Malam ini, aku berencana bergadang menambah tulisanku. Tak masalah bila semalam aku berkutat di depan laptop melanjutkan menulis novel, asal novelku cepat selesai. Sebenarnya aku bukanlah penulis sungguhan, aku hanya suka menulis diari dan membaca karya fiksi. Itu saja, selebihnya aku hanya ingin belajar membuat novel. Namanya juga belajar, ya, kan? Jadi wajar saja sudah tiga bulan novelku tak ada kemajuan, walaupun sudah ikut kelas online, belajar dari mulai menemukan ide sampai bagaimana cara menyusun outline tetapi tetap saja aku kebingungan mau melanjutkannya.
Kubuka catatan lagi, berusaha mengikuti sesuai arahan materi dari coachku. Saat asyik membaca materi di ponsel, tiba-tiba ada notifikasi dari f*******: masuk.
'Maya Bundanya Syifa' menandai Anda dalam postingannya.
Oh, ini mungkin kegiatan penyuluhan kemarin. Awalnya aku ingin mengabaikan postingan dari Kak Maya, tapi detik itu juga aku ingat ada Abi, pasti Kak Maya juga menandai dia.
Aku bergegas keluar dari materi, dengan lincah jariku menyentuh aplikasi f*******:. Tak sabar kubuka siapa saja yang ditandai Kak Maya. Ada delapan belas orang termasuk ibu-ibu yang hadir kemarin yang berteman dengannya.
Mataku menelusuri setiap deretan nama hingga berhenti pada satu akun yang kuduga milik Abi. Di situ tidak tertera nama Abi, mungkin cowok cool itu memakai nama belakangnya.
'Anggara Putra'
Mataku berbinar, senyumku langsung mengembang sempurna. Cepat aku klik akun tersebut meminta pertemanan, lalu menjelajahi isi f*******: yang tidak diatur ke publik.
Menurutku Abi ini sok misterius, sok kegantengan! Eh, tetapi dia emang ganteng, sih.
Setelah puas me-scroll akun f*******: Abi, aku baru sadar tak ada satu pun wajah manis milik Abi. Yang ada hanya burung garuda, ada bendera merah putih yang berkibar di gunung, ada juga bocah laki-laki mengayuh sepeda sendirian di sawah sambil memegang bendera. Apa mungkin itu Abi kecil? Entah lah.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, angin yang berhembus dari luar terasa menusuk kulit. Mungkin hujan akan turun malam ini, selain udara yang begitu dingin, bintang di atas sana juga tidak terlihat kerlipnya. Dan aku berharap walaupun hujan turun, tidak mempengaharui sinyal atau pun listrik mati. Aduh, jangan sampai terjadi, setidaknya sampai rasa penasaranku hilang. Walaupun keduanya pasti akan terjadi bila hujan turun. Aku pasti tidak dapat tidur malam ini karena penasaran si misterius apa sih, si Abi?
Lima menit menunggu namun tidak juga mendapatkan konfimasi dari Abi. Padahal aku sudah ikut berkomentar harusnya dia tahu ini akunku. Foto profilku juga jelas tetapi kenapa Abi belum juga menerimanya?
Aku pun berdiri mengambil teh yang sudah kubuat di meja makan belakang. Tak lupa juga cemilan keripik singkong yang kubeli tempo hari dengan Kak Helen. Kuletakkan teh itu di samping laptop dan meneguknya beberapa kali.
Aduh, benar-benar deh, kayaknya aku memang jatuh cinta bukan karena fisik Abi saja, tetapi karena sikap dinginnya itu yang bikin penasaran. Kalau sikap dinginnya aja bikin aku jatuh cinta, apalagi sikap hangatnya, ya?
Aku jatuh cinta? Memang sih, katanya, cinta bisa sebuta itu, hanya baru mengenal saja hatiku sudah meyakini bahwa aku benar telah jatuh hati.
Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menunggu respon dari seseorang yang kita sukai. Jangankan menunggu kepastian perasaan, menunggu dikonfirmasi pertemanan saja aku tak sabar.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, lalu menarik napas panjang. Selintas terbayang di benakku, bagaimana kalau Abi menolakku? Sedangkan perasaanku telanjur bahagia mengenalnya.
Waktu terus bergerak, sepertinya aku memang harus bersabar karena hampir tiga jam berlalu tak ada tanda-tanda Abi mengkonfirmasi. Rasa kantuk pun mulai menyerang.
Alamat, malam ini aku tak bisa tidur nyenyak.
***
Dering handphone di pagi buta membangunkanku, setengah sadar aku meraih ponsel. Tulisan MAMA SAYANG is calling berkedip-kedip di layar.
"Iya, Ma."
"Sulis, Mama mau ngabarin minggu besok, Mama main ke sana, ya?"
"Hah?" tanyaku seperti kurang jelas dengan ucapan Mama di seberang sana.
"Kamu baru bangun ya, Lis?"
"Hooh," jawabku sambil mengangguk seakan Mama ada di hadapanku.
"Bangun Lis, udah pagi! Anak gadis bangun kesiangan, jodohnya juga ikut kesiangan, Lis." Mama merocos tanpa jeda.
"Ish, Mama apaan sih, pagi-pagi sudah menyindir jodoh."
"Siapa yang nyindir?"
Ya, ampun Mama memang paling bisa semua dikait-kaitkan dengan jodoh, sampai duduk di muka pintu saja tidak boleh karena menghambat datangnya jodoh.
"Lis, masih ingatkan anak teman Mama yang Mama ceritain kemarin? Besok kamu kenalan, ya?"
"Mama," rengekku malas.
"Ya, sudah nanti Mama telepon lagi, jangan tidur lagi, Lis."
Belum juga aku menjawab, Mama sudah memutuskan teleponnya. Ish, kebiasaan Mama ini menutup teleponnya secara sepihak. Aku kan belum jawab iya atau tidak.
Kulirik jam di handphone pukul lima tiga puluh, sepagi ini Mama menelepon cuma mau ngasih tahu minggu besok ke sini. Bukannya aku tidak senang Mama main ke sini tetapi kenapa Mama nelepon harus sepagi ini? Menganggu jam tidurku di hari libur.
Aku membenamkan wajah di bantal, mau tidur lagi pasti susah, mau masak ke pagian. Mau salat lagi 'Dapat'. Mau ngapain aku pagi-pagi?
[Kak, jadi meraton?]
Pesan kukirim ke Kakak Soh, kemaren dia bilang ingin meraton di area pekantoran Bupati. Tak perlu menunggu waktu lama pesanku di balas.
[Ini lagi siap-siap]
[Ikut dong, Kak. Tungguin, ya]
Aku bergegas bangkit dan segera mandi. Baju kaus pink dan training hitam sudah terbalut sempurna di tubuhku, tak lupa juga sepatu kets dengan warna senada untuk gayaku pagi ini.
Kami baru saja sampai di lokasi yang sudah ramai pengunjungnya. Kuedarkan pandangan di sekeliling lapangan ada banyak macam olahraga di sini. Ada ibu-ibu yang sedang senam, sekumpulan remaja bermain basket, ada juga bela diri dan dance. Sedangkan di ujung lapangan sana dikhususkan untuk olah raga bola kaki.
Kami pun langsung mengambil posisi paling belakang, lalu mengikuti gerakan senam. Namun, saat sedang asyik senam mataku tak sengaja menangkap sosok yang semalaman membuatku penasaran.
Spontan saja gerakanku terhenti tanganku langsung memukul pundak Kakak Soh.
"Kak, itu Abi 'kan?"
"Hah, apa? Enggak dengar!" teriak Kakak Soh sambil mengerak-gerakan tangan dan kakinya. Selain suara musik yang memekakkan telinga, aku juga bertanya ke pada orang yang tidak tepat. Memangnya Kak Soh mengenali Abi?
Aku menarik diri dari barisan, duduk di bawah pohon. Sengaja duduk menghadap ke kelompok bela diri yang terletak beberapa meter dari tempat istrihatku. Rehat sejenak sambil memastikan apakah itu benar-benar Abi?
"Iya, benar itu Abi," gumamku, keren sekali Abi mengenakan baju putih dengan sabuk hitam di pinggang.
Benar lah kata Mama, jangan tidur lagi nanti jodohnya ikut kesiangan.