4. Malam Terakhir

1124 Words
Tak terasa waktu sudah sore hari. Di mana para karyawan lainnya sedang bersiap untuk pulang, tapi tidak untuk Keyna. Sesuai hukuman, ia akan lembur sampai jam delapan malam. Ia harus membereskan ruangan Alex setelah sang Bos pulang nanti. “Key, ayo pulang bersama,” ajak seorang pria yang sudah siap untuk turun. “Aku harus lembur selama satu bulan Vid,” jawab Keyna sambil tersenyum lembut ke arah David, agar pria itu tidak bertanya-tanya lagi. “Wah! Kalau kau dapat gaji besar dari lembur mu, kita harus merayakannya.” Keyna mengernyitkan dahinya, saat mendengar penuturan dari David. Wanita itu menatap David penuh selidik, kemudian menghela napasnya kasar. “Haiiss. Memangnya siapa yang mau mengajak mu. Kita tidak sedekat itu,” ucap Keyna sambil memutar bola matanya malas. “Oh ayolah, kita sekarang sudah jadi teman. Berjanjilah bahwa kau akan menerimanya, atau kalau tidak, aku tidak akan pulang.” Keyna sudah tak habis pikir dan menghela napasnya kasar sebelum ia menjawab ucapan David. “Baik, sekarang kau lebih baik cepat pulang sebelum hari semakin gelap,” tukas Keyna dengan nada mengusir. David akhirnya pulang setelah mendengar perintah dari Keyna. Wanita itu pun kembali berkutat dengan kain lap dan sebuah ember yang berisi air terebut. Namun, seketika keyna menghentikan pekerjaannya, karena sosok pria yang ada di hadapannya tengah menatap dirinya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. “Ma-maaf pak, apa ada yang bapak butuhkan?” tanya Keyna gugup, saat sosok pria yang ia ketahui adalah CEO di kantor tersebut, yaitu Alex. “Hm, apa kau sedang lembur?” tanya Alex sambil menatap Keyna dari atas sampai bawah, yang mana hal itu membuat Keyna menjadi takut dan risih dengan tatapan pria tersebut. “Benar, pak,” jawab Keyna yang masih menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah pria yang terlihat sedikit menakutkan baginya. “Hmm, nanti buatkan aku kopi seperti tadi pagi,” ucap Alex dengan nada perintah. Tak lama setelah itu, Alex meninggalkan Keyna seorang diri dan pergi menuju ruangannya. *** Tak terasa sudah satu bulan lamanya, Keyna menjalani hari-hari kerjanya dengan lembur satu bulan penuh. Ia cukup merasa lelah selama satu bulan terkahir ini. Namun, ia harus menikmatinya, demi uang agar bisa membayar uang sewa rumah sederhana yang ia tempati. Keyna pun tidak merasa bosan, karena David selalu menemaninya saat jam istirahat tiba. Keyna selalu menolak jika pria pecicilan itu menawarkan diri untuk menemaninya saat lembur. Malam ini, Keyna seperti biasa akan lembur untuk terakhir kalinya. Wanita itu sudah merasa sangat senang, karena besok juga hari libur. Namun, di sisi lain, di sebuah ruang kerjanya. Seorang pria yang tengah di penuhi kabut amarah, lantaran sang asisten membawa kabar yang sangat buruk baginya. Pria berperawakan tegap dan kokoh itu kian membuncah, tatkala satu foto sang kekasih yang sangat ia cintai tengah berciuman dengan pria lain. Foto yang didapatkan oleh sang asisten yang bernama Seth, dari orang kepercayaannya untuk menyelidik sang kekasih tuannya. Dua minggu yang lalu, Alex memang meminta Seth untuk mengirim orang, agar bisa menemukan informasi mengenai sosok wanita yang sudah lama menjadi kekasihnya, Bella. Entah apa alasannya, Alex pun tak tahu. Tiba-tiba saja ia merasa sangat penasaran dengan kegiatan kekasihnya di luar sana. Begitu terkejutnya ia, saat mendapatkan informasi jika wanita yang sangat ia cintai sedang bersama pria lain di luar Negeri. Apalagi, saat ia menerima satu foto yang dapat memporak-porandakan hatinya. Bella adalah satu-satunya wanita yang ia cintai selama ini. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang indah, bagai sebuah candu bagi dirinya. “Seth, beraninya dia mengkhianati aku. Apa dia sudah merasa dirinya hebat sekarang?” tanya Alex pada sang Seth sang asisten dengan geram. Pria itu sampai menggertakkan giginya karena menahan amarah. “Nona Bella sudah menjalin hubungan dengan pria itu sejak enam bulan yang lalu, Bos. Untuk pertanyaan yang bos tanyakan itu, saya pun belum tahu pasti,” jawab Seth dengan tegas. “Seth, tinggalkan aku sendirian. Kau boleh pulang sekarang dan jangan menungguku di sini,” ucap Alex dengan nada perintah. Seth yang mendengar titah dari sang Tuan hanya diam tak bergeming sedikit pun. “Kenapa kau diam saja? Cepat pergi dari sini!” bentak Alex penuh amarah saat mengusir Seth. “Saya hanya akan memastikan keadaan Bos saja, agar anda tidak melakukan tindakan yang ceroboh,” ucap Seth dengan santai, tanpa memperhatikan raut wajah Alex yang sudah berubah menjadi lebih suram. “Pergi atau aku akan memecat mu malam ini juga,” ancam Alex dengan mendesis, sambil melayangkan tatapan tajamnya ke arah sang asisten. “Kalau begitu, saya pamit undur diri. Jaga diri anda baik-baik Bos,” ucap Seth memperingati dan segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan tersebut. Setelah kepergian Seth dari ruang kerja miliknya, Alex pun segera mendudukkan tubuh tegap tersebut di atas kursi kebesarannya. Pria itu memejamkan matanya, sesekali menghela napas kasar. Ia tak menyangka akan terjadi hal ini. Kekasih yang sangat ia cintai, kini tega membagi cintanya. “Sial! Kau adalah wanita yang murah! Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Bell,” gumam Alex dengan geram. Pria itu meremas rambutnya hingga berantakan. Tak lama setelah itu, Alex bangkit dan mengambil wine yang ia sediakan di dalam ruangan tersebut. Tak kira-kira, pria itu mengambil tiga botol wine untuk menenangkan perasaannya yang saat ini tengah kacau. “Bella, apa yang kau inginkan, sampai tega mengkhianati aku. Aku janji akan melakukan apapun yang kau inginkan, asal kau mau kembali lagi padaku. Apa kau tidak tahu, bahwa Aku sangat mencintai mu,” gumam Alex yang tak terasa sudah menghabiskan satu botol wine. “Bella, kembalilah padaku, sayang. Aku janji akan memenuhi keinginan mu. Aku akan segera menikahi mu sesuai janji yang pernah aku ucapkan sebelumnya. Aku akan mengikuti keinginan mu untuk menunda anak. Kita bisa mengadopsi bayi orang lain, jika keluarga ku terus mendesaknya. Aku sangat mencintai mu Bell. Aku berjanji tidak akan pernah melepaskan mu,” gumam Alex yang setengah kesadarannya sudah hilang. Terdengar suara kaca pecah yang berasal dari tangan Alex, karena botol wine yang ada di tangannya tiba-tiba terjatuh. Alex mengumpat tidak jelas karena hal itu. Beberapa menit kemudian ... Keyna yang sudah terbiasa menyiapkan kopi pun, sudah siap untuk mengantarkan kopi tersebut pada sang Bos, yang kini berada di di ruangannya. Keyna berjalan menuju ruangan di mana Alex berada dengan santai. Ia justru merasa sangat senang karena besok adalah hari libur dan malam ini adalah malam terakhir hukuman lemburnya. Keyna akhirnya sudah sampai di depan pintu ruangan Alex. Wanita itu mengetuk beberapa kali pintu tersebut, tapi tak kunjung ada jawaban. Ia mengulangi hal yang sama, hingga mulai kesal dan membuka pintu tersebut secara perlahan. Keyna sangat heran karena tak melihat sang Bos di meja kebesarannya. Matanya mulai menelusuri seisi ruangan tersebut, untuk mencari sosok pria sang pemilik ruangan. Netra nya kian membulat dengan sempurna, saat melihat pria itu tengah tergeletak tak sadarkan diri di bawah sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD