Ponselku kembali bergetar dengan malas kuletakkan novel yang baru saja ku beli. kuambil handphone yang masih bergetar-getar itu. Sebuah nama dan nomor yang baru kusimpan tadi siang terpampang nyata.
Abi Anggara
Is Calling.
"Assalamualaikum. Iya, Bi." Aku berusaha tenang meski di dalam hatiku riuh bergemuruh.
"Waalaikumsalam. Kamu gimana? Udah enakan?" tanya Abi dari seberang sana.
"I-iya, udah. Ini lagi istirahat."
"Oh, Ya, udah. Istirahat, ya? Aasalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aku menjawab lemah.
Apaan sih, si Abi masa pelit sekali. Tidak ada tanya-tanya yang lain gitu? Tanyain aku sudah makan gitu? Ngobrolin apa gitu? Masa cuma nanya "Kamu gimana? Ya, udah istirahat, ya" Tetapi walaupun pertanyaanya irit, aku senang sekali. Dia tiba-tiba perhatian denganku.
Aku meletakkan kembali ponsel di kasur, kemudian berbaring di tempat tidur. Novel yang baru k****a beberapa halaman kubuka lagi, sambil mendengarkan musik aku terhanyut dalam cerita novel.
Tidak lama kemudian aku bangun, tanganku tergerak meraih laptop, lalu membuka file novelku.
Kukira ide di kepalaku saat ini cukup membantuku melanjutkan cerita. Namun, saat mulai menuangkannya tiba-tiba semuanya menjadi buntu. Aku tak tahu harus menuliskan apa?
Untunglah novelku ini tidak diikuti kelas atau event, kalau tidak aku sudah dikeluarkan karena novelku tak selesai-selesai. Novel ini hanya lahir dari keisenganku, yang ingin mengetes diri sendiri. Sebenarnya aku bisa tidak bikin novel? Kalau sudah tamat kira-kira ada tidak penerbit yang mau menerbitkannya.
Aku tersenyum menatap layar laptop, karena tiba-tiba wajah Abi hadir di dalam sana. Dia seolah senyum memberikan semangat untukku. Pun denganku seperti ada aliran yang tak kasat mata langsung terhubung ke senyuman Abi, aku berucap dengan lantang.
"Semangaaat." Aku mengepal tangan kananku, lalu menggerak-gerakkannya menunjukan pada layar laptop.
Aku mulai menulis kisah tentang pejuangan seorang perempuan yang ingin kebebasan bersuara dalam rumah tangganya, dengan lancar cerita itu mengalir. Ditambah lagi ingatanku tentang Wina yang membuat tulisanku tak sadar berlembar-lembar setelah diketik.
Malam pun semakin larut dan aku masih bergelut dengan laptop mengetik segala ide yang terasa berlimpah ruah setelah Abi tersenyum.
Kini, tubuhku terasa penat setelah seharian bekerja dan ngantukku sudah tak mampu lagi ditahan. Aku mematikan laptop dan lampu kemudian bersiap untuk tidur.
***
"Assalamualaikum, Sulis, Mama sama Papa nanti jadi ya, ke sana. Kamu kalau bisa pulangnya jangan sore, ya?"
Mama meneleponku ketika hari masih gelap, mungkin setelah menunaikan salat Subuh, perempuan penyuka mode hijab syari itu menghubungiku.
"Huum, hari ini Sulis vaksin anak SD dekat sini kok, Ma. Abis itu langsung pulang," jelasku kepada Mama.
"Ya, Baguslah."
"Udah, ya Lis. Assalamualaikum." Mama meminta pamit.
"Waalaikumsalam, iya Ma."
Ya ampun! Mama memang paling-paling kalau ada yang berbau gratis. Tawaran nelepon murah di kartu itu dari pukul sebelas malam hingga jam lima subuh. Pantasan Mama selalu nelepon sebelum jam lima subuh. Aduh, Mama.
Setelah sarapan aku bersiap-siap berangkat kerja, datang ke puskesmas hanya isi absensi dan mengambil data laporan vaksin campak. kami hari ini akan turun ke sekolah dasar dekat kontrakanku. Setelah selesai vaksin aku bergegas pulang karena menunggu kedatangan Mama dan Papa.
Suara musik dari laptop mengalun lembut, aku sudah membersihkan kontrakanku. Ruang depan sudah kusulap jadi tempat istirahatnya Papa. Sementara Mama akan tidur di kamar denganku.
Suara klakson mobil membuatku cepat membuka pintu. Ternyata mobil yang ditumpangi Mama dan Papa sudah tiba. Aku langsung mendekati memeluk Mama.
"Biar Sulis yang bawa, Pa." Aku menyeret koper yang berisi pakaian Mama dan Papa.
Setelah sampai di dalam aku membuat minuman. Papa duduk memainkan ponselnya.
"Mama mana, Pa?" tanyaku yang tak menemukan Mama di ruang tamu. Belum juga Papa menjawab aku menajamkan pendengaranku. Mama sedang asyik mengobrol dengan Mbak Sarah. Mama apa tidak capek, ya? Istirahat dulu kan bisa? Tetapi terlepas dari Mama yang suka ngobrol dengan Mbak Sarah, aku senang sekali Mama dan Papa datang ke sini.
Aku mengintip dari jendela kaca melihat Mama yang bersemangat mengobrol.
"Ibu mau ke dalam, mau istirahat." Mama mengakhiri obrolannya. Ketika sampai di rumah, Mama langsung memanggilku.
"Sulis, katanya kemarin ada cowok ngantarin kamu pulang, ya? Siapa?" Ini pasti dapat cerita dari Mbak Sarah.
"Teman, Ma."
"Jangan teman terus dong, Lis," ucap Mama sambil menuangkan teh ke gelas.
Aku tersenyum mendengar ucapan Mama, sepertinya drama akan di mulai. Mama kenapa sih, tidak istirahat saja di kamar. Aku sering bingung kalau ditanya jodoh.
"Kerja di mana, Lis? Ajak main ke sini. Mumpung Mama sama Papa ada di kosanmu. Biar bisa kenalan sama calon mantu." Mama terkekeh. "Iya kan, Pa?"
"Terserah Sulis sama Mama saja," ujar Papa sambil membaca koran yang dibelinya di jalan tadi.
"Lho, endak bisa gitu dong, Pa. Anak kita ini di suruh-suruh, di desak-desak aja penggerakannya masih lambat. Apalagi kalau terserahnya dia," oceh Mama.
Aku hanya diam dan tersenyum melihat suami-istri di hadapanku ini berbicara.
"Ya, namanya belum jodoh. Mau bagaimana lagi, Ma." Kata Papa yang masih asyik dengan bacaannya.
"Nah, ini. ini ni, yang Mama endak suka dari Papanya kamu. Main terima aja. Kita itu diwajibkan berusaha, Pa."
"Ya, kalau sudah berusaha tapi belum juga dapat, mau bagaimana, Ma?" Papa menghentikan kegiatan membacanya, kacamatanya sedikit melorot sampai ke tengah hidung sambil menatap Mama, mata laki-laki yang tak lagi muda itu berkedip-kedip.
Aku berusaha menahan tawa melihat tingkah Papa menggoda Mama. kuambil roti yang di bawa Mama, lalu memakannya dengan mulut yang hampir penuh.
"Coba tanya anaknya sudah berusaha belum?" Mama langsung melihat ke arahku.
Hampir saja aku menyemburkan roti dalam mulutku. Mama paling bisa kalau berdebat sama Papa. Papa pasti tidak bakalan menang.
"Coba Papa tanya." Mama mengulangi permintaannya.
Sedangkan Papa seolah tak mendengar ocehan Mama, laki-laki yang lebih menjaga perasaanku itu hanya tersenyum di balik koran. Aku melirik Papa dari samping wajahnya begitu senang melihat Mama yang jengkel dengan ucapannya.
"Sulis, kamu hampir dua puluh lima tahun, Nak. Masa ndak punya pacar." Mama mulai bersungut-sungut. Aduh, aku harus jawab apa?
"Kamu ingat ndak sama Shasa? Minggu kemarin dia baru menikah. Si Nita teman SD kamu dulu ingat ndak? dia sudah dua anaknya, bulan kemarin lahiran yang ke dua."
"Oh, iya? Nita? Hebat ya, Ma."
"Kamu kapan, Lis? Mau ngasih Mama cucu?"
"Hah?"
"Kok, hah?"
"Nanti ya, Ma, kalau cita-cita Sulis sudah tercapai."
"Cita-cita?" tanya Mama seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Aku memaksakan senyum memperlihatkan deretan gigiku. Ya, apa lagi yang harus aku lakukan selain itu, memang aneh kedengarannya kalau aku masih memiliki cita-cita yang belum tercapai.
"Memangnya cita-cita apa lagi yang belum tercapai, Lis." Mama mengeser posisi duduknya lebih dekat denganku.
"Anu, Ma. Itu. Malu, Sulis bilangnya, Ma."
"Ih, sama Mama sendiri kok, malu. Ayok kasih tahu Mama." Mama mendesakku untuk bercerita, sedangkan pikiranku sendiri mendadak kacau. Aduh, sepertinya aku salah ngomong.
Aku meraih segelas teh yang mulai dingin, lalu meneguknya sampai habis setengah. Gawat ini, Mama bakalan ingat terus dan pasti ditanya lagi besoknya.
"Ma, Ambilin Papa air putih hangat, ya." Papa berhenti membaca kemudian melipat korannya dan menaruh di samping tempat duduknya.
Selamat, sorakku dalam hati.
Papa memang paling tahu saat-saat seperti ini.
"Lis, besok kamu kerja, ya?" tanya Mama yang datang dari belakang membawa segelas air.
"Iya. Kenapa, Ma?"
"Iya, Mama pengen jalan-jalan di sini. Atau main-main tempat Om-mu."
"Sore kan, bisa Ma."
"Oh, iya. Mama lupa. Biar paginya Mama bikin kue dulu, ya?"
"Huum."
Untung Papa dan aku diam saja waktu Mama bilang mau bikin kue, coba kalau ditanya kue apa? Dan untuk siapa? Pasti ceritanya berlanjut lagi. Bisa-bisa kembali lagi ke pembahasan awal.
Terus terang, aku juga sering memikirkan masalah pacar atau jodohku. Aku juga pingin punya pacar, someone special, seperti teman-temanku yang lain. Aku juga ingin memiliki seseorang yang bisa memberikanku nasihat dan membangkitkan semangatku jika sedang down. Yang pasti bukan Agus, tetapi siapa? Hingga saat ini aku belum menemukan laki-laki yang cocok denganku.
Padahal kriteriaku cukup sederhana, aku menyukai lelaki yang tidak terlalu manis atau tampangnya seperti Lee Min Ho. Aku juga tidak menyukai lelaki yang terlalu wangi dan klimis seperti para metroseksual yang rapi jali. Saat membayangkan lelaki idamanku, entah mengapa bayangan Abi terlintas begitu saja.
Aku hanya ingin punya pacar atau suami yang seperti Abi. Selain dia memiliki gaya yang cool, aku juga menyukai caranya berpakaian terkesan macho walaupun sedikit berantakan tetapi masih enak dipandang. Dia juga tidak terlalu lebay, dan lebih apa adanya.
Sebenarnya tidak sulit mencarinya, iya, kan? Dan semuanya ada di Abi. Sayangnya aku tak berani cerita dengan siapa pun, apalagi dengan Mama. Bisa-bisa aku diceramahi panjang kali lebar! Mulai dari pertanyaan sederhana Mama, mana ada laki-laki di dunia ini seperti itu? Kamu terlalu pemilih, Lis! Banyak maunya! Itu alasan kamu saja, Lis. Coba kasih tahu Mama di mana kamu ketemu yang model begituan. Biar Mama yang lamar.
Aduh, kalau kata terakhir itu sudah keluar dari mulut Mama, aku lebih baik memilih pingsan atau mati suri dulu juga tidak apa-apa.
"Sulis, coba kamu lihat ini!" Aku dan Mama sudah pindah ke kamar.
Aku mendekati Mama yang duduk di bibir kasur, Mama mengeluarkan beberapa lembar foto yang tersimpan di saku koper bagian dalam.
"Ini koper sudah lama tidak dipakai, Mama kurang teliti merapikannya. Jadi foto ini masih ada, siapa yang simpan, ya? Mama lupa."
Mama tampak menghela napas, sepertinya cerita tentang foto ini akan panjang lebar dijelaskan Mama.
"Ini, lihat foto kamu saat ikut kontes kecantikan di SD-mu. Kamu cantik sekali, Lis. Sampai sekarang masih cantik."
"Mama."
Aku cepat meraih tangan Mama, lalu menciumnya penuh takzim. "Maafin Sulis, Ma. Belum bisa membuat Mama bahagia," ucapku dengan suara yang mulai berat.
Mama menggeleng. "Bukan Sulis. Mama ndak marah sama kamu, Mama bahagia punya kamu, Lis."
Tanpa terasa air mataku mengalir mendengar ucapan Mama.
"Kamu ingat ndak foto ini?" Mama menunjukan satu foto. Di Foto itu aku memakai baju peri cantik berwarna putih, lengkap dengan mahkota dan stik berbentuk bintang yang berkerlap-kerlip. Aku berdiri di atas panggung dengan latar belakang foto sepasang kursi pengantin. Kalau tidak salah itu pengantin tanteku yang di Surabaya.
"Kamu cantik sekali, Lis. Apalagi sisi feminimnya kamu itu dikeluarin. Kamu cantik pakai rok, pakai baju berwarna-warna cerah. Rambutnya coba di panjangkan lagi lebih dari sebahu. Pasti anak Mama makin cantik." Mama mengelus-elus punggung tanganku.
Aku tahu maksud Mama. Aku mamang tak perhatian dengan penampilanku. Terkadang memang lebih nyaman menggunakan jeans hitam serta paduan kaus hitam, atau biru dongker. Aku juga jarang memakai rok, seragam kerjaku saja kubuat lebih banyak memakai terusan celana. Rambutku? Ah, sepertinya mulai saat ini aku harus memperhatikan penampilanku.