Derit pagar besi berkarat gerbang rumah Nyai Melati semakin menambah gigil di tubuh Ajeng. Wanita itu ingin berbalik dan pulang. Namun, seketika embusan angin datang dan memaksa dirinya masuk ke dalam dan gerbang pun terkunci rapat oleh rantai.
Ajeng menelan salivanya sendiri, ia perhatikan sekitar rumah wanita yang mendatanginya di dalam mimpi. Ada pohon beringin tua yang tumbuh, di sebelahnya pula berdampingan pohon kapuk yang cukup tinggi.
Wanita berwajah ayu itu mendongak ke pohon beringin, ia jumpai sesosok perempuan bergaun putih sedang menimang anaknya duduk di dahan pohon. Sosok itu kemudian menoleh ke arahnya, matanya merah dan mengalirkan darah.
Gemetar, Ajeng tak tahu harus melakukan apa selain berdiri dan diam di tempat, ia lanjut menoleh ke atas pohon kapuk. Tak kalah pula ada sosok wanita lain berpakaian merah tengah memutar kepalanya sendiri. Dua makhluk halus peliharaan Nyai Melati itu kemudian terbang ke arah Ajeng yang masih berdiri kaku di tempatnya. Tangan mereka mengeluarkan kuku tajam, tawanya memekakkan telinga hingga istri Candra tersebut menutup dua telinganya dengan tangan.
Ketika dua hantu itu sedikit lagi menyambar Ajeng, suara lonceng terdengar, dan tanpa aba-aba lagi, makhluk halus berpakaian putih dan merah itu kembali ke pohonnya masing-masing. Ajeng masih menarik napas cepat.
Beberapa waktu kemudian, Nyai Melati datang menghampiri Ajeng yang tak tahu harus berbuat apalagi.
“Selamat datang di istanaku, Anakku,” sapa ramah Nyai Melati sembari mengembuskan asap cerutunya.
“Aku ingin pulang,” jawab Ajeng cepat.
“Kau melangkah dari gerbang itu, aku pastikan dua peliharaanku tadi mencabik-cabik dagingmu sampai lepas dari tulang, mau?” Nyai Melati kemudian berlalu dari hadapan Ajeng.
“Eh, anu, tunggu, jangan tinggalin aku.” Ajeng berlari menyusul wanita aneh itu dari belakang, sesekali ia menoleh ke belakang dan ia jumpai pula sosok anak kecil berlarian dan bermain satu sama lain.
“Ini tempat apa sebenarnya?” tanya Ajeng pada Nyai Melati.
“Tempat segala jenis iblis, hantu, setan, jin, siluman tinggal,” jawab Nyai Melati sembari mematikan pipa cerutunya. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah kayu dengan nuansa serba cokelat itu. Ukiran bunga dan daun nan rumit tergambar di setiap sudut pintu dan jendela.
“Terus, aku diundang ke sini, untuk apa?” Ajeng melihat lukisan aneka makhluk abstrak di dinding rumah Nyai Melati, ada sosok cantik dengan baju hijau, ada pula sosok hitam tanpa kepala dengan cakar yang panjang.
“Aku bisa memberimu jalan keluar dari masalahmu dengan Candra. Kau tentu tak ingin suamimu itu menyentuhmu bukan? Bahkan kutebak kau lebih memilih mati daripada jadi pemuas nafsunya, benar?”
Tak ada jawaban dari bibir Ajeng, hanya anggukan saja yang mewakili semuanya. Nyai Melati duduk di dipan kayu, di sana pula terdapat perlengkapan ritual yang kerap digunakan dukun cantik itu untuk memanggil peliharannya. Wanita berkebaya merah itu menyatukan dua tangannya di d**a, merapal mantra sembari menghirup asap wangi dari dupa yang terus menyala di ruangan itu.
“Ada harga yang harus kau bayar mahal atas ritual pembangkit mayat yang akan kita kerjakan,” ujar Nyai Melati ketika membuka matanya, peluh mengalir di dahinya yang putih.
Ajeng tanpa diminta membuka tasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan biru, memberikannya pada wanita yang dalam hatinya ia sebut dukun sakti. Namun, lembaran uang itu berrpendar ke segala ruangan ketika Nyai Melati mengembuskan angin dari bibirnya.
“Bukan hanya uang yang aku butuhkan. Tapi kesiapan mentalmu. Ritual ini adalah ajang sesat tingkat tinggi. Iblis yang bekerja sama dengan kita bukanlah seperti yang kau lihat di atas pohon tadi. Dia kejam, tapi bisa kau taklukkan jika tak ada sedikit pun keraguan di hatimu, kau paham?” Tajam mata hitam kelam Nyai Melati memandang Ajeng.
“A-aku, tak yakin, Nyonya?”
“Panggil aku Nyai Melati, kau sudah telanjur masuk ke rumahku, artinya kau tak bisa mundur lagi. Kau masih ingat dengan ancamanku tadi, bukan?” Seketika wanita bersanggul melati itu berpindah tempat dan ada di belakang punggung Ajeng.
“Terus, aku harus ngapain di sini?”
“Kau siap tidak?” tanya Nyai Melati sekali lagi.
“I-iya, aku siap,” jawab Ajeng meski di hatinya ada sedikit keraguan. Lebih baik daripada ia memilih menyerah bersama Candra.
Wanita muda berkebaya merah itu menarik tangan Ajeng, membawanya ke suatu kamar lain yang sangat luas. Ada beberapa lemari berukuran besar di dalamnya.
“Kuharap kau tak jantungan melihat semua koleksi iblisku.” Nyai Melati menjentikkan jarinya, seketika lampu remang-remang dalam ruangan itu menyala, membantu Ajeng melihat terdapat banyak melati dalam pot kecil di dalam ruangan itu.
Satu lemari dibuka oleh wanita berkebaya merah itu. Masih ada kain yang membatasi penglihatan Ajeng.
“Bukalah,” perintah dukun cantik itu.
Ajeng menarik ke samping kain berwarna merah darah itu. Dan detik itu juga, ia membelalakkan matanya, ada sosok lain juga mematung di dalam sana, rambutnya sebahu, cantik, kaku dan tak berkedip sedikit pun. Hawa dingin bisa Ajeng rasakan di dalam lemari itu.
“Namanya Anggrek. Hantu peliharaanku yang paling panas. Dia tidak kejam hanya saja mudah lapar, kalau kau memakainya kau harus menyediakan banyak darah segar.” Tirai tertutup dengan sendirinya ketika Nyai Melati menjentikkan jarinya.
Ajeng membuka lemari berikutnya, dan menarik tirai ke samping. Ada lagi sosok wanita bertubuh lebih tinggi dari dirinya dan Nyai Melati. Rambutnya berwarna merah. Nyai Melati menamainya mawar, iblis yang sukar ia taklukkan, dan tak pernah senang melihat anak kecil, makanannya pun tak tanggung-tanggung, janin yang telah gugur.
“Tak cocok denganmu,” sahut Nyai Melati sembari menutup kembali lemarinya.
Lemari terakhir di buka, terlihat lagi sosok iblis berwajah rata, rambutnya panjang menyentuh lantai. Ajeng bahkan nyaris menjerit melihatnya. Sosok yang dinamai Nyai Melati sebagai Dahlia.
“Dia yang paling penurut dan tidak banyak makan, setiap bulan purnama kau hanya perlu memberinya beberapa tetes darah, selanjutnya dia akan mematuhi semua perintahmu. Termasuk menjadi penggantimu ketika bersama Candra.”
Ajeng hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Nyai Melati. Ia kemudian bergegas keluar ketika lemari ketiga telah ditutup. Masih banyak lemari kecil lain di dalam ruangan itu, tetapi wanita bertubuh mungil itu tak ingin tahu apa yang tersimpan di dalamnya.
“Aku ikut apa yang Nyai bilang saja, yang penting semuanya selesai. Kalau boleh aku mau keluar kamar ini. Merinding aku Nyai, bisa mati berdiri aku di sini,” ujar Ajeng gugup.
“Silakan, tunggu aku di tempat tadi. Masih ada beberapa hal yang harus aku terangkan padamu.”
Tanpa menunggu, Ajeng melangkah keluar dari kamar itu. Nyai Melati menyunggingkan senyum penuh kelicikan. Ia kemudian membuka kembali lemari tempat menyimpan sosok Dahlia di dalamnya. Wanita itu membelai pipi tanpa wajah yang masih berdiri tegak, seketika itu juga wajah Dahlia yang tadinya polos telah berubah menjadi sama persis seperti Nyai Melati.
“Sudah lama aku tak melepaskanmu. Tunggulah, kita akan buat kegaduhan lain lagi nanti. Dan aku juga lupa mengatakannya pada Ajeng, kalau kau itu pendendam dan tak suka melihat milkmu menjadi milik orang lain. Kau tak pernah segan membunuh siapa pun yang menghalangi tujuanmu atau tujuan kita.” Tawa panjang dan menyeramkan Nyai Melati bergema di kamar itu, bersahut-sahutan dengan tawa sosok lain yang ia simpan di dalam lemari mliknya. Sesekali benda itu bergetar dan terbuka lalu tertutup sendiri.