Kami semuanya terdiam, Dokter Ridwan memang tak tahu soal suami Wina. Ketika dokter yang telah memiliki tiga anak itu datang, ruangan sudah kondusif, tidak ada lagi ratapan panjang dari orang-orang yang menjenguknya.
Benar, kata mereka harusnya Arya, suaminya Wina yang mendampingi, menghapus air mata istrinya. Harusnya Arya mencium kening sang istri, karena dia telah berjuang dengan mempertaruhkan nyawa menghadirkan buah cinta mereka ke dunia. Namun, tangan Arya-lah yang membuat sang istri melahirkan sebelum genap sembilan bulan. Kemudian membuat luka di sekejur tubuh dan juga hatinya.
Aku dan teman yang lain tak bisa berbuat banyak, hanya saja, setelah Wina sembuh kami ingin memberikan terbaik untuk wanita malang itu, setidaknya dia tidak lagi merasakan KDRT dari sang suami. Kami pun masih menggenggam erat tangan Wina, memberinya sedikit rezeki dan mencoba menyalurkan kekuatan, serta menunjukkan bahwa dia begitu berharga untuk anak-anaknya.
Bukankah, sudah saatnya kaum perempuan sepertinya berjuang untuk kebahagian sendiri dan juga anak-anaknya.
"Kalau, Pak Dokter bersedia. Bapak saja yang azankan," kataku memberi saran, mencoba memfokuskan kembali pada pasien.
"Iya, Dokter saja, kasian Ibu ini." Kak Wulan menambahkan.
Dokter Ridwan memang terkenal ramah, laki-laki itu tidak hanya mengazani si bayi, tetapi dia juga memberikan beberapa lembar uang untuk pasien.
Beruntungnya di puskesmas sini semua seperti keluarga, saling menjaga dan pasti saling melindungi. Jangankan sesama pegawainya, sama pasien yang memprihatinkan seperti ini kami tidak tinggal diam, saling membantu.
Di ruang terpisah Om Dani dan Kak Helen, juga Kak Rio memberi arahan siapa yang menunggu puskesmas malam ini. Karena tidak memungkinkan pasien yang belum puluh disuruh pulang dan tidak ada pendamping.
Hari sudah menunjukan pukul lima sore, setelah menunggu efek obat sang dokter, dokter, Om Dani dan Kak Wulan akan pulang.
"Dok, kita butuh berapa kantong darah lagi? Di lab tinggal satu, Dok." Agus yang datang dari ruang laboraturium memberikan informasi persediaan darah tinggal sedikit. Itu berarti kita harus memberi tahu keluarga pasien untuk berjaga-jaga.
"Kita lihat perkembangannya nanti, ya. Siapa yang malam ini bertugas?"
"Saya, Kakak Helen, Agus sama Pak Timo. Dok," kataku menerangkan.
"Iya, hubungi saya kalau ada apa-apa, ya?"
"Siap, Dok." Aku dan Kak Helen serentak menjawab, beruntungnya si bayi sehat selamat, sedangkan si Ibu harus berjuang lagi.
"Sejak kepergian suaminya, Wina jadi lebih pendiam dan sering melamun," ucap Ibu Halimah, yang tak lain adalah kakak kandung si pasien, entah siapa yang memintanya bercerita. Aku dan Kak Helen saling melempar senyum prihatin. Namun, tak bisa berbuat banyak selain mendengarkan ceritanya.
"Suaminya, Arya," sambung Ibu Halimah, "Sudah berulang kali main kasar dengan istrinya. Setiap pulang ke rumah mengambil barang mau dijual untuk istri mudanya. Belum lagi perlakuan ibu mertuanya yang terus menyalahkan Wina. Karena ndak bisa jaga suami sendiri. Ya Allah Gusti. Awakmu wes loro Win, ojo di loro-loro ne. Cere toh rapopo ketimbang makan ati, iya, kan, Bu?"
Aku dan Kak Helen cepat mengiakan dengan mengangguk. Suasana yang tadi hening hanya tagisan dan ratapan Ibu Halimah berubah heboh ketika kedatangan Agus. Laki-laki itu dan Pak Timo baru saja pulang membeli makan malam kami di sini, delapan bungkus sate dan gorengan masih terbungkus rapi.
"Ya, kalau main tangan bisa dilaporkan ke polisi, Bu. Biar kapok." Agus datang langsung memberikan komentarnya. "Ini namanya, KDRT, Bu." Tambahnya lagi.
"Ibu tuh, kasian Gus, sama Wina, belum anaknya masih kecil-kecil. Jangankan mau ngasih nafkah! ini malah datang nyakitin anak istri."
"Nah, itu maksud saya, Bu. kasihan juga anak-anaknya."
Ibu Halimah masih tergugu, air mata dan isakkannya memenuhi ruangan tunggu pasien.
"Wes, Bu. Sekarang kita makan dulu. Nanti kalau Mbak Wina sudah sembuh bisa diurus lagi." Kak Helen menyodorkan sebungkus sate.
Malam ini suasana begitu hening, udara juga begitu dingin menusuk kulit. Semua orang tengah sibuk menyantap makanan.
Sedangkan si pasien Wina dibuai mimpi di peraduan, mungkin dia belum merasakan apa-apa karena obat bius diluka masih berkerja dengan baik. Setelah makan aku izin ke musola untuk salat Isya dan cuci muka.
Aku dan Kak Helen tidur di ruangan dokter, sedangkan Agus dan Kak Rio tidur di ruang laboraturium dan Pak Timo di ruang tunggu depan. Sedangkan Wina dijaga Ibu Halimah dan adiknya.
Mulanya aku tidak bisa tidur nyenyak, pikiran kalut antara takut, dan tidak nyaman karena kali pertama tidur di puskesmas. Setelah itu aku benar-benar terlelap, aku sadar dari tidur setelah Kak Helen membangunkan aku untuk salat Subuh.
Aku lekas bangun, berwudu, dan salat di musola, sementara Kak Helen dengan telatennya pagi-pagi sudah mengurus si Wina. Beruntung bayi Wina sudah di bawa pulang diberikan s**u bantuan sampai kondisi ibunya membaik. Kalau tidak pastilah malam ini kami juga kerepotan mengurus bayinya.
Pukul menunjukan jam tujuh pagi, Pak Timo sudah menyapu halaman puskesmas, sedangkan Agus dan Kak Rio belum juga bangun. Aku izin pamit pulang, begitu juga dengan Kak Helen. Setelah urusan Wina selesai, kami berdua segera pulang. Karena sebentar lagi pegawai lain juga akan berdatangan dan bisa bergantian mengurus Wina.
Sebelum aku pulang, Kak Helen sempat bertanya di area parkir.
"Memangnya Abi kenapa, Lis?" tanya Kak Helen yang diiringi dengan senyuman. "Suka?" tanyanya lagi.
"Hah, maksudnya apa Kak?"
Bukan menjawab Kak Helen malah tersenyum dan izin pamit karena sudah dijemput suaminya, semantara aku kebingungan sendiri. Kok, Kak Helen pagi-pagi nanya Abi ke aku! Emang aku kenapa?
***
"Nyenyak tidurnya, Lis?" Tatap Agus seperti ingin memulai meledekku.
"Mimpi ketiban duit tiga miliyar. Eh, bangun-bangun pegel semua badanku," jawabku asal.
"Pasti kecapean ngitung duit, tuh," tanggap Agus dengan serius.
Aku terbahak, candaan kami memang absurd. Kadang susah membedakan yang mana bercanda dan seriusan.
"Jeles, ya? aku dapat tiga miliyar," ledekku.
"kalau masih mimpi, tiga miliyar itu kecil, Lis,"
ucap Agus tanpa melihatku. "Sana nikah cepat- cepat, biar enggak ada lagi yang gosipin kita."
"Lho, kok, jadi nyuruh nikah, sih, Gus," tanyaku diakhiri dengan tawa yang ditahan.
Bagaimana bisa cerita dari mimpi dapat uang tiga miliyar, kemudian berubah memintaku menikah cepat-cepat? Ah, sepertinya Agus, punya sinyal tersembunyi yang saling terhubung dengan Mama, apa saja yang dibicarakan bisa lari ke pernikahan.
"Katanya kemaren kamu mengigau Abi, ya? Kenapa Abi?"
"Hah? kata siapa? enggak usah ngada-ngada, ih," ucapku setengah tak yakin dengan omongan Agus.
"Makanya, kalau tidur baca doa, jangan ngayal berondong. ingat umur."
"Aguuus!" Aku melemparkan pena di tanganku berharap sekali benda mungil itu mengenai wajah, langsung mencoret-coret mukanya. Ugh, Agus benar-benar menyebalkan.
Aku tahu arah pembicaraan Agus. Kalau kutebak mungkin ada lagi yang bertanya dengannya. "Kalian kapan lagi, nih? teman makin sold out, ya."
Aneh!
Terus darimana dia tahu soal Abi? Jangan-jangan Agus hanya asal menebak saja, karena aku yakin sekali selama ini aku tidak pernah bercerita dengan siapa pun. Kupikir rahasiaku menyukai Abi tak ada yang tahu, lantas kenapa Agus bertanya tentang Abi?
Ah, sudahlah Agus memang begitu asal saja kalau bicara. Selalu membuat mood-ku berantakan dengan mulutnya itu. Kadang tak habis pikir aku dengan mereka yang suka menjodoh- jodohkan kami. Perasaanku tak sedikit pun untuk Agus, tidak hanya menjodohkan, bahkan pegawai di sini ada yang bernazar kalau kami bisa menikah. Beliau bersedia membayar sewa hiburannya. Terdengar lucu, kan?
Padahal rasaku benar-benar tak lebih dari seorang sahabat, sedikit pun tak ada rasa kekagumanku layaknya kekasih. Meskipun hanya Agus yang mampu memahamiku. Namun, tetap saja perasaan itu tak mudah dipaksa.
"Abi anak motivator KB, itu kan yang kamu maksud."
"Hah?" tanyaku, aku terkesiap serasa ada sesuatu yang menjanggal di tenggorokanku, seketika mataku membulat tak percaya. Kenapa balik lagi membahas Abi? Sedangkan jauh di dalam hatiku ingin melupakan Abi walaupun hatiku terasa berat.
"Jangan memfitnah, nyebar-nyebar gosip enggak jelas," ucapku mengelak yang diakhiri tawa yang dipaksa.
"Kok, fitnah? Udah heboh tahu! Ayo mengaku saja Lis, ada hubungan apa dengan Abi?" Pertanyaan Agus membuatku salah tingkah kehabisan kata-kata. "Jangan malu, ayo cerita sama aku," imbuh Agus.
Aku celingak-cilinguk memperhatikan di sekitar, untunglah tak ada orang lain. Aku kan bisa malu kalau yang lain tahu. Masa seleraku brondong, meskipun aku akui setiap mendengar nama Abi, aku jadi salah tingkah mungkin juga wajahku merona, semringah. Ya Tuhan, aku benar-benar seperti bocah yang baru mengenal cinta.
"Gus, kalau kamu dijodohin sama orang yang enggak kamu kenal, kamu mau, ya, Gus?"
"Tergantung kalau cantik, aku langsung terima. Kenapa?"
Aku tak menjawab pertanyaan Agus.
"Kamu dijodohin?"
"Sama siapa?"
"Kalau ganteng terima aja, Lis."
"Masa orang tua kamu mau ngecewain anaknya, enggakkan?"
"Ya, udah, terima aja. Kapan lamarannya?"
"Astaga, Agus. Enggak bisa, ya, nanya satu-satu?" Aku menghela mencoba mencari jawaban pertanyaan Agus yang bederet itu.
"Ya, kalau bisa sekalian kenapa enggak," kata Agus.
"Sayangnya cewek sama cowok itu beda, Gus. Kalau cewek enggak bisa lihat dari fisiknya saja. Harus ada kenyamanan hatinya. Cewek lebih make perasaan. Aku enggak bisa bayangin hidup berumah tangga sama orang yang enggak aku kenal sama sekali, enggak ada rasa sama sekali. Walaupun ada yang bilang cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan. Terus kalau seandainya yang dijodohkan ke aku itu sebenarnya juga enggak mau sama aku gimana? Sulit ke depannya iya, kan, Gus?"
Agus tak segera menjawab. Kulihat laki-laki itu mengernyitkan dahi sebentar lalu berujar, "Aku enggak bisa ngasih saran sebelum kamu benar-benar cerita semuanya. Tentang Abi juga. Aku lihat kamu di penyuluhan kemaren memperhatikan Abi terus. Suka? Cerita dulu, Lis. Aku enggak bisa kasih saran kalau enggak tahu apa masalahnya. Ayo cerita," kejar Agus lagi.
"Malas, Gus."
"Ya, udah aku sih, enggak bisa maksa. Senyaman kamu aja lah Lis. Tapi kalau mau aku bantuin ngomong aja, ya? Enggak baik juga mendam masalah sendiri yang ada nanti tambah stres terus larinya ke makanan terus ya, gitu lah pokoknya." Agus menyengir memperlihatkan giginya.
Aku terbahak awas kau Agus, tunggu tanggal mainnya. Kau pasti kaget melihat penampilanku.
"Kamu enggak apa-apa, ya, Gus, dekat-dekat aku?" tanyaku.
Bukannya menjawab kini Agus yang malah terbahak-bahak mendengar pertanyaanku.
"Kamu udah jinak, kenapa takut haha." Agus terbahak lagi sampai-sampai laki-laki dengan gaya rambut cepak itu memegang perutnya.
"Ish."
"Enggak rabies juga, kan?" tanya Agus.
"Aguuus!"
"Kamu enggak takut, orang-orang menyangka kita pacaran?"
"Ngapain dengar omongan orang. Ngapain juga, tuh, orang ngomongi kita? Kayak enggak ada kerjaan. Emang kita artis?"
"Keluargamu maksudku, Gus." Aku melemah, kadang aku merasa tidak nyaman bila ada keluarga Agus yang menatap kami seperti sepasang kekasih.
"Keluargaku enggak ada masalah, Lis. Yang penting orang tuaku tahu kita cuma temanan."
Aku mengangguk paham. Lagi pula kalau pun ada yang gosipin ya biarkan saja. Kenapa memusingkan diri dengan omongan orang. Toh, selama ini Agus juga tak pernah mengungkapkan perasaannya.
Entahlah, rasanya tak habis pertanyaanku. Selain Agus, Om Dani juga berubah. Biasanya dia paling cerewet kalau aku ikut ke lapangan. Padahal kan sudah menjadi tugas seorang bidan bisa ikut imunisasi, atau vaksin anak ke sekolah-sekolah.