Nyai Melati seperti biasa selalu saja duduk di dipan rumahnya. Matanya jauh menerawang ke masa depan yang selalu ia jalani sesuai dengan kehendaknya. Ratusan tahun sudah umurnya. Tak pernah sekalipun ia merasa menyesal menjalani kehidupan sebagai sekutu iblis. Daripada hidupnya menderita karena kemiskinan, lebih baik ia menjadi kaki tangan Pangeran Satria selamanya. Hal itu pula yang membuat ia tak mau melepaskan Satya. Ia tak ingin melihat lelaki itu seperti dirinya dulu, yang hidup dihina karena tak punya harta. “Aku bermaksud baik padamu. Jangan coba-coba untuk lepas dari cengkeramanku jika tak ingin mati mengenaskan. Uang itu selalu bisa memberikan kita jalan keluar. Walaupun aku terlihat hidup sederhana dalam rumah yang terpencil ini, justru banyak hartaku ditimbun di sini,” ucap Ny

