Pagi itu Satya tak pergi ke ladang, ia pun berusaha mengeluarkan ular-ular yang terus dijumpai di dalam rumahnya. Tidak sendirian, dibantu oleh para tetangga. Binatang melata itu tak mengeluarkan bisanya, sebab menunggu perintah dari Lili. Ular tersebut dimatikan dengan bambu, lalu dibakar dan timbullah bau anyir mengelilingi seluruh sudut rumah Satya. Asap tipis-tipis masuk sampai ke dalam dapur, celah kamar bahkan kamar mandi sekalian. Bukannya menghilangkan masalah malah menjadi masalah baru. Rumah itu dikepung oleh binatang yang tak kasat mata. Di penglihatan orang lain tidak terlihat sama sekali. Merasa sudah baik-baik saja, tentu Satya dan Fitri memasuki rumah mereka. Namun, justru semakin gelisah bocah yang ada dalam gendongan ibunya itu. Ia menangis tanpa henti meski sudah berga

