Merasa tak perlu lagi kembali ke rumahnya, Ajeng betah menetap di rumah ayahnya selama beberapa hari. Semua ia lakukan demi menghindar dari rasa cintanya yang membumbung tinggi pada Candra. Terlebih lagi ia takut bersaing dengan tiruannya itu. Wanita tersebut hanya manusia biasa yang lemah dibandingkan para hantu peliharaan Nyai Melati. Tak takut lagi Ajeng berada di rumah itu sendirian, meski terkadang malam begitu sunyi. Saking sepinya bahkan suara jangkrik saja tidak terdengar oleh telinganya. Namun, tak luput suara desis ular Ajeng dengar, ia hanya berpikir binatang melata tersebut utusan dari Pangeran Satria yang ingin menjaganya. Bukan karena cinta, tapi karena menginginkan tubuhnya. “Lama-lama aku jagi penjaja badan, apa bedanya aku sama WTS kalau gitu?” keluh Ajeng ketika baru

