Dengan berbekal sinar lamput petromaks, Ajeng terus melangkah masuk ke dalam Hutan Larangan. Sesekali ia mendongak ke arah pepohonan besar. Ia seperti melihat sekelebat bayangan yang terbang mengikutinya, lalu tak lupa pula desis suara ular mulai terdengar. Suasana di dalam sana mampu membuat jantung wanita itu bedebar amat kencang.
“Serem amat hutan ini, ya ampun, nggak ada tempat lain apa yang bisa dilewatin.” Semakin berdegup kencang jantung wanita itu. Ia tak habis pikir, jika persekutuannya dengan Nyai Melati akan membawanya masuk ke dalam hutan belantara yang amat gelap. Nyaris tak ada apa-apa yang terlihat di depan matanya. Lelah, Ajeng kemudian duduk di sebuah pohon tua. Ia terlelap karena memang sudah jamnya untuk tidur. Semakin terlena ia ketika ada sebuah tangan yang membelai rambutnya. Kebutuhan batin yang tak pernah ia dapatkan dari Candra, walau karena penolakannya juga.
Beberapa waktu lamanya Ajeng tidur tanpa merasakan gangguan apa pun. Namun, hutan itu merupakan hutan yang dikuasai oleh Pangeran Satria. Siluman yang memiliki banyak peliharaan gaib, ragam makhluk tak kasat mata tinggal di sana. Kegemaran mereka memang menakut-nakuti orang yang tersesat. Satu demi satu keluar dari rumahnya ketika tahu ada seorang gadis cantik yang sukarela masuk ke dalam hutan. Bau darah serta keperawanan Ajeng mengundang hasrat makhluk laki-laki di dalam saja. Sampai menetes air liur mereka dibuatnya.
Istri Candra itu masih saja terlena, tanpa sadar akar pepohonan pun melilit tubuhnya yang memang kecil. Dan Ajeng tersadar ketika ia mulai merasakan sesak napas.
“Apa ini?” Ajeng melihat akar pohon yang melilit tubuhnya. Keringat dingin mulai mengalir. Gadis itu dilanda ketakutan. Makhluk yang menjailinya pun mulai tertawa. Ingin rasanya diterkam saja langsung Ajeng dan jatuh dalam dekapan mereka satu demi satu.
“Tolong!” jerit Ajeng, tapi suaranya ditelan angin malam, “Satya, tolong saya!” Kaki gadis itu mulai meronta-ronta. Ia merasa tak sendirian di dalam Hutan Larangan.
“Jangan ganggu, please. Aku cuma pengen ketemu sama Pangeran Satria.” Air mata gadis itu mulai mengalir. Mendengar nama sang pangeran disebutkan tak membuat sulut keiginan makhluk laki-laki di sana untuk menggodanya. Siluman ular itu tak pernah melarang peliharaan untuk berbuat sesuka hati.
“Sebelum itu bermain-mainlah dulu denganku, cantik.” Ada yang menyentuh dagu Ajeng. Semakin bertambah ketakutanlah dirinya. Tak ia sangka keinginan untuk mencari istri pengganti untuk Candra malah membuatnya terjerumus semakin dalam.
Akar pepohonan itu lepas, kaki Ajeng ditarik dengan kuat hingga ia terseret. Gadis itu meninggalkan lampu pemberian Nyai Melati di dekat pohon itu. Lampu yang mampu membimbingnya sampai ke rumah Pangeran Satria lebih cepat.
Gadis itu meronta dan menjerit meminta tolong, tapi tak ada yang bisa menyelamatkannya. Ia terus dibawa hingga ke pinggir danau. Di sana Ajeng menarik napas panjang ketika tarikan itu berhenti beberapa saat. Namun, terulang lagi ketika ia mencoba kabur dari sana.
Tubuh mungil Ajeng dibaringkan, dua tangannya digenggam kuat oleh sosok tak kasat mata. Celana jeans yang ia kenakan mulai ditarik paksa. Tubuhnya mulai terasa berat, serasa ada yang menindihnya. Hampir tak mampu gadis itu untuk menarik napas sesuka hatinya.
“Jangan.” Menangis gadis itu, ia berusaha mati-matian agar kehormatannya tak dirampas oleh Candra, tapi justru ia mendapat kemalangan di dalam hutan.
Kaku Ajeng di tempatnya berbaring. Ia rasakan ada yang mulai mencumbu leher juga bibirnya. Tak berkutik gadis itu dalam genggaman makhluk yang tak juga menampakkan wujudnya. Gadis itu hanya bisa pasrah saja saat baju kausnya ditarik ke atas. Ia tak mampu lagi melawan, sudah dibuat tak berdaya oleh lawannya. Terlena, seumur hidup tak pernah disentuh laki-laki, sekalinya oleh makhluk tak kasat mata, ia tak mampu atau tak ingin menghindar. Namun, pada saat bersamaan air dalam danau bergemuruh, seekor ular berwarna cokelat kehitaman muncul. Kemudian, beban di atas tubuh Ajeng menghilang begitu saja. Perlahan-lahan gadis itu mendapatkan kembali kesadarannya. Tadi meski hatinya menolak, tapi raga Ajeng bereaksi lain, ia sempat terlena oleh sentuhan makhluk halus tersebut. Bohong jika ia mengingkari hatinya sendiri.
Ular itu kemudian menghilang lagi ke dalam danau. Ia belum mau menarik Ajeng ke istananya. Pangeran Satria ingin melihat sejauh mana kegigihan gadis itu untuk mendapatkan mustika menjangan putih untuk membangkitkan seonggok mayat.
“Jangan ada yang berani menyetuhnya. Dia milikku!” Satria memperingatkan pada seluruh peliharaannya di dalam hutan. Semuanya patuh pada kata sang pangeran, sebab jika berani melawan mereka akan diusir atau dilumat sampai habis.
Ajeng berdiri usai memperbaiki semua pakaiannya. Ia kancing lagi jeansnya yang sempat ditarik. Ia ikat rambut panjangnya yang terurai saat permainan tadi. Kemudian berjalan lagi. Suasana sangat gelap, gadis itu menghidupkan ponselnya.
“Duh, mana lagi lampu dari Nyai Melati, ya?” Ajeng mencari benda yang hilang tersebut. Ia takut akan semakin lama sampai ke istana Pangeran Satria. Sedangkan waktu yang diberikan Nyai Melati tak lama.
Berjalan saja lurus Ajeng tanpa petunjuk apa pun. Terkadang ia temui tulang-belulang manusia yang berserakan, terkadang ia temui seonggok daging binatang yang tak bertuan. Beberapa kali ia muntah-muntah sampai kepalanya terasa pusing.
“Itu ada air terjun, mungkin airnya bisa diminum.” Gadis itu mendekat, ia tadahkan kedua tangannya lalu meminum air yang terasa dingin dan manis. Sesosok siluman memperhatikannya dari jauh.
“Semakin banyak kau minum air itu, semakin kau tak akan bisa lepas dari pengaruhku.” Tertawa siluman ular tersebut. Semua wilayah di dalam Hutan Larangan telah ia kurung dengan sihirnya. “Tapi tak apa, kau akan semakin mudah kukuasai. Tadi saja walau baru sentuhan dari peliharaanku kau sudah terlena apalagi dariku. Kau tak akan bisa lupa seumur hidupmu.” Pangeran Satria mengelus tubuh bagian bawahnya yang berupa ekor ular.
Lelaki itu sudah banyak menikmati raga wanita. Namun, ia tak pernah puas. Sebagai siluman hasratnya senantiasa menuntut untuk dipenuhi. Tak hanya Nyai Melati saja yang menjadi sekutunya. Banyak dukun lain, banyak juga yang meminta harta dengannya. Jika hamba itu seorang wanita tentu syaratnya harus mau tidur dengannya. Sesekali ia akan datangi hamba itu lalu masuk ke dalam kamar dan memadu kasih dengannya. Kini Satria sedang menunggu kedatangan Ajeng, seorang hamba yang diperbudak rasa benci dengan suaminya sendiri. Seorang b***k yang telah menukar keimanannya demi mustika menjangan putih. Padahal jika ia bersabar, ia bisa saja lepas dari cengkeraman Candra dengan cara yang baik. Atau barangkali Ajeng bisa mengubah suaminya menjadi lelaki yang lebih baik lagi. Namun, begitulah manusia, tak semuanya menyukai proses, semuanya menyukai hasil yang secepat kedipan mata.
Ajeng masih berjalan terus, berputar-putar sampai tak tahu lagi jalan mana yang telah ia lewati. Satu kata untuk gadis itu ia telah tersasar. Tak ada yang akan menolongnya, karena sudah biasa manusia dipermainkan terlebih dahulu oleh Pangeran Satria jika memang benar membutuhkan pertolongan.
“Ajeng,” bisik salah satu suara di telinganya. Gadis itu menoleh, masih dengan bantuan sinar ponselnya ia mencari siapa yang memanggilnya.
“Siapa, jangan main-main, aku takut!” jawab Ajeng.
“Ikutlah denganku. Kau tak akan tersasar lagi.” Kemudian terdengar suara desis ular, berwarna kuning terang. Salah satu pelihaan Pangeran Satria. Ia tak akan mengantar Ajeng secepat itu ke istana tuannya, melainkan bermain-main terlebih dahulu sampai gadis itu pingsan karena ketakutan.
“Bener, ya, nggak bohong?” Ragu-ragu Ajeng untuk melangkah.
“Ayo cepat, Pangeran Satria sudah menunggu.” Ular itu menoleh kebelakang, warnanya amat cantik dengan mahkota kecil di kepalanya.
“Ok, aku nggak punya pilihan lain. Setidaknya mencoba dulu, kalau gagal kabur aja.” Ajeng pun melangkah, mengikuti ular yang terus melata di tanah. Jika tak dalam keadaan darurat, gadis itu tak akan mau ikut. Hanya saja ia butuh mustika menjangan putih, sebab tiga hari lagi Candra akan kembali ke rumah.
Candra, lelaki berkaca mata itu duduk di depan mejanya. Tiga anak buahnya telah kembali menagih hutang yang berjumlah sampai belasan bahkan puluhan juta. Tiga orang lelaki bertubuh kekar dan tak segan-segan untuk menghajar yang tak mau membar. Lelaki itu mewarisi bisnis dari ibunya. Usaha membungakan uang yang tak pernah merugi. Ia selalu untung sebab tak tanggung-tanggung memberikan bunga pinjaman. 25% di bulan pertama dan bisa mencapai 50% di bulan ketiga. Paling lambat hutang dengannya sudah harus lunas dalam setahun. Bunga bisa menyentuh sampai 75%, tidak ada uang yang bisa diberikan maka tak ayal kekerasan yang berbicara. Hal sama yang ia lakukan pada ayah Ajeng dulu. Sampai akhirnya lelaki itu menyerahkan putrinya sebagai tebusan, lalu mati terkena serangan jantung.
“Sudah beres semuanya?” tanya Candra sambil merapikan uang. Ia kelompokkan berdasarkan pecahan dan warna.
“Satu lagi, Bos. Janjinya dua hari lagi akan dibayar,” jawab salah satu pesuruhnya.
“Dua hari lagi kalau nggak dibayar juga kalian tahu, kan, harus apa. Saya nggak bisa berlama-lama di sini. Saya harus pulang, cepat selesaikan.” Candra melempar beberapa lembar uang merah, tiga orang pesuruh itu memungut dan mengantonginya. Upah harian yang diberikan setiap kali ada yang berhasil ditagih hutangnya.
“Beres, Bos, kami janji dua hari lagi selesai.” Tiga orang itu kemudian meninggalkan kamar hotel di mana Candra menginap. Ia memesan kamar yang paling besar walau hotel yang ia tempati hanya bintang tiga saja. Ia tak mau berpenampilan terlalu mencolok. Sebab sayang uangnya, ia lebih suka memberikan pada Ajeng, sebagai bukti cinta padanya.
“Akhirnya kamu takluk juga, Jeng.” Candra kembali membuka riwayat chat ia dan istrinya. Sejak beberapa hari lalu istrinya sudah mulai ramah bahkan mulai mengucapkan kata rindu. Hal yang dulu sangat tidak mungkin diucapkan istrinya.
“Rasanya Mas nggak sabar nanam benih dalam rahim kamu. Tunggu aja, tiga hari Mas bakalan pulang. Dan saat itu kamu harus siap, atau Mas main kasar sampai kamu kesakitan.” Candra mengirim beberapa pesan singkat pada istrinya, tidak dibalas lagi.
“Mungkin kamu udah tidur ya. Ya udah bersiap aja, badanmu harus segar dan wangi saat menyambutku.”
Candra pun kemudian berbaring di ranjang hotel itu ditemani lembaran uang di sisi kiri dan kanannya. Ia sudah biasa hidup bergelimang harta. Baginya semua hal bisa dinilai oleh uang. Termasuk cinta Ajeng untuknya. Ia selalu memberikan harta pada istrinya, lama-lama ia luluh juga ketika ditinggalkan.
Di dalam mobilnya, Satya menunggu sang nyonya yang tak juga kembali. Sudah satu jam berlalu, tapi tak juga terlihat batang hidung Ajeng. Sopir itu tak sendirian, ada yang menunggunya di dalam mobil. Sosok pemilik tulang belulang yang ia ambil tempo hari. Ia tak berani masuk ke dalam rumah Nyai Melati. Ia bukan lawan yang seimbang, dukun cantik itu terlalu kuat baginya.
“Kembalikan tulangku,” bisik gadis itu di telinga Satya. Lelaki itu menoleh ke belakang, tak ia temukan siapa yang berbicara dengannya.
“Kau kejam. Aku tak pernah punya urusan dengamu,” lanjut suara itu lagi.
“Siapa, sih, yang iseng.” Satya mencari sumber suara itu, tapi nihil. Saat sopir itu menoleh ke bagian belakang mobil. Tatapan mata dua makhluk itu bersirobok. Namun, hanya sebentar saja. Sebab pemilik tulang-belulang itu ketakutan ketika melihat burung peliharaan Nyai Melati mulai mengitari mobil yang dikendarai Satya.