Syukurlah, Agus tidak bercerita apa-apa tentang Abi. Aku pun pura-pura tak mendengar pertanyaan Mama. Well, sebenarnya saat Mama bertanya dengan Agus, tiba-tiba saja Abi hadir dalam benakku. Entah kenapa, aku tiba-tiba teringat Abi yang menyelamatkan aku dari pecahan kaca. Teringat saat tubuhnya melindungiku, aku benar-benar merasa melayang dengan suara dan helaan napasnya saat itu. Aku memang belum pernah mendapatkan perhatian atau pun berdekatan secara fisik dengan cowok mana pun, dan Abi selain dia melindungiku saat itu, dia juga tipe cowok yang aku idam-idamkan.
Aku mengecek ponselku melihat pesan yang terakhir kukirim, tak ada balasan dari Abi.
"Sulis, kenapa ndak diajak temanmu ke sini."
Mama mulai lagi. Aduh, kupikir Mama sudah lupa pembahasan awal ternyata masih. Aku buru-buru menghapus wajah Abi dari lukisan imajinerku, takut Mama bisa melihatnya lalu buru-buru meminta melamarku.
"Eh, besok acara Maya, kita barengan, ya," ajak Om Dani, yang baru saja bangun dari tidurnya. Setelah makan dia mengobrol dengan Papa sambil merebahkan tubuh yang berujung ketiduran. Sementara Agus asyik mengobrol dengan Mama.
"Boleh." Agus mengangguk.
Aku tidak menjawab apa-apa, karena aku masih menunggu balasan dari Abi. Siapa tahu kan Abi mau pergi denganku.
"Gimana, Lis? Tante kamu enggak bisa ikut. Besok dia mau pulang ke tempat ibunya."
"Ee, bisa, Om." Aku menjawab dengan sedikit ragu berharap Abi juga ikut dengan kami.
Aku meraih ponsel mengecek pesan singkat dari Abi. Namun, masih tak ada balasan. Aku beralih membuka aplikasi f*******: sejenak mataku terpaku melihat foto yang lewat di halamanku. Aku memperhatikan foto Abi seperti dalam ukuran pasfoto yang tertempel di ijazah. Abi dengan gagahnya memakai jas hitam, dasi hitam dan kemeja putih di dalamnya. Rambutnya di potong cepak dengan alis tebal dan jabang yang lebih tipis. Terlihat sangat gagah dan tegas tetapi bersorot mata lembut, lagi meneduhkan. Sehingga memberikan kedamaian pada jantungku yang tiba-tiba berdegup, bertalu-talu tak tahu malu. Kapan Abi memotong rambutnya? Kenapa jadi lebih tampan? Tanpa aku sadari senyumku lagi-lagi mengembang sempurna karena Abi.
"Sulis, Agus dan Om-mu mau pulang, ambil kuenya, gih." Tiba-tiba Mama memecah konsentrasiku melihat foto Abi.
Aku beranjak ke dapur mengambil kue yang sudah di bungkus Mama, empat bungkus untuk Om Dani dan dua bungkus untuk Agus.
"Ibu, titip Sulis ya, Gus," ucap Mama ketika aku sampai di dekat mereka. "Ndak apa-apa Ibu nitip sama kamu, Sulis kan anak gadis. Merantau jauh-jauh, Ibu sering kepikiran. ya, ndak apa-apa Ibu ngomong apa adanya, biar banyak yang jagain dia."
"Insha Allah, Bu," kata Agus.
"Kapan, Mbak pulang?" tanya Om Dani ke pada Mama.
"Besok. Mbak titip salam buat Shina sama anak-anak."
"Lha, ini ada salamnya." Om Dani menggoda Mama sambil memegang kue yang sudah dibungkus.
Setelah hampir setengah jam berbasa-basi mengantarkan Om Dani dan Agus sampai ke teras kontrakan, kami bertiga masuk setelah mobil yang di bawa Om Dani tak nampak lagi di ujung jalan. Aku membereskan sisa-sisa makanan yang dihidangkan tadi, Papa pergi ke masjid terdekat karena bertepatan dengan masuknya waktu Asar. Mama langsung menunaikan salat. Setelah membereskan semua aku kembali mengecek ponselku dan langsung menyentuh aplikasi f*******:. Aku masih penasaran dengan foto Abi, terlihat di sana beberapa orang yang memberikan komentar. Aku tidak tahu siapa yang berkomentar mungkin mereka teman kuliahnya Abi. Aku tidak meninggalkan jejak apa-apa karena aku malu dan bingung mau berkomentar apa. Walaupun ingin sekali kutulis di kolom komentarnya. 'Duh, gantengnya'
"Sulis, kamu tidak solat?"
Mama bertanya seraya membuka mukenanya, berarti cukup lama aku memperhatikan foto Abi. dari Mama awal salat sampai Mama selesai salat berserta doa dan wirid-wiridnya.
"Iya, Ma."
Aku segera meletakkan ponselku dan mengambil wudu. selesai salat aku ikut bergabung dengan Papa di ruang tamu. Besok Mama sama Papa pulang di rumah sepi lagi.
"Sulis, Mama sudah ngasih tahu belum, Bulan besok abangmu wisuda. Kamu pulang, ya?"
"Iya dong, Ma. Kapan?" tanyaku bersemangat, aku paling suka acara-acara seperti ini.
"Besok, Mama kabari lagi. Mama mau bikin seragam keluarga, kamu ukurannya mana?"
"Harus ya, Ma buat seragam?"
"Kamu ini Sulis, sekarang zamannya seperti itu. ya, harus ikutin zaman. Nantikan kalau di foto lebih cantik pake seragam. Di kasih bingkai terus di taruh di ruang tamu." Mama menjelaskan panjang lebar.
"Punya anak gadis satu kok, ndak ngerti biar cantik," imbuh Mama.
"Mama."
"Lha, iya. Mama benarkan? Masa di ruang tamu ndak ada hias-hiasan padahal sudah di kasih cat dengan warna cerah." Mama mengedarkan pandangan seisi ruangan.
"Mama, aku tuh, sibuk kerja. Enggak sempat buat ngerjain yang lain."
"Ah, alasan itu. Besok sebelum pulang, Mama mau ke pasar beliin hiasan atau kembang se pot biar ada kesannya yang nungguin rumah ini cewek." Mama tertawa geli melihatku yang merengut mendengar ucapan Mama.
Ponselku berdering memekakkan telinga, aku sengaja menyetel dengan suara keras karena kalau ada pesan yang masuk aku segera tahu. Pesan balasan dari Abi memang kutunggu-tunggu. Kubuku pesan ternyata benar dari Abi.
[Mau bareng aku enggak, tapi aku bisanya sore. Pagi sampai siang ada kuliah]
Mulutku ternganga berbentuk huruf O membaca pesan dari Abi. Ini benaran Abi yang mengirimkan pesan? Aku membaca lagi pengirim pada pesan itu dan benar memang Abi pengirimnya.
Ya Tuhan aku merasa sesuatu yang diam-diam menyelinap dalam relung hatiku. Rasa bahagia yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, aku sengaja mengunci diri di kamar dengan alasan berganti pakaian karena aku malu bila Mama melihatku senyum-senyum sendiri mambaca pesan. Aku pun tak tahu mau menjawab apa kalau Mama bertanya siapa yang mengirimkan pesan.
Mau bilang pacar, bukan!
Mau bilang teman, aku berharapnya jadi pacar.
Mau bilang bukan siapa-siapa juga tidak cocok, karena aku senyum-senyum sendiri membaca pesan darinya.
Ya ampun aku sampai lupa membalas pesan dari Abi.
[Iya, barengan aja]
Pesan itu sudah terkirim dan aku baru ingat Om Dani mengajakku pergi bersamanya. Aku harus cari alasan agar Om Dani tak curiga aku pergi dengan Abi. Aduh, bisa-bisa berita ini cepat sampainya ke telinga Mama.
Akan tetapi apa alasannya? tidak mungkin aku pergi dua kali, nanti yang ada aku dikatain mau makan gratis. Aku juga tidak mungkin menolak ajakan Abi, ini kesempatan emas. Siapa tahukan setelah ini kami semakin dekat. Seperti kata pepatah tak kenal maka tak cinta, tak cinta makanya tak sayang, tak sayang makanya tak jadi menikah. Aih.
Pokoknya nanti setelah Mama dan Papa pulang ke rumah, aku mengeluarkan semua barang-barang yang kubeli tadi. Aku bertekad dalam beberapa minggu lagi harus ada perubahan. Aku ingin lebih cantik bukan hanya untuk mendapatkan jodoh tetapi aku ini perempuan harus pintar dan telaten merawat diri. Mama benar, semakin berumur perempuan semakin memudar kecantikannya, apa lagi kalau tidak dirawat sama sekali.
"Sulis, buka pintunya. Ada yang mau Mama ambil."
"O, iya, Ma tunggu bentar." Aku bergegas mengambil baju dengan asal dan memakainya.
"Kamu ndak mandi, Lis?" tanya Mama setelah melihatku sore ini hanya mengganti pakaian.
"Kan siang tadi pulang dari vaksin Sulis mandi, Ma. Masa mau mandi lagi," kataku memberi pembelaan.
"Kamu ini, ndak berubah-ubah bagaimana mau kinclong mandi saja malas," oceh Mama.
Aku tersenyum sipu mendengar ocehan Mama yang memang benar adanya. Mungkin aku adalah salah satu perempuan di dunia ini yang jarang mandi.
"Sulis, mana bajunya? Biar Mama simpan di koper takut lupa besoknya."
"Baju apa sih, Ma?" Aku mengingat-ingat lagi baju yang Mama pinta.
"Baju buat seragam," ketus Mama.
"Oh, Iya."
Aku melangkah ke lemari bagian atas mencari baju yang cocok dengan ukuranku saat ini. Melihat tumpukan baju tiba-tiba saja aku ingat besok mau pergi ke acara Kak Maya pakai baju apa? Mungkin kalau pergi sama rombongan rekan di puskesmas aku tidak malu pakai baju biasa. Bahkan seringnya kami kalau pergi bersama memakai baju dinas tanpa harus mengganti pakaian pulang ke rumah. Besok kan, beda aku hanya pergi bersama Abi, masa pakai baju biasa?
"Kok ngelamun, Lis?"
Pertanyaan Mama membuyarkan lamunanku, yang membuatku sedikit terkejut. Namun, aku mendapatkan ide baru, bagaimana kalau minta dibeliin baju baru buat acara Kak Maya besok.
"Lis," panggil Mama lagi.
"Oh, iya ini, Ma." Aku mengulurkan pakaian tersebut ke Mama. "Tapi kalau Mama bawa baju itu, besok acara teman aku pake baju apa? Mama kan tahu bentuk badanku bagaimana? Agak susah mencari baju yang benar-benar pas sama badanku."
"Ya sudah kamu kan bisa pake baju yang lain, atau baju yang lain bawa ke sana. Masa kamu harus pulang cuma buat ngukur baju."
"Iya, sih, Ma, tapi masalahnya Sulis enggak punya ukuran yang cocok, baju Sulis kan juga banyak kaus sama jeans, Ma."
"Mau di beliin yang baru? Tapi jangan kaus, ya?" tanya Mama yang kemudian tersenyum melihatku.
"Kalau Mama boleh, ya, Sulis mau."
"Besok temani Mama ke pasar, ya?"
Asyik aku bersorak dalam hati, lalu mendekati Mama dan berbisik, "Sekalian sandal boleh ya, Ma."
Mama mengangguk dan tersenyum dengan tingkahku.