Pangeran Satria

1852 Words
Ajeng terus mengikuti langkah ular kuning dengan makhkota kecil di kepalanya. Ia tak merasa aneh atau apa pun itu. Baginya mendapatkan mustika menjangan putih jauh lebih penting. Hanya itu saja lalu ia pulang. Sangat mudah dalam pikiran gadis tersebut, padahal tak sesederhana demikian jika bersekutu dengan mahluk gaib, minimal harga diri yang hilang. Maksimal nyawa yang menjadi taruhan. Ular itu membuat tipuan dengan sihirnya. Hutan belantara ia ubah menjadi taman bunga yang indah. Ada kepak sayap kupu-kupu yang mengitari setiap bunga. Terpana Ajeng dibuatnya, ia seperti tersihir untuk tinggal di sana dan tak mau keluar. “Wah. Aku mau tinggal di sini aja daripada pulang ke rumah.” Ajeng menghidu wangi bunga siluman yang membuatnya kecanduan. Bunga yang selalu ada di ranjang Pangeran Satria ketika dia menyihir wanita yang menjadi penghangat ranjangnya. “Hati-hati dengan perkataanmu. Bisa-bisa kau memang tinggal di sini dan tak akan kembali lagi,” ucap sebuah suara. Ajeng tak peduli, justru ia mengangguk, tak apa tinggal di sana daripada bersama dengan orang yang tak ia cintai. “Tapi kau harus mencari mustika menjangan putih, jangan lupakan itu,” ujar suara manusia yang diiringi dengan desisan ular pula. Hal yang membuat Ajeng menoleh. Lalu di hadapannya ada sesosok wanita cantik mengenakan pakaian sutera serba kuning dan makhkota kecil di atasnya. “Wah, cantik banget,” gumam Ajeng. Ia tak pernah melihat kecantikan seperti itu sebelumnya. Andai ular kuning itu ada di depan Candra tentu Ajeng tak akan pernah dipandang lagi. “Namaku Selasih. Aku tangan kanan Pangeran Satria. Aku yang menjaga hutan ini dari kehancuran. Aku juga yang harus memastikan kalau kau ke sini dengan niat yang kuat. Sedangkan baru menghidu wangi bunga saja kau sudah tak berdaya. Bagaimana harus mencari rumah pangeran dan mendapatkan mustika itu,” cemooh Selasih. Tersadar Ajeng dengan apa yang ia katakan tadi. Lalu ia pun melepaskan bunga yang tadinya ia cengkeram. Ia mencari jalan lain untuk keluar dari taman bunga itu. Selasih menertawakannya. “Jangan kau kira mudah untuk bertemu tuanku. Carilah sendiri jalan keluarnya, hai, kau, manusia yang fana.” Selasih kembali mengubah wujudnya menjadi seekor ular kuning. Ia menambah sihir di dalam taman itu. Di mata Ajeng sekarang taman tersebut berubah seperti labirin besar yang mengurungnya. Tak hanya itu saja, ada monyet-monyet yang melompat di atasnya. Bahkan mulai memainkan rambut Ajeng. “Tolong,” jerit Ajeng lagi. “Carilah jalan keluar sendiri. Kalau kau berhasil akan kuantar kau sampai ke kaki Pangeran Satria.” Selasih lantas menghilang dari labirin itu. Ia menyaksikan bagaimana cara Ajeng keluar dari tipuannya. Ular kuning itu bertengger di atas pohon. Tak lama setelah itu makhluk sejenisnya juga ikut di sebelah Selasih. Makhluk itu tak lain tak bukan ialah Pangeran Satria. “Jangan terlalu kasar padanya, Asih.” Sang pangeran melata, ia melewati tubuh Selasih. Selalu seperti itu ketika sedang tak ada wanita yang bisa ia datangi. Membuat gejolak dalam diri tangan kanannya bangkit. Selain sebagai orang kepercayaan, Selasih juga merupakan teman tidur setia sang pangeran. Mereka berdua telah ratusan tahun bersama. Sudah banyak rintangan dan banyak makhluk yang telah dikalahkan. Selasih tak bisa mengikat Pangeran Satria dalam belenggunya. Begitu juga ular pemilik Hutan Larangan itu, tak pernah melarang Selasih untuk menjalin kasih dengan siluman manapun. Jadilah keduanya saling mendatangi ketika hanya butuh saja. “Dia terlalu mudah terlena walau hanya dengan sentuhan siluman peliharaanmu, Pangeran.” Ular kuning itu balas melilit tubuh lawannya yang bercorak cokelat kehitaman. “Dari dulu memang begitu. Manusia, terutama gadis, tak akan tahan ada dalam dekapan makhluk gaib. Kita tak mengenal kata lemah dalam bercinta. Beda dengan manusia yang baru beberapa detik saja sudah menyerah.” Kini dua ular itu saling melilit dan mendekap. Mereka kawin di atas pohon besar ketika Ajeng sedang berusaha mencari jalan keluar. “Iya, aku paham, Pangeran. Jangankan manusia biasa, aku saja tak pernah bisa lepas dari belitanmu.” Selasih kini tak bisa lagi membelit sang pangeran. Ular kuning itu telah berada dalam genggaman sang pemilik Hutan Larangan. Mereka saling membelai tubuh yang licin dan basah itu, sampai keduanya jatuh dari atas pohon. Tak ada makhluk halus lain yang berani menyaksikan persekutuan itu. Sudah biasa bagi Selasih dan Satria untuk melakukannya di manapun. Kini mereka menjelma dengan wujud manusia. Pangeran membuat tangan kanannya tak lagi mampu membuka mata, melainkan terus memejam sampai ular kuning itu begitu terlena dan melepaskan sisiknya satu demi satu. Pangeran Satria melepas belitannya pada Selasih ketika persekutuan itu telah usai. Tak ada sisik yang rontok dari tubuh pemilik Hutan Larang tersebut. Ia dan tangan kanannya ular beda jenis, tapi sama-sama memilik gelora yang amat besar. Selasih melilit tubuhnya lagi dengan kain sutera kuning. Setiap kali usai melayani sang pangeran ia akan berganti kulit menjadi lebih halus dan indah. Sebab demikianlah ia menjadi cantik luar biasa. Seperti yang dikatakan Ajeng padanya. Makhkota kecil ia pasang setelah sanggul rambut Selasih rapi. “Tinggalkan saja dia untukku. Aku yang akan mengurusnya. Malang sekali kalau dia terus-terusan terperangkap dalam sihirmu. Ah, kalau kau tidak keberatan, bawakan lampu yang diberikan Nyai Melati untuknya. Sedikit berbaik hatilah kau padanya.” Satria menyentuh dagu Selasih. Ia merayu tangan kanannya agar tak terlalu kejam dengan manusia lagi. Mau tak mau ular kuning itu takluk dalam sentuhan tangan sang pangeran lagi. Selasih berjalan dengan kain kuning yang menyapu tanah dan dedaunan kering, kemudian ia menghilang ketika sudah jauh dari Pangeran Satria. Menuruti kata tuannya untuk mencari lampu yang ditinggalkan Ajeng. Kembali pemilik Hutan Larangan itu mengubah wujud menjadi ular, lalu melata ke dahan pohon, melihat bagaimana caranya Ajeng keluar dari labirin buatan Selasih. “Tolong,” gumam Ajeng perlahan. Ia tak mampu menjerit lagi, suaranya sudah ia gunakan untuk berteriak dari tadi. Namun, dari tadi gadis itu terus saja tersasar dan kembali lagi ke tempat yang sama. “Kalau gini terus aku bisa mati di sini.” Ajeng memeluk diri sendiri yang mulai kedinginan. “Aggh!” Istri Candra tersebut menjerit dan berlarian lagi. Seekor monyet kembali menarik rambutnya. Ia berlari lalu bingung harus belok ke kiri atau kanan. Kemudian ia ke kiri, tapi di sana tidak ada apa-apa, jalan buntu. Belok lagi ia ke kanan dan dihadang oleh tiga ekor monyet yang berjalan ke arahnya. Ajeng mundur ke arah belakang. Ia putari labirin itu sampai entah sudah berapa banyak belokan yang Ajeng lewati. Keringat sudah mengucur deras di seluruh tubuhnya. Ia mulai haus dan juga lapar. Pangeran Satria memperhatikan gadis itu dari atas pohon. Siluman ular tersebut lalu memunculkan sebuah air mancur. Ajeng terkejut, tapi detik itu ia tersenyum juga. Ia minum sampai hilang semua dahaga dalam tenggorokannya. Akan semakin terikat jiwa Ajeng dengan Hutan Larangan. Sembrono memang gadis itu. Akalnya hilang sejak dinikahi Candra, segala cara ia tempuh agar bisa menghindar dari suaminya. Ajeng menunggu di dekat air mancur sampai Selasih datang. Tangan kanan Pangeran Satrian menerbangkan lampu pemberian Nyai Melati untuknya. Tersenyum Ajeng melihat benda itu ada di sana. Ia mengambil dan menggunakannya sebagai penerang jalan. Setidaknya mampu membantunya mencari jalan keluar dari labirin yang begitu besar dan membuat kakinya lelah. “Huh, ya ampun, seluas apa, sih, labirin ini?” Ajeng menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Sejak tadi ia telah memegang lampu itu tak ada lagi monyet-monyet yang menganggunya. Meski suara desis ular tak pernah putus ia dengarkan. Merinding bulu kuduk gadis berwajah ayu itu untuk yang kesekian kalinya. Terus saja ia berjalan, setiap lampu pemberian Nyai Melati nyalanya lebih terang, ke arah sana Ajeng berjalan. Lampu itu memberikan petunjuk agar gadis berambut panjang tersebut cepat sampai dalam dekapan sang pangeran yang kini tengah bertengger di atas pohon. Ajeng melihatnya, ia bergidik ngeri. Dari dulu ia paling geli dengan yang namanya ular. Hanya karena butuh saja Ajeng rela untuk mengikuti Selasih tadi. Langkah demi langkah Ajeng terus berjalan, setengah dari labirin itu telah ia lewati. Hingga jalan depan akhirnya terlihat juga. Ia pun keluar dan setelahnya labirin itu menghilang, bukan menjadi taman bunga seperti tadi saat pertama kali Ajeng melihatnya. Melainkan sebuah tempat di mana banyak tulang-belulang yang telah kering dan menguning. “Hii, tempat apaan ini?” Kembali gadis polos itu bergidik ngeri. Tiba-tiba saja Selasih sudah berdiri di depan Ajeng, hiingga gadis itu tersentak lagi. “Kau berhasil keluar dengan mudah, selamat,” ucap Selasih dingin. Kini ia sendiri yang harus mengantarkan teman tidur tuannya ke istana milik sang pangeran. Ular cokelat di atas pohon sana menghilang dan kembali ke singgasananya. Ajeng melihat beberapa perubahan pada diri Selasih. Tadinya kulit itu tak terlalu putih. Kini sangat putih dan cerah. Selasih berubah menjadi lebih cantik daripada saat bertama kali mereka bertemu. Ingin Ajeng tanyakan apa rahasianya, tapi tak berani, takut disuruh yang aneh-aneh. Langkah Selasih sedikit berlenggak-lenggok pinggangnya. Sebagai seekor ular betina ia memang memikat mata semua makhluk jantan di dalamnya. Ajeng saja kagum apalagi lawan jenis. Kain terusan kuning tangan kanan Pangeran Satria itu tak kotor karena terkena tanah dan dedaunan kering. Lama sekali mereka berdua berjalan. Hingga kini telah berada di depan jembatan. Jembatan yang terbuat dari batu yang berbentuk ular besar. “Jangan menoleh lagi ke belakang, walau siapa pun yang memanggilmu, mengerti!” pinta Selasih pada gadis itu. Ajeng hanya mengangguk saja. Keduanya melangkah di atas jembatan. Sesekali benda itu bergerak perlahan layaknya seekor ular yang diganggu tidurnya. Ada sebuah suara yang memanggil Ajeng dengan lembut, ia ingin menoleh ke belakang, tapi ia dicegah oleh Selasih. “Sekali ini kau kuperingatkan. Lain kali kubiarkan kalau ada makhluk lain yang ingin menjamahmu!” Selasih terus saja berjalan dengan pinggang lenggak-lenggoknya. Ia tak terganggu sama sekali dengan pergerakan jembatan yang kini mulai sedikit kencang. Ajeng sedikit tertinggal di belakang, ia pun berlari ingin menyamakan langkah dengan wanita berpakaian serba kuning terang itu. Sesaat Ajeng terjatuh lalu bangkit lagi, jatuh lagi, bangkit lagi, begitu saja terus ketika jembatan itu tak henti-hentinya bergerak. Sekuat tenaga gadis itu menepis panggilan yang begitu menggoda hatinya untuk menoleh ke belakang. Sampai ia kini sudah berada di belakang Selasih. “Kuat juga tekadmu!” ucap Selasih ketika berada di ujung jembatan. Disusul oleh Ajeng yang ngos-ngosan mengejarnya. Hanya dengan entakan kaki Selasih saja, jembatan itu menghilang. Nyata di hadapan Ajeng beberapa makhluk hitam dan berbulu tengah menantinya di seberang sana. “Kalau kau menoleh tadi, aku tak mau menolongmu. Mereka kotor dan bau, tak sanggup aku dekat-dekat.” Selasih berbalik. Ini kini terus melangkah dan lagi diikuti oleh Ajeng. Lampu pemberian Nyai Melati untuk sementara dipadamkan oleh ular kuning itu. Mereka sudah memasuki wilayah di mana istana sang pangeran ular bermukim. Sepanjang perjalanan dua wanita beda alam itu memasuki istana. Ajeng melihat ragam jenis ular yang banyak warna, melata, saling membelit, menelan makanan dan tidur-tiduran di sana. Bergidik ngeri lagi gadis itu, ia membayangkan sesaat dirinya tertidur dan tiba-tiba saja ada ular besar di atas tubuhnya. “Hati-hati dengan isi kepalamu. Semuanya di sini bisa terwujud.” Kembali Selasih memperingatkan Ajeng. Gadis itu hanya mengangguk saja. Barusan saja ada seekor ular hitam yang melintas melewati kaki Ajeng. Gadis berambut panjang itu diam sejenak. Ada sensasi dingin dan rasa geli yang menjalar di kakinya. Ular tadi tak menyakitinya sedikit pun. Hanya numpang lewat saja. “Nanti kau rasakan sendiri bagaimana rasanya berhadapan dengan pangeran kami.” Selasih membuka pintu gerbang istana. Di sana seekor ular cokelat telah menunggu mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD