Khayalan

1763 Words
Kulihat Agus menarik napas berat, pandangannya lurus, matanya menerawang. Entah apa yang dipikirkan Agus. Aku mengabaikan seolah tak peduli dengannya, kami sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sendiri masih pusing dengan keinginan Mama, yang sebentar lagi akan mengenalkanku dengan anak temannya. "Mau nitip enggak? Aku mau isi pulsa." Agus berdiri meraih dompetnya di tas dan memasakukannya di saku baju. "Enggak," ucapku. "Jangan mendam masalah sendiri, kapan pun kamu mau, cerita aja, ya?" kata Agus sambil keluar dari ruangan ini, dan aku membututinya sampai ke ruang utama puskesmas. Suasana sudah sepi jam berbentuk oval di dinding menunjukan angka dua. "Kak Sulis, mana Agus?" tanya Abi dengan suara khasnya, yang entah sejak kapan dia berdiri di sana. Abi mendekati meja kerjaku, dia berdiri dengan kaus oblong, dan jeans hitam membuat wajahnya makin manis ketika jabang-jabang di pipinya sedikit lebih tipis, terlihat lebih rapi dan macho. "Hallo." Abi melambaikan tangannya tepat di wajahku. Seketika aku terkesiap, "O, iya, maaf maaf," ucapku. "Enggak apa-apa, Agus mana?" tanya Abi lagi, yang diiringi senyuman manisnya. Seketika aku tercekat, dadaku tiba-tiba berdebar tak karuan. Jarak kami yang begitu dekat membuatku takut bila Abi bisa mendengar debaran yang kurasa. Bak dihipnotis aku terdiam membeku, sedangkan jariku menunjuk ke sembarang arah. Bukan di konter pulsa depan puskesmas. Tiba-tiba aku merasa udara berubah begitu cepat, yang sebelumnya terasa panas mendadak berubah menjadi dingin nan syahdu. Seketika, kami terhampar ke suatu tempat yang sulit aku jelaskan, ada butiran-butiran salju seakan turun menemani pertemuan aku dan Abi siang ini. Kurapatkan tubuh ke samping Abi sambil memandangi bulir salju yang mengembun di kaca jendela. Kini tubuhku dalam dekapan Abi, tetapi tanganku perlahan bergerak, menempelkan jari telunjuk ke dinding kaca. Lalu menggambarkan bentuk love yang didalamnya ada tulisan namaku dan nama Abi. Aku tersenyum melihat bentuk love yang baru saja kuukir, sedangkan Abi hanya memberiku seulas senyum sambil mengeleng-geleng mengusap pucuk kepalaku "Bagus, ya?" tanyaku pada Abi. Abi mengangguk tak henti memberikan senyumnya. Tatapannya begitu teduh, lembut belaiannya di rambutku, pelukannya juga terasa hangat. Aku terbuai suasana yang tanpa sadar mataku memejam perlahan seolah ingin menyambut bibir Abi yang mendarat sempurna di keningku. Ah, aku terlena dibuatnya. Perlahan aku membuka mata melihat tubuhku masih dalam dekapan Abi, membuatku tanganku tergerak mengukir kembali bentuk love yang diberikan tanda panah. Seperti lambang-lambang cinta yang sering aku lihat di televisi. Semuanya benar-benar terasa indah dan nyata, awalnya kami sama-sama tersenyum melihat ukiran itu. Namun, di seperkian detik semuanya berubah ada yang memanggil namaku dengan keras. "Sulis! Hello!" Abi kembali melambaikan tangannya tepat di wajahku. "Hei!" "Sulis! Ini anak ngigo, ya." "Hah?" Aku gelagapan tak mampu bersuara, wajah Abi begitu dekat hingga aku kesulitan mencari kesadaranku. Ini seperti mimpi. "Eh, malah bengong. Mana Agus?" "Siapa?" "Agus, ada yang mau aku tanyain." "Hah, siapa tadi?" ulangku lagi. "Di sana." Lalu aku menunjuk lagi dengan asal-asalan. Abi tersenyum sebelum meninggalkan aku sendiri yang kebingungan mencari kesadaranku. Aku pun bersusah payah mengumpulkan hayalanku yang tercecer di sana-sini. Duh, Abi tega sekali memutuskan hayalanku begitu saja. Sekarang mana bentuk love yang kuukir tadi? Mana saljunya? Di Indonesia turun salju? Mana? Ah, mana mungkin juga Abi mengusap pucuk kepalaku. Astaga, indah sekali ya, hayalanku. Dalam waktu yang singkat seperti ini saja, aku bisa menghayal jauh bersama Abi. Bagaimana kalau seharian? "Itu, Agus." Daguku menunjuk ke luar puskesmas, tetapi yang mencari Agus hilang entah ke mana. Tinggal lah aku sendiri di ruang tunggu pasien. Suasana puskesmas sudah mulai sepi, para pengujung sudah berangsur-angsur pulang. Pegawai puskemas pun masih banyak di luar. Ini mimpi apa bukan sih? Tadi kan benaran ada Abi? Sekarang mana? Kudekati kaca transparan dalam hayalanku. Saat asyik memperhatikan kaca yang kuukir tanda love dalam itu, tiba-tiba entah apa yang terjadi. Semuanya begitu cepat ketika suara pecahan kaca yang diadu dengan benda keras dan jatuh ke lantai. Diiringi suara gaduh teriakan orang-orang membuatku takut membuka mata. Aku hanya melihat sekilas ada seseorang yang berlari mendekatiku lalu semuanya gelap. *** Aku terbaring pasrah di tempat tidur, tubuhku terasa lemas tak berdaya. Aroma citrus dari pewangi ruangan membuatku sedikit lebih rileks. Beberapa rekan kerja perempuan juga mengelilingi tempat tidurku. Kejadian di puskemas barusan benar-benar membuatku terkejut, bagaimana bisa Arya suaminya Wina mengamuk di puskesmas. Arya tidak jantan jadi suami, mau enaknya saja. Sudah meninggalkan Wina sendiri malah sibuk meminta bayi itu tinggal dengannya. Suami macam apa itu? Walau pun aku masih kesal dengan kelakuan Arya tetapi jauh di lubuk hatiku merasa senang karena dengan kejadian itu, ada adegan manis antara aku dan Abi. Aih. Aku tak paham persis bagaimana kejadiannya, kata teman-teman yang lain. Pecahan kaca hampir saja mengenaiku. Saat itu posisiku berdiri dekat kaca yang dilempari Arya dari luar bangunan dengan kursi besi. Untungnya ada Abi yang sigap melindungiku. Aku mengatup mata dan ke dua tanganku spontan menutup telinga lalu semua begitu cepat dan ketika sadar. Aku sudah terbaring di lantai dengan Abi berada di posisi atas, tangannya melindungi sisi kepalaku. Suara teriakan dan sesuatu yang pecah terdengar bersahut-sahutan. Entah berapa menit kejadian itu, aku tak berani membuka mata. Bahkan aku sangat merasakan dadaku berdegup antara takut, ngeri dan juga dekatnya jarak fisik antara aku dan Abi. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Abi setelah meggendongku masuk ke dalam ruangan praktek dokter gigi karena lokasi itu paling dekat. Aku diam seribu bahasa sebelum Kak Maya dan Kak Nela memberikan aku segelas air putih. Mereka bilang wajahku pucat sekali. "Sudah aman." Kak Helen datang membawa minyak kayu putih mengosok-gosokkanya ke kaki dan tanganku. "Dibawa ke kantor polisi, ya?" tanya Kak Nela pada Kak Helen. "Iya, lah, diangkut pake mobil Kak Dani. Biar kapok! Enak aja main ngamuk-ngamuk. Sana! Di penjara sana kalau berani!" rutuk Kak Helen. "Mabok kali ya, si Arya-nya," tambah Kak Maya. "Iyalah, kalau tidak mana berani datang ngamuk-ngamuk." "Untung ada Abi, Lis. Soalnya Arya tadi kan tiba-tiba datang, langsung melempari kaca. Iya, kan?" Aku masih diam seribu bahasa, mendengar cerita mereka saja aku ketakutan. "Terus, kok, bisa diamankann gitu, gimana ceritanya? Aku enggak berani liat tadi," tanya Kak Nela penasaran yang di iringi tawa renyahnya. "Pak Dokter Ridwan awalnya mendekati Arya katanya mau ngomong baik-baik, pas udah dekat di pukul perutnya terus diapain itu namanya. Pokoknya tangannya dikunci gitu. Enggak ngerti aku," jelas Kak Helen. "Yang pasti Pak Dokter Ridwan itu makin keren karena pintar bela diri ternyata hihihi," sambungnya lagi. "Mbak Wina-nya enggak apa-apa, ya," tanyaku yang masih lemah. "Enggak, tapi kayaknya shock sekali sampai sekarang enggak berhenti-henti nangisnya," terang Kak Helen. Kasian sekali Wina masih sakit tetapi harus terima kenyataan diceraikan suaminya. Mana masih muda, punya anak tiga yang masih kecil-kecil lagi. "Enggak apa-apa kamu, Lis?" Om Dani dan Agus datang dari balik pintu. "Enggak, Om." Aku menjawab lemah. "Kalau mau istirahat di rumah, biar diantar Agus," ucap Om Dani. "Enggak apa-apa Om, nanti juga enak." Aku meneguk kembali air putih yang dibawakan Kak Helen. Entah bagaimana penampakan wajahku? Apa benar-benar pucat seperti yang mereka katakan? Kudengar suara berisik orang membersihkan kaca, suara tangis Wina juga terdengar dari ruangan depan. Belum lagi ratapan Ibu Halimah yang tak ada hentinya. Harusnya kalau kondisi Wina sudah membaik, dia akan pulang sore ini. "Mau kuantar enggak?" tanya Agus memutuskan lamunanku. Tak biasanya dia lebih banyak diam di pojok ruangan. Aku memaksakan diri duduk, meski kepalaku terasa berat. "Enggak, cuma kaget nanti juga enakan." Ponselku berdering sebuah pesan masuk, aku meraih dan segera membukanya. [Sudah enakan? Abi.] Hah? Aku tidak salah lihatkan? Ini benaran nama Abi yang mengirim pesan, dia juga nanyain keadaanku. Senyumku langsung mengembang membaca pesan dari Abi. [Alhamdulillah. Udah] Ya Tuhan, aku mendadak jadi religius. [Kalau mau istirahat di rumah. Biar diantar] Pesan dari Abi k****a dengan jantung berdegup-degup. Apa Abi mau mengantarku pulang? Ini tidak salahkan? Ya Tuhan jantungku bertalu-talu dan senyumku lagi-lagi mengembang dengan sempurna. Tepat di pojok ruangan, kulihat Agus asyik dengan ponselnya. Tak ingin menganggu aku langsung mengiakan pesan Abi. [Boleh, tunggu bentar lagi] Balasku cepat. Aku bangkit mendekati kaca mematut diri di cermin. Wajahku memang tak segar, tetapi tidak terlalu pucat jadi kuputuskan menambah polesan bedak dan lipstik yang tipis. Tak lupa sedikit parfum lalu aku tersenyum saat yakin penampilanku sudah lebih baik. Usai memperbaiki riasan aku mengambil tas di laci meja depan. Pesan dari Abi k****a lagi seakan pesan itu menjadi sumber kekuatan dan harapanku untuk memiliki kehidupan yang diinginkan Mama. Aih, hayalanku. "Gus, aku duluan, ya?" "Lho, siapa yang antar?" "Abi," kataku memberikan senyuman ke pada Agus. "Oh, iya. Iya. Tiati, ya, ternyata benar kan?" Agus tersenyum menggodaku. "Apaan? Ya, aku duluan," pamitku. "Heem," jawab Agus singkat lalu kembali berkutat dengan ponselnya. [Sudah mau pulang?] Kukirim pesan itu pada laki-laki yang sedang membuatku serasa dimabuk kepayang. [Udah di parkiran] Kulihat Abi tersenyum. Kali ini, senyumnya tampak malu-malu. Binar matanya begitu dalam seakan mengagumi dan menungguku untuk datang ke pelukannya. Oh, tidak seperti itu, aku cuma bercanda dan berhayal saja. Abi seperti biasa dengan gaya cool-nya. Sepanjang perjalanan, aku mencoba fokus pada obrolan ringan seputar kejadian siang tadi. Sesekali mataku mengintip spion motor dan berharap melihat bayangan Abi di kaca itu. Aduh, memangnya seaneh ini ya kalau orang lagi jatuh cinta? Ponselku bergetar ketika motor Abi baru saja tiba di halaman kontrakanku. Aku mengabaikannya dengan berbasa-basi mengajak Abi mampir. Tetapi laki-laki itu hanya menjawab lain kali saja. Kuucapkan terima kasih, lalu mempersilakan Abi pulang. Sebelum masuk kontrakan, aku mengambil ponsel dari dalam tas dan mengecek ponselku. Panggilan tak terjawab dari Mama, beberapa pesan singkat dari Agus. Aku segera menekan kembali nomor Mama, sambungan langsung terhubung. Suara lembut Mama mengalir pelan. "Sulis, kata Om-mu, kamu sakit, ya? Sekarang gimana? Mama besok aja ke sana, ya?" "Mama, Sulis itu enggak sakit. Sulis sehat walafiat kok," terangku pada Mama. "Iya, iya, tapi Mama khuwatir, Lis. kamu pulang aja kalau sakit, ya? Biar Mama yang ngomong sama Om-mu." "Enggak, Ma. Besok Sulis juga kerja. Sulis, enggak apa-apa. Benaran." Aduh, bagaimana, sih, menjelaskan ke Mama bahwa aku tidak apa-apa malah aku senang dengan kejadian tadi. Adegan manis antara aku dan Abi yang tidak mungkin dilupakan. "Ya, sudah pokonya besok Mama sama Papa ke sana, ya?" "Huum, iya." Aku mengangguk-angguk meski aku tahu Mama tak bisa melihat anggukanku. Setelah Mama selesai menelepon, aku membalas pesan singkat dari Agus. [Iya, besok aku ikut vaksin. aku nebeng, ya?] Pesan terkirim. [Ya, Sekarang masih lemas, enggak?] [Enggak, Udah kuat makan wkwk] [kalau itu jangan ditanya, sudah sana istirahat] [Ya, makasi] Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul lima sore, aku membersihkan badan dan salat Asar setelah itu aku beristirahat. Hari ini, aku benar-benar bahagia. Rasa lelah ketika pulang bekerja, hilang entah kemana, rasa takut pun tak ada lagi yang ada hanya senang dan tenang. Oh, Abi. Kamu datang di waktu yang tepat seperti ksatria berkuda yang siap menyelamatkan tuan putri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD