Harus Berubah

1638 Words
"Sulis, coba lihat ini, kamu belum lahir. Cantiknya Mama itu kayak kamu, Lis." Aku melihat foto Mama yang masih muda, sangat fashionable di eranya, Mama begitu pandai memadu padankan pakaiannya. Dari rambut sampai ujung kaki Mama begitu cantik dan nampak terawat. Sementara Aku? Sungguh berbeda dengan Mama. Aku yakin, Mama tak bermaksud membuatku sedih, tetapi setidaknya dengan obrolan yang ke sekian kalinya ini membuatku berubah agar lebih memperhatikan penampilanku, dengan begitu mungkin ada laki-laki yang menyukaiku. "Lis, kemarinkan Mama bilang mau ngenalin kamu dengan anak teman Mama." Aku menghela napas, obrolannya pasti lebih serius lagi. Ya Tuhan, Mama dari awal datang tadi yang dibahas hanya itu-itu saja. Aku merasa bersalah sudah membuat Mama bersedih. "Teman Mama ini single parent dari anaknya berumur lima belas tahun, anaknya mandiri kuliah sambil kerja di bagian kesehatan juga. tapi Mama lupa bagian apa? anaknya manis, Lis. Mama rasa cocok sama kamu." "Mama." "Anaknya ndak neko-neko walaupun umurnya di bawah kamu, tapi dia pikirannya dewasa. Mama sudah pernah ngobrol dengannya sekali, Lis. Waktu Mama arisan di rumahnya kemarin." "Mama, sama teman Mama, sengaja ndak liatin foto ke kamu, biar sekalian pas ketemuan nanti. Kamu, mau kan, Lis? Ya, sekitar dua bulan lagi, nah itu giliran di rumah Mama yang arisan." Aduh, aku kenapa jadi ilfil duluan, jangan-jangan anak temannya Mama ini, rada-rada melambai. Masa anak cowok mau ngikutin mamanya arisan. "Mama yakin, tuh, anak mau sama aku?" Sedikit takut aku bertanya pada Mama. "Dia nurut kata mamanya, itu yang membuat Mama suka, Lis. Dan Mama, yakin nanti kalau kalian bertemu, kamu pasti suka. Wong anaknya ganteng, manis gitu, kok." Ya ampun, gaya benar si Mama jadi Mak Comblang. Aku tersenyum melihat antusias Mama. "Mama yakin tuh, anaknya normal? Masa mau ngikutin mamanya arisan. Kalau seandainya dia cowok yang melambai bagaimana, Ma?" "Hush! Jangan ngawur kamu, Lis. Mama sudah lihat anaknya, kok." Aku kaget mendengar suara Mama bernada tinggi dan otomatis langsung membungkam mulutku. Sejujurnya aku ilfil mendengar rencana Mama yang menjodohkanku dengan anak temannya. Selain aku tidak kenal orangnya, aku juga ilfil ketika Mama bilang dia belum punya pacar. Jangan-jangan dia memang tidak suka berpacaran dengan lawan jenisnya. Duh, Mama masa mau menjodohkan aku dengan anak seperti itu. "Kamu kan belum lihat orangnya, Lis. Masa udah nolak duluan. Terus kapan kamu bisa nikah? Kalau belum apa-apa sudah di tolak." "Bukannya begitu, Ma. Sulis enggak mau seperti beli kucing dalam karung. Seandainya Sulis yang mau ternyata dianya yang nolak, bagaimana?" "Bagaimana apanya? Dia itu nurut apa kata mamanya." Ya Tuhan, aku tambah ilfil bagaimana kalau seandainya dia terlalu penurut dengan mamanya, misalnya kami jadi menikah terus dia lebih dengarin kata mamanya dari pada istrinya kan, juga tidak bagus. Lama-lama jadi makan hati juga. "Kalau seandainya, dia tidak sesuai harapanku bagaimana, Ma?" "Tuh, kan, kamu yang pemilih, Lis. Belum juga ketemu pikiran kamu sudah aneh-anah. Pokoknya waktu kamu itu tinggal beberapa bulan lagi. Kalau kamu ndak dapat berarti harus mau dengan rencana Mama." Mama lagi-lagi meninggikan suara dengan nada mengancam. Aku menghela napas berat. Waktu yang tersisa sedikit ini siapa yang ingin kupacari? Mana yang dekat denganku cuma Agus. Ah, masa Agus. Apa kata dunia nanti. Tak terasa waktu menunjukan pukul sepuluh malam, mataku mulai terasa berat untuk dibuka. Setengah sadar aku menjawab pertanyaan Mama, yang bertanya di mana obat nyamuk kusimpan. Beginilah kalau ada Mama bahkan untuk sekadar memasang obat anti nyamuk saja aku jadi malas. Besoknya, Mama terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan. Pisang yang sudah digoreng sejak subuh. ada teh hangat serta cemilan yang entah kapan Mama membuatnya. Setelah Mama memasukan bekalanku, aku pamit berangkat kerja dengan si ungu maticku. Tiba di puskesmas aku hanya mengisi absensi dan mengambil apa saja yang dibutuhkan. Hari ini, kami turun ke lapangan ada empat orang. Agus tidak bisa ikut karena masih ada kerjaan lain. Setelah semuanya beres aku dan tim vaksin berangkat bersama-sama menuju ke sekolah. Tiba di sekolah, anak-anak berseragam merah putih sedang upacara, kami pun ikut barisan di samping anak-anak kelas enam. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi ibu-ibu bapak-bapak semuanya. Alhamdulillah, sambutan dan selamat datang saya ucapkan kepada adik-adik dari Puskesmas Kecamatan Sukamaju 2, karena kalian telah bersedia datang ke sini.” “Baiklah, saya selaku Kepala Sekolah dari SD Negeri 37 mengucapkan banyak terima kasih, apabila ada kukurangan dalam pelayanan kami, semoga ke depan kami lebih berbenah dan memberikan yang terbaik untuk generasi anak bangsa. Tetap jaga kekompakan dan kebersamaan kita, karena di desa ini adalah wadah dan rumah kita bersama." Setelah selesai upacara senin, kami mulai memvaksini anak-anak. Tak butuh waktu lama karena yang di vaksin hanya beberapa kelas semuanya sudah selesai dan kami segera pulang. Aku langsung menuju ke kontrakan, karena Mama dan Papa sudah menungguku. Ponselku bergetar dua kali menandakan ada pesan masuk, kuraih handphone di tas lalu mengecek siapa yang mengirimkan pesan. Abi? Cepat kubuka pesan darinya. [Besok acara cukuran anak Kak Maya, ikut enggak?] Aku mengingat-ingat kembali undangan yang tempo hari kuterima dari Kak Maya, kapan ya acaranya? Aku lupa, terus Abi kenapa tanya-tanya, mau pergi denganku, ya? Ya Tuhan angin segar ini, aku tersenyum membaca pesan dari Abi. [Iya dong, enggak enak kan, kalau enggak datang] Sebelum pesannya terkirim aku membacanya sekali lagi. Seperti pesanku terkesan centil sekali. Aku menghapusnya dan mengetik lagi. [Iya, Bareng, yok] Pesan itu terkirim begini saja isinya pikirku, singkat padat dan jelas pastinya. Kutunggu semenit dua menit tetapi tak ada balasan dari Abi, aku kembali memasukan ponsel ke tas lalu menyalakan mesin si ungu menuju super market yang ada di simpang jalan besar baru, lumayan jauh sebenarnya. Akan tetapi untuk mencari beberapa peralatan kecantikan lumayan lengkap di sana. Hampir satu jam perjalanan aku tiba di super market. aku memarkirkan sepeda motor, lalu melengang masuk. Kuedarkan pandangan ke seluruh rak mencari barang yang ingin kubeli. Pertama aku berdiri di rak bagian shampo, sejenak aku bertanya memangnya shampo yang kupakai selama ini salah? Cepat-cepat pikiranku menepisnya bukan salah tetapi kurang tepat dan kurang lengkap. Aku meraih shampo sepaket dengan kondisioner, vitamin dan juga spray rambut. Setelah itu aku beranjak ke rak handbody dan mulai kebingungan apa yang harus aku ambil. Setelah kuperhatikan lagi, handbody itu ternyata bermacam-macam ada untuk malam dan siang. Aduh, kemana saja aku selama ini? Belum lagi skincare muka, banyak sekali tahapannya agar bisa kinclong. Aku menghela napas sejenak lalu berkonsultasi dengan SPG kosmetik, membiarkan mereka yang lebih ahli memilih mana yang bagus untuk wajahku. Aku juga membeli buku paduan diet selama tiga puluh hari, aku juga membeli beberapa pernak-pernik untuk melengkapi penampilanku. Dan kuakhiri membeli beberapa makanan ringan serta roti kesukaan Papa. Kurasa semua sudah lengkap. Sebelum pulang aku memisahkan belanjaan kosmetik dengan belanjaan lain, karena jujur aku malu jika Mama melihat apa yang aku beli. Semuanya sudah siap saatnya aku pulang. Sampai di kontrakan aku mengecek kembali pesan dari Abi. Namun, belum ada balasannya "Wow, wangi sekali masakan, Mama," pujiku ketika sampai di dapur, aku sudah mengganti pakaianku. Belum juga pukul satu siang, aku sudah selesai vaksin anak SD dan mampir ke mall. Ternyata memang asyik turun ke lapangan, selain dapat uang tambahan, pulangnya juga cepat. "Kamu siapin di depan, gih," perintah Mama. Aku langsung menyiapkan semua peralatan, beberapa piring dan gelas kutaruh sejajar, cuci tangan dan air minum kuletakkan berdampingan. Aku juga menata lauk pauk yang sudah dimasak oleh Mama. "Lis, coba lihat lagi HP Mama sudah ada balasan belum ada dari Om-mu." "Lho, Mama ngajak Om Dani sama keluarganya, ya?" tanyaku keheranan karena lauk pauk yang tersaji tidak begitu banyak. "Ndak, cuma Om Dani saja. Biar dia mampir sendiri buat makan siang. Mama cuma bikin kue buat anaknya di rumah." "Belum ada, Ma. Mungkin lagi sibuk." Aku berdiri di samping Mama, sambil kembali memeriksa ponselnya. Tak lama suara handphone Mama berdering, nama Om Dani tertera di sana. "Angkat aja, Lis." "Assalamualaikum, iya, Om," kataku memberikan salam. "waalaikumsalam, Lis bilang Mama, Om lagi di jalan baru pulang dari Dinas Kesehatan. Setengah jam lagi sampai tapi Om ke sana sama Agus, ya?" "Oh, gitu ya, Om." Aduh, kenapa Agus harus ikut, sih. Kalau dia kelepasan cerita tentang Abi bagaimana? Terus kalau Mama lihat aku teman dekat sama Agus bagaimana? Bisa-bisa Mama memintaku pacaran dengan Agus, ditambah lagi Agus paling pintar dan mudah mengambil hati orang dengan gaya bicaranya. Agus itu kan orangnya ramah, banyak cerita dan tidak sombong, Mama kan paling suka dengan orang yang mau bercerita, biar ada teman ngobrol. "Ya sudah, Siapin yang banyak kata Agus." Om Dani menutup teleponnya dengan tawa. *** "Oh, jadi Agus belum berkeluarga?" tanya Mama sambil menyodorkan kue ke Agus. Setelah makan bersama kami duduk-duduk di ruang tamu. Mama seperti biasa mudah akrab sama siapa saja asal orangnya asyik di ajak bicara. Pun dengan Agus mereka terlihat kompak dalam pembicaraan apa saja. "Jadi, Sulis sering nebeng sama kamu, Gus?" tanya Mama yang baru dapat info dari Om Dani. "Biasa, Bu. Biar hemat bensin." Agus tertawa setelah melirikku. "Aduh, anak Ibu merepotin, ya?" Mama mengucapkan kata-katanya seperti menahan sungkan. "enggak kok, Bu. kebetulan juga searah." "Ih, tahu enggak dulu waktu Ibu kuliah setiap hari nebeng sama papanya Sulis, padahal ndak pacaran cuma temanan. Eh, selesai kuliah malah dilamar. Ya, namanya juga jodoh, kita ndak tahukan?" Aduh, arah pembicaraan Mama sebenarnya ke mana sih? Jangan sampai ke pembahasan yang biasanya. "Wow, keren dong Bu, Teman tapi Cinta." Agus memuji Mama. "Jadi, Nak Agus tahu siapa yang dekat dengan Sulis?" Astaga Mama, pertanyaan macam apa itu? Mama kenapa sih, selalu membahas itu bahkan dengan Agus yang baru saja dikenalnya. Mama malu-maluin saja. "Mama." panggilku lembut. "Lho, Mama lihat Agus ini anaknya baik, kok. Dia juga dekat sama kamu dan Om Dani, jadi wajar-wajar saja kalau Mama bertanya karena Mama menganggapnya seperti keluarga. Iya kan, Nak Agus?" "Iya, Bu." Jawab Agus sedikit malu-malu. "Tuh, kan Agusnya sendiri ndak apa-apa." Mama menatapku sejenak. "Jadi, kamu benaran tidak tahu, ya?" "Tahu apa, Bu?" tanya Agus ragu-ragu. "Yang dekat dengan Sulis," jawab Mama enteng. Agus tersenyum, "Enggak, Bu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD