3. Kopi

1085 Words
Keyna yang merasa terkejut itu langsung menoleh ke arah David sambil menatap tajam ke arah pria tersebut. Raut wajah Keyna yang imut, hingga David yang melihat hal itu bukannya takut, malah membuat pria itu tertawa cekikikan. “Hei! Apa ada yang lucu?” Keyna menatap David dengan kesal. Akhirnya David terdiam, kemudian menarik napasnya panjang. “Baiklah, maafkan aku. Apa kau sudah dari pagi buta, di sini?” tanya Davin heran sambil menatap Keyna dengan tatapan tak habis pikir. “Hmm, aku dari tadi di sini, tapi ternyata masih sepi.” Keyna menghela napasnya panjang. Sebenarnya tidak ada yang perlu ia sesali, karena itu jauh lebih baik, daripada telat di hari pertama kerja. “Memang rumah mu sejauh apa, sampai kau berangkat dari pagi buta?” tanya David kembali karena penasaran. “Lumayan jauh, karena itu aku tidak ingin telat.” Setelah mengatakan hal itu, Keyna langsung berbalik dan hendak pergi meninggalkan David di sana. “Hei! Kalian sedang apa di sana?” tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita dari arah pintu Pantry. Keyna dan David yang mendengar hal itu, langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita dewasa yang ada di ambang pintu. Wanita itu menatap Keyna dan David dengan tatapan dingin, hingga membuat dua orang yang bersangkutan langsung terkejut dan terdiam seketika. “Ma-manajer Lexa.” Keyna gugup saat wanita yang ia kenal sebagai Manajer itu sedang menatapnya dingin bersama David. Pria itu hanya diam dan menunduk. “Key, kau siapkan kopi untuk Pak Alex. Oh ya! kau harus menjaga sikap mu, jangan sampai membuat kesalahan. Beliau CEO sekaligus pemilik perusahaan ini. Sekretaris Erina sedang cuti untuk bulan madu. Cepatlah! Ruangannya ada di lantai 30 paling ujung, di sana hanya ada ruangannya.” Manajer Lexa segera pergi setelah mengatakan beberapa perintah pada gadis polos itu. Setelah kepergian Manajer Lexa, Keyna akhirnya bisa bernapas lega. Wanita itu segera bergegas untuk membuatkan kopi untuk bosnya tersebut. Namun, gerakannya seketika berhenti, saat ia tidak tahu kopi apa yang harus ia siapkan. Sedangkan David, pria itu kembali membersihkan beberapa ruangan yang sudah dititah oleh Manajer Lexa. Keyna yang bingung harus apa, malah menuangkan dua sendok teh bubuk putih dalam kopi Bosnya. “Semoga saja aku tidak membuat kesalahan di hari pertama ku bekerja,” gumam Keyna lalu segera bergegas pergi menuju ruangan Alex, yang ada di lantai ujung. Tak butuh waktu lama, akhirnya Keyna sudah sampai di lantai tiga puluh. Yang mana lantai ujung itu hanya ada satu ruangan, dan sebuah seketan tempat Sekretarisnya. Keyna berjalan ke arah pintu sambil melihat ke arah papan nama Sekretarisnya yang bernama ERINA. Keyna mengetuk pintu ruangan bertuliskan CEO. Dengan sangat perlahan ia mencoba untuk meminta izin dari arah luar. Hingga teriakannya yang ketiga kali, barulah seseorang dari dalam menyahuti. “Permisi, pak. Saya ditugaskan membuat kopi oleh Manajer Lexa. Silakan dinikmati.” Keyna mengucapkan kalimat yang sudah ia hafal sejak tadi, saat ia berjalan menuju ruangan Alex. Wanita itu tak berani menatap wajah pria yang ada di hadapannya tersebut, dan hanya menundukkan pandangannya ke arah bawah. Alex yang awalnya sibuk, saat mendengar suara wanita asing, langsung mendongak untuk melihat orang tersebut. “Apa kau pegawai baru?” tanya Alex secara tiba-tiba, sambil menatap wanita asing di hadapannya dari atas sampai bawah dengan penuh selidik. Jantung Keyna seakan berpacu dengan cepat, saat mendengar suara bariton yang bertanya padanya saat ini. Sebelumnya ia tidak pernah segugup ini, tapi entah kenapa berbeda dengan hari ini. “Be-benar, pak. Saya anak baru,” jawab Keyna tanpa melihat ke arah pria yang ada di hadapannya. Bahkan ia tidak tahu ketampanan dari seorang CEO-nya. “Cuih! Apa kau mau meracuni aku, hah?!” bentak Alex yang membuat Keyna tersentak kaget. “Ti-tidak, Pak. Saya tidak pernah berniat berbuat hal seperti itu,” ucap Keyna dengan gugup untuk menyangkal tuduhan dari Bosnya. “Lalu kenapa kau memberikan kopi asin bagai lautan?” tanya Alex dengan penuh selidik. Pria itu terlihat sangat marah. Keyna yang mendengar hal itu pun terkejut, karena ternyata kopi yang ia siapkan adalah kopi asin. Keyna mengaku salah, karena tidak membaca toples yang berisi bubuk putih yang ternyata adalah garam. “Ma-maaf, Pak. Saya salah.” Keyna menunduk ketakutan yang menyeruak dalam dirinya. Bagaimana bisa ia melakukan kesalahan. Bahkan, ia melakukan kesalahan pada sang bosnya langsung. “Cepat buatkan aku kopi yang baru. Minta resepnya pada Lexa, dan jangan membuat kesalahan lagi. Aku masih berbaik hati tidak memecat mu, karena kau masih anak baru.” Keyna akhirnya bisa bernapas lega, saat mendengar ucapan sang bos yang masih mau memaafkannya. “Terima kasih, Pak. Saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Kalau begitu, saya pamit undur diri,” ucap Keyna yang merasa sangat bersyukur. Ia berpikir jika Alex tidak seperti orang kantor gosip kan, yang disebutkan pria kasar, egois dan dan perhitungan. Tak ingin membuang banyak waktu, wanita itu langsung turun untuk mencari Lexa. Dari awal ini memang salah dirinya sendiri, karena tidak bertanya lebih dulu pada Lexa. Keyna berlari menuju ruangan di mana Lexa berada. “Apa! Kau membuat kopi asin? Apa kau sudah gila!” hardik Lexa tak habis pikir dengan wanita yang baru saja bekerja hari ini, dan malah langsung membuat kesalahan. “Maaf, Bu. Saya salah,” ucap Keyna merasa bersalah. “Apa Pak Alex menampar mu? Atau bahkan mencekik mu? Aku tidak percaya jika Pak Alex memaafkan mu begitu saja. Apa Pak Alex mengucapkan sesuatu yang kasar?” cecar Bu Lexa dengan segala pertanyaannya, sambil melotot ke arah Keyna. Wanita itu tahu perangai sang bos yang kejam dan perhitungan. Pria itu tidak akan mudah memaafkan siapapun yang bersalah. ‘Apa Bu Lexa terlalu berlebihan, begitu pikir Keyna. Wanita itu tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. “Pak Alex tidak memukul saya, Bu. Hanya saja membentak saya.” Lagi dan lagi, Lexa menghela napasnya kasar. Ia tahu Alex pasti akan menyiapkan rencana untuk membuat Keyna menderita. “Dan kau percaya hal itu?” tanya Lexa tak habis pikir. Keyna hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Lexa menghela napasnya kasar. Ia merasa kasihan pada wanita muda ini. “Kau aku hukum lembur selama satu bulan. Ini jauh lebih baik daripada kau akan menderita secara perlahan. Ayo ikuti aku untuk melihat cara menyiapkan kopi Pak Alex.” Keyna merasa sangat bingung dengan apa yang Bu Lexa ucapkan, tapi ia hanya diam dan mematuhi setiap perintah yang Bu Lexa berikan. Kini mereka sudah sampai di Pantry. Keyna dengan serius melihat Bu Lexa yang sedang meracik Kopi yang disukai oleh Pak Alex. Hingga tak butuh lama, akhirnya kopi tersebut sudah siap diantarkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD