Dinginnya malam sudah berganti dengan hangatnya mentari di pagi hari ini. Terangnya sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam ruangan pribadi sosok pria, yang tengah terlelap itu mampu mengusiknya.
Alex meringis seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit, seolah akan pecah. Pria tampan itu mulai bangkit dan bersandar di ujung kepala tempat tidur, sambil mengingat kejadian semalam yang menimpanya. Sayangnya semakin ia mengingat, semakin sakit pula kepalanya.
Namun, kini matanya tertuju pada pakaian yang berserakan di atas lantai, bahkan ada sepasang dalaman warna merah milik seorang wanita. Ia kembali mengingat kejadian pada saat sebelum ia mabuk, dan ingatannya langsung tertuju pada pegawai baru yang sedang lembur.
“Akh! Siall! Sepertinya aku sudah menodainya!” geram Alex bernada frustasi. Ia tidak menyangka akan melakukan hal itu bersama wanita rendahan seperti pegawai baru yang lusuh.
Alex mencari ponselnya untuk menghubungi sang asisten, Seth. Namun, ia tidak menemukan ponselnya, ia lupa menaruhnya dan beralih pada telepon yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Sebelum ia menghubungi sang asisten, ia tersenyum penuh arti setelah mengingat kejadian semalam.
Ternyata ia ingat telah meniduri sosok wanita polos yang masih virgin, tapi ada satu hal yang ia takutkan. Ia takut jika wanita itu hamil darah dagingnya, sedangkan ia tidak ingin menikahi wanita dekil seperti Keyna. Ia masih mencintai Bella, meskipun wanita itu telah tega mengkhianatinya.
“Seth, ke ruangan ku jam delapan tepat,” titah Alex pada sang asisten di seberang sana setelah panggilannya tersambung.
“Bos, apa anda baik-baik saja?” bukannya menjawab, Seth malah balik bertanya lantaran rasa khawatirnya pada sang atasan. Sudah beberapa kali ia menghubungi Alex, tapi tak kunjung ada jawaban, dan hal itu membuatnya semakin khawatir.
“Hmm. Apa Mommy bertanya padamu semalam?” Alex kembali bertanya dengan santai.
“Nyonya Anna sudah tahu dari suruhannya bos,” jawab Seth dengan jujur.
“Baiklah, jangan lupa bawakan aku sarapan. Aku tunggu di ruangan ku.” Akhirnya Alex segera memutuskan sambungan teleponnya.
Tak ingin membuang banyak waktu, Alex pun segera membersihkan diri, karena ada rapat penting yang harus ia hadiri bersama beberapa investor. Ruangan pribadi miliknya memang sangat lengkap seperti kamar yang ada di rumah.
***
Di lain sisi, sosok wanita yang masih terlelap dalam tidurnya, mulai terusik karena rasa sakit di kepalanya yang teramat sangat. Tubuhnya terasa terbakar karena suhu panas yang menjalar. Dengan perlahan ia membuka kelopak matanya, seraya memperjelas pandangan pada satu sosok bayangan yang ada di hadapannya.
“Apa kau sudah sadar?” tanya seseorang dengan suara baritonnya. Keyna yang mendengar hal itu langsung terkejut dan membulatkan matanya sempurna.
“Arrgghh! Pergi! Pergi kau! Jangan dekati aku! pergi!” jerit Keyna sambil menjauhkan tubuhnya dari sosok pria yang ada di hadapannya. Napasnya kian memburu dengan wajah pucat pasih karena rasa takut.
“Hei tenangkan dirimu. Aku tidak berniat apapun. Aku hanya ingin menolong mu,” ucap sosok pria itu dengan lembut dan berusaha menenangkan Keyna yang sudah terlanjur ketakutan.
“Si-siapa kau?” tanya Keyna yang masih terengah-engah dengan keringat dingin yang sudah membanjiri tubuhnya.
“Aku Edwin. Kau tidak perlu takut, karena aku akan mengobati mu. Lihatlah kau begitu pucat setelah pingsan di bawah hujan deras semalam.” Edwin mulai meraih tubuh Keyna dengan penuh kelembutan agar mendekat ke arah dirinya.
Keyna patuh dan mendekat ke arah sosok pria lembut itu dengan perlahan. Ada banyak ketakutan yang tersirat di matanya, hingga Edwin mengulas sebuah senyuman manis agar Keyna tidak merasa takut dan meragukannya.
“A-apa kau seorang dokter?” tanya Keyna dengan ragu, tanpa menatap ke arah Edwin yang sudah ada di dekatnya.
“Iya, aku seorang dokter. Kau demam setelah aku menemukan mu di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Jadi aku membawa mu ke tempatku. Makanlah bubur ini, lalu minum obat mu,” tukas Edwin menjelaskan kronologinya, agar wanita muda yang ada di hadapannya tidak menaruh curiga.
“A-aku ... huuaaaa!” belum sempat Keyna melanjutkan ucapannya, tapi tangis yang ia tahan sejak tadi pecah seketika, dan itu membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri. Edwin tak mengerti dan hanya menatap Keyna dengan tatapan iba, karena wanita itu terlihat sangat menyedihkan.
“Apapun yang kau alami, jangan takut, karena esok masih ada secercah cahaya harapan. Aku tidak tahu apa yang telah kamu alami, tapi aku yakin kamu bisa melewatinya. Kamu masih muda, dan perjalanan mu masih panjang,” ucap Edwin yang kini sudah merengkuh tubuh mungil milik Keyna, yang masih bergetar hebat.
“Aku tidak ingin hidup lagi,” ucap Keyna dengan lirih dengan wajah yang tertunduk. Mendengar hal itu, Edwin langsung menjauhkan jarak diantara mereka dan menatap Keyna dengan tatapan tak habis pikir.
“Apa yang kau katakan. Kau masih muda dan seharusnya memiliki juang yang tinggi. Memang apa masalah mu hingga kau punya pikiran dangkal itu? aku akan membantu mu,” ucap Edwin dengan penuh selidik, tapi Keyna hanya menggelengkan kepalanya tak sanggup.
“Masa mudaku hancur tuan. Aku sudah tidak punya masa depan. Aku sudah kotor dan menjijikkan.” Edwin tertegun saat mendengar pengakuan dari wanita malang di depannya. Sekarang ia mengerti dengan apa yang telah dialami oleh Keyna. Edwin dapat melihat beberapa bercak merah yang ada di leher putih itu, bahkan ada beberapa jejak gigitan yang membekas berwarna merah keunguan.
“Kau tidak perlu larut dalam kesedihan ini. Bukankah di negara kita sudah menjadi hal lumrah melakukan kegiatan itu. Kau tid--.”
“Tapi itu tidak berlaku untukku tuan. Aku dipaksa, aku dilecehkan, dan aku direndahkan. Itu adalah hal yang sangat salah dalam hidupku. Itu sebuah kesalahan yang sangat besar,” sela Keyna yang kini menatap Edwin dengan tatapan pilu. Matanya sangat sembab dengan wajah yang memerah.
“Siapa namamu?” tanya Edwin kemudian. Pria itu menatap Keyna dengan tatapan iba dan ada rasa ingin melindungi pada sosok wanita malang tersebut.
“Keyna Beatrix.” Keyna menundukkan kepalanya kembali dan mulai menangis.
“Kau jangan takut lagi, karena mulai sekarang aku yang akan melindungi mu,” ucap Edwin dengan tegas, hingga membuat Keyna mendongak tak percaya. Bagaimana mungkin ia percaya pada sosok pria asing yang baru saja menolongnya. Ia ragu mengambil keputusan.
“Apa kau meragukan ku?” tanya Edwin kemudian, karena tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan wanita itu terlihat sangat takut dan mulai menjauhkan tubuhnya.
“Tidak ada yang bisa aku percaya di dunia ini,” jawab Keyna dengan lirih. Edwin mengerti dengan kondisi wanita itu, dan tidak seharusnya ia memberikan beberapa pertanyaan itu.
“Percayalah, aku tidak akan mengecewakan mu.”