Dilema

1099 Words
Aku terpaksa berbohong, padahal aku tak bawa makanan. Aku juga tak merasa kelaparan. Entah mungkin aku kehilangan selera makanku, meski itu terdengar mustahil. [Lagi di mana? Aku di depan, nih.] Aduh, aku mau jawab apa. Aku lagi malas berbicara dengan siapa pun, apa lagi Agus. Kalau aku tak jujur dia pasti bertanya dengan Kak Helen. Lagi pula seberapa besar sih, puskesmas di sini untuk aku menghindari dari Agus. [Di mana?] Tanyanya lagi. [Aku di musola] Tak lama setelah pesan itu kubalas, Agus muncul dengan sekantong jajanan. "Udah salat?" "Belum," jawabku setengah malas. Duh, Agus kenapa sih, ikutan ke sini. "Kamu, mau salat? Salat sana," perintahku lagi. "Iyalah, emangnya kamu, Lis. Mood-mood enggak jelas." "Ish, apa sih, Gus?" Apa aku curhat saja sama Agus, waktuku tinggal beberapa bulan lagi tetapi aku tidak mau dijodohkan. Apa lagi dengan orang yang tidak dikenal. Mau membantah Mama? Aku tidak punya calon. Aduh, begini amat nasibku. "Eh, malah ngelamun. Besok mau ikut penyuluhan lagi enggak?" "Hah. Apa?" "Tuh, kan, kayaknya kamu lagi ada masalah, Lis." "Aku cuma lagi enggak enak badan, Gus," kataku dan berujar lagi, "Besok ajak teman yang lain aja," sambungku. Sebenarnya aku mau ikut, dengan begitu aku bisa bertemu Abi. setidaknya bisa mengobati sedikit rinduku. Aih. Ya, meskipun perasaanku pada Abi tak berbalas. Aku tak peduli. "Masa? Yakin?" "Heem." Aku mengangguk. Kini sekelumit tanya mulai memenuhi isi kepalaku, baru dua minggu aku mengenalnya. Namun, perasaanku begitu kuat. Terlebih lagi setelah melihat f*******: Abi, aku merasa benar-benar menyukainya, foto-fotonya selalu terbayang di pelupuk mata. Akan tetapi semua berubah menjadi rasa takut, akan terulang lagi kegagalan menjalin hubungan ketika di awal-awal kuliah. Kenangan itu seperti cambuk yang memecut diriku agar tidak gegabah untuk jatuh cinta lagi. Ya, aku pernah merasakan yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan, rasanya sakit sekali. Apalagi dahulu itu cinta pertama, rasanya benar-benar sempurna sakitnya. Aku jatuh cinta pada temanku sendiri, tapi untungnya aku cepat bangkit setelah mampu membuang jauh-jauh semua rasa cinta itu. Memang tak mudah butuh waktu bertahun-tahun agar aku benar-benar bisa melupakannya. Sedih, bila ingat masa laluku. Semua kenangan manis tentang cinta semasa kuliah harus kandas di tengah jalan. "Eh, ngelamun lagi. Istirahat di ruang sana! Jangan ganggu orang salat," ucap Agus. "Iya, iya." Aku menggeser posisi dudukku. Kadang terlintas ide jahil dalam hatiku saat melihat Agus yang begitu perhatian, aku ingin mengajaknya kerja sama jadi pacar bohongan selama beberapa bulan saja. Ya Tuhan, pikiranku ke mana-mana lagi. ini otak kenapa, sih? Baper sendiri? Kepikiran sendiri. Aku benar-benar galau. Apa aku salah? Salahkah secepat ini aku menyukainya? Bagaimana cara mengungkapkan perasaaanku? Apa aku harus mengungkapkan perasaanku duluan? Duh, gensi kan? Lagi pula Abi belum tentu menyukaiku dan aku harus belajar mengubur perasaanku. Bagaimana pun aku harus siap satu hal, cintaku mungkin saja bertepuk sebelah tangan. "Kamu kenapa sih, Lis? Ayo cerita. Masa sama aku main rahasia-rahasian." Lagi-lagi ucapan Agus membuyarkan lamunanku. Apa kutanyakan saja sama Agus, barangkali Agus bisa membantuku jadi Mak Comblang. Tiba-tiba saja pikiran gila muncul di kepalaku. Apa aku harus pura-pura mintak nomor Abi? Oh, itu enggak mungkin yang ada aku jadi bulan-bulanan si Agus. Ish, Sulis! kenapa sih, seperti murahan sekali! Aku mengejek diri sendiri. "Apaan sih, Bang? Mau tau aja urusan cewek-cewek." Aku sengaja mendengungkan suara sambil mengedip-ngedipkan mata menggodanya, Agus menatapku heran. "Kesambet setan?" tanya Agus. Aku terbahak. Oke. Baiklah, mulai hari ini aku tak akan menyerah saja pada Mama. Mengakui ketidakmampuanku sendiri mencari jodoh. Dan aku akan lebih gigih mendekati Abi. Ingat kan kata "Sebelum janur kuning melengkung". Masih ada waktu mengubah perjodohan ini, mengubah penampilan dan juga mendekati Abi pastinya. Semangaaat, teriakku dalam hati. "Gus! Ada kecelakaan di UGD." Aku dan Agus saling tatap sebentar kemudian cepat melangkah ke UGD. Memasuki ruangan UGD puskesmas, aku dan Agus sudah disuguhi pemandangan yang menyesakkan d**a, banyak orang di dalamnya serta suara tangis dan rutukkan di mana-mana. Ruangan ini begitu sempit untuk menampung orang-orang serta sumpah serapah yang bersahut-sahutan. Belum lagi aroma yang tak karuan entah dari warga, entah dari darah yang kecelakaan sehingga perutku menjadi mual. Alih-alih ikut prihatin melihat pasien aku malah bertambah kesal dengan kelakuan ibu-ibu yang mengoceh di sana-sini. "Maaf, ya, semuanya boleh tunggu di luar. Hanya satu orang yang diizinkan masuk." Aku membuka pintu UGD lebar-lebar, beberapa orang sudah mulai keluar, sedangkan ibu yang lain masih berdiri di samping tempat tidur pasien. Memang memprihatinkan melihat pasien itu terbaring dengan luka yang masih mengeluarkan darah segar, ada juga lebam di muka dekat sudut matanya, cukup lebar dan aku meyakini lebam itu sudah lebih dari sehari. kasihan sekali nasib perempuan ini, mana lagi hamil besar. "Maaf, Bu. Keluar dulu ya, cukup satu orang saja yang menunggunya. Kasihan dokternya, Bu. Tidak bisa fokus kalau rame seperti ini. Mohon tunggu di luar, ya," perintahku dengan sopan. Tetapi tak dihiraukan beberapa orang yang masih menangis di samping pasien. "Ayok, Buk. Ini pasiennya mau diobat tidak?" tanyaku sedikit meninggikan suara, karena dengan begitu mereka mengerti untuk cepat keluar. Pasien harus ditangani secara cepat, pikirku. Setelah kondisi pasien dipasangkan infus. Dokter Ridwan datang memeriksa pasien. Suasana tegang meliputi semua yang ada di ruangan kecil ini. Akibat kecelakaan tersebut ibu yang sedang hamil sembilan bulan itu harus mengeluarkan bayinya karena pendarahan hebat. Agus mengambil sampel darah yang dibawa ke laboraturium, sedangkan aku menemui keluarga meminta mereka menyiapkan orang yang bergolong darah sama untuk transfusi ke pasien. Dokter Ridwan memerintahkan memanggil Kakak Wulan ke puskesmas, beliau adalah bidan senior di puskemas ini yang kebetulan lagi izin kerja karena anaknya sakit. Setelah berjuang kurang lebih empat jam, akhirnya perjuangan pasien berbuah indah. Suara tangisan bayi menggelegar memecah kesunyian sore, bak alunan nyanyian, kami semua berucap hamdalah. "Selamat ya, Dokter dan Kak wulan," ucap Om Dani setelah melihat perjuangan mereka. Kejadian sore ini termasuk langka di puskesmas, pertama pasien adalah korban kecelakaan yang cukup parah sehingga beberapa jahitan di kakinya karena luka robek. Ke dua korban sedang hamil besar, kecelakaan yang di alaminya memberikan pengaruh pada janin di dalam. Ke tiga, ini kali pertama aku tugas di sini membantu menolong orang melahirkan. Sebenarnya aku tak banyak membantu hanya pengambil alat-alat yang diminta Dokter Ridwan dan Kak Wulan. Tetapi aku sudah cukup senang, setidaknya aku membantu si pasien memompa semangatnya mengeluarkan sang bayi. Kasian sekali tenaga terkuras habis-habisan, kecelakaan sekaligus melahirkan. "Ini bayi perempuan kalian sudah hadir, sehat dan cantik, masyaallah. Mana bapaknya biar di azankan," ucap Dokter Ridwan sambil mengendong bayi, yang baru saja dibersihkan suster. Namun, bukannya menjawab si Ibu yang menemani pasien itu malah menangis tergugu. "Suaminya menikah lagi, Dok." Setengah tak jelas si Ibu berkata. "Dia kecelakaan gara-gara ngejar suaminya, yang setiap pulang meninggalkan lebam. Suaminya datang ke rumah mau menjual cincin kawin mereka. Dok."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD