6. Malam Kelam

1138 Words
Mendengar suara desahan Keyna yang baru saja keluar dari mulutnya, membuat Alex semakin bergejolak untuk melakukan lebih. Ia tak sungkan untuk menjilati leher jenjang, putih dan mulus milik wanita itu bagaikan es krim. “Apa kau menyukainya sayang?” bisik Alex di telinga Keyna dengan nada yang sensual, dan tangannya yang sudah meremas dan memillin boba yang ada di puncak gunung himalaya tersebut, hingga membuat Keyna semakin tak tahan dengan sentuhan Alex yang sangat liar. “Aku mohon jangan lakukan ini,” pinta Keyna agar Alex melepaskan dirinya. “Nikmati saja sayang,” ucap Alex sambil tersenyum devil, membuat Keyna semakin terisak sambil memukuli punggung pria itu. Setalah puas bermain-main dulu dengan tubuh indah milik wanita yang ia anggap sebagai sang kekasih. Kini, Alex pun melepaskan semua pakaiannya hingga tak tersisa, dan menampilkan tongkat pusaka miliknya yang sangat tegak tapi bukan keadilan, besar tapi bukan gedung dan berurat tapi bukan bakso, yang mana hal itu semakin membuat Keyna ketakutan, dan ingin bangkit untuk melarikan diri dari sosok pria yang sedang ada di atas tubuhnya. “Mau kemana, hum? Nikmati saja, kau pasti menyukainya. Aku akan memuaskan mu sayang,” desis Alex sambil membuka jalan untuk ular cobra miliknya. “Jangan, aku mohon, aku takut. Akhhhh!” teriak Keyna saat sesuatu yang tumpul di bawah sana sedang menerobos masuk dengan paksa, membuat wanita itu semakin terisak menahan perih yang teramat sangat. Alex yang merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana sadar, jika wanita yang ia nikmati masih virgin dan hal itu menandakan jika dia bukan Bella, melainkan wanita lain yang ia paksa. Alex berusaha menyadarkan ingatan serta penglihatannya, dan benar saja, anita yang ada di bawah kungkungannya adalah pegawai baru yang sedang lembur. Gairah yang sudah ada di ujung tanduk, membuat ia memilih untuk meneruskan aksinya. Ia pikir tidak ada gunanya menghentikan aktivitasnya, sedangkan ular cobra miliknya saja sudah masuk menerobos memenuhi goa lembab tersebut. Ia tidak menyangka jika dirinya akan memperawani gadis muda. Hal ini tentu saja adalah kebahagiaan untuknya, karena ia menjadi yang pertama bagi wanita tersebut. “Ahss! Kau sangat nikmat,” ucap Alex sambil mengecupi seluruh wajah Keyna, tapi wanita itu hanya diam sambil meringis, tak berniat untuk menjawab ucapan sang bos yang sedang menggerayangi tubuhnya dengan liar. Alex yang merasakan nikmat yang luar biasa, yang belum pernah ia rasakan saat ini, semakin b*******h dan meraba tubuh Keyna yang mungil bagaikan singa yang sedang kelaparan. Apalagi masih ada efek alkohol yang menguasai dirinya. “Pak, ini sakit, cepat lepaskan saya,” pinta Keyna memelas disertai ringisan yang memilukan. “Ahss sayang, kau sangat sempit. Sebaiknya kita nikmati saja,” ucap Alex yang mendiamkan ular cobra miliknya agar bisa beradaptasi di dalam sana. “Apa masih sakit?” tanya Alex santai dengan tatapan yang tak dapat diartikan, tapi Keyna hanya diam tak menjawab, dan hal itu membuat Alex tersenyum penuh kemenangan. Setelah merasa wanita mungil itu relaks, akhirnya ia mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan, agar Keyna tidak merasakan sakit sekaligus. “Ahhss, sayang, kau sangat nikmat. Keluarkan suara indah mu,” racau Alex sambil terus memompa tubuh Keyna hingga tak berdaya. Kamar yang sunyi kini telah diisi dengan suara desahan dan erangan dua insan yang sedang bercinta. Hanya Keyna yang meringis dan merintih kesakitan dengan kegiatan mereka malam ini. Ia sama sekali tidak menikmati malam kelam bersama sang bos, karena ia tahu hal yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Bahkan gelapnya malam sudah menaburkan rintik hujan, seolah ikut bersedih akan tragedi yang menimpa gadis malang tersebut. Satu jam kemudian ... “Lepas, saya sudah tidak kuat pak!” bentak Keyna seraya mendorong tubuh tegap milik sosok pria yang masih menggoyangkan pinggulnya. “Sebentar lagi sayang, jangan keluarkan dulu, kita sama-sama,” cegah Alex sambil mempercepat gerakannya. “Ahhhss!” Alex langsung ambruk di atas tubuh Keyna setelah mencapai pada titik puncak kenikmatannya, karena merasa lemas. Alex pun menenggelamkan wajahnya tepat di tengah gunung himalaya tersebut. Alex lupa tak segera mengeluarkan ular cobra miliknya, hingga ia melalaikan ciaran kental ular bermata satu, yang ia keluarkan itu akan segera menjadi kecebong lucu. “Cepat lepaskan milik anda!” titah Keyna yang sudah tak nyaman dengan ular milik sang bos yang masih menetap di bawah sana. Dengan segera pria itu mencabutnya, tak lupa juga ia membersihkan miliknya yang masih terasa hangat. “Terima kasih, dan sebaiknya kau tidur saja di sini. Kau bisa pulang pagi nanti,” ucap Alex sambil tersenyum meremehkan tepat di samping Keyna, karena rasa kantuk yang sangat berat. Tetapi Keyna malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Tubuhnya terasa remuk redam. Ia sudah tak bertenaga lagi, walau pun hanya untuk sekedar berbicara saat ini. Bukan hanya fisiknya yang lelah, namun hatinya ikut hancur hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk saat ini. Jika sudah begini, siapa yang akan ia salahkan, sekarang ia hanya membenci dirinya sendiri, menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Kehormatan yang ia jaga kini sudah sirna dan sudah bertabur noda sebagai jejak bahwa ia tak lagi suci. Sudah dua jam berlalu setelah Keyna tertidur di samping sosok pria yang sudah menodainya. Wanita itu terbangun dan melirik sekilas ke arah Alex dengan perasaan yang perih. Pria itu seolah tak merasa bersalah sedikit pun setelah apa yang dia lakukan. Keyna mulai bangkit hingga terduduk di atas tempat tidur tersebut, seraya menatap pakaiannya yang sudah koyak teronggok di lantai sana. Air matanya tak kunjung surut saat ia kembali mengingat perlakuan Alex yang begitu keji. Sungguh! Ia tidak akan pernah melupakan kejadian pahit ini untuk seumur hidupnya. Dengan langkah pelan dan tertatih, wanita itu turun dari atas sana dan memunguti pakaiannya yang berserakan bersama pakaian sang bos. Keyna memakai kembali pakaiannya meskipun ada beberapa bagian yang sobek, karena malam ini ia harus segera pulang dan meninggalkan tempat terkutuk itu. Ada rasa sesal di hatinya saat menolong sang bos yang tengah mabuk, hingga ia kehilangan kehormatan yang ia jaga selama ini. Setelah berpakaian lengkap kecuali kacamata himalaya dan segitiga Bermuda nya, karena sudah robek, akhirnya Keyna berlari keluar dari kantor tersebut. Tak peduli derasnya hujan di tengah malam, Keyna terus berlari menembus sepi dan sunyi nya jalanan. “Tidak! Aku sudah tidak layak untuk bertahan hidup. Siapa yang akan menerima wanita kotor sepertiku di kemudian hari, jika aku masih hidup.” Keyna berteriak sekeras mungkin di bawah derasnya air hujan. Mata sembab dan merah sudah semakin jelas tersirat di wajahnya. Bahkan kini kepalanya terasa berdenyut nyeri, seakan mampu memecahkan semua isi kepala. Tiba-tiba saja pandangannya mulai buram dan kabur, hingga ia terhuyung ke sebuah tiang di pinggir jalan. Samar-samar ia melihat cahaya dari ujung jalan, dan sepertinya itu sebuah mobil. Apakah ia akan tertabrak mobil itu dan akan segera mati. Jika iya, maka Keyna akan sangat senang. Namun, ketika pandangannya sudah kabur dan kesadarannya sudah menipis, terlihat sebuah kaki yang melangkah mendekati dirinya. ‘Apa aku akan mati sekarang,’ batin Keyna sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD