2. Pertama kerja

1080 Words
Alex mencium punggung tangan Bella yang sangat lembut. Pria itu membalikan tubuhnya agar menghadap ke arah wanita yang sangat ia cinta. Alex melumat sekilas bibir Bella dan segera melepaskannya. “Hari ini aku masih ada urusan. Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Alex dengan lembut sambil membelai wajah cantik milik kekasihnya. “Aku hanya butuh waktu mu. Kau bahkan tidak mau menyentuh ku selama kita pacaran.” Bella memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibir seksi tersebut. “Aku hanya tidak ingin merusak dirimu, sebelum kau jadi milikku. Apa kau mengerti apa maksud ku?” tanya Alex dengan mendekap wajah Bella dengan kedua tangannya. “Hmm. Aku hanya takut kamu pergi karena berpaling dariku. Aku takut kamu tidak tertarik lagi. Aku takut kamu melakukan hal lebih pada wanita lain,” ucap Bella sambil memasang raut wajahnya yang murung. Alex hanya mengembuskan napasnya panjang sebelum ia menjawab keraguan di hati kekasihnya. “Kamu hanya perlu tahu aku mencintai dirimu saja. Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak lagi. Aku akan mengantarkan mu pulang.” Alex langsung menggandeng tangan Bella. Dengan langkah kaki lunglai, Bella mengikuti arah langkah kaki pria yang ada di depannya. *** Di dalam mobil saat perjalanan menuju Apartemen milik Bella. Terdengar suara dering ponsel dari arah tas kecil, milik wanita cantik yang ada di sampingnya. Alex yang mendengar hal itu, langsung menoleh ke arah sumber suara. “Apa itu ponsel mu?” tanya Alex sambil menyetir dengan sesekali melirik ke arah Bella. Wajah wanita itu terlihat memucat saat melihat siapa yang telah menghubungi dirinya. Bella menelan salivanya kasar dan segera menolak panggilan tersebut. “Em, iya.” Bella memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil. “Siapa?” lagi dan lagi. Bella dibuat tak berkutik dengan pertanyaan Alex. ‘Kenapa pria ini menelpon ku disaat yang tidak tepat sih!’ gerutu Bella dalam hati, dengan jantung yang sudah berdegup kencang karena merasa gugup. “Bukan orang penting, jadi aku menolaknya. Kau jangan terlalu memikirkan hal ini. Kita habiskan saja waktu kita berdua. Kau tahu aku sangat sibuk di luar negeri,” ucap Bella berusaha mengalihkan topik pembicaraannya dengan Alex. “Kau benar. Apa kau besok akan langsung berangkat ke luar negeri lagi?” tanya Alex yang kini melihat ke arah Bella. “Hmm, sayang sekali besok aku harus segera kembali,” ucap Bella merasa tak enak hati. “Tidak masalah. Kau jangan sedih seperti itu, aku pasti akan tetap mencintai mu. Setelah kau pulang dari sana, aku janji akan menikahi mu. Kita akan menikah, sayang.” Bella membulatkan matanya sempurna karena terkejut. Wanita cantik itu mengerutkan keningnya tanda tak percaya. Bagaimana bisa, pria yang selalu menolaknya saat diajak menikah, kini dengan sendirinya menawarkan sebuah pernikahan yang ia inginkan. “Benarkah?” tidak! Bella masih tidak percaya dengan apa yang Alex ucapkan. Ia ingin menanyakan hal ini lebih serius lagi. “Em, maksudku. Apa kau sudah memikirkannya dengan matang? Bukankah kau tidak ingin menikah muda. Apa sekarang kau sudah berubah pikiran?” cecar Bella dengan berbagai macam pertanyaannya untuk Alex. “Aku akan memikirkannya lagi, tapi saat ini aku sudah yakin dengan semua keputusan ku. Kau tahu, Mommy dan Daddy ku sudah meminta cucu,” ucap Alex. Bella yang mendengar penuturan dari sang kekasih, malah menampilkan raut wajahnya yang tak dapat diartikan. “Apa kau menikahi ku hanya untuk menghasilkan anak untuk orang tua mu?” Bella tak habis pikir dengan apa yang Alex ucapkan. Bagaimana mungkin pria itu merencanakan sebuah hubungan hanya karena permintaan orang tuanya. “Tidak. Bukan hanya itu. Aku juga sangat mencintai mu,” ucap Alex untuk memberikan pengertian pada sang kekasih. “Hm. Aku tahu, tapi jika tujuan mu hanya untuk anak, aku tidak mau. Kau tahu, aku masih harus mengejar karir ku yang masih panjang. Apalagi, aku masih muda untuk memiliki anak. Setelah menikah pun, aku masih ingin bekerja,” ucap Bella dengan tegas, tanpa memperhatikan raut wajah dingin pria yang ada di sampingnya. “Baiklah, aku akan menunda dulu pernikahan kita, dan aku akan mencoba memberikan pengertian pada Mommy and Daddy. Tetapi, aku ingin saat kita menikah nanti, kau berhenti dari pekerjaan mu. Apa kau berpikir aku tidak bisa menghidupi dan memenuhi kebutuhan mu?” tanya Alex dengan penuh selidik. Bagaimana pun, ia adalah seorang pria yang akan memperjuangkan apa yang ia inginkan. Termasuk membahagiakan orang terkasihnya. Dengan kekayaan yang tidak akan ada habisnya, membuat pria tampan itu bisa melakukan apapun. Bahkan segalanya bisa ia dapatkan dengan uang. Termasuk wanita. “Aku percaya padamu. Aku janji, jika kita menikah nanti, aku akan berhenti dari pekerjaan ku,” ucap Bella tersenyum lembut ke arah Alex. Tanpa disadari. Kini, mereka sudah sampai di depan apartemen milik Bella. Alex yang sudah menghentikan mobilnya, hendak ikut turun bersama Bella. Namun, wanita itu segera mencegah Alex. Membuat pria itu mengerutkan keningnya tanda heran dengan sikap kekasihnya. “Kenapa?” tanya Alex sambil menatap Bella dengan penuh selidik, hingga membuat Bella gugup dan wajahnya memucat. “Aku sudah lelah. Aku ingin langsung istirahat. Besok aku juga harus berangkat ke bandara lebih pagi. Apa kau keberatan?” tanya Bella sambil memasang wajahnya memelas dan penuh harap. Alex hanya bisa pasrah dan menghela napasnya panjang sebelum ia menjawab pertanyaan dari Bella. “Aku mengerti, istirahatlah! Aku pulang dulu. Maaf, besok aku tidak bisa mengantarkan mu. Ada meeting penting yang harus aku hadiri,” jawab Alex tersenyum kaku. “Kau memang selalu sibuk untuk itu.” Bella tersenyum smirk dan segera turun dari mobil mewah milik Alex, dan segera masuk ke dalam apartemennya. Alex segera pergi dari sana untuk pulang ke apartemen miliknya yang lumayan jauh. Pria itu sedikit curiga pada kekasihnya tersebut. Namun, ia segera menepis segala kecurigaannya terhadap Bella. Ia sangat mencintai wanita yang sudah lama menjadi kekasihnya, hingga rasa percaya itu juga semakin kuat. “Mana mungkin Bella menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu dia tidak akan mengkhianati aku,” gumam Alex sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Keesokan harinya ... Di sebuah gedung pencakar langit. Seorang wanita sederhana, sudah rapih dengan seragam kerjanya. Seragam yang kini menjadi seragam kebanggaannya, meskipun hanya sebuah seragam Office girl. Sebuah senyuman yang indah dan merekah dari bibirnya, membuat siapa saja yang melihatnya, akan terkagum karena melihat senyum lugu dan polos itu. Keyna sudah siap dengan alat kebersihannya untuk membersihkan ruangan yang sudah ditugaskan oleh sang Manager. Namun, tiba-tiba saja wanita itu terkejut karena seseorang sudah menepuk pundaknya dari arah belakang. Keyna yang merasa terkejut itu langsung mengalihkan pandangan ke sumber arah. “David, kau membuat ku terkejut saja,” gerutu Keyna karena kesal sambil mengerucutkan bibirnya gemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD