya, Bu?” Ajeng menjelaskan perihal pertemuannya tadi dengan Nyai Melati, lengkap dengan semua persyaratan yang diminta oleh sang dukun. Satya melongo dengan mulut menganga mendengar ritual iblis yang akan dijalani oleh istri bosnya. Ia tak pernah mau terjerumus dalam lingkar setan, sebab ia tahu apa konsekuensinya. “Maaf, Bu, tapi itu kan melanggar agama kita, dosa, syirik, kenapa nggak minta pertolongan langsung sama Allah saja.” “Dosa katamu, kamu kira kamu makan gaji dari Candra yang jelas-jelas bungakan uang dari pinjaman orang lain itu, nggak dosa? Coba kamu pikir berapa banyak uang haram yang udah masuk ke dalam perut kamu, istrimu dan juga calon anakmu,” cecar Ajeng tanpa sopan santun. “Tapi, Bu, itu, kan—“ Belum selesai Satya membantah, ponselnya kembali berdering, panggilan masuk dari istrinya. Ia pun meminta izin untuk menjawab terlebih dahulu. Terdengar jelas istrinya dibawa ke rumah sakit oleh tetangga sebab darah mulai mengalir di kedua kakinya. Ajeng dengan jelas dapat menangkap semua raut kekhawatiran di wajah Satya. “Gimana?” Ajeng menyodorkan beberapa lembar uang merah dan biru ke wajah Satya. Lelaki itu gamang antara mengambil atau menolak. Diambil berarti ia memenuhi semua tuntutan sang nyonya, ditolak artinya ia harus mencari lagi sumber dana lain, sebab istrinya pasti membutuhkan penanganan secepatnya, sedangkan ia sedang tak memegang uang dalam jumlah besar. “Baik, Bu, saya ambil uangnya.” Penuh waswas Satya menerimanya. “Ya sudah, langsung aja ke rumah sakit setelah antar saya pulang. Setelah itu kita selesaikan urusan kita yang tertunda. Jangan lama-lama, kalau kamu nggak mau istri dan anakmu nggak dapat penanganan di sana.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD