Keyna menatap Edwin dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Wanita itu baru saja menghentikan tangis yang sejak tadi ia tampilkan. Melihat sebuah tatapan sendu dari wanita yang ada di hadapannya, Edwin pun menganggukkan kepalanya tanda ia bersungguh-sungguh akan melakukan apa yang ia katakan.
“Bisakah aku percaya pada tuan?” tanya Keyna dengan penuh harap.
“Kau harus melakukannya, dan mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi. Panggil kakak saja,” pinta Edwin dengan lembut. Keyna menganggukkan kepalanya pelan, dan perlahan dirinya merasa relaks.
“Kak, aku ingin pulang,” ungkap Keyna dengan ragu. Edwin mengernyitkan dahinya dan menatap Keyna dengan penuh selidik.
“Apa kau sedang berbohong padaku dengan pura-pura percaya?” Keyna menggeleng, hingga terdengar suara isakan kecil dari sosok wanita cantik tersebut.
“Tolong beri aku waktu sendiri kak. Aku hanya ingin sendirian,” jawab Keyna dengan memelas, tapi Edwin hanya diam tak bergeming sedikit pun dari tempatnya.
“Kau ingin melakukan tindakan bodoh hingga meminta waktu untuk sendiri. Kau belum memakan sarapan mu dan juga belum minum obat. Sebentar lagi aku akan pergi ke rumah sakit, dan akan ada Bi Lani yang menjaga mu di sini, aku harap kau tidak melakukan tindakan konyol apapun itu dan istirahatlah yang baik,” ucap Edwin dengan tegas.
“Apa yang mengganti pakaian ku juga Bi Lani?” tanya Keyna penasaran. Ah! Sepertinya Edwin paham sekarang. Wanita itu mengira ia yang sudah mengganti pakaiannya dan mulai meragukan apa yang ia ucapkan. Cukup menggemaskan, begitu pikir Edwin.
Edwin terkekeh seraya mengelus puncak kepala milik Keyna. Wanita itu sangat menarik dan menggemaskan. “Jadi, karena itu kau meragukan aku? kau berpikir aku yang sudah melakukannya?” Keyna mengangguk dan merasa sangat malu.
***
“Bos, apa terjadi sesuatu tadi malam? Maksud saya kejadian saat anda tengah mabuk,” tanya Seth sang asisten dengan hati-hati, karena takut menyinggung perasaan sang bos.
“Hm, aku harap ini tidak menjadi masalah besar Seth. Aku sudah menodainya,” jawab Alex dengan nada frustasi. Jujur ia merasa terganggu karena itu pengalaman pertama baginya menyentuh seorang wanita. Sedangkan saat bersama dengan Bella, ia hanya sekedar berpelukan dan berciuman saja.
“Maksud bos? Siapa wanita itu?” tanya Seth penasaran. Jujur saja ia sangat terkejut mendengar pengakuan dari sang atasannya yang telah menodai wanita, karena yang ia tahu bos-nya adalah seorang pria yang tidak sembarangan menyentuh wanita.
“Aku lupa namanya, tapi dia pegawai baru di perusaahan ini. Aku ingat saat menyentuh setiap lekuk tubuhnya, dan dia masih virgin,” ungkap Alex sambil menghela napasnya panjang. Ia hanya berharap jika wanita itu mau diajak kerja sama untuk menutup mulut.
“Apa bos yakin?” Alex mengngguk lemah sebagai tanda jawaban.
“Lalu, bagaimana menurut bos tentang wanita itu. Apakah dia terlihat sangat berbahaya?” tanya Seth yang harus siap siaga melindungi sang bos, apapun yang terjadi.
“Entahlah, tapi aku lihat dia masih muda dan sedikit lugu. Mungkin itu satu keuntungan bagiku, tapi bagaimana jika dia mengandung anakku.” Alex terlihat sangat gusar tatkala mengingat kemungkinan-kemungkinan besar, yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang.
“Apa bos akan bertanggung jawab dengan menikahi wanita itu?”
“Tidak mungkin aku menikahi wanita rendah seperti dia Seth. Sudahlah, kapan kita akan rapat?”
“Sepuluh menit lagi bos.”
***
Satu bulan telah berlalu ...
Hari demi hari telah Keyna lalui dengan berdiam diri di rumah Kost kecil dan kumuh. Wanita itu tidak berani keluar setelah kejadian malam tragis yang menimpanya. Namun, Edwin selalu menjaganya dengan sangat baik, sesuai dengan ucapan yang pernah pria itu katakan.
Keyna meminta cuti dari kantor dengan alasan sakit dan harus berobat rutin. Jangan tanyakan Edwin saat-saat tersulit bagi Keyna, karena pria tampan itu selalu menjenguknya sebelum dan sesudah pulang kerja dari rumah sakit.
Sudah satu Minggu terakhir ini, Keyna merasa sering pusing dan mual. Perutnya seolah terkoyak hingga isinya ingin dikeluarkan semua. “Ahh! Kenapa kepala ku terasa sangat sakit.” Rasanya ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang menggerogoti kepala dan perutnya.
Namun, ia terkejut saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Ia yakin jika itu adalah Edwin, karena pria itu sudah biasa menemuinya di waktu tertentu. Dengan langkah tertatih ia mendekati pintu dan membukanya secara perlahan. Benar saja, pria tampan nan lembut itu sudah ada di depan sana dengan seulas senyum yang mengembang sempurna.
“Keyna, apa yang terjadi? apa kau sakit?” tanya Edwin tatkala melihat raut wajah Keyna yang sudah sayu dan pucat pasih.
“Aku hanya sakit kepala biasa kak. Kakak tidak usah khawatir,” jawab Keyna berusaha menenangkan sosok pria yang tengah panik melihatnya.
“Tidak Key, wajahmu sudah sangat pucat bagai mayat. Lalu, bagaimana bisa kau mengatakan baik-baik saja. Ayo kita ke rumah sakit bersama dan periksa keadaan mu,” ucap Edwin dengan nada memaksa. Keyna dapat melihat raut wajah cemas dari sosok malaikat berwujud manusia itu.
“Tapi kak ak--.”
“Apa yang kau tunggu, hm. Aku tidak akan membiarkan mu sakit seperti ini. Kunci rumah dan ayo berangkat sekarang juga.”
Akhirnya Keyna patuh dan mengikuti Edwin untuk periksa ke rumah sakit. Keyna juga tidak ingin terus-menerus membuat Edwin khawatir dengan penyakitnya, hingga ia harus patuh agar tidak merepotkan pria baik itu.
“Kak, aku hanya sakit biasa. Kenapa sampai harus ke rumah sakit?” tanya Keyna saat sedang dalam perjalanan.
“Tetap saja kau harus diperiksa. Jadi anak yang patuh, karena ini demi kebaikan mu.” akhirnya Keyna diam dan mengikuti apa yang Edwin katakan.
***
“Selamat Tuan, istri anda hamil selama tiga Minggu. Ini hasil laporan kami, dan ini resep obat untuk pengurang rasa mual. Sekali lagi selamat, saya permisi dulu,” ucap sosok dokter dengan senyum yang merekah indah. Tetapi tidak bagi sosok wanita yang tengah terbaring di atas brankar sana.
Keyna mematung setelah mendengar penjelasan dari sang dokter. Ia tidak bisa mengatakan apapun selain air mata yang menetes tanpa izin. Bahkan lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sebuah kalimat.
“Key ....” Edwin yang melihat Keyna hanya diam tak bersuara mencoba untuk menenangkan wanita itu. Ia mendekati Keyna dan mencoba menghapus lelehan bening yang mengalir deras di pipinya.
“Katakan ini tidak benar kak. Ini pasti hanya mimpi kan? Atau ini rencana kakak yang ingin menakuti ku. Katakan padaku kak! Katakan bahwa semuanya tidak benar! Aku tidak mungkin hamil.” Keyna mengguncangkan tangan Edwin dan menuntut jawaban, yang sebenarnya sudah ia ketahui.